
"Apa kau baru saja mengalami wasir?" Yifan menyipitkan matanya melihat ke arah wajah Fei yang tampak bersemu kemerahan bak rona bunga mawar.
Fei berdehem kemudian membuang wajahnya. Dengan suara yang terdengar malu-malu ia menjawab seperti ini. "Abaikan saja." katanya malu-malu.
Yifan memasang ekspresi wajah aneh ketika melihat tingkah laku Fei yang tidak lazim seperti biasanya. "Oh aku tahu! Kau bukan sedang mengalami wasir, kau pasti baru saja mengintip celana dalam seorang gadis ya? Pantas saja kau bersikap malu-malu seperti itu." ucap Yifan sembarangan.
Fei membalakan matanya tidak percaya. Tanpa ragu remaja laki-laki itu langsung menginjak kaki Yifan dengan sangat keras sampai membuat si pemilik kaki tersebut menjerit kesakitan. "Sialan kau malaikat mesum. Jangan pernah sekali saja menyamakan ku dengan pemikiran mesummu itu." katanya kesal.
Yifan mendorong jauh tubuh Fei lalu mengusap-usap kakinya yang terasa sakit akibat injakan maut yang diberikan oleh Fei. "Sinting! Lagi pula aku hanya bercanda saja... tapi kenapa kau malah menjadi sangat sensitif seperti ini?" ujarnya tidak terima.
Fei mendengus. "Bercandamu keterlaluan. Anggap saja itu upahmu." tukasnya acuh.
Yifan mengerutkan keningnya. "Hei kau ini baik-baik saja bukan? Sikapmu benar-benar menjadi aneh selepas kau pulang tadi...."
Fei menjauh lima langkah dari Yifan dan jelas perbuatannya itu semakin memancing rasa penasaran Yifan.
"Apa terjadi sesuatu padamu tadi?" selidik Yifan.
Fei ingin menghindar namun tiba-tiba saja sapu tangan yang telah ia simpan terjatuh ke atas lantai. Dengan terburu-buru ia berusaha menyembunyikan sapu tangan yang baru saja terjatuh itu.
Meski pun Fei menyembunyikan sapu tangan tersebut Yifan sendiri tampaknya lebih dulu mengetahui perihal benda tersebut.
"Tidak usah disembunyikan! Aku sudah tahu kalau benda yang kau sembunyikan itu adalah sapu tangan milik seorang gadis yang tadi menghiburmu saat menangis di jembatan kayu bukan?" Yifan menaik turunkan alisnya.
Yifan sendiri mengetahui hal tersebut meski pun ia tidak melihat secara langsung pertemuan Fei dengan gadis misterius tersebut. Lantas dengan cara apa Yifan bisa sampai mengetahui hal tersebut? Tentu saja dengan salah satu kemampuan magisnya yaitu membaca pikiran Fei. Tanpa perlu repot-repot Yifan hanya perlu mengintip sedikit saja isi pikiran Fei lalu dengan mudahnya ia mengetahui semua yang telah terjadi pada remaja laki-laki tersebut.
BLUSH
Tiba-tiba saja wajah Fei memerah.
"Pfffftttt... wajahmu kenapa?" Yifan berusaha menahan tawanya agar Fei tidak merasa tersinggung.
Fei menutup wajahnya sambil menahan rasa malunya ia berteriak di depan wajah Yifan. "Jangan mengejekku manula!" teriaknya.
Setengah mati Yifan berusaha menahan tawanya sampai pada akhirnya ia berhenti tertawa saat melihat Fei mulai memasang ekspresi wajah yang terlihat seperti hendak menangis.
__ADS_1
"Maafkan aku Fei, tapi tadi kau terlihat sangat lucu." ucap Yifan merasa bersalah.
Fei menggigit bibirnya berlari ke arah pintu keluar kamar berusaha menghindari Yifan yang baru saja mentertawakannya.
Tampaknya aku kelewatan. batin Yifan.
Di taman Fei duduk di salah satu ayunan mengumpat kesal perihal kelakuan buruk Yifan.
Mulutnya itu benar-benar harus di beri sedikit etika bercanda selalu saja kelewatan. keluh Fei dalam hatinya.
Sambil menenangkan hatinya yang terasa panas Fei memandang ke langit melihat bulan purnama yang sangat cantik. Saat melihat bulan purnama tersebut tiba-tiba saja sekelabat wajah gadis misterius itu muncul dalam benaknya.
Dia benar-benar cantik persis seperti bulan purnama**. katanya dalam hati.
Saat mengingat wajah gadis itu wajah Fei otomatis langsung memerah dan hatinya menjadi sedikit hangat. Perasaan buruk sebelumnya akibat bertengkar tiba-tiba saja sirna seketika saat mengingat gadis tersebut.
