
Hiki memegang lehernya dan dia terjatuh,dia berlari keluar kamar dan berlari di lorong menuju kamar Lauriel yang kebetulan tidak jauh dari kamar milik Hiki,beberapa vas bunga dan bingkai yang ada di lorong terbang menerjang Hiki,namun tidak ada yang mengenainya sama sekali,sesampainya di depan kamar Lauriel,Hiki membalikkan badan dan nampaknya sosok itu telah berhenti mengikutinya, Lauriel yang belum tertidur dan mendengar kebisingan membuka pintu dan melihat Hiki yang berdiri di depan pintu dengan terengah-engah
"Hiki! Kenapa kamu?!!"
Hiki terdiam sejenak menatap Lauriel,nafasnya masih terengah-engah,kemudian Hiki menatap lorong yang ia lalui tadi,begitu juga Lauriel,Lauriel menatap lorong itu dan melihat banyak Vas bunga yang pecah dan bingkai yang jatuh
"Ada apa sih?!!"
"Lauriel,aku rasa hantu yang kamu maksud itu nyata adanya"
"?!! H-hiki ah kamu mah malem-malem gini bahasnya hantu..ahaha..."
Lauriel tertawa canggung dia menjadi tegang ketika Hiki membicarakan soal hantu,kemudian Hiki berusaha menenangkan dirinya sendiri
"Lauriel dimana kamu melihat hantu itu?"
"Ahahaha apa sih Hiki orang hantu itu nggak ad-"
"Jawab!"
"Iya iyaa sabar ih,aku liat dia di depan sana tepat sebelum persimpangan...dia bawa piso sama pake topeng,lagian kamu malem-malem gini ngapain bahas hantu sih"
"Aku rasa,diriku juga melihatnya...tidak aku diserang,tapi apakah kamu yakin itu adalah hantu dan bukan musuh? Secara tidak langsung Richard telah mengetahui bahwa kita sedang mencarinya,walaupun niat kita menangkap Alef adalah untuk membantu Holmes,namun dia pasti mengira kita akan mencari dirinya dan juga jika seandainya dia mengirim bawahannya untuk menyerang kita disini,dia pasti telah mengetahui bahwa kita sedang mencari dalang di balik peristiwa genosida enam tahun lalu,jika seandainya Richard berusaha melindungi orang ini,maka tentu orang ini adalah orang penting bagi Richard"
"Aku yakin kok! Kakinya ngapung gitu masa orang sih kan ga mungkin! tapi darimana Richard tau kalau kita mencari dalang lainnya dibalik peristiwa genosia 6 tahun lalu?"
"..dia memiliki banyak jaringan Lauriel...dia memiliki banyak mata,kalau begitu aku akan kembali ke kamar ku terlebih dahulu,sampai nanti"
Hiki pergi dari depan kamar Lauriel dan kembali ke kamarnya,kemudian dia tidur dengan keadaan waspada,keesokannya dia kembali bertemu dengan Alvin untuk menanyakan hasil dari interogasi, tidak hanya Alvin disana juga ada Lauriel
"Hiki aku mengetahui dimana orang itu,dan juga orang ini mengaku sebagai bawahan dari Richard"
"Bentar! Bukannya Giano bilang dia juga bakal ngancurin Richard ya?!! nah terus kan orang ini kerja sama bareng Giano juga,gimana ceritanya"
"Mungkin Giano hanya diperalat oleh orang itu"
Jelas Hiki kepada Lauriel yang masih kebingungan
"Lalu Alvin,dimana orang itu?"
"Tepat di kota diatas tempat kita berdiri"
"Kasta tertinggi ya,itu tidak bisa dipungkiri jika dia tinggal disana,dan satu lagi,Alvin aku juga melihat hantu yang dibicarakan Lauriel"
"Hmm? Hantu?"
"Ya,tapi aku lebih percaya jika itu adalah musuh dengan kekuatan menghilang"
"Anak buah Richard ya,jadi dia berusaha melindungi peretas itu"
"Musuh dari mana sih..udah jelas-jelas hantu"
"Diam!"
Hiki membentak Lauriel yang terus berbicara tentang hantu,Lauriel seketika terdiam tidak bersuara,kemudian Alvin berbicara
"Jika itu musuh,maka aku berspekulasi bahwa dia akan menyerang lagi malam ini,kalau itu terjadi,aku akan membuat jebakan untuk menangkapnya"
"Begitu ya,aku paham,kalau begitu kamu akan memasang perangkap di depan kamar ku bukan?"
