
"Kenapa... kenapa dia bisa sampai mati. Kau membunuhnya!" erang Fei.
Yifan menatap tajam Fei. "Jangan katakan itu dengan suara yang keras kau bisa menimbulkan masalah bodoh." katanya sedikit kesal.
Yifan menyeruput habis minumannya lalu dengan suara pelan ia berusaha menjelaskan semuanya pada Fei. "Dengar aku sama sekali tidak membunuhnya. Lagipula pelayan itu memang sudah saatnya mati." ucapnya tanpa berperasaan.
Fei tercenggang namun ia melotot ke arah Yifan berusaha meminta penjelasan yang sebenarnya ia merasa sangat yakin bila Yifan saat ini tidak berbicara sepenuhnya tentang kebenaran yang ada. "Aku yakin kau pasti punya penjelasan yang lebih masuk akal dari ini semua. Cobalah untuk berkata jujur Yifan bukankah saat ini kita sudah menjadi teman." kata Fei.
Yifan mendengus namun tidak lama kemudian ia menyeringai. "Kau sedang membujukku? Wah...wah tak kusangka kau bisa berbuat seperti ini rupanya." sindir Yifan.
Fei mendengus kesal kemudian menatap Yifan serius. "Apa susahnya berkata jujur pada temanmu sendiri...." Fei terlihat sangat berharap akan jawaban dari Yifan.
Setelah mendengar itu dari Fei dengan cepat Yifan merubah raut wajahnya menjadi lebih ramah. "Baiklah...baiklah maafkan aku Fei. Kau tahu terkadang aku sangat suka melihat ekspresimu itu."
Fei merengut kemudian ia berkata seperti ini pada Yifan. "Tolong berhentilah melakukan itu." Fei terlihat tidak suka.
"Sebenarnya pelayan itu sudah di jadwalkan mati hari ini. Akh... tunggu sebentar__" Yifan menjeda kalimatnya karena tiba-tiba saja ia teringat sesuatu hal yang penting. Yifan menjentikkan jarinya sekali dan kemudian muncul sebuah buku berwarna hitam di tangan kirinya. Yifan segera membuka buku itu lalu mencoret sesuatu pada lembaran kertas buku itu dengan sebuah pulpen di tangannya yang entah didapat darimana. "Selesai. Hampir saja aku melupakannya." Yifan hendak menutup buku itu sampai Fei akhirnya berusaha menahannya.
"Tunggu sebentar Yifan." cegah Fei.
Yifan menoleh kemudian menatap Fei bingung. "Ada apa?"
"Kau tidak membunuhnya kan?"
"Tidak. Ayolah Fei tolong jangan pernah berpikiran aku membunuh pelayan itu. Aku hanya melakukan tugasku seperti yang kau tahu." ujar Yifan. Karena merasa Fei tidak percaya dengannya Yifan akhirnya menunjukkan bukunya pada Fei. "Kalau kau tidak percaya kau bisa lihat ini. Pelayan itu memang mati hari ini dengan kondisi mengenaskan seperti itu karena dosa-dosanya semasa hidup." tambah Yifan.
Tanpa berlama-lama Fei langsung melihat buku itu dan seperti yang di ucapkan Yifan sebelumnya nama pelayan itu memang tertera di sana bahkan lengkap dengan fotonya yang sudah di beri tanda ceklis.
"Apa maksudnya ini?" Fei menunjukkan tanda ceklis pada foto pelayan tersebut pada Yifan.
Yifan melihat ke arah yang ditunjukkan Fei. "Kau pasti bertanya tentang maksud tanda ini bukan. Ah tanda ini ceklis ini memiliki arti bahwa orang yang berada di foto ini sudah mati itu artinya jiwanya sudah berhasil kukumpulkan."
"Oh. Lantas apa yang kau maksud dengan wanita itu mati karena dosa-dosanya? Tentu saja kau harus bisa menjelaskan yang satu ini." Fei menatap Yifan serius.
"Sebenarnya aku tidak boleh memberitahukannya karena itu sama saja dengan membuka aib orang yang sudah mati tapi karena sudah begini memang lebih baik aku katakan saja sejujurnya padamu. Wanita itu sebenarnya adalah seorang sanpei xiaojie dan karena pekerjaan haramnya itulah umurnya berkurang drastis sampai akhirnya ia harus mendapatkan hukuman mati. Wanita itu memang sudah di jadwalkan mati hari ini, kecelakaan yang menimpa wanita itu merupakan salah satu hukuman yang harus diterimanya sebelum mati. Jadi ini semua murni tanpa campur tanganku. Aku hanya bertugas mengumpulkan daftarnya saja bukan membunuhnya." jelas Yifan panjang lebar.
Fei yang mendengar penjelasan Yifan hanya diam saja dan sedikit merasa bersalah pada Yifan karena sudah menuduhnya membunuh palayan kafe tersebut.
