
"Apa kau mau menemaniku sampai terlelap? Aku benar-benar merasa takut saat ini." Remaja laki-laki itu meringkuk di dalam selimut tebal miliknya.
Seorang pria berkaos hitam itu mendekat lalu berbisik di telinganya. "Takut? Tidak seperti biasanya kau tiba-tiba menjadi penakut seperti ini."
Remaja itu lalu meringsut dari tempat tidurnya dan menarik tangan pria itu dengan erat serta menahannya.
"Hanya untuk kali ini saja, temani aku bodoh," katanya dengan suara yang pelan. Mendapati reaksi seperti itu membuat si pria tersenyum lalu duduk di pinggiran tempat tidur untuk menemaninya.
"Dasar bocah penakut," ujarnya sambil mengelus lembut kepala remaja laki-laki itu.
Remaja laki-laki itu lalu semakin menggengam erat sebelah tangan milik si pria seolah tak mau dilepaskan begitu saja dan disaat bersamaan itu juga dia menatap lekat wajah si pria dengan tatapan penuh arti lalu dia mengucapkan sebuah kata-kata lirih yang tengah menggambarkan perasaanya saat ini. "Kau tahu. Kadang aku bertanya-tanya pada Tuhan dalam doaku mengapa Dia mengirim kau dalam hidupku yang menyedihkan ini?"
Si pria yang mendengar ucapan tersebut terkikik pelan lalu menatap hangat kearah remaja laki-laki itu. "Aku dikirim Tuhan agar kau tidak mati sia-sia dalam kebodohanmu 'itu' lagipula Tuhan mengirimku padamu agar aku bisa menjagamu, karena itu kau harus banyak mengucap syukur dalam doamu karena Tuhan telah sangat baik padamu." jawab si pria.
"Oh begitu." balas remaja laki-laki itu singkat setelahnya dia membalikkan tubuhnya dan tidak berbicara sepatah katapun lagi.
Si pria tersenyum lalu merapatkan selimut itu pada tubuh remaja laki-laki itu supaya dia tidak kedinginan, setelahnya dia memperhatikan sejenak wajah manis yang telah tertidur lelap itu sebelum akhirnya dia menarik tangannya lembut dari genggaman yang sudah melonggar itu. Kemudian sebelah tangannya terulur untuk mengelus lembut kepala remaja laki-laki itu penuh dengan kasih sayang.
ווווווו
Fei hanya termenung diam di atas meja makan memandang kosong ke arah piring-piring yang tertata rapi di sana sama sekali terlihat tidak bersemangat dan menunjukan kelesuan dari raut wajahnya.
Sementara itu Yifan yang masih sibuk berkutat dengan masakannya merasa tidak nyaman dengan suasana hening yang tercipta ia berusaha memecah keheningan dengan sengaja meletakan teflon penggorengan diatas kompor dengan cukup keras yang akhirnya menghasilkan sebuah suara yang cukup untuk membuat atensi Fei teralihkan.
Fei yang merasa terganggu lalu memprotes Yifan. " Jika kau ingin membuat keributan sebaiknya diluar saja ketimbang harus berbuat keributan di dapur."
Mendengar suara protes dari mulut Fei, Yifan membalikkan tubuhnya lalu memasang ekspresi seolah-olah tidak bersalah. " Apa aku menganggumu?" Melihat reaksi Yifan yang santai membuat Fei semakin jengkel dan kini nampak jelas ekspresi jengkel terpasang di raut wajahnya.
"Tentu saja kau mengangguku ********!" Fei mengambil salah satu piring yang berada di atas meja lalu melemparnya ke arah Yifan dan berharap piring itu pecah mengenai tubuh pria itu.
Namun apa yang diharapkan oleh Fei sama sekali tidak terjadi dengan mudahnya Yifan menangkap piring itu sebelum mengenai dirinya, Fei yang melihat hal tersebut merasa terkejut kemudian berdecak kesal karena harapannya untuk melukai pria itu tidak terjadi.
__ADS_1
Yifan mendapati perilaku seperti itu hanya balas menanggapi dengan tawa tertahan sembari menatap remeh pada lawan bicaranya tersebut.
"Kau ingin membunuhku?" Yifan menatap remeh kearah lawan bicaranya.
