
mampuslah aku. Fei hanya bisa merinding disko.
Yifan meletakkan sabitnya di samping tubuh kemudian memandang remeh kearah Fei yang merasa sangat ketakutan.
"Hanya dengan melihat sabit ini kau merasa sangat ketakutan bukankah sebelumnya kau merasa sangat berani denganku, huh?" Yifan menantang Fei yang nyalinya mendadak ciut hanya karena melihat sebuah sabit berukuran besar.
seharusnya aku tidak cari masalah dengannya. sesal Fei dalam hati.
Yifan memasang evil smile dan kembali memandang Fei dengan tatapan meremehkan. "Menyesal? Sudah kubilang agar tidak memancing emosiku tapi kau tidak mendengarkan. Wah...wah...wah tampaknya aku sudah tidak disegani lagi ya rupanya padahal dulu saat manusia bertemu denganku pasti mereka merasa sangat ketakutan setengah mati bukannya malah bersikap kurang ajar sepertimu!" ujar Yifan.
Tiba-tiba saja atmosfer disekitar mereka berdua saat ini berubah menjadi mencekam. Perlahan seolah aura kelam nan khas kematian menguar dari tubuh Yifan.
Merasakan aura yang semakin mencekam membuat Fei merasa tidak nyaman entah kenapa rasanya ia mulai merasakan hawa di sekitarnya menjadi terasa begitu berat.
"Asal kau tahu saja sejak pertama kali aku bertemu denganmu aku mencoba bersikap ramah dan bahkan rela menutupi auraku agar kau merasa nyaman di dekatku. Kau itu manusia yang beruntung saat bertemu denganku diantara manusia lainnya kaulah satu-satunya yang mendapat belas kasih dariku."
Fei meneguk liur.
"Sebenarnya aku ingin menunda ini dan memberikanmu waktu untuk berpikir tapi melihat sifat bar-barmu itu yang kerap kali membuat kolestrolku naik mau tidak mau aku harus segera mengatakan ini padamu."
"Apa yang ingin kau katakan?" Fei menatap Yifan bingung.
Yifan tidak langsung menjawab dan malah sibuk memainkan sabitnya. "Kau tahukan bahwa aku ini adalah seorang malaikat maut dan tentu saja aku punya hak untuk hal yang berususan dengan namanya kematian jadi___" Yifan menggantung kalimat terakhirnya.
"Jadi?" Fei mulai merasa resah dan merakan firasat buruk tengah menghampirinya.
Yifan melirik Fei dari ujung matanya sejenak kemudian mengalihkan pandangannya kearah sabit miliknya.
"Jadi tentu saja kau juga harus berurusan denganku karena kau adalah bagian dari daftar kematian yang hilang."
"Apa maksudmu?!"
Yifan menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan lawan bicaranya tersebut. " Kau itu sebenarnya sudah mati tapi karena aku menghidupkanmu kembali kau akhirnya masuk dalam daftar kematian yang hilang. Ka__" belum sempat Yifan melanjutkan perkataannya Fei sudah terlebih dahulu memotong
"Tunggu__apa maksudnya daftar kematian yang hilang?"
Yifan mendecak keras lalu menodongkan sabitnya kearah Fei. "Bocah jangan memotong perkataanku...dasar tidak tahu sopan santun kau mau kukirim ke neraka!"
Mendengar kata neraka otomatis membuat Fei langsung terdiam.
"Dengar bocah saat ini namamu sudah terdaftar dalam daftar kematian yang hilang dan jika aku terus membiarkan namamu tercatat disana maka akan terjadi hal buruk padamu."
"Hal buruk?"
"Kau akan dianggap hilang dan tidak pernah dianggap sama sekali pernah terlahir di dunia. Tentu saja itu adalah hal yang buruk bahkan lebih buruk daripada kau harus dikirimkan ke neraka."
"Kenapa itu bisa terjadi?"
"Karena aku sudah melakukan hal ilegal dengan melanggar perintah Tuhan yaitu menghidupkan kembali orang yang sudah mati. Yang kulakukan sudah melanggar kode etik sebagai seorang malaikat maut. Itu menjadi hal yang ilegal untuk dilakukan."
jelas Yifan.
Fei tercekat. Berpikir mengapa hidupnya sesusah ini.
