I Can Live

I Can Live
0.1 Contradicted


__ADS_3

"Jadi itu tujuanmu menghidupkan aku kembali...." ucap Fei pelan setelah mendengar penjelasan Yifan.


Yifan mengangguk pelan lalu menjawab "ya" secara singkat.


Fei menundukkan kepalanya sedikit merenung atas tindakan yang dilakukan oleh Yifan pada dirinya. Fei menoleh kearah Yifan lalu menatap pria itu lekat.


"Apa tindakanmu itu tidak salah?"


Yifan menggeleng lalu menjawab dengan penuh keyakinan. "Tidak sama sekali." Terlihat tidak ada sama sekali keraguan atas jawabannya itu.


Fei mendesah mengacak rambutnya sendiri hingga berantakan. "Balas dendam untuk apa...bukankah hal seperti itu sudah tidak diperlukan lagi untuk seseorang yang sebenarnya sudah mati." Fei mengernyitkan dahinya.


Yifan menarik nafas lalu membuangnya secara pelan, dia bangkit dari kursinya lalu berjongkok di depan Fei mengambil tangan remaja laki-laki itu lalu mengusapnya dengan lembut.


"Aku memang sudah melakukan kesalahan dengan melanggar perintah Tuhan yaitu menghidupkan kembali orang yang sudah mati namun kulakukan semua ini demi dirimu karena...." Yifan menggantung ucapannya dan hal itu membuat Fei merasa penasaran.


"Karena apa?"


Yifan tersenyum lirih menatap hangat ke wajah Fei.


"Karena kau anak yang baik."


"Apa maksudmu?"


Yifan menghela nafas kemudian melepas genggaman tangannya dari Fei lalu dia bangkit berdiri dengan tatapan yang masih mengarah pada Fei.


"Selama ini aku selalu memperhatikanmu semua perilakumu aku mengetahuinya...kau anak yang baik." tuturnya.


Mendengar penuturan itu jelas membuat Fei merasa semakin bingung. "Apa maksudmu itu sebenarnya?" tanyanya kebingungan.


Yifan menghela nafas lalu mengalihkan pandangannya kearah Fei dan memandang wajah remaja laki-laki itu cukup lama.


Merasa wajahnya terus dipandangi membuat Fei merasa risih.


"Apa? Kenapa kau terus memandang wajahku terus!" katanya dengan wajah yang galak.


Mendapati reaksi Fei yang berubah menjadi galak membuat Yifan merasa gemas. Bagi Yifan wajah Fei yang terlihat galak malah sangat lucu di matanya.


"Astaga. Coba lihat ekspresi wajahmu itu bukannya terlihat galak kau malah terlihat lucu. Astaga kau itu lucu sekali," ujar Yifan merasa gemas melihat ekspresi wajah Fei yang terlihat lucu.


Mendengar dirinya disebut lucu malah membuatnya merasa geram. Seumur hidupnya Fei paling benci disebut lucu. Karena itulah ia merasa geram ketika Fei menyebutnya lucu.


"Hei kau bilang apa tadi? Lucu. Seumur hidup aku paling benci disebut lucu, kau mau kubunuh hah!" Fei bangkit berdiri lalu mencengkram kerah baju Yifan menatap wajah malaikat maut sialan itu dengan pandangan mematikan yang dimilikinya. "Kau meremehkanku brengsek!" Fei melayangkan tinjunya kearah wajah si tuan malaikat maut dengan rasa yang begitu geram.


"Kau ini cukup temperamental ya rupanya." ucap Yifan sembari menahan tinju milik Fei.


"Kau meremehkanku brengsek!"


Yifan membuang nafas singkat lalu dengan mudah ia melepaskan cengkraman remaja laki-laki itu dari kerah bajunya. "Huft...kau ini temperamental sekali. Sayang padahal wajahmu manis sekali." ujar Yifan sembari memegang rahang wajah Fei dengan kuat. Yifan kemudian tersenyum licik lalu ia berucap pada Fei dengan nada menggoda. "Walaupun manis...sifat temperamentalmu itu membuatku merasa jengkel. Ah bagaimana kalau sebaiknya aku hancurkan saja wajah manismu ini hm?" Yifan memeganggi rahang Fei dengan begitu kuat, walau dia hanya memegang dengan sebelah tangan rasanya ia mampu menghancurkannya dengan mudah.