"Ya,nampaknya sosok itu mengincar dirimu"
"Aku paham,kalau begitu setelah kamu selesai beritahu aku dimana kamu membuat perangkap dengan begitu aku akan memancingnya agar dia terkena perangkap itu"
"Siap,kalau begitu aku permisi terlebih dahulu"
Alvin pergi dari sana, sementara Lauriel masih membeku berdiri di depan Hiki,matanya melirik kearah Hiki namun dia tidak berbicara
"Kenapa kamu terdiam?"
Lauriel tidak menjawab,dia hanya menatap Hiki,kemudian Hiki menghela nafas
"Huh...kamu boleh berbicara"
"Kenapa kalian malah membuat jebakan?!! Jelas jelas itu hantu!"
"Ternyata memang benar kamu lebih baik diam..."
Sementara itu Joana dan Noele berada di ruang makan,mereka menyiapkan sarapan untuk semua orang disana, sesampainya disana,Hiki dan Lauriel melihat Vera,Max,Lucia,dan Noelle yang telah duduk disana,kemudian mereka berdua duduk bersebelahan,Hiki bermaksud tidak menceritakan cerita ini dihadapan Noelle agar tidak membuatnya khawatir, maka dari itu ia memutuskan untuk menikmati sarapan pagi ini
"Bukankah sudah ku bilang bahwa dia tidak bisa mati? Kenapa kamu terus melawannya? Satu-satunya cara mengalahkannya adalah dengan menemukan pedang Excalibur"
Ucap Max dan Vera yang tengah sibuk dengan sarapan dan obrolan mereka tentang sebuah game yang mereka mainkan tadi malam
"Aku tidak mengetahuinya...maaf karena diriku ceroboh semua item milikmu jadi menghilang dan kita harus mengulang"
"Ya ampun...yah tidak apa-apa! Selagi kita berada di rumah Noelle kita bisa menamatkan game itu!"
Ucap Max yang optimis seperti biasanya,setelah itu Hiki berdiri dengan sebuah piring ditangannya
"Maaf aku harus melihat keadaan Ruby,aku harus pergi"
Hiki membuka lubang biru,akses untuk pergi ke ruangan Ruby,setelah ia memasuki kamar Ruby,dia melihat Ruby yang masih tertidur,namun keadaannya semakin memburuk,biasanya dia akan langsung membaik setelah meminum obat,namun bukannya semakin membaik karena telah meminum obat dia malah semakin melemah
"Ini aneh...keadaannya semakin melemah"
Hiki memegang pergelangan tangan Ruby untuk mengetahui detak jantung Ruby,dan detak jantungnya juga semakin melemah
"Gawat,jika terus seperti ini Ruby akan...mati"
Setelah menaruh piring yang ia bawa di meja,dia kembali ke ruang makan dan duduk di kursinya
"Bagaimana keadaan Ruby?"
"Ehiya,Ruby sudah baikan belom?"
Tanya Lucia dan Lauriel yang telah selesai dengan sarapan mereka,sementara Max dan Vera masih meributkan tentang game yang mereka mainkan
"Seharusnya setelah diberi obat olehmu dia akan baik-baik saja bukan?"
Tanya Noelle yang juga khawatir dengan keadaan Ruby, Hiki menarik nafas dalam dan mengigit sepotong daging
"Semakin melemah, mungkin hidupnya tidak akan lama lagi"
"Hah?!! Bohong ah! Masa sih Ruby makin parah!!"
Mendengar itu Max dan Vera yang tadinya bising dengan percakapan mereka langsung terdiam,apalagi Max yang telah mengenal Ruby cukup lama
"Apakah tidak ada cara untuk menyembuhkannya?"
__ADS_1
Tanya Lucia,wajahnya bersimpati atas apa yang terjadi kepada Ruby
"Entahlah..."
Max kemudian berdiri,dengan senyum dan penuh keyakinan,dia berkata dengan lantang
"Jangan khawatir! Ruby adalah seseorang yang kuat! Dia telah melawan penyakitnya selama 5 tahun! Dia pasti bisa! Dia pasti akan terus hidup!"
Max memberikan motivasi kepada Hiki dan yang lainnya,Hiki kemudian sedikit tersenyum atas apa yang dikatakan oleh Max
"Terimakasih Max"
"Eh?!!!!!!! Hiki kamu senyum?!!"
