
Yifan mengangguk kemudian menunjukkan dompetnya yang tebal berisikan penuh dengan lembaran yuan.
Melihat itu seketika membuat jiwa matre Fei berguncang.
"Baiklah aku akan menemanimu. Ayo cepat kita keluar manula." Fei tampak bersemangat. Ia dengan rasa terburu-buru mengajak Yifan untuk segera keluar pergi berjalan-jalan.
Yifan yang melihat tingkah Fei hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. jiwanya memang sangat matre ckckck. ucapnya dalam hati
ווו×ו×
Saat ini Fei dan Yifan sedang berada di sebuah kafe kecil yang terletak di pinggiran kota. Mereka beristirahat di kafe kecil ini setelah puas berjalan-jalan berkeliling kota.
"Jadi bagaimana menurutmu dengan Jilin?" tanya Fei meminta pendapat pada Yifan.
"Hm, biasa saja. Tidak ada yang spesial." jawabnya dengan nada suara yang terdengar datar.
Mendengar jawaban Yifan membuat Fei merasa kesal. "Ck. Sialan kau." umpatnya kasar.
Yifan memandang ke arah luar kafe sebentar kemudian ia berkata seperti ini. "Tapi untuk tinggal di sini lumayan juga. Polusinya masih tergolong rendah. Jadi kurasa kota ini cukup lumayan baik." katanya.
Fei kembali mendecak kemudian membalas perkataan Yifan. "Kalau begitu bilang saja dari awal kau menyukainya. Dasar kau ini."
Yifan hanya mengangkat bahunya sebagai bentuk balasan respon.
"Baguslah kalau kau bisa beradaptasi untuk tinggal di sini." Fei kembali sibuk dengan makanannya.
Yifan menatap Fei bingung dengan cepat ia merespon seperti ini. "Eh, siapa bilang aku akan tinggal di sini."
Fei memutar bola matanya malas. "Lalu kau mau tinggal di mana, kalau bukan di sini."
Yifan tersenyum kemudian menjetikkan jarinya sambil berkata. "Kau dan aku akan tinggal di Beijing setelah ini." ungkapnya dengan gembira
Mendengar ungkapan Yifan membuat Fei tercenggang. "Beijing untuk apa? Kau jangan gila ya!" ucapnya tidak percaya.
__ADS_1
Yifan mendesah kemudian ia menatap Fei serius. "Kita akan tinggal di Beijing untuk memudahkan rencana kita."
"Rencana apa! Kau bahkan tidak memberitahuku perihal rencanamu itu." Fei tampak tidak terima.
"Tentu saja rencana untuk melakukan pembalasan dendam memangnya apalagi? kata Yifan mengingatkan.
Fei memutar bola matanya malas. Kali ini dia malas untuk protes jadi dia hanya mengiyakan saja perkataan Yifan. "Terserah mu saja." ucapnya malas.
Yifan menepukkan kedua tangannya kemudian berkata seperti ini. "Baiklah kalau begitu besok pagi kita pergi berangkat ke Beijing."
"Besok!?" Fei sangat terkejut ketika mendengar bahwa besok pagi mereka harus pergi berangkat ke Beijing. Saking terkejutnya Fei sampai tanpa sengaja menyemburkan minuman yang sedang di minumnya ke wajah Yifan. Tanpa rasa bersalah sedikitpun Fei malah menggebrak meja yang membuat semua orang di dalam kafe itu melihat ke arah keduanya. Seolah tidak memedulikan keadaan Fei malah sibuk mengomeli Yifan.
"Kau! Aaarggh___kau ini seenaknya sekali padaku. Apa kau tidak bisa mendiskusikan ini terlebih dahulu denganku? Dasar manula." omel Fei dengan suara yang nyaring.
Mendengar suara omelan Fei yang begitu nyaring membuat perhatian semua pengunjung yang berada di dalam kafe sontak menoleh kearah mereka berdua.
Tidak hanya itu saja pengunjung yang berada di dalam kafe juga ikut ribut dan bahkan ada yang menyoraki keduanya. Beberapa pengunjung lainnya malah sibuk merekam aksi anarkis Fei yang masih terus mengomel, untuk diabadikan dalam ponsel mereka masing-masing.