"Tentu saja aku sangat ingin membunuhmu ********! Karena ulahmu aku harus hidup kembali di dunia sialan ini," ujar Fei sembari menunjuk-nunjuk wajah Yifan dengan tidak sopan.
Yifan hanya menghela nafas mengacak rambuntnya lalu memandang intensif wajah lawan bicaranya tersebut, berusaha agar tetap berkepala dingin untuk menghadapi ketidakstabilan emosi remaja satu ini. "Dengar aku membuat keputusan seperti ini juga tidak akan membuatmu rugi," ucapnya dengan sabar.
Fei tidak terima lalu kembali melontarkan kata-kata pedas pada Yifan sebagai bentuk protes dirinya. "******** keparat kau apanya yang untung? Aku memilih untuk mengakhiri hidupku sendiri karena aku sudah tidak tahan lagi dan kau malah seenaknya menghidupkan aku kembali. Yang kau lakukan itu hanya akan menambah panjang daftar penderitaanku. Otakmu kau letakkan dimana sebenarnya! Kau bilang kau adalah malaikat maut tapi kenapa kau malah menghidupkan aku kembali kau bodoh ya rupanya, bagaimana mungkin Tuhan mempekerjakan seorang malaikat bodoh tanpa otak sepertimu."
Mendengar kata-kata tersebut membuat Yifan mendekat kearah Fei lalu menatap tajam kearah remaja laki-laki itu dengan tatapan mengintimidasi.
"Sudah selesai bicaranya? Sekarang tolong diam dan dengarkan aku berbicara untuk menjelaskan semua ini atau kau memilih aku untuk merobek mulutmu itu." Yifan menempelkan sebuah pisau pada bibir remaja laki-laki itu.
Seketika Fei mematung diam dan hanya bisa mengumpat dalam hati. Yifan yang mendapati reaksi Fei seperti itu membuatnya tersenyum licik merasa senang bahwa ancamannya telah berhasil
Satu hal yang kusukai darimu adalah saat aku berhasil mengancammu dan membuatmu patuh padaku, tetaplah terlihat seperti itu karena kau terlihat sangat manis untuk saat ini.
ווווווו
**Flashback Satu Minggu yang Lalu**
Di dalam kamar apartemen yang gelap dan berantakan ada tubuh manusia yang tergantung diatas langit-langit kamar dengan leher nyaris patah terjerat dengan kuat pada seutas tali tambang. Kondisi mayat itu sangat mengenaskan tergantung di atas langit-langit kamar selama 24 jam hampir nyaris membusuk dengan warna kulit wajah yang telah berubah menjadi ungu kemerahan, dan juga disekitar sudut bibirnya mengucur air liur dan busa halus, lidahnya terjulur keluar terlihat sangat mengerikan jika dilihat secara langsung.
Mayat itu adalah mayat seorang remaja laki-laki berusia sekitar 15 tahun yang telah mengakhiri hidupnya sendiri dengan cara menggantung tubuhnya diatas langit-langit kamar. Hampir 24 jam berlalu namun masih belum ada orang yang menyadarinya mungkin akan membutuhkan waktu sedikit lama untuk menyadarinya karena dia hanya tinggal seorang diri disana tanpa sanak-saudara.
Memprihatinkan adalah kata yang cocok untuk menggambarkan keadaan mayat ini. Mati dengan cara bunuh diri dan sekarang tidak ada yang mengetahui keadaanya sekarang yang sudah tak bernyawa. Sebenarnya apa yang membuatnya harus mati dengan cara bunuh diri seperti ini? Dia bahkan masih sangat muda namun sudah sampai senekat ini untuk mengahabisi nyawanya sendiri sungguh tragis kehidupannya berakhir dengan seutas tali tambang menjerat lehernya.
Benar-benar tidak ada akhir bahagia untuk remaja laki-laki ini...
Krieet...
__ADS_1
Tiba-tiba saja terdengar deritan suara pintu terbuka dengan seorang pria bertubuh tinggi berdiri disana memandang kearah mayat yang masih tergantung disana dengan pandangan sulit diartikan. Pria itu berjalan mendekat kearah mayat yang masih tergantung lalu tangannya terulur keatas untuk melepas jerat tali tersebut. Setelah berhasil melepaskan jeratannya tersebut si pria lalu memangku tubuh mayat remaja laki-laki itu sembari mengelus lembut kepalanya.
