I Can Live

I Can Live
16. Bitch


__ADS_3

Yifan menatap Fei lekat seolah ada yang ingin ia sampaikan pada remaja laki-laki tersebut.


Menyadari dirinya tegah di tatapi intens Fei langsung menanyakan Yifan. "Apa yang ingin kau sampaikan?" tanyanya.


"Setelah sarapan ini hal yang penting yang harus dibicarakan denganmu." kata Yifan serius.


"Ya... ya... ya...." balasnya acuh.


Yifan hanya bisa mendengus kesal saat Fei bertindak terlalu acuh seperti itu.


ו×וו


"Sekarang kita perlu bicara." kata Yifan yang saat ini sudah duduk berhadapan dengan Fei.


Fei memutar bola matanya. "Jangan bertele-tele cepat katakan saja." ujarnya malas. "Terlalu banyak membuang-buang waktu itu benar-benar gayamu, langsung katakan pada intinya saja." lanjutnya.


Yifan memegang kepalanya pusing. "Astaga kau ini benar-benar tidak sabaran. Jangan membiasakan dirimu bertindak terburu-buru seperti ini." Yifan tampaknya merasa jengah dengan sifat buruk Fei yang satu ini.


"Ck. Sudahlah kau bisa langsung menjelaskan tanpa perlu bertele-tele lagi seperti ini."


Mendengus kesal Yifan lalu langsung menjelaskan semuanya ke inti. "Aku mau kau sekarang harus menuruti perintahku saat ini. Aku tidak akan menerima penolakan atau sebagai gantinya aku akan langsung mencabut jiwamu." ancamnya.


Fei melotot lalu dengan tidak sabaran ia menggebrak meja. "Gila! Apa-apaan ini! Kau kira aku pelayanmu seenaknya menurutiku lalu mengancamku." katanya tidak terima.


"Dengar Fei tolonglah jaga sikapmu sedikit saja. Aku melakukan semua ini dengan maksud untuk memudahkan rencana kita."


"Rencana apa lagi? Masalah ayahku sudah selesai apalagi yang harus diselesaikan hah!"


"Masalah ayahmu memang sudah selesai tapi itu semua barulah awal. Kau yakin mau mati begitu saja tanpa melakukan apapun yang kau mau?"


Fei mengerutkan alisnya. "Apa maksudmu itu?"

__ADS_1


Yifan tersenyum licik sekaligus merendahkan. "Maksudku apa kau mau mati dengan posisimu seperti ini? Wah... wah sayang sekali padahal kau bisa memanfaatkan harta dan kekuasaan ayahmu."


"Kau bicara ngawur." tukas Fei.


Yifan menghela nafas. "Fei kau ingat tempo hari saat kita berdua pergi untuk menyaksikan kematian ayahmu, bukankah saat itu aku menyuruhmu untuk mengambil beberapa berkas penting dari rumah tersebut."


"Berkas apa?"


Yifan lalu menjentikkan jarinya dan tiba-tiba saja muncul tas plastik berisikan berkas-berkas penting di dalam sana. Yifan menunjukkan tas plastik itu di depan wajah Fei. "Ini kau sendiri yang ambil! Di dalam sini terdapat surat-surat kepemilikan yayasan, museum dan perusahaan milik ayahmu. Oh dan jangan lupakan saham-saham yang juga sama menggiurkan." kata Yifan.


"Bagaimana kau bisa tahu?" Fei terlihat bingung.


Kini giliran Yifan yang mengerutkan alisnya kebingungan. "Hah? Pertanyaanmu aneh sekali. Tentu saja aku bisa tahu karena aku sudah membacanya dan juga mempelajarinya semua. Wow Fei akan sangat disayangkan jika kau melewatkan semua ini, ditambah pula kau pewaris tunggal semua harta kekayaan ini." ujar Yifan.


"Memangnya ayah menulis namaku di situ sebagai pewaris tunggal?"


Yifan geleng-geleng kepala. "Kau itu satu-satunya anak dari Tuan Lou memangnya mau dilempar kemana lagi semua hartanya itu jika dia nantinya mati atau ah__lebih tepatnya sudah mati." koreksi Yifan.


Yifan menghela nafas. "Ilih ilisin sijii biling siji ki iti tidik mi mingiris hirti iyihmu." ejek Yifan.


