
Setelah Fei dan Yifan turun dari taksi keduanya kini sudah berada di luar pekarangan rumah ayah Fei.
Fei ingin segera masuk ke dalam pekarangan rumah namun Yifan melarangnya.
"Tunggu sebentar!" Yifan mencegat Fei untuk masuk ke dalam pekarangan rumah.
Fei menoleh ke arah Yifan dengan wajah kebingungan. "Ada apa?"
Puk
Yifan memukul pelan bahu Fei dan tiba-tiba saja tubuh Fei berubah menjadi tembus pandang.
Mata Fei bergetar ketika melihat tubuhnya menjadi tembus pandang. "Ini... kau__apakan tubuhku?!" Fei terlihat ketakutan ketika melihat tubuhnya menjadi tembus pandang.
"Tenang saja, kau tidak usah ketakutan seperti itu. Aku senjaga membuatmu menjadi tembus pandang agar kau bisa menyusup masuk ke dalam rumah ini tanpa perlu di ketahui orang lain." kata Yifan sembari memperhatikan sekitar pekarangan. "Ngomong-ngomong rumah sebesar dan semewah ini tentu saja pasti memiliki banyak penjaga di dalamnya. Bukankah akan menjadi sangat berbahaya kalau kau sampai ketahuan menyusup ke dalam rumah orang kaya seperti ini meski pun ini kau anak dari pemilik rumah ini." lanjutnya.
Fei mendecak kesal. "Kalau kau sudah membuat tubuhku menjadi seperti ini, seharusnya kau juga melakukan hal yang sama pada tubuhmu juga." Fei tampaknya tidak terima jika hanya dirinya saja yang dibuat menjadi tembus pandang.
"Iya__iya cerewet." Yifan pun akhirnya ikut mengubah tubuhnya menjadi tembus pandang.
Setelah melihat Yifan yang juga sudah berhasil mengubah tubuhnya menjadi tembus pandang Fei . "Sekarang apa yang harus kita lakukan?"
Yifan melihat arlojinya sebentar kemudian menjawab pertanyaan Fei. "Masuk ke dalam lalu lihat kematian ayahmu yang tragis kemudian beri tanda ceklis pada fotonya di buku kematian selesai. Mudah dan sangat simpel." ucap Yifan dengan acuhnya.
Fei menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa jadi sesimpel ini? Kupikir semua ini akan jadi rumit." Fei terlihat tidak percaya.
Yifan melirik Fei dengan malas. "Yah... sebenarnya kau itu saja yang terlalu berlebihan soal kematian ayahmu, sampai-sampai kau menjadi parno sendiri." sindir Yifan. "Kau itu masih belum bisa mengontrol emosi." lanjutnya.
Fei hanya diam tidak membalas meski pun ia berpikir bahwa semua ini terlalu mudah untuk dilakukan.
Akhirnya kedua berhenti berbicara lalu berjalan menuju ruangan ayah Fei.
Di tengah perjalanan menyusuri ruangan dalam rumah tersebut Yifan tiba-tiba saja berhenti berjalan kemudian ia berdiri di depan sebuah pintu berwarna merah. "Kau sudah mempersiapkan hatimu?" tanyanya pada Fei.
Fei tercekat. "Apa ayahku berada di dalam sana? Bagaimana kau bisa tahu ayahku berada di sana padahal kau sama sekali tidak pernah menginjakkan kaki di rumah ini."
Yifan mendecak. "Bocah kau lupa kalau aku ini bukan manusia tentu saja untuk melakukan hal semudah ini tidak akan sulit bagiku. Sudahlah jangan membahas hal yang tidak penting. Aku hanya ingin memastikan apa kau sudah siap dengan hal ini?" Yifan berusaha memastikan Fei.
Fei terlihat ragu namun ia berusaha memantapkan dirinya sendiri dengan suara yang pelan ia berucap seperti ini. "Apa pun yang terjadi aku sudah siap...." Jujur saja Fei terlihat sangat ragu untuk saat ini namun ia tetap berusaha menyembunyikan keraguannya.
Berbanding terbalik dengan Fei, Yifan justru tersenyum tipis kemudian tanpa ragu ia memegang kenop pintu tersebut lalu membuka pintunya lebar-lebar. Dengan wajah yang terlihat sumringah Yifan berbalik menghadap Fei untuk mengatakan sesuatu. "Kuharap kau akan menyukai ini Fei." kata Yifan ceria.
