I Can Live

I Can Live
14. Bad Dream


__ADS_3

*Seharusnya kau menurutiku kalau kau tidak mau terluka seperti ini lagi.


Pria paruh baya itu kemudian menaikkan celana kain hitamnya yang sempat ia lepaskan tadi. Setelah membenarkan celana kainnya pria paruh baya itu mengunci pintu kamar mandi meninggalkan seorang anak laki-laki kecil sendirian di sana dengan tubuh telanjang yang penuh dengan bekas luka memar.


Anak laki-laki itu menggigil kedinginan sekaligus merasa kesakitan akibat luka yang berada di sekujur tubuhnya.


Anak laki-laki itu tidak bisa berbuat apa-apa selain berbaring lemah di atas dinginnya lantai keramik kamar mandi. Tubuhnya sudah terlalu lemah dia bahkan sangat tidak berdaya.


Sambil terisak pelan ia terus memanggil-manggil ibunya yang telah tiada.


Ibu... ibu...ibu... kenapa kau tinggalkan aku sendirian... ibu aku sangat ingin bertemu ibu... ayah sangat kejam padaku....


Karena sudah tidak merasa tahan lagi dengan perlakuan kejam ayahnya anak laki-laki itu kemudian menghantamkan kepalanya sendiri ke tembok kamar mandi dan secara perlahan-lahan darah segar mulai mengucur deras dari kepalanya kesadarannya pun mulai menghilang. Pelan namun pasti semuanya mulai terlihat gelap dalam penghlihatan anak laki-laki tersebut.


Lebih baik aku mati saja, ucapnya dalam hati sebelum akhirnya ia memejamkan matanya*.


וו×ו


Aaarghh... sakit... aaaah... sakit... aaaaarrrrgghh...." desah Fei dengan suara yang terdengar kesakitan.


Yifan terkejut begitu masuk ke dalam kamar mendengar Fei mendesah kesakitan. Yifan bisa melihat Fei nampak kesakitan tubuhnya pun dipenuhi oleh keringat dingin. Melihat kondisi Fei seperti itu membuat Yifan secara terburu-buru membangunkan remaja laki-laki tersebut.


"Fei...Fei...Fei...bangunlah!" Yifan mengguncang-guncang tubuh Fei untuk membangunkan remaja laki-laki itu yang tengah bermimpi buruk.

__ADS_1


Tiba-tiba saja Fei terbangun remaja laki-laki itu terlihat sangat gelisah dengan terburu-buru ia mengatur nafasnya. Setelah merasa mulai tenang ia melihat ke sekitarnya dan nampak sedikit terkejut ketika melihat Yifan sudah berada di posisi berdiri tepat di hadapannya dengan wajah yang terlihat sangat khawatir.


Melihat Fei sudah sadar Yifan sedikit menjauh dari posisi sebelumnya. "Kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir.


Fei mengusap wajahnya menatap nanar ke arah Yifan. "Memangnya apa yang terjadi padaku barusan?" tanyanya dengan suara parau.


"Kau bermimpi buruk." katanya lalu berlalu dari posisi tempatnya berasal untuk mengambil segelas air putih yang berada di atas meja. "Ck. Sepertinya tadi kau menginggau dengan suara yang cukup keras karena itulah aku merasa khawatir denganmu." Yifan kemudian menyerahkan gelas berisikan cairan bening itu pada Fei.


Fei mengambil gelas tersebut namun ia tidak langsung meminumnya dan malah justru tampak melamun setelahnya.


Melihat reaksi Fei seperti itu membuat Yifan merasa tidak enak sekaligus khawatir dengan kondisi remaja laki-laki tersebut. "Kalau kau tidak keberatan kau bisa ceritakan isi mimpimu padaku." tawar Yifan.