Yifan terkikik, berbisik di telinga Fei. "bagaimana sakit? kalau kau masih melawan aku tidak akan segan-segan meremukkan rahang wajahmu ini."


Merasa tidak mampu melawan sekaligus tidak tahan dengan rasa sakit akibat rahangnya dipegang kuat oleh Yifan membuat Fei pasrah dan meminta maaf pada Yifan.


"Ma...af...ta...pi...co...ba...kau...le...pas...kan...tanganmu...it...u...da...ri...rahangku...ku...mo..hon," ucapnya dengan terbata-bata.


Yifan kemudian melepaskan tangannya dari Fei. Jujur saja ia sendiri merasa jengah dengan sifat temperamental yang dimiliki Fei. Awal niatnya hanya ingin menggodai remaja laki-laki itu namun malah selalu berujung pada kekerasan.


Yifan mengusak rambutnya kasar menatap Fei dengan sinis lalu berkata. "Perbaiki sikap burukmu itu nak!" Setelah menasihati Fei, Yifan bangkit berdiri dari kursinya lalu pergi keluar dari sana. Mencari udara segar mungkin bagus pikirnya.


Fei sendiri hanya masih terdiam sampai Yifan keluar dari ruangan tersebut ia juga masih terdiam. Sedikit merenungi sikap buruknya tersebut.


Mungkin aku perlu merubah sikap burukku ini pikirnya.


ו×וווו××


Hampir 2 jam berlalu namun Yifan masih betah berada disana sebuah ruangan berukuran kecil penuh dengan lukisan dan kanvas kosong yang belum dilukis. Disana juga penuh dengan peralatan melukis yang terlihat berantakan dan tidak terurus.

__ADS_1


Yifan tampak sibuk mengamati lukisan-lukisan cantik disitu ia bahkan lupa akan rasa kesalnya pada Fei setelah menyibukkan dirinya sendiri di dalam ruangan penuh lukisan ini.


dia memang pelukis handal. gumamnya pada dirinya sendiri.


Saat matanya sibuk mengamati beberapa lukisan disana tidak sengaja matanya menangkap sosok seseorang tengah berdiri di depan pintu.


"Apa yang kau lakukan disini?"


Yifan memutar bola matanya malas lalu menjawab sekenanya. "Melihat lukisan. Sudah merenungi sikap burukmu itu?"


Sosok yang tak lain tak bukan adalah Fei hanya mendecih tidak suka. "Bagaimana kau bisa masuk kesini?"


"Entahlah...." Yifan mengangkat bahunya.


Fei kemudian masuk kedalam ruangan itu lalu menarik Yifan untuk keluar dari ruangan tersebut. Yifan sendiri tampak tidak mempermasalahkan hal tersebut dia sendiri menurut saat Fei menariknya keluar dari ruangan tersebut .


"Aku sudah merenungi sikap burukku dan sekarang kita perlu berbicara lagi," kata Fei.


Yifan memutar bola matanya malas lalu membalas. "Terserahmu saja. Tapi kalau kau kembali bersikap temperamental aku tidak akan segan-segan menggantung tubuhmu kembali."


Mendengar itu langsung membuat Fei meringis. kalau begitu untuk apa kau hidupkan aku kembali kalau ujung-ujungnya kau ingin membunuhku. pikirnya.


×ווו×וווו×


Jadi___"


"?"


Sudah hampir 7 jam Fei dan Yifan saling duduk berhadapan dan keduanya sama sekali tidak membicarakan hal yang penting. Dan tentu saja hal ini membuat Yifan merasa frustasi. Rasanya begitu jengah hanya duduk saling berhadapan tanpa berbicara sepatah katapun.


"Kau itu sebenarnya mau membicarakan apa? Bukankah semua penjelasanku sebelumnya sudah begitu jelas." Yifan mengusap wajahnya kasar.