"Untuk saat ini kau memang hidup namun dengan tercatatnya namamu di daftar itu sama saja kehidupanmu yang sekarang ini tergolong ilegal bisa dikatakan kau itu seperti roh penasaran hanya saja dalam wujud manusia." sambungnya.
"Kalau begitu apa yang harus kulakukan?
"Buatlah kontrak denganku dengan begitu kehidupan mu yang sekarang akan dianggap legal dan namamu akan dihapuskan dari daftar kematian yang hilang.
"Kenapa harus denganmu?!"
"Tentu saja karena aku yang menghidupkan mu kembali bodoh!"
"Shit "
"Jangan mengumpat bocah!"
"Jika aku tidak ingin apa yang akan terjadi?
"Seperti yang sudah kubilang tadi kau akan dianggap hilang untuk selamanya. Lagipula karena aku menggunakan cara ilegal untuk menghidupkanmu kembali kaupun sendiri akan terkena imbasnya. Kau tidak akan bisa bertahan hidup lebih dari 48 jam tanpa pengawasanku karena setiap 48 jam sekali tubuhmu harus diperbaharui jika tidak tubuhmu akan mulai membusuk."
"Kalau begitu biarkan saja aku mati. Lebih baik aku mati daripada harus hidup dibawah pengawasanmu terus menerus."
Yifan menggeram kesal. anak ini keras kepala sekali ! rutuknya dalam hati.
"Lalu kau mau menghilang begitu saja? Ingatlah setelah kau mati kau tidak akan pernah bisa pergi ke surga ataupun neraka. Apa kau akan sanggup?"
Fei diam tidak menjawab dan malah membalikkan tubuhnya.
Yifan mendengus kesal kemudian ia memperingatkan Fei "kau akan menyesalinya nak...." Yifan kemudian membuka jendela dapur lalu terjun melompat darisana.
Fei hanya bisa terdiam dan merasa begitu bimbang. Sulit untuk mengambil keputusan saat ini karena hatinya terlalu bimbang. Jujur saja ia sama sekali tidak ingin hidup lagi dan memilih untuk tetap mati namun mendengar jiwanya tidak bisa di kirim ke surga ataupun neraka membuatnya seketika merasa gentar.
וו×וווו×וווו
Pukul 12 malam tepat
Fei terbangun dari tidurnya dan ia merasa begitu amat resah.
Tiba-tiba saja tubuhnya terasa panas dan tidak bisa digerakan sama sekali.
__ADS_1
apa...apa yang terjadi pada tubuhku? Fei mulai merasa ketakutan dan menyadari Ada seusatu yang tidak beres telah terjadi pada tubuhnya.
Fei mencoba menggerakan tangan kirinya dan berusaha untuk mengangkat tangannya setinggi wajah agar ia dapat melihat tangannya itu. Saat melihat ke tangan kirinya betapa terkejutnya dia mengetahui tangan kirinya itu mulai membusuk dan menguarkan aroma yang sungguh tidak enak.
Fei terkejut seketika dia teringat dengan peringatan terakhir Yifan. Perlahan-lahan hampir separuh tubuhnya mulai membusuk.
Fei dengan terburu-buru mendatangi cermin besar yang terletak di kamarnya itu. Dan saat bercermin alangkah terkejutnya dirinya saat menemukan setengah wajahnya sudah meleleh bersisakan tengkorak.
ugh...apa...ap____ini\, sakit____sakit sekali. keluhnya dalam hati.
Fei tiba-tiba merasakan sesuatu menggeliat dari mata kirinya sampai akhirnya ia sadar ada puluhan belatung kecil tengah berusaha mendorong bola matanya keluar.
Pluk
Bola mata Fei terjatuh dan sekarang Fei sudah tidak bisa melihat sama sekali.
Fei sudah merasa tidak kuat lagi dan akhirnya ia terjatuh di atas lantai. Perlahan kesadarannya mulai menghilang bersamaan dengan tubuhnya yang mulai hancur menyisakan sebuah kerangka tubuh manusia.
וו×וווו×וווו
"Cip...cip...cip..."
Yifan melihat kearah jendela kamar Fei dan menemukan seekor burung gereja tengah mengetuk-ngetuk kaca jendela dengan paruhnya. Yifan membuka jendela dan membiarkan burung itu masuk kedalam.
