
"Nak kalau kau masih berbuat seperti itu lagi, aku tak akan segan-segan untuk berbuat hal buruk padamu. Tolong camkan itu baik-baik." ucap Yifan sebelum mendudukan dirinya di atas kursi. Saat ia duduk di kursi matanya tak sengaja melihat sebuah botol berisikan cairan berwarna kuning keemasan.
Yifan mengambil botol itu. Ia mengerutkan dahinya saat melihat botol tersebut. Setelah melihat botol itu ia lalu menunjukkan botol itu pada Fei. "Ini bensin bukan? Kenapa kau malah menyimpannya di dalam kamarmu. Apa kau berniat membakar dirimu lagi seperti yang kau lakukan waktu itu."
"Bukan urusanmu. Cepat kembalikan bensin itu ke tempat semula!" Fei terlihat tidak suka.
Bukannya meletakkan bensin itu ke tempat semula Yifan malah melemparkan botol itu keluar dan membuat Fei merasa panik karena ulahnya tersebut.
"Hei jangan sembarangan melemparkan itu keluar itu adalah bensin. Kau bisa membahayakan orang-orang di bawah sana." Fei memperingatkan Yifan.
"Apa pedulimu soal itu bukankah kau juga ingin membakar dirimu sendiri tapi kenapa sekarang kau malah bertindak seperti seolah peduli pd orang lain?" tantang Yifan.
Fei diam.
Tiba tiba Yifan menjetikkan jarinya seketika muncul kobaran api di bawah sana.
Fei terkejut kemudian ia langsung menghajar Yifan. "Kau kau apa yg kau lakukan?!"
Yifan hanya diam saja dan menatap tajam kearah Fei.
Bukannya melepaskan diri Yifan malah tertawa nyaring seperti orang gila.
Fei yang melihat Yifan tertawa seperti orang gila langsung melepaskannya begitu saja.
"Kau ini kenapa mendadak peduli dengan orang lain?" sindir Yifan.
Fei hanya diam tidak menemukan alasan yang tepat.
"Tapi bagus juga kalau kau bisa peduli pada orang lain aku hargai itu." Yifan kemudian menjetikkan jarinya dan tiba-tiba saja kobaran api besar itu langsung menghilang begitu saja.
Fei kembali tercenggang namun Yifan dengan cepat menyahut.
"Itu hanya ilusi saja, aku hanya ingin mengetesmu." ucapnya tanpa rasa bersalah.
Fei mendadak lega namun ia merasa masih sedikit syok atas kejadian tadi.
"Berhentilah berbuat ekstrim seperti itu." katanya lemas.
"Tergantung keadaan." balas Yifan sekenanya.
Fei mendengus mendengarnya.
Yifan kemudian kembali duduk di tempat semula dan merenggangkan tubuhnya sebentar. "Sepertinya ada hal penting yang perlu aku jelaskan padamu." kata Yifan dengan ekspresi wajah yang terlihat serius.
"Apa yang ingin kau jelaskan?"
__ADS_1
Fei diam menunggu penjelasan dari Yifan.
Yifan menghela nafas sebentar. "Kita akan pergi ke Beijing untuk menemui ayahmu."
"Untuk apa menemui ayahku?"
Yifan tersenyum licik kemudian menjawab. "Kita pergi menemuinya sekaligus untuk menjemput jiwanya."
Fei mengerutkan keningnya tidak paham. "Apa yang kau maksud itu?"
"Kebetulan sekali ayahmu masuk dalam daftar kematian itu tandanya sebentar lagi dia akan mati." Yifan kemudian memunculkan sebuah buku berwarna hitam yang didapatnya entah darimana
"Kau bisa lihat namanya tertulis disini." Yifan menunjukkan salah satu nama pada Fei
"Tidak mungkin itu ayah. Mungkin nama itu milik orang lain yang namanya sama seperti milik ayahku." sanggah Fei. Ia menyanggah merasa tidak percaya karena mungkin saja nama itu kebetulan mirip dengan nama ayahnya.
Yifan kemudian mengambil kembali buku itu lalu ia membuka halaman selanjutnya untuk ditunjukkan pada Fei.
"Apa kau bisa menyanggahnya kali ini?" Yifan menyeringai.
Fei melotot merasa tidak percaya. Alangkah terkejutnya ia ketika mendapati foto wajah ayahnya beserta profil lengkap ayahnya sangatlah akurat bahkan waktu kematiannya pun tertera di sana.
"Ini tidak mungkin." katanya tidak percaya.
"Kalau kau masih merasa tidak percaya kita bisa membuktikannya besok. Karena itulah aku mengajakmu pergi ke Beijing secepatnya karena besok ayahmu tuan Luo akan mati pada pukul empat sore." ujar Yifan sembari menutup kembali bukunya.
Fei mendesah ia berpikir bagaimana mungkin ia harus bertemu kembali dengan ayahnya bahkan disaat detik-detik terakhirnya.
bagaimana mungkin aku bisa bertemu kembali dengannya dalam kondisi seperti ini.
ucap Fei dalam hati.
