
Pagi ini cuacanya cukup cerah dan suasananya pun terlihat sangat damai. Yifan sudah sibuk di dapur memasak sarapan untuk Fei.
Melihat Fei berjalan ke arah dapur dengan langkah gontai membuat Yifan memanggil remaja itu untuk segera sarapan pagi.
"Sudah cuci muka?" tanya Yifan sambil menaruh piring berisi roti panggang keju leleh.
Sebelum Yifan menyuruh Fei sudah terlebih dahulu bergegas ke wastafel dan membasuh mukanya. Selesai membasuh wajahnya Fei langsung pergi ke dapur dan duduk dengan anggun bersiap menyantap sarapan paginya.
Melihat tingkah Fei yang tidak seperti biasanya membuat Yifan merasa heran.
Tumben sekali. ucap Yifan dalam hati.
"Kau tidak makan Yifan, bukankah pagi ini kita akan berangkat ke Beijing pagi ini. Kau tidak boleh melewatkan sarapanmu jika kau akan berpergian jauh itu akan merusak pencernaanmu."
Yifan berhenti sejenak dari aktifivitasnya kemudian melihat Fei dengan rasa kagum.
"Rupanya kau mulai peduli denganku." katanya terharu.
Fei menatap Yifan kemudian menunjuk Yifan dengan garpu di tangannya. "Bukankah kita sudah menjadi teman sudah seharusnya aku mulai bersikap peduli padamu."
Yifan tersenyum dan kembali pada aktifivitasnya. "Setelah ini aku akan makan tapi ngomong-ngomong aku ini sebenarnya tidak perlu makan bukankah kau tahu aku ini bukan manusia...tapi terimakasih atas rasa pedulimu itu." ucapnya senang.
Fei yang mendengar ucapan Yifan juga langsung sadar bahwa Yifan bukanlah manusia jadi tentu saja dia tidak terlalu membutuhkan makan atau memang sebenarnya tidak perlu sama sekali.
Dengan malu-malu Fei membalas Yifan seperti ini. "Aku lupa kalau kau itu bukan manusia. Fisik luarmu terlihat seperti manusia biasa jadi yah maklum saja...."
Yifan tersenyum. Yah mungkin ada benarnya juga secara fisik Yifan memang terlihat seperti manusia biasa jadi tidak mengherankan bila Fei bisa merasa lupa.
"Ngomong-ngomong sudah berapa lama kau tinggal di dunia manusia?"
"Mungkin sudah cukup lama bisa di bilang seperti pribumi."
"Wow...pantas saja kau sudah terlihat seperti manusia karena kau sudah terlalu cukup lama di sini. Kalau begitu apa ada kesan yang menarik selama kau tinggal di sini?
"Tentu saja banyak hal menarik yang bisa ditemukan di sini tapi sebaiknya kita tidak perlu membahas ini sekarang kita bisa membahasnya nanti." kata Yifan.
"Kalau begitu apa kau tidak berencana untuk pulang ke tempat asalmu?" tanya Fei sambil mengunyah makanannya.
"Mungkin setelah tugasku di sini berakhir aku akan pulang." jawab Yifan.
"Wow apa kemungkinan itu saat aku sudah mati nanti?" Fei terlihat sengaja menyindir Yifan.
Yifan malah terlihat mengelak. "Ah teman...jangan terlalu memikirkan hal itu."
Fei tersenyum miris. "Jangan berdalih Yifan mungkin saja saat aku meninggal nanti kita bertemu kembali nanti."
"Di mana? Surga atau neraka...." Yifan sengaja berkata seperti itu.
Fei mengangkat bahunya. "Yah mungkin saja bila beruntung aku akan pergi ke surga dan bila aku tidak beruntung mungkin sebaliknya. " Fei terlihat santai saat mengucapkan hal tersebut.
Yifan melirik Fei dengan heran. "Kau masih bisa mengucapkan hal itu dengan santai? Kau tahu neraka bukanlah hal perkara yang mudah untuk di jadikan tempat tinggal abadi."
