
"Jadi__"
"?"
Sudah hampir 7 jam Fei dan Yifan saling duduk berhadapan dan keduanya sama sekali tidak membicarakan hal yang penting. Dan tentu saja hal ini membuat Yifan merasa frustasi. Rasanya begitu jengah hanya duduk saling berhadapan tanpa berbicara sepatah katapun.
"Kau itu sebenarnya mau membicarakan apa? Bukankah semua penjelasanku sebelumnya sudah begitu jelas." Yifan mengusap wajahnya kasar.
Fei menunduk. Sementara Yifan merasa semakin jengah.
"Tidak ada yang ingin kau bicarakan lagi?" Yifan menekan kata-kata terakhirnya.
"..."
Yifan mengerang kesal.
"Sudah lupakan saja tidak ada yang perlu dibicarakan lagi pembicaraan kita cukup sampai disini!" Yifan bangkit dari kursinya dan hendak pergi keluar.
"Mau kemana?" Tiba-tiba saja Fei bersuara.
Yifan menghela nafas sejenak sebelum menjawab pertanyaan Fei. "Aku ingin pergi berbelanja untuk makan malam." katanya.
"Untuk apa ini masih pagi lagipula masih ada sisa bahan makanan di kulkas."
Yifan melirik sini kearah Fei. "Pagi? Ini sudah sore kau tidak sadar perdebatan tadi memakan waktu yang cukup lama ditambah pula duduk diam tanpa bicara satu katapun selama 7 jam. Dan lagi katamu masih ada sisa bahan makanan di kulkas... astaga kau buta di kulkasmu hanya tersisa sebutir telur yang tadi pagi sudah kumasak untuk sarapanmu. Kau mau hanya makan angin untuk malam ini?"
Fei mengangkat sebelah alisnya. Merasa heran dengan Yifan yang bersikap peduli padanya. "Kau peduli padaku?" tanyanya pada sang lawan bicara.
Yifan mengusak rambutnya lalu memandang malas wajah lawan bicaranya. "Tidak perlu kujawab." ujarnya sebelum akhirnya pergi darisana.
Fei mengerutkan dahinya bingung kemudian berucap pada dirinya sendiri. dasar aneh
וו×וווו××
__ADS_1
Pukul 16.30...
Sepeninggalan Yifan, Fei kembali ke ruangan kecil tadi yang sempat dimasuki Yifan. Fei masih berdiri mematung menatapi semua lukisan-lukisan disana dengan tatapan datar.
*s*eharusnya sejak lama aku hancurkan saja lukisan-lukisan ini
Tangan Fei bergerak mengambil sesuatu dari atas meja yang terletak di dalam ruangan kecil tersebut. Di atas meja itu ada sebuah pemantik api berukuran kecil. Buru-buru Fei mengambil benda berukuran kecil tersebut lalu memasukannya kedalam kantong celananya. Setelah itu ia pergi ke kamarnya untuk mengambil sebotol bensin lalu ia kembali ke ruangan kecil itu dan langsung menumpahkan cairan yang mudah tersulut api itu kearah lukisan-lukisan tersebut. Fei segera mengeluarkan pemantik dari kantong celananya dan menumpahkan bensin kearah lukisan-lukisan tersebut. Ia menatap sebentar kearah lukisan-lukisan itu sebelum akhirnya ia melemparkan pemantik yang sudah menyala kearah tumpahan bensin.
Dengan cepat api berkobar berusaha membakar semua lukisan termasuk seluruh isi ruangan tersebut.
hancur aku ingin semua ini hancur !
Namun tiba-tiba saja terjadi hal aneh kobaran api yang menyala itu tiba-tiba saja berhenti.
"Ckckck... bocah kau suka bermain api ya? Tapi ingatlah api itu berbahaya kau bisa saja membakar seluruh apertemen ini dan menghilangkan nyawa penghuni lainnya. Kau ini memang tidak bisa ditinggalkan begitu saja rupanya." Yifan tiba-tiba saja muncul dan berdiri di depan pintu sambil membawa dua kantung plastik besar berwarna hitam berisikan bahan belanjaan dapur.