ווווו×
Di meja makan
Yifan meletakan piring yang berisikan sebuah roti di hadapan Fei yang saat ini masih
termenung diam diatas meja makan.
Yifan berdehem lalu menepuk bahu Fei pelan untuk meyadarkannya. “Berhentilah melamun,
aku sudah menyiapkan makanan untukmu.” Yifan lalu menarik kursi dan segera
duduk disana dengan pandangan yang masih mengarah pada Fei, memastikan bahwa
__ADS_1
remaja laki-laki itu sudah sadar dari lamunannya.
“Ini apa?” Fei menunjuk kearah piringnya.
“Tentu saja itu makanan bodoh. Kenapa kau bertanya hal yang tidak jelas seperti itu.”
jawab Yifan sarkas.
“Ck. Siapapun tahu ini bahwa ini adalah makanan yang kutanyakan itu kau itu membuat apa! Lagipula ini terlihat seperti roti kenapa kau tidak membuatkanku nasi saja
tidak usah sok Eropa.” Fei menggerutu sambil menunjuk-nujuk kearah piringnya.
Yifan menghela nafas berusaha sabar menghadapi kelakuan Fei saat ini. “Jangan norak. aku tahu kau suka nasi tapi mulai sekarang aku akan membuatkanmu semua menu dari seluruh penjuru dunia jadi anggap saja menu kali ini sebagai awal perkenalanmu terhadap masakan luar. Soal roti yang kubuat ini adalah roti corn rye bread roti ini berasal dari daratan Eropa roti ini dikenal sebagai makanan pokok pengganti dan cocok disajikan bersama daging.” jelas Yifan panjang lebar. “Oh dan jangan lupa aku juga sudah memanggang daging sapi untuk disajikan bersama rotinya,” tambahnya.
“Persetan dengan semua penjelasanmu itu. Aku sedang tidak berselera makan." Fei mendorong jauh piringnya.
Yifan menghela nafas kemudian ia berkata seperti ini. “Sudahlah jangan cerewet makan saja makananmu itu!” titah Yifan.
Fei menggembungkan pipinya pertanda tidak suka Yifan yang melihatnya lalu menatap Fei tajam. “Jika kau tidak suka roti itu mungkin akan lebih baik bila aku membuatkanmu makanan dari daging mayat ini." Yifan kemudian mengeluarkan sosok mayat bayi dari tangan kosongnya.
Fei terkejut ketika melihat Yifan, mengeluarkan sosok mayat bayi kecil dari tangan kosongnya.
"Kau...kau dapatkan itu darimana?" tanya Fei merasa ketakutan sekaligus mual ketika melihat kondisi bayi itu yang tampak setengah hancur tubuhnya.
"Ini? Oh aku mendapatkannya sebulan yang lalu saat aku mengambil jiwanya, bayi ini mati karena mengalami keceselakaan harusnya aku tidak menyimpan mayatnya tapi karena ini terlihat menggemaskan jadi aku memutuskan untuk menyimpannya." Yifan memainkan tubuh bayi yang sudah tidak bernyawa itu layaknya sebuah boneka. "Tapi ngomong-ngomong mayat bayi ini selain terlihat menggemaskan tampaknya ia juga terlihat enak untuk di makan." lanjutnya masih dengan posisi memainkan tubuh bayi itu.
Fei seketika bergidik ngeri, ia hampir saja muntah.
"Tolong jauhkan itu dariku kumohon Yifan." Fei memelas is sudah tidak tahan melihat kondisi tubuh bayi itu yang sudah setengah hancur.
"Kalau begitu makan makananmu sebelum aku membuatkanmu makanan baru dari 'ini' ” ancam Yifan sembari menunjukkan mayat bayi itu ke hadapan wajah Fei.
Tak tahan melihat mayat bayi itu ditunjukkan ke hadapan wajahnya membuat Fei langsung mengiyakan ancaman Yifan.
"Baiklah... baiklah aku akan memakan makananku. Tapi tolong cepat singkirkan itu dari wajahku." pinta Fei.
Bukannya menjauhkan mayat bayi itu Yifan justru semakin mendekatkan mayat itu kearah Fei. "Aku tidak akan menyingkirkan ini sampai kau berjanji tidak akan protes terhadap semua masakan yang kubuat untukmu." ancam Yifan lagi.
Fei mengangguk-anggukkan kepalanya. "Baiklah...baiklah...baiklah. Aku tidak akan protes lagi. TAPI CEPAT SINGKIRKAN MAYAT ITU DARI WAJAHKU!" Fei sudah tak tahan lagi.
Yifan kemudian menyingkirkan mayat bayi itu dari wajah Fei. Setekah menyingkirkan mayat itu Yifan langsung menghilangkan mayat itu dari tangannya.
Melihat Yifan sudah menghilangkan mayat bayi itu membuat Fei merasa lega.
"Kalau sudah merasa tenang cepat cuci tanganmu." titah Yifan. Yifan sendiri sedang mencuci bersih tangannya di wastafel.
__ADS_1
selalu saja aku berbuat kasar hanya untuk mengancamnya. sesal Yifan dalam hati.