"Kau tersesat burung kecil?" tanya Yifan.
Burung itu menggeleng lalu menunjuk ke sebuah arah diluar sana dengan sayapnya.
"Jadi kau tidak tersesat?" tanya Yifan memastikan. Burung itu menggeleng kembali.
Burung itu mencicit lalu mematuk-matuki jari Yifan seolah ingin memberitahukan sesuatu.
"Apa kau ingin menyampaikan sesuatu padaku?"
Burung itu mengangguk.
"Cip...cip...cip...cip..."
Yifan memperhatikan burung itu berbicara dengan seksama. Setelah memperhatikan burung itu akhirnya ia mengerti bahwa burung itu memang ingin menyampaikan sesuatu padanya. Yifan tentu saja mengerti bahasa burung itu karena burung itu merupakan burung pengantar pesan yang biasanya digunakan oleh sesama malaikat.
"Oh jadi rupanya kau disuruh mengantarkan pesan untukku. Hmm... jadi kau ingin menyampaikan pesan padaku bahwa 'dia' akan kesini. Baiklah. Kapan dia akan datang kesini?"
Burung itu lalu melompat ke telapak tangan Yifan lalu dengan paruhnya ia menggambarkan beberapa pola angka disana.
1212...benar?" tanya Yifan memastikan. Burung itu mengangguk mengiyakan.
Yifan tersenyum lalu mengelus burung itu dengan lembut. "Tolong katakan padanya bahwa aku akan sangat menantikan dirinya untuk datang kesini dan terima kasih karena sudah mengantarkan pesan padaku." ucapnya pada si burung.
"Ck, merepotkan saja" keluh Yifan.
Yifan berjalan mendekati tempat tidur dan mendapati kondisi Fei yang mulai membaik atau lebih tepatnya sudah sangat membaik melihat posisi tidur remaja laki-laki itu yang terlihat seperti orang yang tengah melakukan atraksi. Bayangkan saja Fei tertidur dengan posisi seperti orang yang sedang melakukan kayang.
anak ini benar-benar. Yifan memandang aneh pada Fei yang masih tertidur nyenyak dengan posisi ajaibnya.
"Hoaaaammm...." Mahluk pemalas itu terbangun dari tidurnya lalu mengedarkan pandangannya kearah seluruh ruangan.
"Sudah bangun tuan putri?"
Mahluk itu belum menyadari keberadaan Yifan dan malah masih sibuk menggaruk-garuki kepalanya.
ewh dia kutuan? ucap Yifan dalam hati.
Mahluk pemalas itu bangun dari atas tempat tidurnya lalu berjalan keluar kamar tanpa masih menyadari keberadaan Yifan yang berada di dekatnya.
dia jadi buta? tanya Yifan dalam hati.
Selang tidak berapa lama kemudian setelah Fei keluar dari kamarnya tiba-tiba saja ia muncul kembali di depan pintu kamar dengan wajah panik.
"YIFAAAAAN! ASTA___ASTA___ASTA___ASTAGAA___KENAPA KAU BISA ADA DISINI DAN KENAPA PULA AKU MASIH HIDUP ???" Fei berteriak di depan pintu masih dengan sebelah tangan masih membawa gayung.
Yifan menepuk jidatnya dan entah kenapa seketika ia merasa bodoh karena sudah menghidupkan mahluk seperti Fei.
"ENTE JANGAN GILA YA PAGI-PAGI!" Yifan berteriak sembari mengeluarkan sabitnya.
•וו×וו×
Sekarang situasi sudah jadi kembali normal dengan Fei dan Yifan yang duduk tenang saling berhadapan di meja makan yang nyaris di hancurkan oleh Yifan.
"Jadi bisa kau jelaskan mengapa kondisiku sekarang bisa seperti ini ?" Fei menghirup teh hijaunya dengan tenang. Sungguh saat ini kondisinya berbalik 180° derajat Fei tiba-tiba saja menjadi tenang dan tidak meledak-ledak seperti sebelumnya.
Yifan juga tampaknya terlihat sangat tenang dan bertindak seolah tidak terjadi apa-apa padahal sebelumnya dia juga terlihat habis berteriak.