Pintu terbuka lebar dan menampilkan sosok seorang pria paruh baya tengah menyayat pergelangan tangannya sendiri dengan sebuah pisau dapur. Di sekitaran pria itu pun terlihat banyak darah segar berceceran menghiasi putihnya ubin lantai dalam ruangan tersebut.
Fei menganga tidak percaya ketika melihat kondisi ayahnya terlihat begitu sangat mengenaskan. "Ayah... ayah... ayah." Dengan suara pelan Fei terus memanggil-manggil ayahnya. Air matanya mengalir dari kedua matanya dan ia terlihat sangat sedih.
Pintu terbuka lebar dan menampilkan sosok seorang pria paruh baya tengah menyayat pergelangan tangannya sendiri dengan sebuah pisau dapur. Di sekitaran pria itu pun terlihat banyak darah segar berceceran menghiasi putihnya ubin lantai dalam ruangan tersebut.
Fei menganga tidak percaya ketika melihat kondisi ayahnya terlihat begitu sangat mengenaskan. "Ayah... ayah... ayah." Dengan suara pelan Fei terus memanggil-manggil ayahnya. Air matanya mengalir dari kedua matanya dan ia terlihat sangat sedih.
Yifan berjalan masuk terlebih dahulu kemudian ia berjalan mendekati pria tersebut.
"Wah... wah rupanya anda adalah ayah kandungnya Fei tapi kenapa anda menjadi sangat tragis seperti ini hm...." Yifan menunjuk-nunjuk wajah pria paruh baya itu dengan telunjuknya.
Fei menganga merasa tidak percaya ketika melihat dengan mata kepalanya sendiri saat ayah kandungnya itu mengiris pergelangan tangannya sendiri.
Pria paruh baya itu kemudian menarik urat nadinya hingga terputus. Dengan terengah-engah pria itu akhirnya jatuh terkapar di atas lantai dengan darah yang mulai menggenangi lantai tersebut.
Yifan melirik ke arah Fei dengan senyum nakal di wajahnya. "Si tua bangka ini tidak akan langsung mati begitu saja. Dia akan mati setelah kehabisan banyak darah. Bukankah ini sangat menyenangkan Fei... ayahmu memang pantas mendapatkan hukuman kematian yang tragis seperti ini. Ketimbang membuatnya mati secara cepat bukankah mati dengan cara perlahan seperti ini justru membuatnya terasa sangat menyakitkan."
__ADS_1
Fei diam seluruh tubuhnya dan bahkan pikirannya pun terasa berhenti bekerja. "Bukankah ini sudah sangat keterlaluan Yifan...."
Yifan menoleh ke arah Fei bingung. "Huh? Kenapa kau malah jadi seperti ini! Justru inilah waktu yang tepat untuk membalaskan dendammu Fei dengan menikmati kematian pria mesum ini yang sudah menyiksamu sejak kecil." ujar Yifan.
Fei menggigit bibirnya kemudian menatap ragu ke arah ayahnya sudah tampak sekarat.
"Fei...Fei...Fei... anakku," panggil pria paruh baya itu dengan suara lemah.
Fei tercekat ia langsung mendekat ke arah ayahnya.
Saat Fei mendekat padanya pria paruh baya itu tersenyum pada putra semata wayangnya. "Fei___rupanya kau sudah besar___ ayah___ayah sudah lama sangat ingin mengatakan ini padamu." Pria paruh baya itu berusaha berbicara meski pun ia sudah merasa
"Maafkan ayah Fei." ucap pria itu penuh penyesalan. Pria itu tersenyum lemah ia hendak menyentuh Fei.
Fei menepis tangan ayahnya. Dia hanya menatap dalam diam ayahnya tersebut.
Sementara itu Tuan Lou tampak berusaha berbicara dengan putra semata wayangnya itu. "Fei ayah sangat merindu____ ohok___ohok." Belum sempat menyelesaikan ucapannya tiba-tiba saja Tuan Lou batuk berdarah.
Melihat kondisi ayahnya yang sekarat Fei mendekat pada ayahnya. Tuan Lou merasa senang berpikir anaknya akan memeluknya namun yang terjadi malah hal sebaliknya.
Tanpa diduga Fei tiba-tiba saja mengambil pisau yang tidak jauh dari jangkauannya tanpa ragu ia menikam pria paruh baya itu tepat di jantungnya.
"KAU JANGAN SEENAKNYA MATI DENGAN WAJAH TERSENYUM SEPERTI ITU KEPARAT! SELAMA BERTAHUN-TAHUN AKU HIDUP DALAM PENDERITAAN TAPI KAU BISA-BISANYA TERSENYUM DISAAT-SAAT TERAKHIRMU."