Seluruh orang di dalam ruangan langsung menatap Hiki,namun yang mereka liat hanyalah wajah Hiki yang datar seperti sebelumnya
"Eh..tapi aku yakin sumpah tadi Hiki senyum"
Ketika sedang berbicara, tiba-tiba Noelle dapat pesan dari Joana yang berada dikamarnya,Joana meminta Noelle untuk datang ke kamarnya,karena Joana yang meminta,tentu Noelle tidak bisa menolak,dia bangkit dari duduknya dan berkata
"Permisi,aku harus bertemu dengan Joana,dia memanggil ku,kalau begitu sampai nanti"
Noelle melambaikan tangannya dan pergi dari ruangan melalui pintu yang sangat besar,setelah itu dia berjalan di lorong dan pergi menemui Joana dikamarnya,setelah cukup jauh,dia sampai di kamar Joana dan mengetuk pintunya
"Joana~ aku disini~"
Joana tidak menjawab,Noelle yang khawatir dia membuka pintu dan mendapati Joana yang terluka
"J-Joana!!"
Noelle berlari kearah Joana dan melihat luka yang ia dapat di bahu kanannya,itu seperti luka sayatan
"Ada apa Joana?!!"
"Aku diserang oleh seseorang...aku tidak dapat melihatnya,aku tidak tahu siapa,dia menyerang ku dan melukaiku"
"Tunggu disini aku akan mengobati lukamu!"
Setelah mengobati luka Joana,Noelle berlari ke ruang makan namun tidak ada siapa-siapa disana,dia berlari mencari sosok Hikita yang mungkin dapat membantunya,dia mencari ke kamar Hiki namun tidak ada,dia terus berlari sampai akhirnya dia menemukan Hiki yang tengah merokok di lantai paling atas di dekat kolam renang
"H-hikichi!"
Hiki yang sedang merokok menoleh kearah Noelle yang terengah-engah,dia membuang rokok miliknya dan menghampiri Noelle
"Ada apa Noelle? Keapa terburu-buru seperti itu?"
"J-Joana! Dia diserang oleh seseorang! Namun dia tidak bisa melihat orang itu!"
Mata Hiki membelalak,dia terkejut bahwa ternyata itu tidak terjadi pada malam hari saja,namun pada pagi hari seperti saat ini juga
"Dimana J-Joana? Aku harus melihatnya"
"T-tidak,tidak perlu,dia perlu istirahat..."
Hiki menundukkan kepalanya dan menatap kota Mesopotamia dari atap Mansion milik Noelle
"Aku juga diserang oleh sosok itu semalam"
"K-kamu juga?!!"
"Ya,Lauriel juga"
"Huh?!! Apakah itu benar-benar hantu seperti apa yang dikatakan Lauriel?!"
"Iya aku paham"
"Kalau begitu aku harus pergi dan membicarakan ini dengan yang lainnya, sampai nanti Noelle"
Hiki berjalan cepat menuju pintu dan kembali kedalam mansion,kemudian saat Hiki pergi Noelle tersenyum kecil,Hiki menghampiri Vera yang masih berada di kamar Max dan berusaha menamatkan game yang mereka mainkan,sesampainya disana Hiki membuka pintu secara langsung
"Vera! Max! Ikuti aku! Ada hal penting yang harus dibicarakan!"
Disana terlihat Max dan Vera yang sedang bermalas-malasan sembari bermain sebuah game di komputer milik Noelle
"Beri aku 5 menit! Game ini akan segera tamat dalam 5 menit!"
Ucap Max yang masih memegang memegang mouse dan keyboard,Hiki yang sedang terburu buru memunculkan lubang hitam dan melesatkan sebuah pisau dari dalamnya menuju monitor itu membuatnya terbelah menjadi dua,Max dan Vera yang melihat itu langsung berdiri dan keluar dari kamar tanpa berkata apapun,mereka berdiri bersebelahan sementara Hiki mulai berjalan menuju ke sebuah tempat,ketika mereka berdiri bersebelahan Max berbisik
"Benar-benar menyeramkan..."
Kemudian mereka mengikuti Hiki ke sebuah ruangan kosong yang ada di mansion Noelle,Hiki melihat ruangan itu saat ia hendak pergi ke atap mansion, kebetulan ruangan itu tidka terpakai dan tidak terkunci,disana juga telah ada Lauriel yang sedang duduk diatas meja dan Lucia yang bersender di dinding,mereka berdua datang terlebih dahulu
"Ngomong-ngomong Hiki,kenapa kamu tidak menelpon kami saja"
Tanya Vera
"Sadarkah kalian bahwa kalian tidak menjawab telpon ku?!!"
"Eh..ah iya...aku mematikan ponsel ku.."
"Padahal game nya sedikit lagi tamat...aku harus mengulanginya lagi ya ampun"
Ucap Max yang masih menggerutu
"Itu tidak penting,lagi pula apakah tidak ada fitur save didalam game itu? Arghh cukup!"