Lagi-lagi Fei mengangakat bahunya. "Untuk masalah ini aku tidak ingin ambil pusing biarkan saja Tuhan yang menentukan akhirnya." ucapnya santai.
Yifan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Fei yeng kelewat santai.
"Kau tahu kebanyakan orang yang kutemui sebelum meninggal mereka akan sangat ketakutan jika jiwa mereka tidak dapat masuk surga. Kebanyakan dari mereka akan memohon pengampunan saat jiwa mereka akan dicabut tapi kau malah sebaliknya." Yifan terlihat heran.
"Yah itu sih tergantung dirinya masing-masing. Kebanyakan orang baru akan menyadari betapa pentingnya memiliki peran untuk bertindak baik saat orang itu akan mendekati kematiannya. Selebihnya bila kematian masih jauh tentu saja berbuat dosa dan mengabaikan kebajikan merupakan favorite banyak orang."
Mendengar Fei berbicara sarkas seperti itu membuat Yifan menampilkan seringai nakalnya. "Kau tahu sarkasmu itu justru terdengar sangat lucu secara terang-terangan kau itu bisa di bilang menjelek-jelekkan kaummu sendiri. Pantas saja manusia itu mahluk yang menarik bila melihat tindakan mereka saja seperti ini." Yifan terlihat senang.
Fei mengerucutkan bibirnya kemudian membalas. "Bagimu lucu tapi bagiku itu adalah kenyataan aku hanya berusaha menyampaikan sesuatu yang benar-benar nyata adanya. Yah mau bagaimana pun juga pada dasarnya kita sudah sangat berbeda aku sendiri adalah manusia sementara kau adalah malaikat maut tentu saja pola pikir kita berbeda."
Fei kemudian menyelasaikan makannya berjalan menuju tempat cuci piring namun sebelum ia pergi ia sempat mengatakan ini pada Yifan. "Yah karena pada dasarnya kita ini berbeda tentu saja aku tidak bisa menyalahkan pendapatmu soal kaumku tapi aku juga tidak akan merasa senang bila kau menganggap kami manusia terlihat menjadi sangat rendahan di matamu. Walau pun kau seorang malaikat maut kau pun pasti akan mendapatkan karma bila merendahkan mahluk seperti kami ini. Jangan merasa hebat hanya karena kau mendapat kuasa lebih dari Tuhan bila pun Tuhan berkehendak kau mati kau pun pasti juga akan mati."
Yifan tertawa mendengarnya. Entah mengapa kata-kata Fei terdengar sangat lucu sekaligus berhasil membuatnya tertohok.
"Inilah yang kusuka darimu mulutmu itu memang benar-benar sangat menarik Fei." gumam Yifan.
•וווו×
"Doraemon? Apa-apaan celana dalam ini!" Yifan mengibaskan celana dalam bermotif Doraemon milik Fei dengan tatapan aneh.
Buru-buru Fei mengambil celana dalam itu dari tangan Yifan kemudian menatap si malaikat maut dengan tatapan seperti ingin membunuh.
"Yak! Kau jangan sembarangan, kau harus tahu setiap orang punya batasannya sendiri." Dengan malu-malu Fei menyimpan kembali celana dalam itu dalam koper miliknya.
Yifan menepuk jidatnya lalu menatap Fei dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kau tidak sadar umur rupanya. Kenapa tidak ditinggalkan saja?" Yifan terlihat tidak suka dengan keberadaan celana dalam Doraemon milik Yifan.
"Aku tidak mau meninggalkan celana dalam ini. Kau jangan seenaknya menyuruhku."
__ADS_1
Yifan menggeram kesal. "Tolonglah Fei, tolong.. kau tinggalkan celana dalam itu. Kau bisa membeli celana dalam baru dan meninggalkan celana dalam konyol itu."
"Tidak mau."
"Kenapa?"
"Karena ini sangat berharga bagiku. Ini celana dalam terakhir yang di belikan ibu sebelum ibu tiada, ini celana dalam kesukaanku."