"Sialan kau! Lagi pula memang benar aku tidak mau melibatkan diriku dengan harta harta seperti itu." tentang Fei.


Tanpa pikir panjang Yifan langsung menarik kerah Fei membuat tubuh remaja laki-laki itu juga ikut terangkat. "Kau harus dengarkan perintahku kali ini, kau harus menjadi penerus ayahmu!" katanya tidak menerima penolakan.


Fei gemetaran namun setengah mati ia melawan rasa takutnya tersebut. "Apa pun yang katakan aku tidak akan menurutinya sedikit pun!" tolaknya.


Kening Yifan berurat. Kali ini tidak hanya sekedar mengangkat tubuh Fei ke atas ia juga bahkan mencekik leher remaja laki-laki tersebut dengan begitu kuat.


"Kau bunuh aku pun, akan tetap pada pendirianku!" katanya keras kepala.


"Keras kepala sekali..." Yifan mengejek Fei

__ADS_1


Cekikkan itu semakin kuat dan nyaris membunuh Fei sebelum akhirnya Yifan melepaskannya dan berakhir dengan membuat tubuh Fei jatuh menghantam lantai keramik.


Dengan senyum maut Yifan mendekat ke arah Fei lalu mengurungnya dengan tubuh besarnya. "Kau yakin mau mencobanya sekarang?"


Fei gemetaran dan hanya bisa pasrah saat Yifan mulai menyentuh dadanya.


"Bilang ya maka akan kuhentikan semua ini dan jika kau menolak tentu saja kau akan dapatkan hadiah besar." Tangan Yifan meraba-raba dada Fei.


Fei sendiri hanya bisa menahan rasa geli yang begitu teramat besar sekaligus ketakutan yang begitu luar biasa.


"Kuhitung sampai lima manis. Satu... dua... tiga... empat... lima... waktumu sudah habis manis." Yifan tersenyum nakal lalu tangannya semula meraba-raba kini telah menembus dada Fei membuat sebuah lubang sebesar kepalan tangan.


Fei terbatuk-batuk dan langsung muntah darah.


Yifan tersenyum kesenangan ia lalu membisikkan sesuatu di telinga Fei. "Ssstt... inilah hadiah besar yang kau dapatkan anak nakal." Yifan lalu meremas jantung Fei dan membuat remaja laki-laki itu berteriak kesakitan.


Meski pun jantungnya telah diremas dan dimainkan oleh Yifan, Fei masih tetap sadar bahkan ia merasa tidak akan mati begitu saja meski pun rasa sakitnya begitu luar biasa.


"Kau pasti merasa heran kenapa kau tidak mati meski pun jantungmu sudah kumainkan seperti ini. Tenang saja Fei aku akan menjelaskannya padamu sebelum kau bertanya padaku karena saat ini aku sangat tahu kondisimu yang menyedihkan." hina Yifan.


Masih dengan sebelah tangannya meremas jantung Fei, Yifan mulai menjelaskan suatu hal penting pada Fei. "Bocah... kau tidak akan bisa mati dengan mudah jadi kau tenang saja. Meski pun jantungmu kuremas kau tetap tidak akan mati, karena satu-satunya cara untuk membunuhmu adalah dengan menarik jiwamu keluar. Walau pun tubuhmu dilukai sampai jantungmu di hancurkan pun tidak akan masalah... hebat bukan, sekarang kau punya kemampuan yang melebihi manusia lainnya. Tapi kalau kau mau mati sekarang aku bisa menarik jiwamu keluar." jelas Yifan.


Dengan nafas terengah-engah Fei ingin mengucapkan sesuatu pada Yifan. "Lakukan saja, aku tidak percaya padamu penipu."


Yifan tersenyum bak bintang antagonis lalu dengan cepat ia menarik keluar jantung Fei yang bahkan masih berdetak saat ia cabut keluar.


Berpikir dirinya akan mati Fei sudah pasrah namun yang terjadi malah sebaliknya bahkan ia tidak terlalu merasakan sakit saat Yifan menarik keluar jantungnya.


"Terkejut manis?" Yifan menempelkan telunjuknya di depan bibirnya yang masih memulas senyum jahat.


Fei meraba-raba dadanya sendiri dan ia menemukan sebuah lubang tak berisi kan apa-apa di sana. Dan hal itu membuatnya ketakutan luar biasa, ia juga bahkan sudah tidak merasakan detak jantungnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2