Fei menunduk. Sementara Yifan merasa semakin jengah.


"Tidak ada yang ingin kau bicarakan lagi?" Yifan menekan kata-kata terakhirnya.


Yifan mengerang kesal.


"Sudah lupakan saja tidak ada yang perlu dibicarakan lagi pembicaraan kita cukup sampai disini!" Yifan bangkit dari kursinya dan hendak pergi keluar.


"Mau kemana?" Tiba-tiba saja Fei bersuara.


Yifan menghela nafas sejenak sebelum menjawab pertanyaan Fei. "Aku ingin pergi berbelanja untuk makan malam." katanya.


"Untuk apa ini masih pagi lagipula masih ada sisa bahan makanan di kulkas."


Yifan melirik sini kearah Fei. "Pagi? Ini sudah sore kau tidak sadar perdebatan tadi memakan waktu yang cukup lama ditambah pula duduk diam tanpa bicara satu katapun selama 7 jam. Dan lagi katamu masih ada sisa bahan makanan di kulkas... astaga kau buta di kulkasmu hanya tersisa sebutir telur yang tadi pagi sudah kumasak untuk sarapanmu. Kau mau hanya makan angin untuk malam ini?"


Fei mengangkat sebelah alisnya. Merasa heran dengan Yifan yang bersikap peduli padanya. "Kau peduli padaku?" tanyanya pada sang lawan bicara.


Yifan mengusak rambutnya lalu memandang malas wajah lawan bicaranya. "Tidak perlu kujawab." ujarnya sebelum akhirnya pergi darisana.


Fei mengerutkan dahinya bingung kemudian berucap pada dirinya sendiri. dasar aneh


וו×וווו××


Pukul 16.30...


Sepeninggalan Yifan, Fei kembali ke ruangan kecil tadi yang sempat dimasuki Yifan. Fei masih berdiri mematung menatapi semua lukisan-lukisan disana dengan tatapan datar.


s**eharusnya sejak lama aku hancurkan saja lukisan-lukisan ini


Tangan Fei bergerak mengambil sesuatu dari atas meja yang terletak di dalam ruangan kecil tersebut. Di atas meja itu ada sebuah pemantik api berukuran kecil. Buru-buru Fei mengambil benda berukuran kecil tersebut lalu memasukannya kedalam kantong celananya. Setelah itu ia pergi ke kamarnya untuk mengambil sebotol bensin lalu ia kembali ke ruangan kecil itu dan langsung menumpahkan cairan yang mudah tersulut api itu kearah lukisan-lukisan tersebut. Fei segera mengeluarkan pemantik dari kantong celananya dan menumpahkan bensin kearah lukisan-lukisan tersebut. Ia menatap sebentar kearah lukisan-lukisan itu sebelum akhirnya ia melemparkan pemantik yang sudah menyala kearah tumpahan bensin.


Dengan cepat api berkobar berusaha membakar semua lukisan termasuk seluruh isi ruangan tersebut.


hancur aku ingin semua ini hancur !

__ADS_1


Namun tiba-tiba saja terjadi hal aneh kobaran api yang menyala itu tiba-tiba saja berhenti.


"Ckckck... bocah kau suka bermain api ya? Tapi ingatlah api itu berbahaya kau bisa saja membakar seluruh apertemen ini dan menghilangkan nyawa penghuni lainnya. Kau ini memang tidak bisa ditinggalkan begitu saja rupanya." Yifan tiba-tiba saja muncul dan berdiri di depan pintu sambil membawa dua kantung plastik besar berwarna hitam berisikan bahan belanjaan dapur.


Fei tercenggang tidak percaya dengan hal yang baru saja terjadi.


"Kau___ kau apakan apinya?!" serunya dengan rasa tidak percaya.


Yifan meletakkan kantong belanjaan lalu berjalan masuk kedalam ruangan dengan santainya mengabaikan Fei yang masih terkejut akibat aksinya tersebut. Yifan menjetikkan jarinya lalu seketika kobaran api itu mengilang begitu saja. Bahkan lukisan yang sempat terbakar kembali utuh seperti semula.