Mendengar ucapan Fei membuat Yifan langsung terdiam. Tanpa bermaksud untuk membantah lagi Yifan memutuskan untuk pergi dari sana.
Seleranya benar-benar gila. rutuk Yifan dalam hati.
•וווו×
"Kau yakin ingin membawa semuanya?"
tanya Fei ragu.
"Memangnya kenapa kalau kubawa semuanya?" Yifan merasa heran dengan Fei.
Fei kemudian langsung menunjuk-nunjuk ke arah semua lukisan miliknya. "Tapi untuk apa Yifan? Semua ini tidak berguna."
Yifan mengerutkan dahinya. "Ck...kau ini seorang seniman tapi tidak bisa menghargai karyamu sendiri."
"Seniman apanya! Jangan membawa barang yang tidak perlu." Fei terlihat tidak suka.
Yifan mendecak kemudian menunjukkan salah satu lukisan pada Fei. "Ini asal kau tahu saja ya lukisanmu itu sangat bagus dan berharga. Aku berani bertaruh empat puluh empat juta yuan untuk harga lukisanmu ini." Yifan menunjuk salah satu lukisan milik Fei.
Fei menaikkan sebelah alisnya menatap Yifan kebingungan. "Hei jangan bercanda. Lukisan itu sama sekali tidak berharga. Kau bahkan tidak akan mendapatkan apa pun saat menjualnya pada tukang loak sekali pun."
"Terserahmu saja, tapi apa kau yakin tidak ingin menjualnya." Yifan menunjuk salah satu lukisan Fei yang memiliki tema festival lampion.
"Apa yang membuatmu yakin, itu hanya lukisan biasa." tukas Fei.
Yifan menyentuh dagunya kemudian menatap Fei dengan tatapan bangga. "Kalau kau tidak percaya lihat saja nanti ketika aku berhasil menjual lukisanmu ini." katanya penuh rasa percaya diri.
Fei mengacak rambutnya kesal. "Jual saja sana... itu pun kalau kau berhasil menjualnya kau harus tetap membagi hasilnya denganku." ujarnya malas.
Yifan menyatukan jari jempol dan telunjuknya membentuk huruf o pada Fei. "Tenang saja bocah mata duitan. Tentu saja aku akan membagi hasilnya denganmu."
Fei mendengus kemudian menatap ke arah semua lukisan miliknya yang berada dalam ruangan tersebut. "Lalu bagaimana cara kau membawa semua lukisan ini? Tentu saja semua lukisan ini butuh tempat penyimpanan ketika di bawa ke Beijing nanti." ujarnya.
Yifan tersenyum tanpa ragu ia berkata seperti ini. "Itu urusan gampang. Kau tidak perlu repot memikirkannya."
Yifan kemudian menjetikkan jarinya dan tiba-tiba saja semua lukisan itu bergerak dengan sendirinya lalu tersusun dengan rapi di dalam kardus (bahkan kardus-kardus itu muncul dengan sendirinya).
"Huh? Apa-apaan ini... kau melakukan sihir lagi!" Fei masih terlihat belum terbiasa dengan keajaiban yang dilakukan oleh Yifan.
"Jangan buat dirimu sendiri sulit Fei. Nanti kau juga akan terbiasa dengan semua ini." Yifan kemudian menjetikkan jarinya sebanyak dua kali dan tiba-tiba saja semua kardus berisikan lukisan itu telah lenyap begitu saja dari pandangan keduanya.
Fei menunjuk ke arah di mana kardus-kardus itu lenyap begitu saja dari pandangannya. "Kau kemanakan semua kardus-kardus itu?" tanyanya dengan rasa tidak percaya.
"Sudah kukirim ke tempat tinggal kita nantinya di Beijing. Tenang saja aku jamin semua lukisanmu tidak akan rusak sedikit pun." kata Yifan santai.
"Tap__tap__tapi___ Yifan." Fei masih terlihat tidak percaya.