Fei menggelengkan kepalanya kemudian ia meminum habis airnya lalu bangun dari atas tempat tidurnya. "Sudahlah tidak apa-apa, kau tidak perlu repot-repot mengkhawatirkanku." katanya dengan suara yang terdengar acuh.


Yifan hanya diam namun matanya terus menelurusi pergerakan remaja satu ini.


Yifan menggaruki kepalanya yang tidak terasa gatal kemudian ia menjawab pertanyaan dari Fei. "Tidak ada sih tapi sebenarnya hari ini aku rencana untuk membicarakan suatu hal penting padamu." jawabnya.


Fei mengibaskan tangannya di depan wajah. "Ck. Tunda saja dulu! Hari ini aku ingin berjalan-jalan seorang diri untuk menenangkan pikiranku." tukasnya cepat.


Yifan melirik Fei sebentar kemudian menyahut seperti ini. "Kau yakin tidak akan tersesat bila berjalan seorang diri?"


"Tidak. Dan jangan mengkhawatirkanku. Sudahlah hari ini kita bebas dengan urusan kita masing-masing untuk urusan rencanamu itu kita masih bisa membicarakankan besok hari, setuju?" tawar Fei.

__ADS_1


"Terserahmu sajalah." kata Yifan sebelum akhirnya berlalu. Yifan nampaknya tidak ingin ambil pusing lagipula istirahat satu hari juga bukanlah ide yang buruk mengingat kondisinya sendiri juga sedikit melemah karena kemarin ia sudah terlalu banyak menggunakan sihir.


Setelah Yifan berlalu Fei segera beranjak dari sana untuk pergi membasuh diri di kamar mandi.


ווו×וו


Sudah hampir satu jam lebih Fei hanya duduk sambil melamun di atas jembatan kayu di sebuah taman kecil yang terletak tidak jauh dari penginapan mereka.


Fei duduk di atas jembatan kayu itu sambil memandang ke arah sungai dengan tatapan kosong.


Entah kenapa tiba-tiba saja kenangan mimpi buruk tadi terlintas kembali di ingatannya. Setengah mati Fei berusaha mengontrol dirinya tapi tetap saja rasa takut dan gelisah itu kembali muncul dan menghantui dirinya. Tak kuat lagi menahan emosinya Fei hanya bisa menangis sembari terisak pelan.


Air mata Fei jatuh bercucuran sementara Itu wajahnya memerah dengan ingus yang menggantung di hidungnya.


Saat Fei menangis ia tidak menyadari ada sosok gadis berambut hitam panjang mendekat ke arahnya. Entah darimana asalnya gadis itu muncul namun tanpa ragu sedikit pun gadis itu semakin mendekatinya kemudian ia mengeluarkan sebuah sapu tangan berwarna merah muda dengan motif bunga sakura. Gadis itu mengusap air mata Fei lalu secara tiba-tiba mengecup dahinya lembut.


Mendapatkan kecupan itu Fei langsung berhenti menangis.


Fei kini menjadi sedikit lebih tenang. Ia merasa kecupan itu terasa sangat hangat dan penuh dengan kelembutan yang terasa begitu tulus. Persis seperti kecupan milik ibunya dulu.


Tiba-tiba saja muncul seorang pria dari ujung jembatan tengah memanggil-manggil nama seorang gadis yang tidak ia kenali sama sekali.


"Hanami... Hanami... Hanami... kemarilah cepat!" panggil seorang pria berkemeja putih itu pada sang gadis.

__ADS_1


Gadis itu kemudian memeluk Fei sebentar sebelum akhirnya gadis itu pergi menemui pria yang baru saja memanggil namanya barusan. Gadis itu melambaikan tangannya pada Fei sembari tersenyum manis.


Fei terdiam sembari tangannya menggengam erat sapu tangan milik sang gadis. Aku ingin bertemu dengannya lagi. ucap Fei dalam hati. Ia lalu memandang kosong ke arah sang gadis yang pergi semakin menjauh darinya.


__ADS_2