
Fei terus membolak-balikan tubuhnya di atas tempat tidurnya dengan gelisah. Sebenarnya tadi ia berencana untuk pergi tidur tapi entah kenapa untuk saat ini perasaannya benar-benar tidak enak. Saat ia merasa benar-benar gelisah tiba-tiba saja ia mendengar suara diketuk.
Tok...tok...tok
Fei menoleh ke arah pintu dengan wajah yang terlihat malas. Merenggangkan tubuhnya lalu bangun dari tempat tidurnya berjalan menuju ke arah pintu.
Krieeet...
Belum sempat Fei membuka pintu namun sudah terdengar derit suara pintu terbuka terlebih dahulu dan menampilkan dua sosok makhluk berdiri di depan sana menatap lurus ke arah Fei.
Kedua makhluk itu berjalan masuk ke dalam kamar lalu salah satu dari kedua makhluk itu mendekat ke arah Fei tersenyum ramah kemudian menyapanya dengan ceria.
"Hai manis, kita bertemu lagi." sapa salah satu makhluk itu yang berwujud seorang gadis muda.
Fei mundur selangkah dengan rasa tidak percaya ia menunjuk gadis itu dengan jari telunjuknya. "Kau gadis yang waktu itu di taman?!" Fei tercekat.
Gadis itu tersenyum senang sambil menjentikkan jarinya ia membalas seperti ini. "Benar itu aku, manis. Izinkan aku memperkenalkan diri." Gadis itu menundukkan badannya untuk mengenalkan dirinya. "Kumamoto Hanami tapi kau bisa memanggil ku Hanami. Salam kenal." ucap gadis itu mengenalkan dirinya sendiri.
Fei menggaruk-garuk kepalanya kebingungan. "Aku masih tidak mengerti dengan maksud ucapanmu. Lagi pula kau tiba-tiba saja muncul lalu mengenalkan dirimu secara mendadak seperti ini. Bukankah sangat aneh." Fei terlihat curiga.
Hanami mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah. "Tenang saja aku tidak akan melukaimu. Kalau kau merasa risih dengan keberadaanku kau bisa abaikan itu. Tapi apa kau jauh lebih merasa tidak risih dengan terus berhubungan dengan malaikat maut itu?"Hanami memicingkan sebelah matanya.
Fei tercekat di tempatnya. "Apa maksudmu?!"
Hanami menunjuk wajah Fei dengan jari telunjuknya ia lalu berkata seperti ini. "Aku bisa membantumu melepaskan diri darinya kalau kau mau." tawar Hanami.
Kembali Fei terlihat tidak memahami situasi. Di tengah kebingungannya itulah matanya tak sengaja menangkap satu sosok lainnya yang berdiri tidak jauh dari si gadis misterius.
"Aku masih tidak bisa memahami maksudmu tetapi... dia itu siapa?" Fei menunjuk ke arah belakang si gadis.
Hanami menoleh ke belakang lalu hanya berucap "oh". Lalu kembali fokus menatap Fei.
"Entahlah aku sendiri pun tidak tahu dia itu siapa ku. Dia hanya terus mengikutiku karena sengaja ku izinkan." jawabnya acuh.
__ADS_1
Lalu Fei kembali bertanya. "Terus kenapa dia hanya diam dan mengamatimu saja... dia tidak bisu bukan?"
Hanami mendecak. "Dia tidak bisu. Aku sengaja menyuruhnya untuk diam. Lagi pula dia itu aslinya sangat cerewet kau pasti akan merasa sangat terganggu dengannya."
Fei mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kalau begitu siapa namanya?"
"Matsuhiro Satoshi."
"Lalu apa dia kekasihmu atau teman kencanmu. Soalnya kalian terlihat menempel satu sama lain." ucap Fei dengan polosnya.
Hanami hanya bisa merengut kesal saat Fei menanyakan hal yang paling tidak disukainya.
"Dia bukan siapa-siapaku. Bukankah aku tadi sudah bilang padamu sebelumnya. Kalau kau merasa penasaran dengannya aku bisa memberikanmu sedikit bocoran. Sebenarnya pria di belakangku ini juga bukanlah manusia dia itu sejenis dengan teman malaikatmu itu."
Fei terkejut mendengarnya. "Kalau kau bilang dia sejenis dengan temanku berarti kau juga membuat kontrak dengannya?"
Hanami menggeleng. "Sekarang apa lagi yang ingin kau tanyakan?"
Fei mengerutkan keningnya lalu menunjuk ke arah Satoshi."Kalau boleh tahu dia ini jenis apa?"
Satoshi berdecak cukup keras. "Lagi-lagi kau merendahkan kastaku." Akhirnya pria itu buka mulut juga. Sebenarnya dari tadi pun ia sudah meahan emosi karena pembicaraan Hanami dan Fei yang terdengar seperti merendahkan dirinya.