Yifan meletakkan jarinya di bibir kemudian berucap seperti ini pada Fei. "Ssshhh... sudahlah tidak perlu di bahas lagi. Sebaiknya kau cek ulang semua barang-barangmu karena sebentar lagi taksinya akan datang menjemput kita." kata Yifan.
Fei terdiam sebentar lalu ia segera pergi dari sana untuk mengecek ulang barang-barangnya.
Yifan terkikik dalam hati ia berucap seperti ini. Hihihi... astaga lucunya dia. Yifan tampaknya terpesona dengan reaksi Fei yang terlihat lucu di matanya.
וו×ו×
"Dan aku berharap kau tidak akan pernah memakai celana dalam itu untuk selama-lamanya." ujar Yifan sebelum menutup pintu taksi.
Fei langsung melotot ke arah Yifan mengingatkan si malaikat maut agar menjaga privasinya.
"Kau gila berbicara sembarangan soal celana dalam di dalam taksi!" ucapnya pelan.
Yifan sendiri tampak masa bodoh dan malah mengacuhkan Fei yang merasa malu setengah mati.
Grrrrrhgh... kurang ajar sekali dia! Lihat saja akan kubalas nanti. ucapnya dalam hati.
Lalu taksi berjalan dan pergi berangkat menuju bandara.
וו×ו×
Bandar Udara Internasional Longjia Changchun.
"Kau yakin tidak ada barang yang tertinggal di apertemenmu?" tanya Yifan memastikan Fei.
__ADS_1
Fei mendongkak kemudian ia langsung menjawab. "Tidak ada." jawabnya dengan singkat.
Setelah itu keduanya pergi masuk ke dalam bandara.
"Kapan pesawatnya take off ?" tanya Fei.
Yifan melirik ke arah arloji Rolexnya sebentar lalu ia menatap Fei. "Kita masih ada waktu lima belas menit sebelum pesawatnya take off." jawanya cepat.
Yifan melihat sekelilingnya lalu matanya tidak sengaja melihat sebuah kafe kecil yang terletak di ujung sana. Mungkin tidak ada salahnya mampir sebentar ke sana. ucapnya dalam hati.
"Aku mau mampir ke sana. Sebaiknya kau ikut aku juga ke sana, nanti biar kutraktir." ujar Yifan sambil menggerek kopernya ke arah kafe.
Fei yang berada di belakang Yifan hanya mengekor dari belakang sambil juga ikut menggerek kopernya.
וו×וו×
Seorang pelayan perempuan mengantarkan dua buah minuman beserta sepiring kecil kue untuk di sajikan pada dua mahluk dengan dua gender yang sama.
"Selamat menikmati hidangannya." ucap sang pelayan ramah.
Yifan tersenyum manis pada pelayan itu kemudian ia juga berterima kasih pada pelayan tersebut. "Terimakasih ya." katanya dengan seyuman manis yang tak pernah luntur dari wajahnya.
Pelayan itu tampak terpesona sekaligus salah tingkah pada Yifan. Tentu saja siapa yang tidak akan salah tingkah ketika melihat seorang pria tampan tersenyum dengan sangat manis padamu.
Dengan malu-malu pelayan itu mengeluarkan buku kecil dan sebuah pulpen dari sakunya. "Boleh...boleh saya minta nomor ponsel anda?" tanyanya malu-malu.
Yifan tersenyum kemudian menunjukkan dua jarinya yang sudah menyilang pada pelayan itu. "Maaf tapi saya tidak bisa memberikannya." katanya sedih.
Pelayan itu terlihat kecewa dan hendak menarik kembali buku dan pulpennya namun belum sempat pelayan itu melakukannya Yifan sudah terlebih dahulu menarik buku beserta pulpen milik pelayan tersebut.
Yifan membuat sebuah garis melengkung yang di bawahnya di bubuhi dengan namanya. Dengan senyuman manisnya Yifan kemudian menyerahkan buku serta pulpen tersebut pada sang empunya. "Saya memang tidak bisa memberikan nomor ponsel saya tapi sebagai gantinya nona bisa mendapatkan tanda tangan sekaligus mengetahui nama saya." ucapnya sembari memberikan alat tulis itu kembali pada pemiliknya.
