Hyperia

Hyperia
Penghuni Mansion


__ADS_3

Setelah selesai makan malam bersama Vera keluar terlebih dahulu dan menuju balkon rumah milik Noele,disana ada dua kursi dan satu meja,dia duduk di salah satu kursi yang ada disana dengan meja yang ada di hadapannya,dia duduk menatap langit yang tidak ada bintang maupun awan karena yang ia lihat hanyalah dasar kota kasta teratas,malam itu udara cukup dingin, lampu-lampu kota yang berwarna warni menerangi kota Mesopotamia,robot,cyborg,dan orang-orang yang berjalan membuat suasana kota sangat ramai walaupun di malam hari,dia memikirkan adiknya yang keberadaannya tidak diketahui,dia secepat mungkin harus menemui Richard karena dialah dalang dibalik kejadian 6 tahun lalu dan mungkin dialah yang membawa anak-anak ke sebuah peternakan,atau bisa disebut bangunan yang tidak diketahui lokasinya,tidak lama kemudian Hiki datang membawa 2 cangkir kopi,dia duduk di kursi sebelah Vera dan meletakkan kedua kopinya di meja,tidak ada percakapan dimulai sampai Hiki membuka topik


"Cuaca hari ini cukup dingin ya"


Vera terkejut karena tidak biasanya Hiki basa-basi


"Sudah tau cuaca dingin tapi kamu mengenakan Tank top dan celana pendek"


"Kenapa? Kamu tergoda?"


"Mana mungkin!"


"Mungkin saja"


Suasana kembali sunyi,pikiran Vera masih kemana-mana sementara Hiki masih berusaha membuat suasana cair


"Hiki,kenapa kamu membantu diriku? Aku tau kamu membantu diriku karena aku telah aku telah membantu dirimu...tapi dengan kekuatan mu yang jauh diatas diriku bukankah lebih mudah jika kamu membunuhku?"


"Aku tidak punya alasan untuk membunuhmu,lagi pula kamu cukup menarik"


"Kamu jatuh cinta padaku?"


"Jangan mengatakan hal bodoh,itu mustahil"


"Ngomong-ngomong kepribadian mu sangat berbeda ya dengan saat pertama kali kita bertemu"


"Karena itu hanya berpura-pura,sifatku yang sebenarnya adalah aku saat ini"


Vera menatap Hiki kemudian dia mengambil secangkir kopi yang ada di meja dan meminumnya


"Hiki,apakah kamu memiliki orang yang kamu sayang?"


"Kenapa kamu bertanya?"


"Semua orang punya orang yang mereka sayang bukan?"


Hiki terdiam,mulutnya tertutup rapat


"Ada"


"Siapa?"


"...."


"...?"


"Tidak penting,untuk apa juga kamu tau nama orang itu,yang pasti orang itu adalah orang yang sangat berharga di hidupku"


"Aku melihat kematian kedua orang tuaku didepan diriku sendiri,saat itu kekacauan terjadi,tubuh ibuku terbelah menjadi dua, sedangkan ayahku dia mengorbankan nyawa nya demi kami"


Vera menahan air mata yang hendak membasahi pipinya dia mengepal tangannya dengan kuat


"Andai aku lebih kuat, pasti aku bisa melindungi keluarga ku sendiri.."


Hiki terdiam hanya mendengarkan Vera memgatakan hal itu,kemudian Hiki menarik nafas panjang


"Yang berlalu biarlah berlalu,sekarang saatnya menatap masa depan"


Hiki berdiri dia mengambil secangkir kopi miliknya dan berjalan menuju pagar yang membatasi balkon itu


"Jika kamu terlalu menatap masa lalu"


Hiki membuang kopi itu, angin kencang berhembus menerbangkan rambut pendek Hiki


"Kamu akan terus jatuh dan tidak akan pernah menjadi lebih baik"


Vera terdiam,dia menundukkan kepalanya, merenungkan apa yang Hiki katakan


"Sekarang kita harus fokus menemukan keberadaan adikmu,aku akan membantumu"


Vera mengangkat kepalanya menatap Hiki,mata mereka saling bertemu satu sama lain


"Hiki...setelah semua ini apakah kita akan terus saling mengenal?"


"Siapa yang tahu,Ciao anak muda,jangan tidur terlalu larut"


Hiki berjalan melewati Vera dan kembali ke dalam Mansion sebelum masuk,ketika melewati Vera,dia menepuk kepala Vera sampai akhirnya Vera ditinggalkan seorang diri di balkon,sementara Joana yang tidur bersama Noele,dia nampak masih tidak senang dengan kehadiran Hiki,Noele masuk ke kamarnya dan melihat Joana yang sedang berdandan di depan cermin


"Joana~ kenapa kamu tidak makan malam bersama kami?"


Joana tidak menjawab,dia hanya fokus menata rambutnya sembari pandangannya fokus menatap cermin,Noele berjalan kebelakang Joana dan memeluknya


"Kamu cemburu ya?"