Sayang sekali kau harus mati di usia semuda ini, aku tahu walau kau sudah mati sekalipun kau masih menyimpan dendam yang teramat besar di hatimu jika kau mati dengan cara seperti ini sama saja kau mati dengan tidak tenang, akan kuberikan satu kesempatan padamu untuk menebus semuanya.
Pria itu lalu menutup mata mayat itu dengan telapak tangannya setelahnya dia membisikan sebuah kalimat 'sihir pembangkit' pada mayat di pangkuannya. Setelah melakukan ritual kecil itu si mayat telah hidup kembali namun dia masih belum sadar dan masih tertidur lelap perlu sedikit waktu untuk membuatnya sadar untuk memulihkan kembali ingatannya. Melihat ritualnya berhasil si pria tersenyum miring menatap penuh arti kearah mayat yang kini telah hidup kembali namun masih tertidur lelap dalam pangkuannya itu. Jari jempol tangan si pria terulur di depan wajah si mayat lalu bergerak menghapuskan bekas air liur yang masih tersisa di sudut bibirnya lalu pria itu kembali tersenyum miring dan berucap di depan wajah si mayat masih dengan jari jempolnya yang menyentuh bibir si mayat.
Setelah ini balaskan semua dendam milikmu karena kesempatan kedua telah datang padamu.
ווווווו
"Sudah merasa lebih baik?" Yifan menyodorkan segelas susu hangat pada Fei dan langsung diambil olehnya.
Fei buru-buru meneguk cairan hangat itu kedalam tenggorokannya berusaha menetralkan detak jantungnya yang terus berdegup kencang, dia berpikir tadi bahwa dia nyaris mendapatkan mulutnya robek oleh pisau yang digenggam Yifan tadi. Melihat Fei yang nampaknya masih ketakutan akibat ulahnya tadi membuatnya sedikit merasa bersalah tapi bagaimanapun juga Fei itu tipe orang yang perlu sedikit diancam agar dia mau menurut dan mendengarkan jadi ini sepenuhnya bukan salahnya jika dia berulah seperti tadi.
Yifan menepuk-nepuk bahu remaja laki-laki itu lembut lalu mengulas senyum ramah padanya. "Aku tidak akan meminta maaf atas ulahku tadi, tapi jujur saja aku sedikit menyesal telah melakukannya padamu tadi," ucapnya dengan tulus.
Fei menghela nafas lalu meletakkan gelas susunya di meja kecil yang tepat berada disampingnya, dia lalu menatap Yifan malas dan bertindak seolah tidak terlalu peduli atas ucapan tulus Yifan. "Terserahmu saja aku tidak peduli." balasnya acuh.
Yifan lalu menarik kursi dibelakangnya dan kini dia tengah duduk berhadapan dengan Fei. Pandangan matanya terlihat serius diikuti pula dengan ekspresi wajahnya yang juga sama terlihat serius. "Tujuanku menghidupkanmu kembali karena aku ingin kau membalaskan semua dendammu." katanya penuh dengan keseriusan.
"Jika kau ingin lebih tahu mengenai semua hal ini. Sebaiknya kau harus duduk tenang dan dengarkan semua penjelasanku sampai akhir tanpa rasa protes sedikitpun!" Yifan mempertegas kata-katanya.
"Bagaimana jika seandainya mulutku tak tahan untuk melayangkan protes, Tuan Malaikat Maut!" tantang Fei nakal.
Yifan memutar bola matanya malas mendesah sebentar lalu berucap. "Jika kau melakukan itu maka aku tidak akan pernah sama sekali menceritakan semua hal yang sangat ingin kau ketahui itu. Dan bisa kupastikan kau itu adalah tipe orang yang paling tidak bisa menahan rasa penasaran. Mungkin aku akan membiarkanmu larut dalam rasa penasaranmu sampai kau mati untuk ke dua kalinya. Jadi bagaimana masih mau protes? Hmm...." ujar Yifan balik menantang Fei.
Fei mendecih kesal namun akhirnya dia setuju dengan keputusan untuk tidak melayangkan protes sedikitpun saat Yifan nanti akan bercerita.
Yifan tersenyum lalu berucap, "Nice good boy." pada Fei seraya mengelus lembut rambutnya.
Jadilah anak yang penurut seperti ini dan biarkan aku untuk terus memanjakanmu.
__ADS_1