
Sesampainya di Beijing.
Yifan dan Fei sampai di Beijing setelah menghabiskan waktu selama satu jam lima puluh delapan menit di pesawat. Mereka berdua kini telah tiba di bandara Beijing. Sesampainya di bandara mereka berdua memesan taksi untuk pergi menuju sebuah penginapan yang terletak di tengah kota. Sesampainya di penginapan mereka beristirahat sebentar kemudian akhirnya memutuskan pergi keluar untuk mencari makan.
"Ayahmu akan mati sore ini. Jadi bersiaplah." kata Yifan sembari mengikat tali sepatunya.
"Kita mau kemana setelah ini, langsung pergi menemui ayahku saat dia sekarat?" Fei berdiri di depan pintu menunggu Yifan menyelesaikan ikatan tali sepatunya.
"Sabarlah sedikit ini masih jam sepuluh pagi kita masih punya banyak waktu sebelum menjemput jiwa ayahmu." Yifan menyelesaikan ikatan tali sepatunya kemudian ia berdiri mengunci pintu kamar penginapan. "Makan saja dulu aku lapar." katanya.
"Di mana? Kalau kau mengajakku makan ada baiknya kau sadar diri bahwa aku tidak memiliki sepeser uang pun di kantongku" ujar Fei.
"Tapi masih ada banyak di ATM mu bukan? Dasar kikir." goda Yifan.
"B*n*sat!" balas Fei kasar.
"Ya...ya. Kau tenang saja untuk urusan biaya makan. Sebaiknya kau jangan cerewet dan cepat ikuti aku!" perintah Yifan.
Fei pun akhirnya mengikuti Yifan keluar untuk pergi mencari makan.
וווו×ו
"Mau makan di sini?" tawar Yifan.
Fei mengamati restoran itu dengan rasa kagum. "Kau yakin kita akan makan di sini? Bukankah kita bisa pergi makan di tempat yang lebih murah." Fei pada dasarnya sadar diri untuk tidak pergi makan di restoran mahal saat mengetahui kondisi dirinya sendiri yang tampak seperti seorang gembel.
Yifan menghela nafas kemudian mengacak-acak rambut Fei dengan gemas. "Yak aku tahu isi pikiranmu itu. Kau merasa minder bukan? Ayolah tenang saja Fei meski pun tampang luarmu seperti seorang gembel tapi kau masih layak untuk makan di restoran mewah ini." ejek Yifan.
"Kau mengejekku!" Fei hendak memukul Yifan namun dengan cepat Yifan berhasil menghindarinya.
Yifan berjalan mendahului Fei masuk terlebih dahulu ke dalam restoran tersebut. "Sudahlah jangan membuang-buang waktu."
Fei hanya bisa menganga melihat Yifan sudah berjalan masuk ke dalam restoran.
__ADS_1
ו×וו×ו×
"Daging sapi rebusnya enak bukan?" Yifan menunjuk ke arah piring Fei.
"Lumayan sih." kata Fei sambil mengunyah daging rebusnya.
Yifan kemudian menyodorkan piringnya yang berisikan kambing panggang. "Mau coba?" tawarnya. Fei kemudian mencomot sedikit daging kambing panggang milik Yifan.
"Yang ini lebih enak sih." komentar Fei.
"Dua menu yang kita pesan ini merupakan menu andalan restoran ini sejak dulu." kata Yifan.
"Ya aku juga tahu itu." balas Fei.
"Kau tahu sejarah tentang restoran ini?" tanya Yifan. Yifan sendiri tampaknya terlihat tertarik dengan sejarah restoran ini.
Fei meminum airnya kemudian ia menjawab pertanyaan Yifan. "Restoran Yitiaolong ini adalah salah satu restoran halal tertua yang ada di Beijing. Restoran ini sudah berdiri sejak tahun 1785. Selain itu, salah satu makanan paling laris pada restoran ini yaitu daging rebus yang memiliki teknik dijadikan sebagai salah satu warisan budaya di China. Daging sapi rebus di restoran ini diolah cukup lama hingga dagingnya empuk dan tidak meninggalkan aroma amis itu adalah ciri khas khusus pada restoran ini yang membuatnya menjadi salah satu daya pikat wisatan berkunjung kemari." jelas Fei panjang lebar.
"Biasa saja." balas Fei dengan datar.
Kemudian keduanya hening sejenak karena sibuk dengan makanannya masing-masing.
"Mau ke kebun binatang?" tawar Yifan tiba-tiba.