Hiki menarik nafas dalam-dalam,dan mencoba menenangkan dirinya
"Joana juga diserang...kasusnya sama seperti diriku"
Semua orang di dalam ruagan terdiam,wajah mereka menjadi serius dan semua kuping hanya tertuju untuk suara Hiki
"Noelle bercerita padaku, kemungkinan sosok itu adalah musuh sangat besar, tapi pertanyaannya adalah,kenapa dia menyerang Joana padahal dia sama sekali tidak ada hubungannya dengan kita?"
"M-mungkin dia tidak mengetahuinya..sama seperti Vera,banyak orang yang belum tau bahwa dia ada di pihakmu,jadi orang itu menganggap bahwa Joana ad dipihakmu"
"Tidak Lucia, seharusnya Richard telah mengetahui bahwa Vera ada di pihak kita,jika dia mengetahui kita mencari peretas itu, dia juga pasti dengan mudah bisa mengetahui bahwa Vera berada di pihak kita,dan pastinya juga dia tahu bahwa Joana tidak mengetahui apa-apa"
Bantah Vera,Semua pandangan tertunduk,mereka memikirkan sebuah ide atau pendapat untuk disuarakan
"Dimana Alvin?"
Tanya Max,semua orang terdiam tidak menjawab pertanyaan Max,Max memahami itu karena situasinya sekarang sangat gawat dan berbahaya,ditambah Hiki tengah tertekan dengan keadaan Ruby yang semakin memburuk, setelah hening dalam waktu yang lama,akhirnya Vera bersuara
"Apa mungkin...Roman pelakunya? Dengan teknik ilusi yang ia miliki dia bisa saja membuat kita berhalusinasi kan? Maksudku sebenarnya orang yang menyerang kita itu dapat kita lihat,namun dengan ilusi milik Roman orang itu menjadi tidak kasat mata"
"Masuk akal"
"Nah bener juga tuh"
__ADS_1
Ucap Max dan Lauriel memberi dukungan kepada pendapat Vera,namun Lucia kurang setuju dengan pendapat ini
"Tetapi apakah itu mungkin? bukankah dia telah dikalahkan oleh Alvin? Dan pastinya jika dia sayang kepada nyawanya dia tidak akan melakukan itu"
"Vera ada benarnya,mungkin dia adalah pelakunya,aku akan menemui Roman dan bertanya kepadanya,untuk sekarang kita harus berhati-hati paham?"
Semua orang mengangguk,kemudian Hiki berjalan menuju pintu dan membukanya dia pergi begitu saja,semua orang didalam ruangan menatap satu sama lain
"Apakah hantu itu benar adanya ya?"
Tanya Vera yang masih ragu,mendengar keraguan Vera,Lauriel langsung turun dari meja dan menjelaskan kepada Vera tentang apa yang dia lihat,dia berjalan kehadapan Vera dan berdiri didepannya
"Denger nih ya Vera,aku tuh beneran liat hantu bawa piso sama pake topeng! Dan itu tuh nyata tau!"
"Tapi apakah hantu dapat memegang sebuah benda? Maksudku di dalam film sosok seperti itu hanyalah seorang psikopat kan? memakai topeng dengan pisau ditubuh"
"Tapi masa kalau semisalnya itu emang orang,dia kok melayang!??"
"Ada penjelasan tersendiri tentang itu..."
"Nah liat kan? Kamu ga punya penjelasan tentang itu!"
Ketika sedang berdebat Max tiba-tiba berbicara dengan nada tinggi
"Berisik!"
"Eh?"
"Padahal sedikit lagi game nya akan berakhir...dari semalam selalu seperti ini"
"Kirain kenapa ternyata masih perihal game itu ya...yah daripada lama-lama disini,banyak debu juga,mending aku kembali ke kamarku,ayo Lucia"
"Eh-uh...Iya"
Lucia dan Lauriel pergi meninggalkan Max dan Vera berdua mereka berdua diam ditempat tidak bergerak
"Apakah kamu ingin lanjut main game rpg nya?"
Tanya Max kepada Vera,Vera tersenyum kemudian mengajak permintaan itu,sementara Hiki kembali ke kamarnya untuk menemui Alvin,di perjalanan dia memikirkan tentang kondisi Ruby,disisi lain,dia sedang berada di teror sosok makhluk tak kasat mata,sesampainya dia disana dia melihat Alvin dengan robot ciptaannya sendiri
"Oh sudah lama sekali aku tidak melihat robot ini"
Ucap Hiki memegang bahu robot yang berbentuk manusia itu
"Namanya Serena, sudah berapa kali aku bilang kepadamu"
"Ah maaf,jadi bagaimana dengan jebakan itu?"