Keduanya saat ini terlihat sangat tenang dan seolah mampu mengadapi situasi yang rumit.
Yifan meletakkan cangkirnya kemudian menatap Fei serius. "Kondisimu bisa membaik seperti ini dikarenakan akulah yang memperbaharui tubuhmu secara diam-diam."
Fei tercenggang dan memutar kilas balik ingatannya semalam.
"Kapan kau datang untuk memperbaharui tubuhku? Semalam terakhir kali aku melihatmu saat kau terjun keluar dari atas jendela."
__ADS_1
Yifan mendecak lalu berucap. "Tentu saja kau tidak melihat karena saat aku datang untuk memperbaharui tubuhmu kau sudah dalam kondisi menjadi tulang-belulang."
"Tulang belulang?" tanya Fei ragu sembari berusaha mengingat kejadian semalam.
"Kau pasti tidak ingat karena itu merupakan hal yang sangat mengerikan." ujar Yifan malas.
Fei terus berusaha untuk mengingat sampai akhirnya akhirnya sepercik ingatannya mulai muncul secara perlahan dan tersusun rapi.
Yifan menatap Fei lalu menunjuk dengan jari telunjuknya kearah remaja laki-laki itu. "Sudah ingat?"
Merasa ingatannya sudah kembali Fei merasakan pening di kepalanya dan debaran jantungnya berubah meningkat drastis. Sekelumit pengalaman mengerikan yang terjadi pada dirinya semalam membuatnya merasa ketakutan sampai akhirnya nafasnya terasa begitu sesak dan ia terjatuh dari kursinya dan bertindak seperti orang yang mengalami serangan panik.
Melihat kondisi Fei yang menyedihkan membuat Yifan kembali merasa repot. "Ckckckck___kau itu kenapa suka sekali menyusahkanku." kata Yifan seraya menggendong tubuh Fei dan memindahkan tubuh remaja laki-laki itu ke dalam kamar.
•וווו×ו×
Di dalam kamar Yifan tengah memangku Fei dan berusaha menenangkan remaja laki-laki itu. Melihat kondisi Fei yang semakin tidak membaik membuat Yifan berinisiatif memberikan Fei obat penenang. Yifan kemudian mengeluarkan sebuah botol plastik berukuran kecil dari kantong celananya lalu mengambil sebutir pil Fluoxetine darisana. Ia memasukan obat itu kedalam mulut Fei dan membiarkan obat itu sampai tertelan habis. Setelah Fei berhasil menelan obat tersebut Yifan memindahkan Fei keatas tempat tidur.
Setelah memindahkan Fei keatas tempat tidur Yifan lalu duduk di kursi belajar milik Fei. Dia terus menunggui Fei sampai tersadar kembali.
Yifan mengacak rambutnya lalu menghembuskan nafasnya kasar. bocah ini memang sangat merepotkan. keluhnya dalam hati.
5 menit telah berlalu dan tampaknya Fei sudah mulai tersadar.
"Eungggh." Fei mendesah kemudian mengerjap-ngejapkan matanya. Kondisi dirinya sudah membaik setelah diberikan obat penenang oleh Yifan.
Fei menyandarkan tubuhnya yang lemas ke headboard.
"Kau beri aku apa tadi?" tanya Fei.
"Hanya obat penenang. Tidak usah terlalu dipikirkan." Yifan berdiri dari kursinya lalu berjalan mendekati Fei.
Fei menoleh kearah Yifan lalu bertanya apa yang akan dilakukan oleh pria itu.
Yifan yang kini sudah berdiri di samping tempat tidur Fei menjetikkan jarinya lalu tiba-tiba saja muncul segelas air putih digenggaman tangan kanannya.
Fei kembali tercenggang melihat aksi ajaib malaikat maut itu.
"Kau sedang melakukan sulap?"
Yifan mendesah malas lalu segera menyodorkannya pada Fei.
"Jangan banyak tanya. Cepat minum saja!" perintahnya mutlak.
Fei menatap Yifan curiga ia hendak mengambil gelas itu namun seketika rasa curiganya datang menghantui.
Mendapati Fei yang masih bersikap curiga padanya membuat Yifan merasa jengah.
"Jangan menuduhku terus. Apa sejauh ini aku pernah berbuat jahat padamu?" tutur Yifan.
