I Can Live

I Can Live
10. Closer 15.30


__ADS_3

Jauh di masa lampau saat itu di Taman Eden.


Seorang malaikat bersayap abu-abu tampak tertidur lelap di atas sebuah pohon rindang. Hari ini ia seharusnya bergembira layaknya malaikat lainnya yang tengah merayakan acara pembukaan Taman Eden, namun ia sama sekali tidak merasa gembira justru sebaliknya ia merasa sangat bosan dan jenuh dengan acara tersebut.


Tiba-tiba saja muncul sebuah guci jatuh dari langit dan akan jatuh menimpanya namun dengan santainya seolah mengetahui bahwa akan ada benda yang menimpanya dari atas langit malaikat bersayap abu-abu itu dengan sigap menghindarinya meski pun masih dengan mata terpejam. Guci itu jatuh ke bawah namun sebelum guci itu benar-benar jatuh muncul seorang malaikat bersayap putih tiba-tiba terbang turun ke bawah dengan terburu-buru berusaha menangkap guci yang akan jatuh tersebut.


HAP


Malaikat bersayap putih itu berhasil menangkap guci itu meski pun ia harus merasa sakit akibat tubuhnya jatuh ke bawah karena berusaha menangkap guci tersebut. Malaikat bersayap putih itu mengusap-usap tubuhnya yang terasa sakit ia masih belum menyadari sosok malaikat bersayap abu-abu itu sampai akhirnya matanya tidak sengaja menangkap sosok objek yang masih dengan tenangnya duduk bersandar di atas dahan pohon. Malaikat bersayap putih seketika menjadi pucat dan ia langsung meminta maaf pada obejek tersebut.


"Tolong___ tolong___maafkan aku. Aku benar-benar tidak sengaja." katanya takut-takut.


Malaikat bersayap abu-abu itu hanya mendecak. Kemudian dengan suara yang pelan ia membalas seperti ini. "Ceroboh." ucapnya. Malaikat bersayap abu-abu itu masih belum membuka matanya.


Malaikat bersayap putih itu merasa takut sekaligus gugup. Tentu saja ia merasa takut karena malaikat bersayap abu-abu ini dikenal sebagai seorang malaikat yang tergolong paling disegani oleh malaikat lainnya. Malaikat bersayap abu-abu itu adalah seorang pemimpin dari bangsa pasukan malaikat khusus pilihan Tuhan.


"Kenapa kau ketakutan seperti itu?" Malaikat bersayap abu-abu itu membuka mata dan terlihat bola matanya memiliki sklera hitam pekat dengan iris berwarna abu-abu. Sorot matanya pun terlihat sangat mengerikan sekaligus menawan.


Sedikit gelagapan malaikat bersayap putih itu berusaha menjawab pertanyaan malaikat bersayap abu-abu tersebut. "Tent___u saja aku merasa takut denganmu karena kau adalah seorang pemimpin."


Malaikat bersayap abu-abu itu menaikkan sebelah alisnya. "Apa hubungannya?"


"Justru karena itulah aku merasa takut denganmu. Kau adalah seorang pemimpin kau bisa menghukum siapa saja. Dan tadi aku hampir saja mencelakakanmu. Kau bisa saja menghukumku karena kesalahanku tadi." ucapnya dengan suara pelan.


"Aku tidak mempermasalahkan kecerobohanmu yang tadi itu. Aku sama sekali tidak berniat menghukummu." katanya malas.


Malaikat bersayap putih itu tercenggang merasa tidak percaya. Padahal ia sering mendengar rumor bahwa malaikat yang sedang berada di hadapannya ini terkenal sangat kejam dan suka menghukum malaikat lainnya.


Malaikat bersayap abu-abu itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Wah...wah rupanya kau termakan rumor." ucapnya kecewa.


Malaikat bersayap putih itu menganga. "Aku tidak percaya rupanya sifat aslimu seperti ini." kata malaikat bersayap putih tidak percaya.


"Memangnya kenapa dengan sifatku?" tanya malaikat bersayap abu-abu bingung.


"Tidak apa-apa." Malaikat bersayap putih sengaja membuntukan percakapan. Jujur saja ia merasa tidak enak jika harus berbicara terlalu lama dengan seorang pemimpin yang paling disegani.


