
Han Yun Qo adalah salah satu kenalan Yifan di Beijing yang bekerja sebagai seorang dokter ilegal alias dokter tanpa surat izin praktek. Han Yun Qo yang kerap dipanggil Yun ini sudah cukup lama menjalin kerjasama dengan Yifan. Hubungan yang mereka jalani adalah hubungan yang saling menguntungkan satu sama lain karena itulah mereka menjadi sangat akrab. Yun sudah lama menetap di Beijing dia bahkan sangat jarang meninggalkan China dan cenderung hanya menetap pada tempatnya saja, sangat berbeda dengan Yifan yang sangat suka berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Beberapa hari yang lalu Yifan menghubunginya bahwa dia telah tiba di Beijing karena itulah Yun menyuruh Yifan untuk datang menemuinya.
Yifan membuka pintu kemudian ia mendapati seorang pria berkemeja putih polos berdiri di depan sana untuk menyambutnya.
"Yun apa kabar. Kau baik-baik saja?" tanya Yifan.
Yun tersenyum lalu menjawab. "Seperti yang kau lihat aku baik-baik saja di.sini. Kau sendiri bagaimana? Masih mengabaikan tugasmu seperti biasanya hmm."
Yifan mengacak rambutnya menatap Yun dengan senyum malas. "Ck. Kau ini sedang menyindirku ya. Ayolah kawan aku datang kesini dengan niat untuk melepaskan rasa penatku." keluh Yifan.
Yun tertawa mendengar keluhan Yifan. "Astaga kawan jangan terlalu sensitif. Kau bisa ceritakan padaku tentang masalahmu itu. Sejak kapan kawan malaikat mautku ini menjadi terlihat seperti seorang wanita hamil yang sensitif." Yun menepuk-nepuk bahu Yifan berusaha memberikan semangat pada kawannya itu. Yun adalah satu-satunya orang yang tahu bahwa Yifan bukanlah sosok manusia melainkan sosok supernatural yang sulit dipercayai keberadaannya oleh kebanyakan orang awam.
Yifan mendesis kesal. "Ayolah kawan aku sedang tidak berniat untuk kau ajak bercanda moodku sangat buruk untuk saat ini. Bisakah aku meminta minumanku yang seperti biasanya." Yifan tampak terlihat sangat badmood.
Yun mendecak kemudian menjawab. "What the hell. Kau ingin aku membuatkan air garam seperti biasanya? Ayolah Yifan ubah selera kunomu itu. Aku bisa membuatkanmu minuman yang lebih enak daripada air garammu itu."
Yifan menatap Yun malas. "Kalau kau tidak mau membuatkannya aku bisa membuatnya sendiri." Yifan kemudian bangkit berdiri dari kursinya dan hendak pergi berjalan menuju dapur.
Namun sebelum Yifan pergi Yun terlebih dahulu menahan Yifan.
"No. Kurasa kau tidak perlu membuatnya aku bisa membuat yang lain untukmu."
Yifan mendengus kesal. "Kau takut aku menghabiskan garammu?"
Yun mendecak. "Ayolah kawan kau itu selalu saja menghabiskan garamku. Seandainya garam yang kau habiskan itu adalah garam yang mudah untuk ditemukan di supermarket mungkin aku akan mengizinkanmu untuk menghabiskannya. Tapi garam yang kau habiskan itu adalah garam langka yang sulit untuk didapatkan kau tidak bisa seenaknya mengahabiskan. Aku sangat membutuhkan garam itu untuk penelitianku."
"Terserah kau saja. Kalau begitu sebagai gantinya kau buatkan aku minuman yang lain, bagaimana?" tawar Yun. Yun tampaknya tidak rela bila Yifan kembali menghabiskan persediaan garamnya seperti biasa.
Yifan mengibaskan tangannya ke arah Yun. "Ya sudah terserahmu saja." katanya malas.
Yun tersenyum kemudian membentuk jarinya seperti huruf O. "Oke...oke tuan pemarah." ujar Yun sebelum beranjak pergi ke belakang untuk mengambil minuman khususnya yang akan ia suguhkan untuk Yifan.
"Ck... dasar. Padahal aku sudah lama merindukan rasa asin khas air garam tapi dia malah mau memberikanku minuman yang lain." gumam Yifan sembari mengacak-acak rambutnya kesal.
Tidak sampai sampai lima menit Yun sudah berdiri di hadapan Yifan sambil membawa sebuah nampan berisikan gelas kaca berukuran sedang.