"Tidak"


"Kamu mudah ditebak Joana"


"Berisik"


Joana tersipu,malam berlalu,paginya Hiki dan Alvin berjalan di lorong menuju ruang bawah tanah untuk melakukan interogasi kepada Roman,ketika berjalan di lorong mereka bertemu dengan Lauriel yang nampaknya sedang ketakutan,ketika Lauriel melihat Hiki dia langsung berlari kearahnya dengan wajah sedikit pucat


"H-h-h-h-h"

__ADS_1


"Tenang! Ada apa Lauriel?"


"A-a-a"


"A? Apa?"


"Aku liat S-s-s"


"S? S apa? Bicaralah dengan benar!"


"Setan!!!"


"Hantu?"


"Malem tadi aku liat setan Hiki!!! Sumpah ga bohong,mukanya serem banget!!"


"Hantu? Memangnya di zaman modern seperti ini ada yang namanya hantu?"


"Aku ga bohong!! Serius! Aku ga pernah bohong sama kamu! Kamu percaya aku kan?"


"Berhenti membual Lauriel,tenangkan dirimu"


"Tapi Hi-"


"Sudah cukup,aku tidak punya banyak waktu untuk hal seperti ini"


Hiki dan Alvin berjalan melewati Lauriel,sementara Lauriel masih dipenuhi rasa ketakutan dia berjalan dilorong tertatih-tatih dengan bantuan tembok lorong,dia bertemu dengan Lucia dan dia juga bercerita kepadanya


"Hantu?? Umm aku rasa aku melihatnya juga,tapi aku hanya melihat seorang perempuan dengan topeng dan pisau ditangannya"


"Itu dia!! Sumpah persis banget!! Dia bawa-bawa topeng sama pisau!!!"


"Uh... oke-oke aku percaya tenangkan dirimu Lauriel"


Lucia memeluk Lauriel berusaha untuk menenangkannya,sementara Hiki dan Alvin sampai di ruang bawah tanah dan dia mendapati Romani yang duduk terikat dengan kepala ditutupi karung


"Buka tutup kepalanya"


Perintah Hiki kepada Alvin,Alvin kemudian membuka karung itu dan nampak lah wajah Roman,Hiki mengambil sebuah kursi kayu yang tidak jauh dari sana dan duduk dihadapannya


"Kau,Roman benar?"


"H-Hiki!!!!"


"Kau kenal dengan diriku?"


"T-tentu saja! Sejak insiden gedung Asgard 6 tahun lalu nama mu naik pesat sebagai penjahat kelas kakap!"


"Uhh aku tidak suka ini,ini yang membuatku susah menyusup kemana-mana...jadi apakah kamu tau insiden genosida 6 tahun lalu"


"Kamu seorang peretas juga kan?"


"Hmm bisa dibilang aku hanya seorang pemogram Cyborg,namun aku cukup handal dalam hal meretas"


"Jadi apakah kamu tau dalang dibalik insiden itu?"


"Richard dari The Greatest"


"Aku telah mengetahui itu,seseorang yang meretas sistem keamanan kota itu,orang yang membuat robot dikota itu mengamuk dan hilang kendali"


"Huh? Kamu mencari dirinya?"


"Kau kenal?"


"Aku mengenalnya,kami pernah bertemu beberapa kali,dia bukanlah lawan yang mudah Hiki, kemampuan Hyperia miliknya berbahaya"


"Kalau begitu"


Hiki mendekatkan dirinya ke Roman dan menarik kerah baju Roman


"Beri tahu aku detailnya,dimana dia berada,dan kemampuan dirinya"


"T-tolong lepaskan terlebih dahulu"


Hiki melepaskan cengkramannya,kemudian Alvin menggeserkan tangannya dan sebuah layar hologram berwarna biru muncul


"Ada telepon dari Max"


Alvin mengangkat telepon itu,kemudian Max berbicara dengan terengah-engah


"Alvin apakah kamu bersama Hiki?!"


"Ya,ada apa?"


"Ruby tidak bisa dihubungi! Ini janggal,walaupun dia pemalu namun dia pasti mengangkat telepon diriku,ada yang tidak beres"


"Ruby?"


Ucap Hiki,Hiki langsung membuka portal menuju ruangan tersembunyi Ruby menggunakan lubang berwarna biru,portal itu milik Ruby dan hanya Hiki yang diizinkan untuk mengakses portal tersebut,dia langsung menghilang dari ruangan bawah tanah itu kemudian dia mengirim pesan kepada Alvin isi pesan itu menyebutkan bahwa Alvin harus melanjutkan interogasinya


"Baiklah Max,aku harus melanjutkan interogasi ini,sampai nanti"


Alvin mematikan telepon miliknya, sementara Hiki yang telah sampai disana melihat Ruby yang wajahnya pucat terbaring di ranjang

__ADS_1


"Ruby!"


Hiki menghampiri Ruby dan memegang tubuhnya


"Hiki...maaf membuatmu khawatir"


"Penyakit mu kambuh?"


