I Can Live

I Can Live
0.6 Lust


__ADS_3

"Jangan lupa gosok gigi sebelum tidur." pesan Yifan saat melihat Fei langsung melompat ke tempat tidur.


Fei melemparkan bantal kearah wajah Yifan kemudian membalas seperti ini. "Cerewet. Jangan sok mengaturku."


Bukannya balik mengomel seperti biasanya Yifan malah langsung mengucapkan sesuatu yang sangat berbeda dari topik sebelumnya. "Apa kau tidak merasa sedih? Karena sebentar lagi ayahmu akan meninggal." ucap Yifan tiba-tiba saja mengalihkan topik pembicaraan.


"... entahlah." jawab Fei lirih.


"Aku akan berikan dua pertanyaan untukmu kau harus menjawabnya dengan jujur." Yifan menatap Fei penuh arti.


Fei menghela nafas kemudian ia juga menatap Yifan. "Katakan saja aku akan menjawabnya dengan jujur."


"Pertanyaanku yang pertama apa kau mencintai dan menyayangi ayahmu seperti anak-anak lainnya?"


"... aku tidak mencintai dan menyayanginya." jawab Fei jujur.


"Untuk pertanyaan yang kedua apa kau sangat membenci ayahmu dan saking membencinya apa kau mau membunuhnya?"


"Aku tidak bisa membunuhnya karena aku tidak membenci ayahku."


"Kalau kau terus menjawab seperti ini hubungan seperti apakah yang kalian jalani selama ini.


Fei menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. "Jujur saja aku tidak tahu Yifan. Aku bahkan tidak memiliki dua perasaan itu pada ayahku."


Yifan kemudian mendekat kearah Fei ia lalu mengusap-usap wajah remaja laki-laki itu dengan penuh kasih sayang. "Kau bisa ceritakan padaku semuanya jika kau mau."


Fei menyeringai mendengar ucapan Yifan. "Untuk apa aku menceritakannya padamu. Aku sudah sangat yakin kau lebih jauh mengetahui semuanya yang telah terjadi padaku." katanya angkuh.


Yifan melepaskan usapan tangannya dari wajah Fei kemudian ia segera membalas perkataannya. "Aku memang sudah mengetahui semuanya tapi aku ingin mendengarkan cerita itu langsung dari mulutmu karena akan terasa sangat berbeda rasanya." Yifan menatap Fei dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Kalau begitu kau sama saja ingin mempermalukanku bukan? Kau sama saja menyuruhku untuk membuka aib pribadiku."


"Itu terserahmu saja. Tapi apa kau tahu dengan saling berbagi cerita seperti ini mungkin akan membuatmu sedikit lebih terbuka, kau itu sangat tertutup." Yifan melirik Fei sebentar sebelum akhirnya ia berkata seperti ini. "Bukankah kau pernah berdoa meminta seorang teman agar kau dapat berkeluh kesah padanya."


"Apa maksudmu?"


Yifan menyeringai. "Tidak hanya Tuhan saja yang mendengar doamu malaikat maut pun dapat mendengar doamu juga bahkan iblis pun dapat mendengar doamu jika kau sudah merasa sangat putus asa."


"Tak pernah sedikit pun terlintas di pikiranku bahwa kalian mahkluk-mahkluk astral dapat mendengar doa manusia." jawab Fei tidak percaya. "Kalau begitu apa kalian juga bisa mengabulkan doa manusia?" tanya Fei.


Yifan mengedikkan bahunya kemudian membalas seperti ini. "Yang bisa mengabulkan doamu hanya Tuhan saja, namun iblis pun juga dapat mengabulkan doamu dalam artian yang buruk sementara kami malaikat maut hanya bisa mendengar tidak bisa mengabulkan."


"Kenapa tidak bisa?"


"Karena kami para malaikat maut harus bertindak netral. Kami tidak memiliki tanggung jawab untuk mengabulkan doa manusia. Kami hanya bertanggung jawab mengantarkan jiwa kalian. Kami tidak berhak mencampuri urusan manusia yang lain terkecuali kami terikat kontrak dengan seorang manusia yang sudah kami pilih. Namun ada satu pengecualian lainnya, kami bisa mengabulkan satu doa hanya untuk orang yang hampir mati tapi khusus hanya untuk orang yang memiliki hati yang baik kami akan mengabulkan doanya." Yifan memberi penjelasan atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Fei.


Mendengar penjelasan dari Yifan malah justru membuat Fei merasa frustasi. Rasa-rasanya semua penjelasan itu hanya terdengar seperti guyonan semata atau lebih tepatnya omong kosong. Sulit mempercayai penjelasan yang tidak masuk akal seperti itu.


Fei mengusak rambutnya lalu menatap Yifan dengan tatapan yang sulit diartikan kemudian ia membalas seperti ini. "Sungguh aku tidak tahu harus berkata seperti apa atas segala penjelasanmu yang tidak masuk akal itu. Tapi kali ini aku tidak mau membahasnya, jadi terserahmu saja."