Yun meletakkan nampan itu di atas meja dan menyuruh Yifan untuk mengambil gelasnya. "Silahkan tuan pemarah kau bisa nikmati minuman khas ini." katanya sambil mengedipkan sebelah matanya.
"... tidak usah bersikap genit seperti itu! Kau sungguh membuatku merasa takut sekaligus geli." kata Yifan melirik ke arah gelas tersebut yang berisikan cairan yang tidak diketahui namanya oleh Yifan. Yifan mengambil gelas tersebut kemudian menunjukkan pada Yun. "Apa ini?" tanyanya penasaran.
"Mai Dong." jawab Yun singkat.
Alis Yifan berkerut. "Mai Dong?"
Yun menghela nafas kemudian ia berusaha memperjelas jawabannya agar lebih mudah dimengerti oleh Yifan. "Mai Dong adalah minuman yang terbuat dari campuran beberapa buah dan rempah-rempah. Minuman ini biasanya dikonsumsi oleh pria dewasa, untuk menjaga stamina dan meningkatkan daya tahan tubuhnya." jelas Yun.
Selesai Yun menjelaskan perihal minuman tersebut yang membuat Yifan merasa penasaran tidak lama kemudian Yifan malah bersendawa dan sudah menghabiskan minuman itu hanya dengan sekali teguk.
"Lumayan...." komentar Yifan. Yifan kemudian menatap Yun dengan mata berbinar. "Bisa aku minta lagi minumannya?" Yifan memelas.
__ADS_1
Yun merasa kesal melihat sifat rakus Yifan. Bukannya memberikan tambahan minuman Yun justru memukul kan gelas kaca yang sudah kosong itu ke kepala Yifan.
"Untung saja kepala malaikat maut itu keras seperti batako ya...." sindir Yun.
Yifan mengusap-usap kepalanya. Meski pun kepalanya baik-baik saja ia tetap masih merasakan sedikit nyeri di kepalanya yang habis terkena pukulan gelas sakti Yun.
Yun berdecih. "Malaikat tapi tidak bisa mengontrol nafsunya." katanya kesal.
Yifan melirik Yun malas. "Terlalu lama tinggal di dunia manusia membuat sifatku sudah membaur sama seperti manusia lainnya."
"Ck. Alasan saja kau!" Yun menatap Yifan sinis.
Yifan mengibaskan-ngibaskan tangannya di depan wajah. "Sudahlah___ sudahlah. Jangan bahas itu lagi." ujarnya malas.
Yun menghela nafas kemudian menatap Yifan lekat. "Kontrol dirimu sendiri mulai sekarang!" tegasnya.
Yifan hanya menggaruk-garuki kepalanya kemudian menjawab. "ya...ya...ya...." Tanpa terlihat niat sedikit pun.
Yun memutar bola matanya malas merasa jengah dengan sifat yang dimiliki oleh kawannya tersebut. Di saat rasa jengahnya itu tiba-tiba saja ia teringat suatu hal penting yang sangat ingin ia tanyakan pada Yifan.
"Ngomong-ngomong Yifan bukankah sebelumnya kau pernah bilang padaku kalau kau sudah membuat kontrak dengan seorang anak laki-laki? Bagaimana menurutmu dengan anak itu?" Yun tampaknya terlihat penasaran dengan sosok yang dimaksudkan oleh Yifan tempo hari saat mereka bertukar pesan.
Yifan tersenyum miring mimik wajahnya terlihat sangat aneh.
"Kau harus merasa iba denganku. Anak itu benar-benar membuat kolestrolku naik secara tidak wajar. Asal kau tahu saja awal-awal pertama kali aku bertemu dengannya dia selalu bersikap temperamen padaku." keluhnya.
Yun hanya terkikik sebagai bentuk balasan respon atas keluhan yang dilontarkan oleh Yifan.
"Seandainya saja dia bukan pilihanku mungkin sejak awal akan kubiarkan saja dia mati membusuk di kamarnya."
Yun tersenyum kecut. Kemudian ia menunjuk ke arah tabung kecil berisikan otak yang telah diawetkan.
"Kau dapatkan ini darimana?" tanyanya penasaran.
"Dari seorang pria tua mesum." jawab Yifan singkat.
"Kau membunuhnya untuk mendapatkan otak ini?"
"Tidak. Dia mati bunuh diri. Ngomong-ngomong apa kau suka dengan pemberianku kali ini?" Yifan bertanya balik.
Yun mengangguk. "Ah terima kasih. Kau tahu saat ini aku sedang membutuhkan sampel otak untuk bahan penelitianku. Terima kasih karena sudah membawakan pesananku, maaf sebelumnya karena aku sudah merepotkanmu." Yun jadi merasa tidak enak pada Yifan karena merasa sudah merepotkannya.
