
Bukannya membantah Yifan malah tersenyum dan hal itu semakin diperkuat ketika Yifan menjawab seperti ini. "Aku memang ingin menjadikanmu sebagai pelayanku agar kau dapat melayaniku." jawabnya enteng.
Mendengar jawaban Yifan membuat Fei ingin rasanya meloncat dari kamar apartemennya.
aaaarrgghh___sialan aku dijebak oleh manula mesum. jeritnya dalam hati.
"Hei... kau ini kenapa. Kau baik-baik saja?" Yifan tampak panik ketika mendapati reaksi Fei yang terlihat seperti orang yang hampir mati.
"Kau ini pasti berpikir yang macam-macam soal perkataanku tadi. Dengar Fei yang kumaksud kau menjadi asisten itu aku ingin kau membantu dalam urusan pekerjaanku. Ayolah gunakan sedikit saja akal sehatmu itu. Apa otakmu jadi timpang sebelah semenjak kau mati." Yifan berusaha memberi penjelasan pada Fei yang terus-terusan salah tanggap dengan perkataannya.
"Memangnya apa yang bisa aku bantu? Kau ini mengada-ngada saja urusan malaikat maut malah kau bawa-bawa manusia. Yang benar saja. Justru otakmu yang timpang sebelah manula!" sarkas Fei.
kambuh lagi temperamen nya. ucap Yifan dalam hati. Yifan hanya mengelus-ngelus dada dan berusaha tidak tersulut emosi.
Yifan kemudian menepukan kedua tangannya sekali dan tiba-tiba saja muncul tali kekang kuda terpasang di mulut Fei. Otomatis Fei tidak bisa berbicara dan hanya meronta menggunakan bahasa tubuh menunjukan rasa protesnya pada Yifan.
Yifan sendiri tampaknya tidak peduli. Ia tidak mau ambil pusing bila penyakit temperamen Fei kambuh kembali.
"Tali kekang itu tidak akan kulepas sampai aku habis berbicara." katanya tegas.
Fei masih meronta berusaha melepaskan tali kekang itu dari mulutnya namun hasilnya nihil. Karena merasa saking kesalnya ia menunjukkan jari tengah pada Yifan yang berarti **** you. Namun Yifan sendiri tidak mau menanggapinya.
"Dengar kid. Terlepas dari urusan malaikat maut kau itu tetap berhak mencampuri urusanku atau lebih tepatnya membantuku karena kau itu sudah terikat kontrak denganku paham. Aku hanya ingin kau itu bekerjasama denganku untuk mengumpulkan daftar orang-orang yang akan mati. Setelah kau membantuku aku juga akan membantumu membalaskan dendam pribadimu. Bagaimana setuju?" ujar Yifan.
"Hmmph__hmphhh___hmmmphhhh!!!" Fei ingin menjawab namun mulutnya tengah terikat tali kekang kuda sehingga ia tidak bisa berbicara.
"Oke...oke, akan kulepas tapi tolong gunakan mulutmu sebaik mungkin oke?" Yifan kemudian menepukkan tangannya sekali kemudian tali kekang yang mengikat mulut Fei langsung menghilang begitu saja.
Tidak mau cari ribut Fei akhirnya langsung menyetujui permintaan Yifan. Walau dengan berat hati Fei tetap menjawab seperti ini. "Haish, baiklah aku setuju denganmu." Fei tampaknya tidak mau mempersulit keadaannya sendiri.
Mendengar persetujuan langsung dari Fei. Membuat Yifan cukup senang. Setidaknya ia tidak perlu melakukan kekerasan hanya untuk membuat Fei setuju dengan permintaanya.
"Baguslah kalau kau setuju." Yifan mengangguk-anggukan kepalanya senang.
Setelah itu suasana hening sejenak sebelum akhirnya Fei membuka suara.
"Kalau begitu sekarang kita harus melakukan apa?" tanyanya penasaran.
"Bagaimana kalau aku kau menemaniku pergi berjalan-jalan disekitar sini." ujar Yifan tiba-tiba.
Fei berdecih. Kemudian ia menolak. Ia baru saja berpikir Yifan akan menyuruhnya untuk membantunya mengumpulkan daftar orang mati namun yang terjadi malah sebaliknya.
"Kau keliling saja sendiri. Aku malas tidak ada yang menarik dari kota ini. Lagi pula apa kau tidak melakukan pekerjaanmu? Aku sudah setuju untuk membantumu." lanjutnya.