"Aku rasa iya...ini sangat menyakitkan Hiki.. rasanya tubuhku panas dan organ ku akan keluar dari dalam tubuhku"


"Aku tahu Ruby apakah bunga Edelviet milikmu sudah habis?"


"Ya...maaf tidak memberitahu dirimu"


"Bodoh! Bagaimana jika Max tidak memberitahu diriku!"


"Aku tidak ingin merepotkan mu"


"Bertahan,aku akan memasangkan alat kepada tubuhmu agar meringankan rasa sakitmu"


Hiki memasangkan alat itu,kemudian dia menelpon Vera


"Vera tolong carikan bunga Edelviet, selebihnya tanyakan kepada Lauriel"


Dia langsung menutup teleponnya,Vera kebingungan dengan apa yang terjadi, kebetulan disana ada Lauriel yang sedang berjalan bersama Lucia,Vera berjalan menghampiri mereka berdua


"Lauriel!"


Sapa Vera dari belakang,mereka berdua menoleh dan membalikkan badan


"Ah Vera! Selamat pagi!"


Sapa Lucia dengan suara yang lembut dan manis,berbeda dengan Lucia,Lauriel menyapa Vera layaknya preman


"Yo Sohib!"


"Perbedaan yang sangat mencolok..."


Ucap Vera, kemudian dia menyampaikan pesan Hiki kepada Lauriel


"Edelviet?!!"


Ucap Lauriel,Lucia menaruh tangannya di dagu miliknya layaknya berpikir


"Edelviet ya...bunga itu sangat jauh dari sini"


Ucap Lucia kemudian tiba-tiba Noele datang dan menyapa mereka


"Oh! Hai semuanya!"


Dia berlari di lorong dengan senyumnya yang nampak seperti malaikat, melihat senyum Noele,Vera sedikit tersipu


"Ada apa? Umm kemana Hikichi?"


"Dia menyuruh kami untuk mengambil bunga Edelviet"


"E-edelviet ya... bunga itu sangat jauh dari Mesopotamia..."


Hiki kembali mengetik pesan,kali ini dia mengirimnya kepada Lauriel


"Cepat! Nyawa Ruby dalam bahaya!"


Lauriel baru sadar bahwa bunga itu adalah obat untuk Ruby


"Ah!! Aku lupa! Noele bisakah aku pinjam kendaraan mu?!!"


"Oh tentu.."


Noele memberikan kunci mobil kepada Lauriel,Lauriel memberikannya kepada Lucia


"Lucia kamu menyetir,Vera ikutlah bersama kami"


"Aku juga ingin ikut bersama kalian!"


Ucap Noele,Lauriel menyetujuinya,kemudian mereka berdua keluar dari Mansion itu dan langsung bergegas menuju sebuah padang bunga yan yang jaraknya membutuhkan 3 hari dari Mesopotamia dan dari sana ke Mesopotamia juga membutuhkan waktu 3 hari,sementara Joana yang melihat Noele pergi dari jendela mansion dan tanpa meminta izin darinya semakin geram, kembali kepada Alvin,dia telah mendapatkan nama dan tempat pelaku kedua dari insiden genosida 6 tahun lalu,sehari berlalu Joana merasa kesepian tanpa Noele,dia menelpon Noele dan menyuruh Noele kembali


"Kembali,aku memiliki bunga Edelviet"


Ketik Joana,Noele yang membaca itu memberi tahu kepada Lucia dan yang lainnya,mereka pun kembali,malamnya mereka telah berada di mansion,dan di depan pintu benar saja ada 4 buket bunga Edelviet,Lauriel langsung mengambilnya dan memberi tahu kepada Hiki


"Hiki aku telah mendapatkannya!"


Hiki pergi menemui Lauriel,kemudian dia pergi ke dapur untuk membuat obat dari bunga itu,Hiki nampak tergesa-gesa,dia langsung kembali menemui Ruby yang semakin pucat dan meminumkan ramuan itu kepada Ruby


"Bertahanlah Ruby"


Setelah meminum ramuan itu,Ruby batuk,membutuhkan waktu untuk obat itu bereaksi


"Istirahat lah, beberapa jam lagi kamu akan membaik"


Hiki keluar dari ruangan Ruby dan tiba di lorong,dia berjalan menuju kamarnya untuk beristirahat karena hari sudah malam,ketika dia memasuki kamarnya dan duduk di depan cermin,dia mendengar pintu kamarnya terbuka,awalnya dia mengira bahwa itu angin,dia berjalan menutup pintu itu,ketika dia berjalan dan hendak berbaring di ranjang, tiba-tiba tubuhnya terpental dan membentur dinding kamar


"Huh?!!!"

__ADS_1


Hiki terjatuh ke lantai,dia keheranan dengan apa yang terjadi kemudian tubuhnya terangkat layaknya seperti orang dicekik,namun tidak ada siapa-siapa disana,apakah itu hantu yang dibicarakan Lauriel?


__ADS_2