"Sudahlah tidak perlu merasa sungkan seperti ini. Kau sendiri sudah sering membantuku, jadi anggap saja ini sebagai bentuk balas budiku padamu."
Yun tersenyum kemudian ia mengambil tabung kecil itu lalu diletakannya dalam kulkas.
"Sisa tubuhnya kau apakan?" tanya Yun penasaran.
"Aku mengambil daging pria tua itu lalu kujadikan fillet yang akhirnya kuberikan pada seekor anjing liar yang sedang kelaparan. Untuk bagian sisa tubuhnya yang lain aku sudah membakarnya habis di tempat."
__ADS_1
Yun mengangguk. "Kenapa filletnya tidak kau berikan saja pada tunawisma. Mungkin akan jadi sedikit lebih berguna untuk membantu orang yang sedang kelaparan ketimbang memberikannya pada seekor anjing liar."
Yifan mencibir. "Hei, anjing itu juga makhluk hidup lagipula daging pria tua itu sudah alot. Pasti rasanya tidak akan enak jika dimakan oleh manusia. Ketimbang diberikan pada manusia lebih baik diberikan pada anjing liar saja."
Yun mengedikkan bahunya lalu berkata. "Yah itu terserahmu saja." Yun kemudian mengambil gelas Yifan yang sudah kosong lalu pergi ke belakang sebentar untuk mencucinya.
"Yifan apa kau sudah merasa tidak terlalu lama disini? Apa anak itu tidak mencarimu?" Yun berteriak dari belakang sana menanyakan sekaligus mengingatkan Yifan untuk segera pulang.
Mendengar teriakan Yun membuat Yifan sadar bahwa ia sudah pergi terlalu lama meninggalkan Fei seorang diri.
Tanpa perlu berpamitan Yifan sudah pergi menghilang begitu saja. Tanpa perlu repot Yifan mampu berteleportasi ke tempat tujuannya.
Yun kembali ke ruang tamu dan ia sudah tidak menemukan Yifan di sana.
"Ya ampun apa dia tidak bisa berpamitan terlebih dahulu sebelum pulang," gumam Yun.
וו×וו×וו•
Sementara Itu Di Penginapan.
Fei sedari tadi terus bergumam sendiri ia memikirkan kemana perginya Yifan saat ini. Sudah hampir tujuh jam Yifan menghilang begitu saja dan belum kembali ke penginapan sampai sekarang. "Kemana malaikat maut itu pergi? Kenapa pula sampai sekarang ia masih belum kembali ke sini... apakah aku harus mencarinya? Ini sudah larut malam dan ia masih belum kembali." gumam Fei pada dirinya sendiri.
"Mencariku anak manis?"
Alangkah terkejutnya Fei ketika mendapati Yifan yang tiba-tiba saja berdiri di hadapannya.
"Mengkhawatirkanku?" Yifan tersenyum lebar.
Fei seketika merinding mendapati pria itu yang tiba-tiba saja muncul dengan senyum lebarnya.
Fei menatap nyalang ke arah pria dewasa tersebut. "Siapa yang mencarimu! Aku bahkan tidak pedui meski pun kau tidak kembali ke sini." katanya ketus.
Yifan mengerutkan alisnya. "Jangan berbohong, bukankah kau tadi bergumam sendiri ingin mencariku." goda Yifan.
Fei mendelik. Ia mendorong jauh tubuh pria dewasa itu agar menjauh darinya.
"Berhentilah bercanda aku sedang merasa lelah untuk saat ini." Fei berjalan menuju tempat tidurnya.
"Mau tidur?"
"Mau mati." Fei tersenyum sinis pada Yifan.
"Oh. Kalau begitu sebentar lagi kau membutuhkan jasa tukang gali kubur, mungkin aku bisa menjadi tukang gali kuburmu kalau kau mau. Kau bahkan bisa mendapatkan diskon jika menggunakan jasaku." balas Yifan ngawur.
Fei menggeleng-gelengkan kepalanya. "Otakmu butuh direparasi rupanya."
Yifan tertawa kecil kemudian berjalan menuju saklar lampu untuk mematikan lampu dalam kamar tersebut. "Istirahatlah." katanya sebelum mematikan lampu.
Fei tersenyum tipis tidak lama kemudian ia memejamkan matanya lalu jatuh ke dalam alam bawah sadarnya.
__ADS_1
Mimpi buruk akan terus menyertaimu sepanjang waktu dan tak akan pernah berakhir begitu saja.