I Can Live

I Can Live
17. Surprise


__ADS_3

Yifan tersenyum bak bintang antagonis lalu dengan cepat ia menarik keluar jantung Fei yang bahkan masih berdetak saat ia cabut keluar.


Berpikir dirinya akan mati Fei sudah pasrah namun yang terjadi malah sebaliknya bahkan tidak terlalu merasakan sakit saat Yifan menarik keluar jantungnya.


"Terkejut manis?" Yifan menempelkan telunjuknya di depan bibirnya yang masih memulas senyum jahat.


Fei meraba-raba dadanya sendiri dan ia menemukan sebuah lubang tak berisi apa-apa di sana. Dan hal itu membuatnya ketakutan luar biasa, ia juga bahkan sudah tidak bisa merasakan detak jantungnya lagi.


Melihat Fei ketakutan seperti itu Yifan lalu mendekat ke arah Fei. Ia berjongkok di depan remaja laki-laki itu menatapnya dengan tatapan iba. "Kalau saja seandainya kau lebih penurut mungkin saja aku tidak akan melakukan ini padamu." katanya.


Fei hanya diam namun ia balas menatap Yifan dengan tatapan tajam yang menyiratkan bahwa ia masih belum mau menyerah.


Yifan menyeringai. "Keras kepala tetaplah keras kepala... sudah kalah tapi masih melawan. Mungkin ini saatnya aku mencabut jiwamu, bersiaplah manis." ucapnya memperingatkan.


Yifan mengeluarkan sabitnya lalu ia menggerakan sabit itu seperti sedang mengoyak tubuh Fei.


SRET!


Yifan berhasil mengambil jiwa Fei dan kini di ujung sabitnya terdapat bola kecil berwarna putih tampak menempel di sana.


Yifan mengambil bola itu lalu memainkannya dengan sebelah tangannya yang kosong.


"Fei... Fei... coba lihat sekarang jiwamu dengan mudahnya kucabut." katanya sambil melirik ke arah tubuh Fei yang sudah tergeletak begitu saja di atas lantai.


"Mati sih urusan mudah. Tapi tidak seru jadinya kalau sekarang kau sudah mati. Hm, kurasa sudah cukup sampai sini saja menghukummu."


Yifan lalu mendekat ke arah tubuh Fei, kemudian mengambil tubuh tersebut lalu diletakannya dalam pangkuan. Ia mengambil bola berwarna putih yang berada di sabitnya untuk dimasukan kembali ke dalam tubuh Fei


.Setelah mengambil bola tersebut ia lalu memasukkan tangannya yang tengah memegang bola putih itu ke dalam mulut Fei. Seolah seperti tidak terhalang apa pun di dalam sana dengan mudahnya ia menerobos masuk ke dalam.


"1...2...3...." hitung Yifan. Setelah menyelesaikan hitungannya yang ketiga tiba-tiba saja Fei bangkit kembali.


"Uhuk...uhuk...uhuk...." Fei terbatuk-batuk dan tidak lama kemudian matanya mulai membuka lebar.


"Bagaimana rasanya?" Yifan tersenyum mengejek.


Fei ingin membalas namun untuk saat ini ia lebih memilih diam karena kondisinya yang sedang lemah.

__ADS_1


"Pasti rasanya sakit sekali." sindirnya. "Oh hampir saja aku lupa... jantungmu manis." Yifan mengambil jantung Fei lalu memasukkannya kembali ke dalam rongga dada Fei.


Deg... deg....deg


Fei kini bisa merasakan kembali jantungnya berdetak saat Yifan telah berhasil memasukan jantungnya ke dalam rongga dadanya yang kosong.


"Enak bukan? Sudah bisa merasakan kembali detak jantungmu manis," ucap Yifan sembari tersenyum manis.


Fei sebenarnya ingin marah dan melawan Yifan namun mengingat kondisinya yang saat ini masih lemah membuatnya tidak mampu bergerak sedikit pun.


Keparat seandainya saja tubuhku tidak selemah ini mungkin aku sudah akan menghabisinya. ucap Fei dalam hati.


"Eit____ kau barusan sedang mengataiku dalam hati bukan?" Yifan tersenyum licik.


Fei tercekat. Ia hanya bisa menatap nyalang pada Yifan.


"Ck...ck... ck. Sudahlah jangan berulah lagi Fei. Sebaiknya kau istirahat saja tidak ada gunanya juga kau melawanku. Patuhi saja aku oke manis?" Yifan meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya sendiri. "Dan jangan lupa jaga mulut kurang ajarmu itu oh__ atau lebih tepatnya isi hati dan pikiranmu." tambahnya.


Fei menggertakkan giginya kesal. Seluruh emosinya meluap begitu saja. "Kurang ajar kau keparat!" geramnya.