Pria itu langsung mati begitu saja dan menyisakan mayat pria itu mati dengan kondisi yang mengenaskan.
“Pria malang…mati dengan kondisi mengenaskan seperti ini tapi sekarang aku berpikir bahwa lantai ruangan ini jauh lebih mengenaskan karena penuh dengan genangan darah yang menjijikan,” ucap Yifan sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah. Yifan kemudian mengeluarkan buku hitamnya lalu seperti biasa ia mulai menandai foto orang yang sudah mati.
Sementara itu Fei sendiri masih syok dengan kejadian mengerikan tadi.
“Uhm, aku tidak menyangka kau akan berbuat seperti itu tadi.” ujar Yifan pada Fei.
Fei tidak menjawab dan masih diam ditempatnya. Melihat Fei yang masih
lalu menarik tangan Fei membawanya keluar dari ruangan.
“Ah maaf sepertinya aku lupa bahwa kau masih belum bisa beradaptasi dengan kondisi seperti ini,” kata Yifan penuh penyesalan.
“Dasar bodoh!” maki Fei. Saat ini wajah Fei terlihat sangat pucat.
Yifan kemudian menjetikkan jarinya sebanyak dua kali. Fei menoleh padanya menatapnya dengan wajah bingung.
"Apa yang kau lakukan?"
"Untuk saat ini aku memang tidak menjelaskan semuanya padamu tapi... untuk sekarang aku sangat memohon kerjasamamu denganku." kata Yifan memelas.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Fei tidak sabaran.
"Aku ingin kau mengambil semua berkas-berkas aset milik ayahmu." jawab Yifan.
Tanpa membantah sama sekali Fei tampaknya mengiyakan permintaan Yifan. "Apa yang harus kulakukan?" Fei tampaknya sudah bersiap untuk melakukan sesuatu yang diinginkan oleh Yifan.
Yifan menyentuh bahu Fei kemudian ia tampak membisikkan sesuatu di telinga Fei. Seolah terhipnotis Fei tampaknya langsung bergerak menuruti perintah Yifan.
“Sekarang ambilah semua berkas-berkas itu. Pergilah ke kamar ayahmu lalu ambil semuanya berkasnya setelah itu kau harus segera pergi dari sini tanpaku. Aku sudah memesan taksi dan saat kau keluar dari sini kau harus segera masuk ke dalam taksi tersebut!" titah Yifan. Seolah seperti sedang menghipnotis Yifan berhasil memanipulasi pikiran Fei.
Fei sendiri langsung menurut ia langsung beranjak pergi dari tempatnya menuju kamar ayahnya untuk mengambil semua berkas-berkas penting kepunyaan ayahnya.
Sesuai rencana dia harus menuruti semua perintahku. batin Yifan.
__ADS_1
ווו×וו
Dua puluh menit telah berlalu kini Fei telah berdiri di hadapan Yifan sambil membawa tas plastik berisikan berkas-berkas milik ayahnya.
Yifan mengamati Fei sebentar kemudian ia segera menyuruh Fei untuk segera pergi. "Setelah ini kau harus segera pergi Dan pulang ke tempat penginapan kita!" titah Yifan sekali lagi.
Fei mengangguk lalu ia segera pergi dari sana sambil membawa tas plastik berisikan berkas-berkas ayahnya.
וו×ווו×
Sepeninggalan Fei, Yifan masih berada di dalam ruangan tersebut bersama dengan mayat Tuan Lou.
Yifan mendekati mayat tersebut memandang rendah mayat tersebut seolah-olah mayat itu telah mati dengan cara yang hina.
"Tuan Lou apakah sampai di sini saja kekuasaanmu? Seperti yang kuharapkan kau memang pantas mati dengan cara yang hina seperti ini. Kuharap setelah ini kita bisa bertemu sebentar saja di neraka." ucap Yifan di hadapan wajah mayat tersebut.
Kemudian Yifan memutilasi tubuh Tuan Lou
menjadikan dagingnya sebagai fillet. Yifan mengambil pisau yang terletak tidak jauh darinya. Pisau tersebut merupakan pisau dapur yang telah digunakan Tuan Lou untuk melakukan percobaan diri sekaligus juga digunakan Fei untuk menikam tubuh Tuan Lou. Pisau tersebut berlumuran darah dan tercium aroma darah yang begitu amis dan kental. Yifan mengambil pisau tersebut kemudian menciumnya, sedikit menjilati darah yang tersisa di sana. Mungkin aku akan menjadikan pisau laknat ini sebagai senjata favoritku. ucapnya dalam hati.