__ADS_1


"Aku tidak menuntutmu untuk mempercayai penjelasanku tapi semua penjelasan itu memang benar adanya jadi aku tidak mengada-ada atas penjelasan yang telah kuberikan padamu itu. Tapi ya... kalau kau mau sedikit saja percaya soal malaikat maut yang bisa mengabulkan satu permintaan itu mungkin tidak ada salahnya."


Fei mendecak. "Jangan berkelit Yifan. Tolong katakan saja dengan jelas maumu itu."


"Mulai sekarang aku akan menjadi temanmu sekaligus menjadi tempatmu berkeluh kesah." jawab Yifan langsung pada intinya.


"Hei apa maksudmu itu! Teman? kau sedang tidak bercanda bukan...ya ampun." Fei memegangi kepalanya dan terlihat tidak suka.


"Ck kita ini juga perlu menjadi teman tidak hanya sebatas rekan saja. Lagipula kau memang pernah berdoa ingin meminta teman bukan? Jadi anggap saja doamu itu sudah terkabul. Ayolah Fei aku tidak seburuk itu untuk dijadikan seorang teman." ucap Yifan memelas.


Fei memutar bola matanya malas namun jauh di dalam lubuk hatinya ia merasa sangat senang karena doanya terkabul meskipun ia merasa sedikit risih bahwa yang menjadi temannya adalah Yifan. Jujur saja Fei itu gengsi dengan Yifan karena itu ia terlihat tidak suka meskipun dalam hatinya mungkin saja bersorak kegirangan bak suporter sepak bola.


"Baiklah__ baiklah aku terima kau sebagai temanku meski dengan perasaan yang berat." kata Fei gengsi.


Yifan terlihat berbinar saat mendengar Fei menerimanya sebagai teman. "Karena kita sudah berteman, jadi apa kau bisa menceritakan ayahmu padaku." Yifan menatap Fei penuh harap.


Fei diam sejenak sebelum akhirnya membuka mulutnya dan menceritakan semuanya pada Yifan. "... waktu aku masih berusia empat tahun ayahku selalu melakukan kekerasan seksual padaku. Aku ingat dulu hampir setiap hari ayah meniduriku menjadikanku sebagai budak nafsunya." Fei membuka ceritanya kelamnya dengan sendu.


Fei kemudian menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan ceritanya. "Jika aku tidak mau melayaninya ayah akan mencambukku dan mengurungku di kamar mandi seharian. Atau jika dia tidak bisa melakukan 'itu' padaku maka dia akan menyuruhku untuk menelan semua kecebong putih yang telah ia simpan dalam botol sebagai ganti karena aku tidak bisa melayaninya."


Fei tersenyum kemudian melirik Yifan sambil mengatakan hal seperti ini. "Kau tahu Yifan banyak orang yang mengatakan rasa kecebong putih itu sangat enak tapi bagiku rasanya sangatlah buruk kecebong-kecebong putih itu memiliki rasa lendir yang berbau amis saat tertelan. Entah mengapa orang-orang bisa mengatakan itu terasa sangat enak saat menelannya." Fei terlihat sangat polos saat mengatakan hal mengerikan tersebut.


Fei kemudian menaikkan sedikit celana pendeknya dan menunjukkan pahanya yang penuh dengan bekas luka sayatan. "Dia bahkan menyukai kekerasan saat melakukan 'itu' padaku. Terkadang dia akan menyayat pahaku dan kemudian menjilati darahku. Ayah bilang jika dia melakukan itu


rasanya akan jauh lebih nikmat ketimbang hanya melakukannya seperti biasa.


"Kenapa ayahmu melakukan itu padamu...." Yifan terlihat iba saat Fei menceritakan kekejaman yang telah dilakukan oleh ayahnya.


"Aku selalu merasa trauma dan akhirnya aku terbiasa menghirup bensin untuk menghilangkan rasa takutku. Sejak kecil aku sudah melakukannya sebagai bentuk pelarian rasa takutku."


"Jadi itu alasan mengapa kau menyimpan bensin dalam kamarmu."


Fei menaikan sebelah alisnya kemudian berkata seperti ini. "Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawaban mengapa aku menyimpan bensin dalam kamarku."


Yifan menghela nafas kemudian ia memeluk Fei sebentar lalu melepaskan pelukannya dengan cepat. Yifan hanya ingin sekedar memberikan pelukan hangat untuk menenangkan Fei yang baru saja membuka kembali luka lama lewat ceritanya.


"Tolong jangan berpikiran aneh-aneh tentang soal pelukan ini." ujar Yifan merasa tidak enak.


Fei menyeringai kemudian membalas seperti ini. "Aku tidak peduli soal pelukan itu. Lagipula ada laki-laki yang pernah melakukan hal yang lebih padaku."


Yifan memerah mendengarnya. "Kau__kau mengira aku gay seperti ayahmu tidak lebih tepatnya laki-laki brengsek itu. Fei perlu kutegaskan bahwa aku ini normal tolong jangan sekali pun kau anggap aku ini seorang gay."


