
Setelah pergi dari penginapan dan meninggalkan Fei seorang diri di sana Yifan memutuskan untuk pergi menemui seseorang di sebuah Pastoran.
וווווווו
Sesampainya di Pastoran Yifan telah disambut dengan hangat oleh seorang pria paruh baya yang mengenakan kemeja hitam polos dengan senyum hangat.
"Dengan Tuan Xu Yifan Li benar?" tanyanya hangat.
Yifan membalas tersenyum lalu menjawab seperti ini. "Benar Pastor Chen." jawabnya.
"Kalau begitu mari masuk kita bisa membicarakan hal penting di dalam. Tidak akan enak rasanya jika terus berdiri di luar seperti ini." Pastor Chen mempersilahkan tamunya untuk masuk ke dalam.
Yifan menurunkan topinya lalu sedikit membungkuk. "Terima kasih atas kemurahan hati anda." ucapnya. Ia lalu mengikuti Pastor Chen untuk masuk ke dalam Pastoran.
Di Dalam Pastoran.
Pastor Chen menyuguhkan kopi hitam dan berbagai jenis bentuk biskuit. "Maafkan jika hidangannya tidak sesuai." katanya meminta maaf.
"Tidak apa-apa Pastor. Terima kasih sudah repot-repot menyuguhkan semua ini."
Pastor Chen kembali tersenyum. "Ngomong-ngomong apa yang membawamu kemari nak? Tempo hari kau menghubungiku, untuk bertemu denganku. Boleh kutahu alasanmu nak...."
Yifan mengeluarkan tas plastik ia bawa dari penginapan lalu ia buka isinya kemudian mengeluarkan setumpuk uang di hadapan Pastor Chen. "Saya ingin menjadi donatur untuk yayasan yang anda pimpin saat ini."
__ADS_1
Pastor Chen tersenyum merekah ketika melihat setumpuk uang kini berada di hadapannya. "Apa anda yakin ingin menjadi donatur di sini?" Sengaja berbasa-basi meski dalam hati kesenangan setengah mati saat melihat setumpuk uang.
"Saya sangat yakin untuk menjadi donatur tetap di sini. Saya bahkan merasa tidak keberatan untuk menyalurkan dana yang teramat besar untuk yayasan ini. Asalkan___" Yifan sengaja menggantung kata-kata terakhirnya.
Pastor Chen tampak tidak sabaran. "Asalkan?"
Yifan tersenyum licik lalu segera menyelesaikan kata-kata terakhirnya. "Asalkan Pastor mau jujur bahwa Pastor sudah memakan uang haram yang diberikan oleh donatur sebelumnya untuk yayasan ini." katanya.
Pastor Chen tercekat.
"Jangan mengarang yang tidak-tidak nak. Kau menuduhku tanpa bukti!" elak Pastor Chen.
Yifan tersenyum mengejek kemudian menunjuk ke arah wajah Pastor Chen dengan maksud mengejek."Jawaban yang anda berikan sangat tidak memuaskan kalau begitu saya tidak akan mengeluarkan sepeser pun uang hanya untuk tempat ini.” Yifan tersenyum.
Pastor Chen menggeram kesal berusaha menahan emosinya saat ini. “Kau mempermainkanku! Kau sendiri yang bilang akan menjadi donatur tetap untuk yayasan ini tapi sekarang kau dengan seenaknya membatalkan perjanjian,” ujarnya sengit sembari menunjuk-nunjuk wajahYifan dengan tidak sopan.
Pator Chen terdiam. Ia kehabisan kata-kata setelah kedoknya terbuka.
Melihat keadaan Pastor Chen yang seperti itu membuat Yifan terpikirkan sebuah ide gila yang cukup menarik perhatiannya.
“Mau berjudi denganku Pastor? Kita berdua bisa saling memasang taruhan yang menguntungkan satu sama lain.” tawar Yifan tiba-tiba.
Pastor Chen memasang ekspresi wajah murka. “Kau sedang ya menantangku anak muda? Tapi maaf saja, aku sendiri akan menolaknya mentah-mentah.” ucapnya menolak.
__ADS_1
Yifan menggerak-gerakkan telunjuknya di depan wajahnya sendiri. “Ou... anda pasti tidak ingin melukai harga diri anda sebagai seorang pastor bukan? Cukup mudah untuk ditebak anda pasti merasa tersinggung hanya karena saya menawari anda tindakan haram.” pancing Yifan. “Orang yang suka pura-pura suci rupanya memang benar suka cari muka.” lanjutnya.
Pastor Chen menggeram menahan amarahnya . Dalam pikirannya sendiri ia sudah menyiapkan berbagai rencana busuk untuk menyingkirkan pemuda yang kini duduk di hadapannya.
“Nak___” panggil Pastor Chen.
Yifan tersenyum. “Ya?”
“Lebih baik sudahi saja semua ini. Tolong jangan membuat semuanya menjadi rumit.”
Yifan menunjuk wajah Pastor Chen dengan telunjuknya yang lentik. “Justru anda lah yang membuat semua ini menjadi rumit. Ah sudahlah tidak perlu berpura-pura bersikap manis lagi Pastor. Saya tahu isi kepala anda yang tengah merencanakan sesuatu yang keji untuk menyingkirkan saya.” katanya dengan tenang.
Pastor Chen terkesiap. Bagaimana mungkin dia bisa membaca pikiranku? Pastor Chen tampak sangat kacau.
Melihat keadaan semakin runyam Yifan kemudian melemparkan beberapa lembaran foto yang ia simpan di balik jasnya ke atas meja untuk diperlihatkan pada Pastor Chen.
“Lihat baik-baik Pastor Chen. Anda pasti sangat mengenal sosok ini.” Yifan menunjukkan sesuatu pada foto tersebut. Di dalam foto sana terdapat seorang pria mengenakan jas abu-abu tengah sibuk berjudi di sebuah klub malam sambil ditemani wanita seksi di sampingnya.
“Anda pasti sangat lihai berjudi ya. Ngomong-ngomong seleramu bagus juga ya wanita-wanita di sana tampak sangat montok.” goda Yifan sengaja memancing emosi Pastor Chen.
Tidak tahan lagi Pastor Chen marah besar dan karena saking marahnya ia melemparkan meja tersebut dan membuat foto-foto di atasnya jatuh beterbangan ke bawah lantai.
“Baru begini saja reaksi anda sudah sangat berlebihan. Bagaimana nantinya reaksi anda saat ditangkap dan digiring ke penjara ya… hahaha mungkin akan seru sekali jika saya bisa menyaksikannya secara langsung” sarkas Yifan.
__ADS_1
Mendengar kata polisi seolah menjadi lampu merah bagi Pastor Chen. “Polisi?” tanyanya ragu. Seketika nyalinya yang semula bak macan di lepas dari kandang mendadak ciut seperti anak kucing yang ketakutan.
Yifan mengangguk-anggukan kepalanya. “Benar ditangkap lalu dijebloskan dalam penjara seumur hidup atau lebih seru bila anda langsung mendapatkan hukuman tembak mati. Bagaimana? Bukankah keduanya sama-sama menarik untuk dinanti...." katanya senang.