Yifan mendecak kemudian langsung menghabiskan kopinya. Ia kemudian melirik ke arah gelas berisikan jus dan piring berisikan kue milik Fei yang masih belum tersentuh sama sekali. "Kau tidak mau meminum jus atau memakan kuemu?"
Fei memutar bola matanya. "Bagaimana mungkin aku bisa berselera makan di saat situasi seperti ini. Aku masih punya hati." sindirnya.
__ADS_1
Yifan langsung berdiri dari kursinya lalu menatap Fei malas. "Terserahmu sajalah." ucapnya. Yifan hendak pergi membayar makanan dan minuman yang sudah ia pesan meski ia tahu bahwa saat ini kasir sedang kosong.
```
ווו×ווו
```
"Yang tadi itu tidak usah di pikirkan, lupakan saja hal semacam itu. Nanti lama-lama kau juga akan terbiasa." kata Yifan dengan santainya. Yifan menepuk-nepuk pundak Fei kemudian tersenyum hangat pada remaja laki-laki itu. "Tenanglah. Percayakan saja semuanya padaku." ucapnya penuh keyakinan.
Fei tersenyum tipis namun tidak lama kemudian dia menendang betis Yifan sehingga membuat malaikat maut itu nyaris kehilangan keseimbangannya. "Berhentilah berkata-kata seperti itu terus. Lama-lama kau membuatku seperti seorang uke saja."
Yifan mengusap betisnya kemudian berdiri tegap memandang sinis ke arah Fei. "Kalau kau berkata seperti itu tandanya kau merasa bahwa saat ini kita berdua sedang berada di zona cinta. Fei tolonglah aku sungguh merasa sangat geli."
"Memangnya siapa juga yang mau jadi uke! Dan siapa pula yang mau terjebak dalam hubungan cinta terlarang sesama lelaki denganmu. Tolong aku masih sangat normal untuk ukuran seorang remaja laki-laki sehat." Fei terlihat berusaha membela dirinya sendiri.
"Apa buktinya?"
"Aku bisa menghabiskan empat kotak tisu setelah membaca majalah dewasa berisikan model-model wanita cantik dan seksi. Tentu saja aku berharap memiliki pacar secantik model-model tersebut." ucap Fei dengan bangga.
Yifan tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan polos Fei. "Hahahaha... oke...oke pria kecil kuakui kau masih cukup normal. Huft kalau begitu kau katakan seperti apa tipe ideal wanitamu?" Yifan berkedip seperti memberi sebuah kode pada Fei.
Yifan yang sudah tahu dari awal bahwa Fei itu hanya berbohong memang sengaja memancingnya. "Ayolah pria empat kotak tisu bukankah kau tadi kau bilang bahwa kau menyukai wanita cantik bertubuh seksi hm?" Yifan berusaha memojokkan Fei.
Fei gelagapan tanpa pikir panjang ia lalu langsung berteriak dengan sangat suara yang sangat keras. "AKU SUKA WANITA SEKSI YANG MEMILIKI MELON BESAR PUAS KAU!"
Tiba-tiba saja melintas seorang wanita muda seksi yang memiliki dua buah melon raksasa di hadapan Fei dan Yifan. Wanita itu berhenti tepat di hadapan Fei.
Melihat wanita itu berhenti di hadapannya membuat Fei merasa sangat gugup tak terkendali. Sementara itu Yifan yang melihat Fei bertingkah konyol seperti itu membuatnya terkikik puas di sana.
Fei memejamkan matanya berpikir dia akan mendapatkan sebuah tamparan membuatnya memejamkan mata. Sialansialansialansialan. umpatnya beruntun dalam hati.
Mengira wanita itu akan menamparnya justru yang terjadi malah sebaliknya wanita muda itu justru mengecup pipi Fei lalu mencubiti pipinya dengan gemas. "Astaga... kamu manis sekali. Uuuh jika saja seandainya aku lebih muda sepuluh tahun darimu mungkin aku akan menjadikanmu sebagai kekasihku." Wanita itu bahkan hendak memeluk Fei namun dengan cepat Fei menghindarinya. Namun wanita itu masih belum menyerah dan terus berusaha memeluk Fei sampai akhirnya Yifan menghalangi Fei dengan tubuhnya.
"Nona saya minta maaf tapi sepertinya adik saya ini tidak terlalu suka didekati oleh wanita dewasa." ucap Yifan sembari tersenyum pada wanita seksi tersebut.
Awalnya wanita itu berniat ingin protes tapi begitu ia melihat wajah tampan Yifan membuatnya terpesona sekaligus membuat niatnya urung seketika. Wanita itu berdehem kemudian berjalan sedikit menjauh dari keduanya. Dengan malu-malu ia meminta maaf pada Yifan atas ketidaksopanannya.
"Tolong maafkan aku tuan karena sudah membuat adikmu merasa tidak nyaman." Wanita itu meminta maaf namun dengan ciri khas gayanya yang genit.