Yifan mengibas-ibaskan tangannya di depan wajah kemudian berkata. "Ck. Masalah pekerjaan itu mudah lagipula kau sudah setuju untuk membantuku. Untuk saat ini kita masih punya waktu lebih sebelum memulai pekerjaan. Ayolah temani aku berjalan-jalan di kota ini. Ngomong-ngomong aku baru pertama kali datang kesini." kata Yifan.
Fei tidak menanggapi dan malah bersikap acuh. Ia hendak pergi meninggalkan Yifan sebelum akhirnya ia mendengar Yifan berteriak akan mentraktirnya makan.
"Bagaimana kalau aku mentraktirmu makan?" rayu Yifan. Yifan sangat mengetahui fakta bahwa Fei adalah tipikal orang yang tidak bisa menolak soal traktiran makan gratis. Bagaimana Yifan mengetahuinya? Tentu saja Yifan mengetahui itu semua karena ia mampu membaca pikiran Fei.
"Apa kau sungguh akan mentraktirku?" tanya Fei memastikan.
__ADS_1
Yifan mengangguk kemudian menunjukkan dompetnya yang tebal berisikan penuh dengan lembaran yuan.
Melihat itu seketika membuat jiwa matre Fei berguncang.
"Baiklah aku akan menemanimu. Ayo cepat kita keluar manula." Fei tampak bersemangat. Ia dengan rasa terburu-buru mengajak Yifan untuk segera keluar pergi berjalan-jalan.
Yifan yang melihat tingkah Fei hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. jiwanya memang sangat matre ckckck. ucapnya dalam hati.
ווו×ו×
Saat ini Fei dan Yifan sedang berada di sebuah kafe kecil yang terletak di pinggiran kota. Mereka beristirahat di kafe kecil ini setelah puas berjalan-jalan berkeliling kota.
"Jadi bagaimana menurutmu dengan Jilin?" tanya Fei meminta pendapat pada Yifan.
"Hm, biasa saja. Tidak ada yang spesial." jawabnya dengan nada suara yang terdengar datar.
Mendengar jawaban Yifan membuat Fei merasa kesal. "Ck. Sialan kau." umpatnya kasar.
Yifan memandang ke arah luar kafe sebentar kemudian ia berkata seperti ini. "Tapi untuk tinggal di sini lumayan juga. Polusinya masih tergolong rendah. Jadi kurasa kota ini cukup lumayan baik." katanya.
Fei kembali mendecak kemudian membalas perkataan Yifan. "Kalau begitu bilang saja dari awal kau menyukainya. Dasar kau ini."
Yifan hanya mengangkat bahunya sebagai bentuk balasan respon.
"Baguslah kalau kau bisa beradaptasi untuk tinggal di sini." Fei kembali sibuk dengan makanannya.
Yifan menatap Fei bingung dengan cepat ia merespon seperti ini. "Eh, siapa bilang aku akan tinggal di sini."
Yifan tersenyum kemudian menjetikkan jarinya sambil berkata. "Kau dan aku akan tinggal di Beijing setelah ini." ungkapnya dengan gembira
Mendengar ungkapan Yifan membuat Fei tercenggang. "Beijing untuk apa? Kau jangan gila ya!" ucapnya tidak percaya.
Yifan mendesah kemudian ia menatap Fei serius. "Kita akan tinggal di Beijing untuk memudahkan rencana kita."
"Rencana apa! Kau bahkan tidak memberitahuku perihal rencanamu itu." Fei tampak tidak terima.
"Tentu saja rencana untuk melakukan pembalasan dendam memangnya apalagi? kata Yifan mengingatkan.
Fei memutar bola matanya malas. Kali ini dia malas untuk protes jadi dia hanya mengiyakan saja perkataan Yifan. "Terserah mu saja." ucapnya malas.
Yifan menepukkan kedua tangannya kemudian berkata seperti ini. "Baiklah kalau begitu besok pagi kita pergi berangkat ke Beijing."
"Besok!?" Fei sangat terkejut ketika mendengar bahwa besok pagi mereka harus pergi berangkat ke Beijing. Saking terkejutnya Fei sampai tanpa sengaja menyemburkan minuman yang sedang di minumnya ke wajah Yifan. Tanpa rasa bersalah sedikitpun Fei malah menggebrak meja yang membuat semua orang di dalam kafe itu melihat ke arah keduanya. Seolah tidak memedulikan keadaan Fei malah sibuk mengomeli Yifan.
"Kau! Aaarggh___kau ini seenaknya sekali padaku. Apa kau tidak bisa mendiskusikan ini terlebih dahulu denganku? Dasar manula." omel Fei dengan suara yang nyaring.