"Oh... kurasa Tuhan sudah terlalu berlebihan menunjukku sebagai seorang pemimpin dengan sifatku yang seperti ini." kata malaikat bersayap abu-abu itu tiba-tiba.


Malaikat bersayap putih itu terkejut mendengarnya. "Eh? Kau tidak senang menjadi seorang pemimpin? Bukankah kau itu yang termasuk yang paling disayang-Nya tapi kenapa sifatmu malah seperti ini."


Malaikat bersayap abu-abu itu hanya memandang ke atas dengan pandangan yang terlihat kosong. "Entahlah... aku sendiri pun juga tidak tahu." ucapnya datar. Malaikat bersayap abu-abu itu kemudian terbang meninggalkan pohon rindang tersebut.


Sambil terbang malaikat bersayap abu-abu itu terus bertanya-tanya dalam hatinya. Seperti katamu aku sendiri sering bertanya-tanya pada diriku sendiri mengapa Tuhan menunjukku sebagai seorang pemimpin. Tidak bahkan aku pun sering bertanya-tanya, mengapa aku diciptakan oleh-Nya. Bukankah aku tidak pernah meminta untuk diciptakan?


 

__ADS_1


ווו×ו×ו


 


PLAK!


Fei menampar Yifan yang masih terus saja melamun selama berada di dalam taksi. Sebenarnya sejak tadi ia sudah merasa sangat tidak tahan dengan ulah Yifan. Karena itu Fei akhirnya memutuskan untuk menyadarkan malaikat idiot itu dengan cara menamparnya.


"Hei idi*t kau ini kenapa sih?" Fei mengguncang-guncang tubuh Yifan sampai membuat pria itu merasa tidak nyaman.


"Erggh menyingkirlah!" Yifan mendorong jauh tubuh Fei. "Kepalaku sedang pusing jangan membuatku semakin merasa tidak enak. Uh rasanya aku ingin merokok saja." kata Yifan.


Fei menaikkan sebelah alisnya. "Kau merokok?"


Dikira akan mengeluarkan kotak rokok rupanya Yifan malah mengeluarkan kotak snack Poky.


Fei yang melihatnya langsung terdiam. Kadang aku merasa tidak mengerti dengan jalan pikirnya. batin Fei.


"Kau mau?" Yifan menyodorkan kotak berisikan stik biskuit berlapis coklat itu pada Fei.


Fei mengambil satu stik biskuit itu kemudian menatap Yifan dengan tatapan yang sulit diartikan. "Aku tidak bisa mengerti jalan pikiranmu." keluh Fei.


Yifan mengibaskan tangannya di depan wajah. "Ya sudah kalau begitu kau tidak perlu memikirkannya." jawabnya acuh.


"Menurutmu panda itu lucu?" Fei sengaja bertanya seperti itu karena ia merasa tidak nyaman dengan situasi yang terlalu hening seperti ini (yah mengingat Yifan selalu bermulut cerewet aneh saja bila ia terus-terusan menjadi pendiam seperti saat ini).


"Kalau kau bertanya panda itu lucu atau tidak kau bisa lihat cermin dan silakan berkomentar seperti apakah hewan itu."


"Tapi aku sedang tidak membawa cermin." tukas Fei.


Yifan menjentikkan jarinya kemudian muncul sebuah cermin kecil di tangannya. Yifan kemudian menunjukkan cermin itu pada Fei.


"Sekarang lihat sendiri bagaimana menurutmu panda itu?" sarkas Yifan. "oh bukankah panda itu terlihat sangat lucu dengan dua lingkaran hitam di matanya." lanjutnya.


Tanpa pikir panjang Fei langsung memukul kepala Yifan. "Kurang ajar sekali kau bede*b*h!" Fei mengamuk seperti kesetanan.


Yifan tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk-nunjuk ke arah Fei. "Bukankah itu benar... hahahaha... astaga wajahmu itu seperti panda." Yifan tampak kembali ceria terlihat moodnya sedikit membaik.


Fei menyeringai tipis. "Yah walau pun aku tidak suka dengan sifat menyebalkanmu itu paling tidak aku lebih sedikit menyukaimu yang seperti ini daripada melihat kau terus-terusan diam saja seperti seekor ayam yang tengah mengalami sembelit." katanya senang.


"Perumpaanmu buruk sekali, ayam tidak mungkin mengalami sembelit." ucap Yifan murung.