Fei tercenggang tidak percaya dengan hal yang baru saja terjadi.
"Kau___ kau apakan apinya?!" serunya dengan rasa tidak percaya.
"Apa yang kau lakukan?!" Fei masih tercenggang.
Yifan berbalik memandang wajah lawan bicaranya itu yang kini masih tercenggang tidak percaya. "Bocah kalau kau ingin membakar dirimu tolong lakukan di luar apertemen ini agar tidak membayakan penghuni lainnya. Ayolah aku sedang tidak ingin bekerja mengumpulkan daftar orang mati." katanya malas. "Kalau sudah selesai terkejutnya kau bisa pergi mandi tubuhmu itu sangat bau busuk." lanjutnya kemudian melalui Fei begitu saja. Yifan lalu mengambil kantong belanjaannya dan pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
Fei tercenggang berusaha mencerna semua kejadian tidak masuk akal tadi namun sayangnya akal sehatnya tidak mampu menerimanya.
"Apakah ini adalah kemampuan dari seorang malaikat maut?" Fei berguman sendiri. Menatap sekitarannya yang nampak kembali normal dan tidak ada sedikitpun bekas terbakar di dalam ruangan membuatnya masih terkejut sekaligus tidak percaya.
tidak bisa dipercaya tapi aaarggh___sial hal seperti ini tidak habis bila terus dipikirkan lebih baik aku pergi mandi saja. ucapnya dalam hati. Setelah dirasa tidak ada keperluan lagi dalam ruangan kecil itu Fei lalu pergi keluar darisana.
×ווו×וווו×
__ADS_1
"Sudah selesai mandinya?"
Fei melirik sinis kearah Yifan yang kini tengah sibuk menyiapkan makan malam.
"Kau itu tidak buta kenapa harus bertanya lagi?"
Yifan berdecak lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Dasar temperamen."
"Cih urusi saja makan malammu itu." kata Fei sarkas. "Dasar ibu-ibu," cibirnya.
"Kau bilang apa tadi?" Yifan menatap nyalang pada Fei.
"Ibu-ibu kau itu persis seperti ibu-ibu rumah tangga." ejek Fei.
Yifan mendesah melirik Fei dari ujung matanya dengan malas. "Aku sedang tidak niat meladeni mulut lambe turahmu itu. Jangan membuat kolestrolku naik." katanya malas.
Fei mencibir. Menunjuk-nunjuk kearah Yifan dengan tidak sopan. "Coba lihat gaya bicaramu itu kau malah justru lebih terlihat seperti seorang manula yang mengkhawatirkan kolestrolnya naik ketimbang sebagai seorang malaikat ma___"
BRUAK!
Yifan membanting panci yang berada di tangannya keatas meja dengan begitu keras dan nyaris membuat meja kayu ulin itu terbelah dua.
Fei terdiam sementara Yifan tampak murka.
"Diamlah bocah temperamen kau hampir saja membuatku menghancurkan meja ini. Tolong diamlah atau congormu itu kumasak bocah! Kau ini lupa sedang berhadapan dengan siapa?" Yifan menatap tajam kearah Fei dan kini ekspresi wajahnya terlihat sangat menakutkan.
Fei meringis lalu berucap dalam hatinya sendiri. terkutuklah mulut lambe turahku, sekarang malaikat manula ini mau membunuhku.
Yifan melipat kedua tangannya di depan dada dan masih dengan tatapan tajamnya kemudian berkata. "Hei bocah aku bisa mendengar ucapanmu itu kau masih menghinaku rupanya!" ujar Yifan lalu mengeluarkan sabit berukuran besar dari balik tubuhnya.
Fei tercekat dan hanya bisa berdoa meminta pada Tuhan supaya nyawanya dicabut terlebih dahulu sebelum dicabut oleh malaikat manu__eh maut maksudnya.
mampuslah aku. Fei hanya bisa merinding disko.
__ADS_1
Catatan
**lambe turah berasal dari bahasa Jawa yang konotasinya tidak baik. Kata ini digunakan untuk menggambarkan sifat orang yang banyak omong, tukang nyinyir, tukang gosip, penggumbar rahasia orang lain.