Dengan tangan bergetar pelayan itu mengambil buku dan pulpennya. Pelayan itu kemudian melihat tanda tangan milik Yifan sekaligus membaca namanya. Dengan suara pelan dan khas malu-malu pelayan itu berterima kasih pada Yifan. "Terimakasih tuan Yif...an, saya sangat berterimakasih pada anda. Maaf bila saya sudah bersikap tidak sopan pada anda." katanya malu-malu.
Yifan tersenyum kemudian mengayunkan tangannya pada si pelayan memberikan tanda semangat pada pelayan tersebut. "Tidak apa-apa nona cantik. Bekerjalah dengan giat dan fighting. " katanya memberi semangat pada si pelayan.
Si pelayan merasa tersipu lalu pelayan itu kembali bekerja.
Fei yang melihat semua itu hanya bisa mendecak kesal kemudian menatap Yifan dengan tatapan aneh. "Norak! Dasar norak. Apa-apaan itu tadi... kau tiba-tiba saja bersikap seperti seorang Casanova." ujarnya tidak suka.
"Service... mungkin. Tidak ada salahnya memberikan servis pada pelayan itu." ucapnya acuh.
"Huh?" Fei terlihat bingung. "Servis? Apa-apaan tindakan norakmu tadi justru bisa mencelakakanmu.
"Celaka?" Yifan terlihat tidak mengerti.
"Celaka karena kau tadi memberikan namamu padanya. Bisa saja pelayan tadi adalah seorang penguntit. Bukankah akan sangat merepotkan sekaligus berbahaya bila pelayan itu sampai mengetahui identitasmu." kata Fei.
"Meski dengan hanya nama saja?" balas Yifan.
"Kau ini kenapa malah bertanya balik padaku." tukas Fei.
"... sudahlah tidak perlu di bahas lagi. Kau tenang saja sebelum pelayan itu menjadi penguntitku akan kupastikan dia sudah tidak ada di dunia ini." jawab Yifan tenang. Yifan kemudian menyeruput kopi beningnya.
"Apa maksudmu itu?"
Yifan menatap Fei datar lalu dengan santainya ia menjawab seperti ini. "Pelayan itu akan mati setelah aku mulai menghitung mundur dari sekarang."
Fei menganga tidak percaya.
"5...4...3...2...1. Pelayan itu sekarang pasti sudah mati." ucapnya dengan tenang.
"Ap__ apa yang terjad...." Belum sempat Fei menyelasaikan kata-katanya tiba-tiba saja terdengar suara menjerit dari arah belakang kafe atau lebih tepatnya mungkin dapur kafe.
KYAAAAAAAAAAAA!
Tiba-tiba saja semua pegawai kafe tersebut berlari ke arah dapur. Dan betapa terkejutnya pegawai-pegawai kafe tersebut ketika melihat tubuh seorang pelayan tercebur masuk ke dalam penggorengan besar berisikan minyak panas.
וו×ווו•*Catatan*
*Casanova adalah nama seorang pria nakal. Casanova adalah seorang ahli tentang perempuan, petualang ***, lama sebelum ada telepon seluler yang menjadi semacam bar untuk para lajang. Tetapi seorang Casanova tidak bisa dipercaya, jenis pria yang akan mengatakan apapun untuk merayu dan meniduri wanita.
**April 2017 lalu, dunia dibuat gempar karena penemuan kopi berwarna aneh di London, Inggris oleh kakak-beradik bernama Slovakian David Nagy dan Adam. Gimana gak aneh, kopi ciptaan mereka berwarna bening, persis seperti air mineral! Kakak-beradik itu membuat brand bernama CLR CFF untuk kopi bening mereka, dengan harga setiap 2 botol sekitar Rp99.500.
Sumber Google.com
**BBC
**Mister Aladin
__ADS_1