Hanami mendengus namun ia memutuskan untuk mengoreksi kata-katanya. "Ya bisa dibilang dia ini cukup setara dengan teman malaikat mautmu itu hanya saja ia sedikit berbeda." koreksi Hanami
Fei menatap Hanami dengan wajah bingung.
Karena pusing harus menjelaskan seperti apa pada akhirnya Hanami hanya bisa membalas seperti ini.
"Ya sudah. Tidak perlu dibahas lagi. Kita bisa membahasnya lain kali."
"Kalau boleh tahu kenapa kau tidak membuat kontrak dengannya? Bukankah katamu dia setara dengan teman malaikatku."
Hanami melirik Satoshi. "Aku tidak berminat untuk membuat kontrak atau pun perjanjian dalam bentuk apa pun dengan makhluk seperti ini." tuturnya. Hanami pun kemudian mengalihkan pandangannya kembali kepada Fei. "Ck. Sudahlah itu tidak perlu dibahas lagi. Sudah cukup basa-basinya. Kedatanganku ke sini untuk menolongmu. Apa kau mau kami membantumu untuk melepaskan kontrak dengan Yifan?"
__ADS_1
Fei menggigit bibirnya. Saat ini ia merasa sangat ragu.
Menyadari keraguan Fei, Hanami hanya bisa memberikan sebuah kertas berisikan nomor ponselnya pada Fei. Saat ini ia tidak bisa memaksa remaja itu untuk melepas kontrak dengan Yifan.
"Hubungi saja aku nanti. Kalau kau sudah merasa yakin dengan keputusanmu." kata Hanami sebelum akhirnya pergi keluar dari kamar tersebut disusul dengan Satoshi dari belakang.
Saat kedua makhluk itu menghilang. Fei terdiam dan menatap ke arah pintu dengan wajah bingung. Serius kenapa mereka bisa sampai datang ke sini? Bukankah ini adalah kamar tamu tapi kenapa mereka bisa seenaknya nyelonong masuk ke sini.... pikir Fei.
Untuk saat ini Fei justru tidak bisa berpikir jernih ia berusaha untuk tetap berpikir meski pun hasilnya nihil.
Tidak akan ada habisnya bila dipikirkan terus.... Ia lalu bangkit dari tempat tidurnya berjalan menuju dapur untuk mencari makanan.
ווווווו×
Sementara itu di Pastoran.
"Pasang taruhannya Pastor! Anda kira kita sedang bermain ular tangga?" sindir Yifan.
Pastor Chen menggigit bibirnya kesal. Ia menunjuk wajah Yifan dengan jari telunjuknya yang gempal. "Bukankah aku sudah bilang padamu sebelumnya bahwa aku mempertaruhkan yayasan ini beserta diriku sendiri sebagai jaminannya?" balasnya.
Yifan merengut. Ia lalu mengeluarkan segepok uang dollar dari dalam tas plastiknya. "Tidak akan seru bila hanya mempertaruhkan yayasan ini beserta diri anda sebagai jaminannya. Lagi pula yayasan ini juga tidak terlalu berharga apalagi dengan diri anda." sarkasnya.
Pastor Chen menggeram kesal. Ia sebenarnya sudah merasa tidak tahan lagi untuk mencekik leher pemuda bersurai abu di depannya ini namun mengingat pemuda di hadapannya ini memiliki kuasa yang lebih tinggi darinya dalam artian ia memegang kunci dari semua ini mau tidak mau Pastor Chen hanya bisa menurutinya dengan rasa berat hati.
Pastor Chen menunjukkan surat kepemilikan panti asuhan kecil beserta gereja yang menjadi hak tetap miliknya.
Pastor Chen menunduk kemudian ia menaikkan kepalanya menatap Yifan penuh harap.
"Meski pun nantinya aku harus melepaskan ini padamu... aku sangat berharap kau dapat merawatnya dengan sepenuh hatimu." ucapnya.
Yifan sedikit terkesima dengan Pastor Chen. Meski pun ia tahu bahwa Pastor Chen sudah menyelewengkan tanggung jawabnya namun Yifan sendiri bisa merasakan adanya sedikit ketulusan dari Pastor Chen untuk merawat panti asuhan serta gerejanya.
"Aku beri kau sedikit keringanan, karena di sini aku masih bisa merasakan ketulusanmu meski pun hanya sedikit aku masih merasakannya. Kau tidak sepenuhnya jahat. Jujur saja tadinya aku berpikir setelah permainan ini selesai aku ingin langsung mencabut nyawamu tapi... karena masih ada ketulusan darimu aku berikan kau pengampunan. Setelah ini kau akan ditangkap polisi dan dipenjara dalam batasan waktu tak menentu." ungkap Yifan.
__ADS_1
Pastor Chen terkesiap.