"Sudah selesai, dengan bantuan Serena aku dapat dengan mudah membuat jebakan"
Perlahan tubuh Serena menghilang,namun itu disebabkan oleh Alvin sendiri yang memang sengaja melakukannya
"Aku telah memasang beberapa jebakan di lantai,lihat"
Alvin menunjuk lantai tempat dimana Hiki berdiri
"Dimana?"
Alvin berlutut dan dengan kaca pembesar ia memperlihatkan kepada Hiki sebuah benang
"Benang,jika seandainya kamu bergerak tadi,maka 10 pisau akan melayang langsung kepadamu"
Alvin melihat keatap dan disana tepat ada 10 pisau yang siap menerjang orang yang menginjak jebakan itu
"Lalu?"
"Aku berniat untuk memasang bom,namun ini adalah tempat milik Noelle,dan aku tidak ingin menghancurkannya,dan di depan sana"
Alvin menunjuk ke Vas bunga yang berada 7 meter tempat mereka berdiri
"Jika kamu menjatuhkan Vas itu maka,orang yang melewati jalan itu setelah dirimu akan terikat langsung oleh benang yang sangat tajam"
"Lalu?"
"Hanya itu, walaupun hanya 2 saja,namun jika sosok itu tergesa-gesa untuk membunumu maka sudah pasti dia akan terkena oleh perangkap ini,aku berniat membuat 20 jebakan sepanjang lorong ini,namun itu membutuhkan waktu"
"Kerja bagus Alvin, aku harus bertemu dengan Roman,dia menjadi tersangka setelah kekuatannya merupakan ilusi yang mampu menipu mata"
"Begitu ya,aku paham,kalau begitu aku harus pergi,sampai nanti gadis manis"
Alvin pergi dari sana dan ketika dipertigaan dia belok ke kanan, sementara Hiki dia turun ke ruang bawah tanah untuk bertanya kepada Roman tentang kesaksiannya tentang teror ini,Hiki membuka pintu ruang bawah tanah dengan sepiring penuh lauk dan nasi ditangannya,dan disana Roman masih terduduk dalam keadaan terikat,melihat Hiki datang,Roman merasakan kengerian
"H-hiki!! A-apa bukankah aku telah memberi tahu semuanya?!!"
Hiki menatap Roman dengan tatapan dinginnya,dia tidak menjawab dan malah menunjukkan makanan yang ia bawa
"Kamu lapar?"
"Eh....iya"
"Kalau begitu jawab aku,kamu menjawab dengan jujur kamu akan mendapatkan sepiring lauk ini paham?"
"Apa yang ingin kamu tanyakan? bukankah aku telah memberitahu semuanya kepada Alvin?"
"Bukan tentang itu bodoh,tapi tentang hantu"
"H-hantu? Kenapa kamu membicarakan hal aneh?"
"Apakah kamu yang membuat teror ini?"
"Teror apa?! Aku tidak tahu sama sekali!"
Hiki berjalan mengelilingi Roman kemudian dia berbisik di kupingnya
"Apakah kamu ingin mati kelaparan?"
"Aku benar-benar tidak tahu!"
"Kalau begitu aku akan memberikan penawaran,jika kamu memberitahu yang sebenarnya,aku akan membebaskan dirimu dan membiarkan dirimu hidup,atau kau ingin mati?"
Hiki memunculkan 2 lubang hitam tepat di depan roman,lubang itu siap untuk menusuk Roman kapanpun ketika Hiki menghendakinya
"Aku tidak bohong! Aku tidak bohong! Maafkan aku tolong maafkan aku!! Aku sama sekali tidak tahu!!"
Karena Hiki mendengar ketakutan yang alami dari suara Roman,Hiki menaruh makanan itu di lantai dan ia
"Eh?!! L-lepaskan tangan ku terlebih dahulu! Bagaimana bisa aku makan dalam keadaan seperti ini?!!"
"Bukan urusanku,pikirkan sendiri"
__ADS_1
Hiki kembali dari ruang bawah tanah dan kembali ke kamarnya,menunggu saat malam dan menunggu sampai sosok itu kembali menyerang,sementara yang lainnya sibuk dengan kesibukan mereka masing-masing,Hiki hanya berbaring di ranjang dan berusaha untuk beristirahat
"Bagaimana jika sosok itu menyerang orang lain...sialan aku melakukan kesalahan"