Yifan mengangguk-angguk sembari tersenyum ramah meski dalam hatinya ia menjerit jijik melihat tingkah wanita yang satu ini. "Sudahlah tidak apa-apa nona." katanya ramah.
__ADS_1
Sebenarnya wanita itu masih ingin berlama-lama dengan kedua makhluk adam itu karena itu ia masih berusaha menahan keduanya dengan alasan ingin minta maaf.
"Hmm...kalau begitu apa tuan tidak keberatan jika aku menawarkan tuan dan adik tuan untuk makan bersama di kafe itu sebagai permintaan maafku?" kata wanita itu penuh harap.
Yifan mengumpat dalam hati namun ia masih berusaha bersikap ramah pada wanita itu dengan menolak permintaannya secara halus. "Tidak terima kasih kami berdua tadi sudah mampir ke kafe. Dan oh__ sebentar lagi pesawat kami berdua akan lepas landas, jadi terima kasih dan selamat tinggal nona." Dengan terburu-buru Yifan pergi dari wanita penggoda itu di sertai Fei yang juga ikut berlari di belakangnya.
Wanita seksi itu tampak melongo tidak percaya dan hanya bisa mengomel seperti orang kesetanan karena mangsanya baru saja lolos. "Huh ******** sialan... baru saja aku akan mendapatkan mangsa yang bagus tapi kenapa bisa lolos begitu saja. Aaaah sialan tengik. Lihat saja kalau kita bertemu lagi akan kusantap kalian berdua sekaligus." omelnya. Dan tanpa disadari oleh wanita itu orang-orang di sekitarnya tampak merinding melihat tingkah lakunya yang seperti itu.
```
וו×וו×
```
Fei dan Yifan berjalan beriringan menuju pesawat yang akan lepas landas. Keduanya nampak saling diam dan terlihat sibuk dengan pikiran masing-masing terutama Fei yang masih sedikit syok dengan insiden wanita melon tadi.
"Wanita tadi benar-benar menjijikan ya... aku berharap saat di Beijing nanti kau bisa dapat pacar yang manis dan sopan ketimbang wanita mengerikan yang tadi itu." katanya mengingatkan Fei. Sejujurnya Yifan sendiri juga merasa masih merinding mengingat wanita tadi terlihat sangat binal. Yang tadi itu benar-benar keterlaluan. rutuknya dalam hati.
Fei menghela nafas kemudian ia membalas seperti ini pada Yifan. "Nanti saja untuk urusan perempuan. Kita atau tidak___ lebih tepatnya aku sendiri harus fokus dengan tujuan ke depannya. Tidak ada waktu untuk memikirkan yang lain saat ada tujuan yang lebih penting di depan mata." ucapnya serius.
Yifan mengangguk-angguk kemudian membalas seperti ini. "Ah ya kau benar. Haih bagaimana mungkin bisa memikirkan yang lain saat ada tujuan yang lebih penting. Tapi kalau bermain-main sedikit tidak ada salahnya kan?" Yifan tampaknya masih belum terlalu serius menanggapi maksud ucapan Fei.
Fei mendecak kesal berjalan mendahului Yifan. Dengan sinisnya ia membalas Yifan. "Kau pun jangan terlalu santai seharusnya kau ingat jiwaku ini ada berada dalam genggaman tanganmu yang bodoh itu. Kau bisa dengan seenaknya mempermainkan jiwaku tanpa memikirkan perasaanku."
"Kupikir kau tidak memiliki perasaan." celutuk Yifan tanpa rasa bersalah.
Fei berhenti sebentar lalu berbalik menghadap Yifan. "Tentu saja aku harus masih memiliki perasaan untuk membalaskan semua dendamku." ucapnya sendu. Setelah mengucapkan itu Fei berbalik dan kembali berjalan meninggalkan Yifan di belakangnya.
Yifan terdiam dan masih belum bergerak untuk menyusul Fei. Dia menatap Fei dengan sedih dari belakang sana. Tentu saja kau harus masih memiliki perasaan, kau harus tetap hidup dengan perasaan walau pun itu hanya sebentar saja. batinnya.
```
וו×ווו
```
**Catatan**
** Di China ada tujuh tingkatkan hirarki prostitusi dan dari tujuh hirarki ini ada tingkatan ketiga (santing) yang dikenal sebagai hostes atau sanpei xiaojie dalam bahasa Chinanya.(Perempuan yang mengiringi tiga kegiatan). Secara teori, tiga kegiatan ini terdiri dari ngobrol, minum, dan menari bersama klien.
PSK yang masuk ke dalam kategori ini adalah para perempuan yang menyediakan jasa **** pada para pria hidung belang di lokasi karaoke, bar, restoran, tempat minum teh. Biasanya, para PSK ini bekerja sama dengan pemilik lokasi, dan uang yang didapatkan akan dibagi rata antara PSK dan sang pemilik.
__ADS_1