Melihat reaksi Yifan yang terlihat berlebihan atau lebih tepatnya salah tingkah membuat Fei merasa canggung. Lagipula siapa yang mengatakan bahwa Yifan adalah seorang gay. Sepertinya Yifan sudah salah tanggap.


"Hei__hei kau ini kenapa? Reaksimu itu sangat berlebihan lagipula aku tidak pernah menganggapmu sebagai seorang gay." Fei jadi merasa tidak enak.


Yifan seketika merasa malu menyadari bahwa reaksinya terlalu berlebihan dan sudah membuat Fei merasa tidak nyaman. Secepat mungkin Yifan berusaha kembali bersikap normal dan berusaha menutupi rasa malunya sebelumnya.


Yifan berdehem kemudian ia berkata seperti i ni. "Kalau begitu biarkan semua itu terjadi. Aku tidak akan menyuruhmu untuk melupakan semua kenangan buruk itu aku hanya akan menyuruhmu untuk menerima semua itu dengan lapang dada. Bukan berarti aku memiliki maksud untuk menjatuhkan harga dirimu namun dengan menerima semua kenangan buruk itu aku bermaksud agar kau dapat hidup dengan tenang."

__ADS_1


Fei terdiam sesaat namun ia langsung menyanggah. "Apa aku bisa melakukannya?" Fei terlihat sangat ragu.


Yifan tersenyum. "Aku yakin kau pasti bisa. Kalau begitu bisakah kau berjanji padaku untuk bisa menerima semua ini? Mulai sekarang aku akan terus menjagamu dan tidak akan pernah membiarkanmu terluka lagi seperti ini."


Yifan kemudian menunjukkan jari kelingkingnya pada Fei. "Promise."


Fei tersenyum kemudian menautkan jari kelingkingnya pada Yifan. "Promise."


Setelah keduanya saling mengucapkan janji mereka terdiam sesaat sampai akhirnya Fei menanyakan sebuah pertanyaan random pada Yifan.


"Yifan surga itu sebenarnya tempat seperti apa?"


"Surga itu tempat yang indah."


"Kalau neraka?"


"Mungkin tempat yang sangat mengerikan."


"Kau sebenarnya tinggal di mana? Apa kau tinggal di surga atau neraka...." Fei terlihat penasaran dengan tempat tinggal Yifan.


Yifan menggeleng. "Aku tidak tinggal di kedua tempat itu. Aku tinggal di suatu tempat yang khusus diciptakan oleh Tuhan.Tempat yang kutinggali itu sangat terpencil. Hanya sebuah dunia gelap di mana malam tidak pernah berakhir."


"Pantas saja kau kabur ke dunia manusia." Fei tersenyum mengejek.


"Tidak juga. Sejujurnya aku sangat menyukai tempat itu tapi mengingat aku memiliki tugas baru di sini jadi aku terpaksa meninggalkannya." sanggah Yifan.


"Oh begitu." Fei kemudian menguap rasa kantuknya telah datang dan mulai menguasai dirinya.


"Apa ada yang ingin kau tanyakan lagi?" Yifan memastikan Fei karena saat ini remaja laki-laki itu mulai terserang rasa kantuk.


"Aku tidak memiliki pertanyaan apa-apalagi padamu untuk saat ini tapi...aku ingin mengatakan ini padamu." ucap Fei sembari menahan rasa kantuknya.


"Cepat katakan. Kau bahkan sudah seperti orang yang setengah sadar saat ini." ujar Yifan melihat Fei yang berusaha menahan rasa kantuknya.


Fei kemudian menatap lekat Yifan. "Yifan aku tidak tahu kau ini sebenarnya baik atau jahat tapi aku sangat yakin bahwa kaulah orang pertama yang akan menuntunku di dunia ini."


Setelah mengatakan itu Fei tertidur lelap rasa kantuk telah menyerang sepenuhnya pada remaja laki-laki tersebut. Memastikan Fei sudah tertidur lelap Yifan kemudian pergi meninggalkan remaja itu sendirian dalam kamarnya.


Yifan kemudian pergi ke ruangan lukisan milik Fei. Di sana ia terus diam memperhatikan dua lukisan yang sejak awal sudah menarik perhatiannya.


Lukisan itu memang ada dua. Lukisan yang pertama adalah lukisan dua malaikat dengan dua sayap yang berbeda warna dan lukisan yang kedua adalah lukisan seorang anak kecil yang tengah memegang sebuah apel berwarna merah segar.


Yifan terus diam mengamati dua lukisan itu sampai akhirnya ia larut dalam pikirannya sendiri.


ווו×ו×ו


**Iblis menari kegirangan taatkala manusia jatuh dalam dosa.


Apel suci telah ternodai dan kini menjadi buah terlarang.

__ADS_1


Seekor merpati telah kehilangan gagak sahabat karibnya dan kini merpati itu telah jatuh dalam dosa.


Tuhan menghukum seorang pendosa namun berkat kasih-Nya pendosa itu selamat dari dosa-dosanya**.


__ADS_2