Mendengar penuturan dari Yifan membuat Fei tersadar bahwa selama ini dia terlalu keras kepala menyalahkan Yifan atas kondisinya. Melihat kondisinya selama ini justru Yifanlah yang selalu membantunya.
Fei mengambil gelas yang berada di tangan Yifan lalu menatap Yifan sebentar.
"Maafkan aku karena selalu bersikap tidak baik padamu, aku hanya belum bisa menerima semua kebaikanmu padaku," ucap Fei pelan.
Yifan menghela nafas lalu berkata. "Aku sangat memahami kondisimu itu. Tidak usah minta maaf. Aku bahkan sangat tahu alasan kenapa kau bersikap kasar padaku sejak awal."
Fei mengangguk-anggukan kepalanya kemudian ia bertanya pada Yifan. "Apa kau tahu sesuatu tentangku?"
"Aku mengetahui semua yang terjadi padamu. Bahkan aku tahu dibalik alasan mengapa kau sampai melakukan bunuh diripun aku sangat mengetahuinya."
Fei meneguk liurnya sendiri. Ia terlihat seperti sangat ketakutan.
Melihat reaksi Fei seperti itu Yifan berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Bagaimana pun juga Yifan sangat tahu bahwa Fei akan berubah menjadi sangat sensitif jika membahas tentang kehidupan pribadinya. Yifan mengibas-ibaskan tangannya di depan wajah kemudian ia menatap Fei serius.
"Sudahlah lupakan saja tidak perlu dibahas lagi. Untuk saat ini aku hanya ingin bertanya mengenai pilihanmu untuk terakhir kalinya. Aku akan memberimu dua pilihan pertama buatlah kontrak denganku seperti yang pernah kukatakan padamu sebelumnya. Kedua jika kau menolak aku akan menghilangkanmu dengan tanganku sendiri sebelum kau yang dihilangkan. Aku sangat berharap kau tidak memilih yang kedua." tutur Yifan.
Fei mengangkat wajahnya menatap Yifan sendu. "Untuk pilihan kedua mengapa kau harus repot-repot menghilangkanku sementara aku nantinya bisa menghilang sendiri."
Yifan menatap tajam Fei. Dari tatapannya itu terlihat rasa tidak suka dari dirinya. Yifan sangat yakin bahwa Fei akan memilih pilihan kedua mengingat sifat keras kepala yang dimiliki oleh anak itu.
"Aku harus menghilangkanmu sebelum kau dihilangkan hal itu kulakukan untuk menjaga nama baikku sendiri sebagai seorang malaikat maut. Seorang malaikat maut yang sudah bertindak ilegal dan tidak berhasil mengikat kontrak dengan jiwa yang ditolongnya akan dicap sebagai malaikat gagal. Dan bila hal itu terjadi aku sendirilah yang harus mendapatkan hukuman dari Tuhan." jelas Yifan masih dengan tatapan tajamnya.
Mendengar penjelasan Yifan membuat Fei tersenyum mengejek.
"Ternyata kau ini rendahan sekali rupanya. Nampak jelas disini kau tidak mau rugi dan bersikap egois. Kau nampaknya memandang rendah sekali jiwa manusia." ujar Fei.
"Bersikap empati pada mahluk lemah seperti kalian juga ada batasnya bagi kaum kami. Kau tidak bisa terus-terusan mengikat seseorang yang ingin terus berusaha melepaskan diri." ucap Yifan.
Fei tertawa lalu menunjukkan jarinya yang membentuk huruf V.
"Bagaimana kalau seandainya aku memilih ini?"
Yifan segera mengeluarkan sabitnya kemudian menodongkannya ke leher Fei.
"Kalau begitu aku ingin mendengar kata-kata terakhir darimu manis." ucap Yifan sembari memasang evil smilenya.
**execution of the soul begins***
Catatan
__ADS_1
Fluoxetine adalah obat anti depresan yang dikonsumsi untuk mengatasi depresi, bulimia, nervosa, gangguan obsesif kompulsif, gangguan pola makan dan serangan kepanikan. Fluoxetine hanya boleh dikonsumsi dengan resep dokter. Fluoxetine adalah jenis obat oral dalam bentuk tablet san kapsul.
Sumber Google