Mendengar suara omelan Fei yang begitu nyaring membuat perhatian semua pengunjung yang berada di dalam kafe sontak menoleh kearah mereka berdua.
Tidak hanya itu saja pengunjung yang berada di dalam kafe juga ikut ribut dan bahkan ada yang menyoraki keduanya. Beberapa pengunjung lainnya malah sibuk merekam aksi anarkis Fei yang masih terus mengomel, untuk diabadikan dalam ponsel mereka masing-masing.
"Astaga kurasa apa kita harus melerai mereka?" kata seorang pengunjung yang bijak.
__ADS_1
"Tidak. Tidak usah mereka itu sedang simulasi pertengkaran rumah tangga. Tidak usah dilerai." kata seorang pengunjung yang menyukai keributan.
"Tap__tapi, mereka...." Pengunjung bijak ingin protes namun pengunjung yang menyukai keributan malah melarangnya.
"Aish. Tidak usah dilerai aku setuju dengannya biarkan saja mereka. Lagi pula kita bisa mengabadikan kejadian ini dan kita bisa membuatnya viral di sosial media." kata seorang pengunjung lainnya yang sibuk mengabadikan momen pertengkaran ini dengan ponselnya.
Si pengunjung bijak hanya bisa geleng-geleng kepala ketika mendapati dua tingkah laku absudrd pengunjung lainnya. Y**a ampun apa disini tidak ada orang yang waras? ucapnya dalam hati.
Menyadari keributan yang sudah dibuat oleh keduanya Yifan memutuskan untuk menyeret paksa Fei keluar dari kafe tersebut.
Aku bersumpah tidak akan pernah datang kesini lagi. rutuk Yifan dalam hatinya.
וווווו
Di apertemen Fei.
"Bisakah kau kontrol sedikit saja emosimu itu! Astaga kelakuanmu benar-benar."
Yifan meneguk rakur air dingin yang diambilnya dari kulkas.
Fei sendiri tampak diam.
"Belum memulai kerjasama saja kita sudah seperti ini bagaimana nanti bila kita sudah bekerjasama?" Yifan tampak masih pusing dengan tingkah laku yang dibuat oleh Fei.
Bukannya sadar Fei malah mencibir Yifan. "Begitu saja kau sudah merasa tidak sanggup dasar lembek. Salah sendiri kenapa membuat kontrak denganku."
Yifan mendesis kesal. Jika saja ia tidak ingat sudah membuat kontrak dengan Fei mungkin tanpa ragu ia akan memotong kepala anak ini hidup-hidup.
"Dengar nak tolong jangan memancing emosiku sebelum aku melakukan hal yang tidak-tidak padamu." ancam Yifam.
Mendengar ancaman dari Yifan membuat Fei akhirnya memilih untuk tutup mulut.
"Nak kalau kau masih berbuat seperti itu lagi, aku tak akan segan-segan untuk berbuat hal buruk padamu. Tolong camkan itu baik-baik." ucap Yifan sebelum mendudukan dirinya di atas kursi. Saat ia duduk di kursi matanya tak sengaja melihat sebuah botol berisikan cairan berwarna kuning keemasan.
Yifan mengambil botol itu. Ia mengerutkan dahinya saat melihat botol tersebut. Setelah melihat botol itu ia lalu menunjukkan botol itu pada Fei. "Ini bensin bukan? Kenapa kau malah menyimpannya di dalam kamarmu. Apa kau berniat membakar dirimu lagi seperti yang kau lakukan waktu itu."
"Bukan urusanmu. Cepat kembalikan bensin itu ke tempat semula!" Fei terlihat tidak suka
Bukannya meletakkan bensin itu ke tempat semula Yifan malah melemparkan botol itu keluar dan membuat Fei merasa panik karena ulahnya tersebut.
"Hei jangan sembarangan melemparkan itu keluar itu adalah bensin. Kau bisa membahayakan orang-orang di bawah sana jika bensinnya sampai terkena api. " katanya panik.
"Apa pedulimu soal itu bukankah kau sendiri ingin membakar dirimu tapi kenapa kau malah bertindak seperti seolah peduli pada orang lain?"
Fei diam.
Tiba tiba Yifan menjetikkan jarinya seketika muncul kobaran api di bawah sana.
Fei terkejut tanpa pikir panjang ia langsung menghajar Yifan. Sementara itu Yifan sendiri hanya diam saja tidak melawan ia malah menatap tajam ke arah Fei.
"Kau apa yang kau lakukan?!" murka Fei.
__ADS_1
Bukannya melepaskan diri Yifan malah tertawa nyaring seperti orang gila.