Fei tercenggang melihat reaksi Yifan yang tampaknya cepat sekali berubah. "Kau sedang haid?"


Yifan tersenyum kemudian ia menodongkan sabitnya yang tiba-tiba saja muncul di tangannya.

__ADS_1


Fei menganga melihat sabit tersebut. Tidak lama kemudian ia berteriak seperti orang yang kesurupan.


Supir taksi itu juga lama-lama merasa jengah dengan tingkah laku abstrak dua penumpangnya itu.


"Mungkin lebih baik setelah ini aku mengundurkan diri dari pekerjaan ini, aku benar-benar menyesalinya." gumam supir taksi tersebut.


ווו×ווו


Pukul 15.30


"Coba lihat panda yang gemuk itu! Sangat mirip denganmu." kata Fei sembari menunjuk ke arah salah satu panda.


Yifan menyipitkan matanya berusaha melihat ke arah salah satu panda yang ditunjuk oleh Fei. "Kau buta ya semua panda di sini bertubuh gemuk."


Fei mengurucutkan bibirnya sebal. "Justru kau lah yang bodoh aku sedang berusaha menghinamu. Kau saja yang tidak peka dengan hinaan yang telah kuberikan."


"Hinaanmu terlalu rendahan sampai-sampai aku merasa sedang tidak dihina." Yifan memperhatikan arlojinya. "Sebaiknya kita harus segera pergi dari sini." kata Yifan.


Jantung Fei berdegup kencang, akhirnya waktu yang telah ditunggu-tunggu semakin dekat. "Kau sudah memesan taksi?" tanyanya berusaha mengalihkan rasa khawatirnya.


"Ah ya sudah." ucap Yifan acuh. "Sebaiknya kita segera keluar dari sini." Yifan kemudian berjalan meninggalkan kandang panda tersebut menuju ke arah luar kebun binatang.


Sambil msnyesuaikan langkahnya dengan Yifan, Fei berusaha membuka sebuah pembicaraan dengan Yifan untuk menghilangkan rasa khawatirnya yang berlebihan. "Pukul berapa sekarang?"


"Setengah empat...."


"Apa kita masih punya waktu yang cukup. Kupikir perjalanan dari sini menuju rumah ayahku akan sedikit memakan waktu yang lebih lama."


Yifan melirik Fei dari ekor matanya. "Perjalanan dari sini sampai rumah ayahmu hanya akan memakan waktu dua puluh menit. Kita masih punya waktu sepuluh menit terakhir untuk menyaksikan kematian ayahmu yang tragis."


Fei tercekat ketika mendengar Yifan menyebut kata tragis. "Apa maksudmu... apa ayahku akan mati dengan tragis seperti pelayan kafe waktu itu?"


Yifan mengangkat bahunya. "Entahlah aku sendiri pun tidak dapat menebak bagaimana cara ayahmu nanti mati dengan tragis, yang kutahu ayahmu akan mati dengan tragis sebagai bentuk salah satu hukuman yang harus diterimanya." jelasnya.


Susah payah Fei meneguk air liurnya sendiri tidak sanggup membayangkan bagaimana nanti kematian ayahnya yang tragis.


Yifan tiba-tiba saja berhenti saat sebuah mobil taksi sudah terpakir dengan rapinya di depan kebun binatang menanti sang penumpang untuk masuk ke dalam.


"Sebaiknya kau tidak perlu terlalu merasa cemas untuk hal ini... kau masih punya otak. Jangan sekali pun berpikir bahwa ayahmu tidak pantas untuk mendapatkan hukuman ini!" kata Yifan tegas. Yifan kemudian berjalan menuju taksi dan masuk ke dalamnya.


Walaupun aku tahu ayahku sangat kejam dan jahat tapi mengapa aku tetap tidak ingin ia mati dengan cara yang tragis? Bukankah aku tidak menyayanginya atau pun mencintainya tapi mengapa aku merasa sangat peduli dengannya.... batin Fei. Fei kemudian berjalan mendekati taksi lalu masuk ke dalam sana dan duduk di sebelah Yifan yang tampak memandang lurus ke depan.


Sekarang pun aku tidak tahu apa yang dipikirkan oleh otak kejamnya itu. Fei melirik Yifan penuh dengan rasa curiga.


וו×ווו×

__ADS_1


__ADS_2