"Huh... memangnya sempat?" Fei terlihat ragu.
Yifan melirik arlojinya sekilas kemudian tersenyum cerah pada Fei. "Masih ada waktu tiga jam lagi sebelum menjemput jiwa ayahmu." balasnya.
"Baiklah." Sejujurnya sejak tadi Fei merasa gelisah namun ia berusaha menutupi kegelisahannya itu dengan berpura-pura seolah-olah tidak akan terjadi apa-apa ke depannya.
Yifan sendiri sangat menyadari kegelisahan yang di sembunyikan Fei sejak tadi. Namun ia sendiri juga berpura-pura tidak tahu karena saat ini ia tidak ingin membuat Fei semakin panik. Karena itulah ia sengaja mengajak Fei pergi ke kebun binatang untuk membuat remaja laki-laki itu merasa lebih rileks sedikit.
Yifan mengeluarkan ponselnya kemudian ia memesan taksi online. "Aku sudah memesan taksinya. Sebaiknya kita menunggu di luar." Yifan bangkit dari kursinya diikuti juga oleh Fei.
__ADS_1
Selesai membayar Yifan berjalan menuju pintu keluar namun tanpa di sengaja ia melihat seseorang yang begitu familiar dengannya sedang berada di seberang jalan sana luar sana. Yifan terdiam di tempatnya seketika otaknya langsung memutarkan memori lamanya kembali.
Kau dan aku adalah teman... kita seperti dua ekor burung yang berbeda namun tetap bisa bersama.
Kata-kata lama itu terlintas kembali di ingatan Yifan. Seketika muncul rasa nyeri di dadanya saat mengingat itu kembali.
Pada akhirnya kau dan aku hanyalah dua kesalahan yang seharusnya tidak pernah bertemu.
Keringat mengalir deras dari tubuh Yifan dan Yifan sendiri merasakan nyeri di dadanya semakin menjadi-jadi. Setengah mati Yifan berusaha mengontrol dirinya sendiri agar ia tidak jatuh tumbang dari tempatnya berdiri.
"Hei kau baik-baik saja? Yifan!" Fei terlihat sedikit panik. Remaja laki-laki itu berusaha mengguncang-guncangkan tubuh Yifan yang jauh lebih besar dari dirinya.
Yifan mengambil nafas kemudian membuangnya secara kasar. Pelan-pelan ia mulai menemui kesadarannya telah pulih kembali. "Ayo! Sebaiknya kita jangan terlalu lama di sini." ucapnya sembari mempercepat langkahnya.
Fei sendiri merasa bingung melihat tingkah laku Yifan yang sangat aneh ia sendiri sangat ingin menanyakannya namun melihat kondisi Yifan yang sedang buruk membuatnya urung. Apa dia punya semacam gangguan mental ? tanyanya dalam hati.
Yifan masih berusaha memfokuskan pandangannya ke arah luar sana sedikit pun ia tidak melepaskan pandangannya dari sana namun tiba-tiba saja ia merasa sebuah kejanggalan telah terjadi. Orang yang ia lihat sebelumnya berada di seberang jalan sana kini secara tiba-tiba menghilang begitu saja. Beberapa kali Yifan mengerjapkan matanya serta menggosok-gosokkan kedua matanya
namun tetap saja ia masih tidak bisa melihat sosok itu lagi. Sial apa aku kelelahan.... rutuknya dalam hati. Masih berusaha untuk tetap memandangi seberang jalan sana ia masih tetap tidak menemukan apa pun sampai akhirnya aksinya itu harus berhenti saat sebuah taksi muncul di depannya menghalangi pandangannya.
"Anda yang memesan taksi atas nama tuan Yifan?" tanya supir taksi tersebut.
Buru-buru Yifan mengiyakan supir taksi itu. Tanpa perlu berlama-lama Yifan segera masuk ke dalam taksi diikuti juga oleh Fei yang berada di belakangnya.
"Beijing Zoo tujuan anda benar?" Supir taksi itu memastikan.
"Iya." jawab Yifan singkat. Setelah menjawab pertanyaan supir taksi tersebut Yifan menghempaskan tubuhnya ke kursi penumpang dengan cukup kasar.
"Kau baik-baik saja?"
Yifan tidak menjawab dan hanya terus memegangi kepalanya saja.
Fei membuang nafasnya secara kasar melirik Yifan dengan cukup hati-hati takut-takut saja pria itu bisa mengamuk secara tiba-tiba. Kuharap dia masih sedikit waras. batinnya.
__ADS_1