Yifan kemudian bersiap-siap memutilasi tubuh Tuan Lou untuk dijadikan fillet.
Mula-mula Yifan memotong kepala Tuan Lou lalu ia memposisikan pisaunya di belakang dada Tuan Loun kemudian ia memotongnya secara diagonal kebawah, dilanjutkan dengan bagian samping tubuhnya. Setelah itu ia memotong bagian bawahnya dengan cara memposisikan pisau di bagian pangkal bawah tubuh lalu memotongnya secara lurus kebawah.
Setelah memisah-misah bagian anggota tubuh Tuan Lou kini Yifan bersiap untuk memfillet tubuh Tuan Lou. Mulai dengan bagian pangkal kepala, kemudian menekan lalu memotongnya melalui tulang sampai bagian tubuh bawah. Dilanjutkan dengan memotong sekitar tulang rusuk untuk memisahkan fillet.
Memotong bagian pinggiran hasil filletan untuk membuang bagian pinggiran perut dan punggung.
Dilanjutkan dengan membuang kulitnya yang dimulai dari ujung bagian bawah, mengiris antara kulit dan daging, menahan bagian kulit, lalu menggerakkan pisau menyisir bagian fillet sampai kebagian pangkal kepala.
Selesai memfillet tubuh Tuan Lou, Yifan juga mengambil otaknya. Yifan menjentikkan jarinya sekali lalu muncul dua buah benda di hadapannya. Benda yang pertama adalah sebuah stoples berukuran kecil dan yang satunya adalah tabung kecil berisikan cairan pengawet berwarna hijau kekuningan.
Yifan kemudian mengambil hasil daging filletannya lalu memasukkannya kedalam stoples sementara untuk otak ia memasukannya ke dalam tabung kecil berisikan cairan pengawet.
Merasa sudah tidak ada yang perlu ia kerjakan lagi Yifan memutuskan untuk membakar seluruh isi rumah ini untuk menghapus semua bukti yang tersisa. Yifan sangat sadar betul bahwa Tuan Lou adalah salah satu orang penting di negara ini karena itu akan sangat merepotkan bila mayatnya berhasil ditemukan dalam kondisi yang sangat mengerikan seperti ini.
Dengan pikirannya Yifan membayangkan sebuah kobaran api besar melahap habis seluruh isi rumah ini habis tak bersisa satu pun. Lewat pikirannya itulah muncul sebuah percikan api kecil dari mayat tubuh Tuan Lou yang nyaris sudah tidak berbentuk utuh lagi. Api itu mulai membakar habis mayat tersebut lalu mulai merambat ke arah benda-benda yang mudah terbakar.
Selesai membakar rumah tersebut Yifan segera beranjak pergi dari sana dengan kemampuan teleportasinya. Yifan akhirnya sampai di sebuah gang kecil yang sempit dan gelap. Di sana Yifan beristirahat sejenak memulihkan tenaganya sejujurnya is merasa sedikit kelelahan karena hari ini ia sudah terlalu banyak menggunakan sihir. Tidak seperti dulu lagi kini kekuatan Yifan sudah banyak menurun drastis ketimbang di masa lalunya ia sangatlah kuat dan tak terkalahkan.
Dulu ya dulu meski pun di masa lalu kau adalah orang hebat belum tentu di masa mendatang kau akan sama hebatnya dengan dirimu di masa lalu.
Guk... guk... guk
Seekor anjing liar tiba-tiba saja muncul entah darimana mendekat ke arah Yifan. Anjing liar tersebut tampaknya merasa sangat kelaparan. Anjing tersebut menjilati darah di tangan Yifan dengan sangat rakus.
Yifan tersenyum kemudian ia mengeluarkan isi stoplesnya lalu memberikan daging filletan tersebut pada si anjing liar.
Guk...guk...guk
Anjing liar tersebut tampak kesenangan dengan rakusnya anjing liar tersebut melahap habis daging filletan yang diberikan oleh Yifan.
Yifan kemudian berdiri dari tempatnya dan hendak pergi beranjak dari sana sebelum ia pergi dari sana Yifan mengelus lembut kepala anjing liar tersebut yang masih sibuk menyantap daging filletnya. "Maaf kalau dagingnya tidak enak, tapi hanya itu saja yang bisa kuberikan padamu." ucap Yifan sebelum akhirnya meninggalkan tempat tersebut.
Yifan berpikir mungkin alangkah baiknya bila ia pergi menemui seseorang karena saat ini ia sudah berada di Beijing.
__ADS_1