"Astaga kurasa apa kita harus melerai mereka?" kata seorang pengunjung yang bijak.
"Tap__tapi, mereka...." Pengunjung bijak ingin protes namun pengunjung yang menyukai keributan malah melarangnya.
"Aish. Tidak usah dilerai aku setuju dengannya biarkan saja mereka. Lagi pula kita bisa mengabadikan kejadian ini dan kita bisa membuatnya viral di sosial media." kata seorang pengunjung lainnya yang sibuk mengabadikan momen pertengkaran ini dengan ponselnya.
Si pengunjung bijak hanya bisa geleng-geleng kepala ketika mendapati dua tingkah laku absudrd pengunjung lainnya. Y**a ampun apa disini tidak ada orang yang waras? ucapnya dalam hati.
Menyadari keributan yang sudah dibuat oleh keduanya Yifan memutuskan untuk menyeret paksa Fei keluar dari kafe tersebut.
Aku bersumpah tidak akan pernah datang kesini lagi. rutuk Yifan dalam hatinya.
וווווו
Di apertemen Fei.
__ADS_1
"Bisakah kau kontrol sedikit saja emosimu itu! Astaga kelakuanmu benar-benar."
Yifan meneguk rakur air dingin yang diambilnya dari kulkas.
Fei sendiri tampak diam.
"Belum memulai kerjasama saja kita sudah seperti ini bagaimana nanti bila kita sudah bekerjasama?" Yifan tampak masih pusing dengan tingkah laku yang dibuat oleh Fei.
Bukannya sadar Fei malah mencibir Yifan. "Begitu saja kau sudah merasa tidak sanggup dasar lembek. Salah sendiri kenapa membuat kontrak denganku."
Yifan mendesis kesal. Jika saja ia tidak ingat sudah membuat kontrak dengan Fei mungkin tanpa ragu ia akan memotong kepala anak ini hidup-hidup.
"Dengar nak tolong jangan memancing emosiku sebelum aku melakukan hal yang tidak-tidak padamu." ancam Yifam.
Mendengar ancaman dari Yifan membuat Fei akhirnya memilih untuk tutup mulut.
"Nak kalau kau masih berbuat seperti itu lagi, aku tak akan segan-segan untuk berbuat hal buruk padamu. Tolong camkan itu baik-baik." ucap Yifan sebelum mendudukan dirinya di atas kursi. Saat ia duduk di kursi matanya tak sengaja melihat sebuah botol berisikan cairan berwarna kuning keemasan.
Yifan mengambil botol itu. Ia mengerutkan dahinya saat melihat botol tersebut. Setelah melihat botol itu ia lalu menunjukkan botol itu pada Fei. "Ini bensin bukan? Kenapa kau malah menyimpannya di dalam kamarmu. Apa kau berniat membakar dirimu lagi seperti yang kau lakukan waktu itu."
"Bukan urusanmu. Cepat kembalikan bensin itu ke tempat semula!" Fei terlihat tidak suka
Bukannya meletakkan bensin itu ke tempat semula Yifan malah melemparkan botol itu keluar dan membuat Fei merasa panik karena ulahnya tersebut.
"Hei jangan sembarangan melemparkan itu keluar itu adalah bensin. Kau bisa membahayakan orang-orang di bawah sana jika bensinnya sampai terkena api. " katanya panik.
"Apa pedulimu soal itu bukankah kau sendiri ingin membakar dirimu tapi kenapa kau malah bertindak seperti seolah peduli pada orang lain?"
Fei diam.
Tiba tiba Yifan menjetikkan jarinya seketika muncul kobaran api di bawah sana.
Fei terkejut tanpa pikir panjang ia langsung menghajar Yifan. Sementara itu Yifan sendiri hanya diam saja tidak melawan ia malah menatap tajam ke arah Fei.
"Kau apa yang kau lakukan?!" murka Fei.
Bukannya melepaskan diri Yifan malah tertawa nyaring seperti orang gila.
__ADS_1