Sementara itu Yifan yang melihat dari kejauhan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat perilaku Fei bak seorang remaja muda yang tengah kasmaran.
"Apa dia sedang jatuh cinta?" guman Yifan pada dirinya sendiri.
ווווו
Keesokan Paginya.
Yifan meletakkan sepiring salad sebagai menu sarapan pagi untuk Fei.
Fei yang melihat menu sarapan paginya adalah salad mendorong jauh piringnya kemudian menatap nyalang ke arah Yifan sebagai bentuk protesnya. "Kenapa harus salad? Aku tidak suka salad! Kau bisa buatkan aku menu lainnya asalkan jangan salad." protesnya.
Yifan melirik Fei sebentar lalu kembali fokus ke pekerjaan lainnya yaitu mengupas apel. "Kalau begitu kau makan bangkai bayi itu lagi?" Dia terlihat jengah jadi ia sengaja mengamcam Fei.
"Huewwkk... bodoh! Harusnya kau tidak perlu mengatakan itu lagi." Fei menahan muntahnya. Merasa sangat jijik saat ia mengingat bangkai bayi tersebut lagi.
Yifan menaruh apel yang sudah di kupasnya lalu ia pergi ke wastafel untuk membasuhnya sekaligus mencuci tangannya juga.
"Makanya jangan cerewet. Tinggal makan saja susah." katanya sambil membasuh apel-apel tersebut.
__ADS_1
Fei menatap kesal ke arah piringnya tanpa menyentuh saladnya ia memainkan potongan daun tersebut dengan sendoknya. Eeergghh... tidak enak. keluhnya dalam hati.
Selesai membasuh dan mencuci tangannya Yifan segera pergi ke meja makan untuk meletakkan buah apelnya yang telah bersih di sana. Namun saat ia hendak meletakkan buah apelnya ia melihat Fei tidak memakan saladnya dan malah justru memainkannya membuatnya mendengus kesal. "Jangan di mainkan!" tegur Yifan.
Fei berhenti memainkan saladanya lalu menatap tajam Yifan. "Sudah kubilang tidak mau, tidak enak!" katanya tidak suka.
Yifan memukul keningnya sendiri merasa pusing dengan tingkah laku Fei yang terlalu kekanak-kanakan. "Makan sayuran itu penting untuk tubuhmu, coba lihat tubuhmu itu lemah dan kecil padahala kau ini laki-laki tapi fisikmu seperti anak perempuan tidak bahkan anak perempuan pun bisa lebih baik darimu." ocehnya.
Fei melipat tangannya di depan dada. "Terserahmu mengataiku seperti apa intinya aku tidak akan memakannya!" deklarasinya.
Yifan yang sudah teramat merasa jengkel kemudian mengambil piring Fei lalu segera menyendok saladnya untuk disuapkan secara paksa ke mulut remaja laki-laki tersebut.
Fei berusaha berontak tapi tenaga Yifan jauh lebih besar darinya mau tidak mau ia harus merasakan salad itu dalam mulutnya.
"Kunyah lalu telan! Jangan dibuang!" perintah Yifan.
Saat merasakan salad itu di dalam mulutnya Fei mengira rasanya tidak akan enak namun yang terjadi malah justru sebaliknya. Selesai mengunyah dan menelan habis saladnya tiba-tiba saja ia merasa ketagihan. Dengan cepat Fei merebut piring yang di pegang oleh Yifan lalu menyantap dengan rakus saladnya.
Yifan yang melihat tingkah Fei merasa senang karena akhirnya remaja laki-laki itu mau memakan sarapannya. "Lain kali dirasa dulu." katanya senang. Ia lalu mengambil apel di atas meja lalu menyantapnya sebagai sarapan paginya.
Dengan mulut belepotan daun Fei bertanya pada Yifan. "Salad apa ini?" tanyanya.
Yifan berhenti memakan apelnya lalu menoleh ke arah Yifan. "Salade niçoise adalah salad yang berasal dari kota Nice, Prancis. Salad ini secara tradisional terbuat dari tomat, telur rebus, zaitun Niçoise dan ikan teri atau tuna. Salad ini sudah populer di seluruh dunia sejak awal abad ke-20, dan telah disiapkan dan dibahas oleh banyak koki." jelasnya.
"Oh begitu." katanya tidak terlalu peduli lalu menghabiskan sisa saladnya.
Yifan menatap Fei lekat seolah ada yang ingin ia sampaikan pada remaja laki-laki tersebut.
Menyadari dirinya tegah di tatapi intens Fei langsung menanyakan Yifan. "Apa yang ingin kau sampaikan?" tanyanya.
"Setelah sarapan ini hal yang penting yang harus dibicarakan denganmu." kata Yifan serius.
"Ya... ya... ya...." balasnya acuh.
Yifan hanya bisa mendengus kesal saat Fei membalas terlalu acuh.
__ADS_1