"Apa yang kau lakukan?!" Fei masih tercenggang.


Yifan berbalik memandang wajah lawan bicaranya itu yang kini masih tercenggang tidak percaya. "Bocah kalau kau ingin membakar dirimu tolong lakukan di luar apertemen ini agar tidak membayakan penghuni lainnya. Ayolah aku sedang tidak ingin bekerja mengumpulkan daftar orang mati." katanya malas. "Kalau sudah selesai terkejutnya kau bisa pergi mandi tubuhmu itu sangat bau busuk." lanjutnya kemudian melalui Fei begitu saja. Yifan lalu mengambil kantong belanjaannya dan pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam.


Fei tercenggang berusaha mencerna semua kejadian tidak masuk akal tadi namun sayangnya akal sehatnya tidak mampu menerimanya.


"Apakah ini adalah kemampuan dari seorang malaikat maut?" Fei berguman sendiri. Menatap sekitarannya yang nampak kembali normal dan tidak ada sedikitpun bekas terbakar di dalam ruangan membuatnya masih terkejut sekaligus tidak percaya.


tidak bisa dipercaya tapi aaarggh___sial hal seperti ini tidak habis bila terus dipikirkan lebih baik aku pergi mandi saja. ucapnya dalam hati. Setelah dirasa tidak ada keperluan lagi dalam ruangan kecil itu Fei lalu pergi keluar darisana.


×ווו×וווו×


"Sudah selesai mandinya?"


Fei melirik sinis kearah Yifan yang kini tengah sibuk menyiapkan makan malam.


"Kau itu tidak buta kenapa harus bertanya lagi?"


Yifan berdecak lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Dasar temperamen."


"Cih urusi saja makan malammu itu." kata Fei sarkas. "Dasar ibu-ibu," cibirnya.


"Kau bilang apa tadi?" Yifan menatap nyalang pada Fei.


"Ibu-ibu kau itu persis seperti ibu-ibu rumah tangga." ejek Fei.


Yifan mendesah melirik Fei dari ujung matanya dengan malas. "Aku sedang tidak niat meladeni mulut lambe turahmu itu. Jangan membuat kolestrolku naik." katanya malas.


Fei mencibir. Menunjuk-nunjuk kearah Yifan dengan tidak sopan. "Coba lihat gaya bicaramu itu kau malah justru lebih terlihat seperti seorang manula yang mengkhawatirkan kolestrolnya naik ketimbang sebagai seorang malaikat ma___"


BRUAK!


Yifan membanting panci yang berada di tangannya keatas meja dengan begitu keras dan nyaris membuat meja kayu ulin itu terbelah dua.


Fei terdiam sementara Yifan tampak murka.


"Diamlah bocah temperamen kau hampir saja membuatku menghancurkan meja ini. Tolong diamlah atau congormu itu kumasak bocah! Kau ini lupa sedang berhadapan dengan siapa?" Yifan menatap tajam kearah Fei dan kini ekspresi wajahnya terlihat sangat menakutkan.


Fei meringis lalu berucap dalam hatinya sendiri. terkutuklah mulut lambe turahku, sekarang malaikat manula ini mau membunuhku.


Yifan melipat kedua tangannya di depan dada dan masih dengan tatapan tajamnya kemudian berkata. "Hei bocah aku bisa mendengar ucapanmu itu kau masih menghinaku rupanya!" ujar Yifan lalu mengeluarkan sabit berukuran besar dari balik tubuhnya.


Fei tercekat dan hanya bisa berdoa meminta pada Tuhan supaya nyawanya dicabut terlebih dahulu sebelum dicabut oleh malaikat manu__eh maut maksudnya.


mampuslah aku. Fei hanya bisa merinding disko.


Catatan


**lambe turah berasal dari bahasa Jawa yang konotasinya tidak baik. Kata ini digunakan untuk menggambarkan sifat orang yang banyak omong, tukang nyinyir, tukang gosip, penggumbar rahasia orang lain.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2