Mendengar Fei kembali menghujatnya Yifan dengan segera menyeret tubuh Fei ke arah tembok lalu membenturkan kepala remaja laki-laki tersebut dengan cukup keras sampai membuat remaja laki-laki itu mengerang kesakitan.


“Tidak.” jawabnya tak gentar sedikit pun. Dengan sekuat tenaga Fei berusaha melawan balik Yifan walau tidak berhasil sepenuhnya tapi ia berhasil melepaskan dirinya sendiri. Dengan nafas terengah-engah ia mendorong Yifan sampai membuat pria itu terjatuh dan begitu juga sebaliknya Fei juga ikut terjatuh di atas tubuh Yifan.


Mendapatkan posisi di atas Fei dengan segera memanfaatkan kesempatan itu untuk mencekik leher Yifan dengan begitu kuat.


“Mati kau iblis!” Fei terus mencekik Yifan sampai akhirnya ia sendirilah kehabisan tenaga kemudian terjatuh di atas tubuh besar si pria.


“Menyerahlah saja sudah…." ujar Yifan.


“Jawabannya tetap tidak laknat!” katanya dengan suara pelan. Ia sudah merasa sangat kelelahan tapi ia tetap saja masih keras kepala.


“Dasar kepala batako.” sindir Yifan. Yifan kemudian mengangkat tubuh Fei dari tubuhnya sendiri lalu menggendong remaja laki-laki itu dengan gaya bridal style. “Main-mainnya sudah cukup.” katanya sambil menggendong Fei.


Fei berusaha berontak namun tubuhnya terlalu lemah lagi pula kondisinya saat ini cukup memprihatinkan dengan pelipis yang masih terus mengucurkan darah segar.


“Turunkan aku laknat!” perintahnya.

__ADS_1


Yifan tidak mau mendengarkan Fei ia masih tetap menggendongnya lalu membawanya ke kamar untuk mengobati lukanya.


“Sudah sekarat saja masih banyak bicara.” sindir Yifan.


“Diam kau laknat!” Fei masih berusaha melawan dengan memukul-mukulkan tangannya ke dada bidang Yifan. Karena terus berusaha melawan Fei akhirnya mulai merasakan kesadarannya mulai menurun yang membuatnya berakhir terkulai lemas tanpa perlawanan.


Yifan menatap rendah Fei kemudian terkikik geli. “Itulah akibat kalau kau keras kepala.” katanya senang. Akhirnya dengan mudah Yifan membawa Fei masuk ke dalam kamar.


וווווווו


“Jangan lakukan itu lagi!” kata Yifan.


Fei mengerutkan keningnya. “Apa maksudmu?” Fei merasa kurang


jelas dengan kata-kata yang dilontarkan oleh Yifan.


“Maksudku kau jangan melakukan hal konyol seperti tadi yang dapat membahayakan nyawamu sendiri.” Yifan menatap Fei penuh arti.


Bukannya menurut Fei malah mencibir Yifan dengan sengaja ia menjulurkan lidahnya ke depan wajah Yifan memberi isyrat bahwa saat ia tengah mengejeknya. “Itu semua salahmu sendiri."


Yifan mendesis. Jika saja ia sudah tidak punya hati nurani mungkin saja dengan senang hati ia akan menyiapkan lubang kubur khusus untuk Fei.


Tuhan ampuni dosa-dosaku, hamba benar-benar sudah lelah menghadapi ciptaan-Mu yang satu ini. batin Yifan.


Bahkan untuk malaikat seukuran Yifan pun bisa merasakan lelah duniawi jika dihadapkan dengan mahkluk hidup seperti Fei.


"Ya sudah lebih baik kau istirahat saja, tampaknya berdebat dengan otak yang sudah setengah miring sepertimu tidak ada gunanya." kata Yifan sebelum beranjak pergi meninggalkan kamar.


"Mau kemana ba*ng*sat?" tanya Fei.


"Bukan urusanmu. Lebih baik kau istirahat saja... ngomong-ngomong kalau nanti kau merasa lapar kau bisa pergi ke dapur untuk mengambil Youtiao yang sudah kubeli semalam." kata Yifan sebelum akhirnya benar-benar pergi dari sana.


Fei hanya bisa mendecak kesal saat Yifan pergi meninggalkannya sendirian. "Dasar tidak bertanggung jawab." gumamnya pada dirinya sendiri.


וווווווו


Catatan

__ADS_1


Youtiao yang dikenal juga dengan donat China. Meruapakan roti goreng yang terbuat dari tepung terigu ini bentuknya panjang dan berwarna cokelat keemasan. Memiliki rasa sedikit asin dan mudah disobek jadi dua bagian.


__ADS_2