
"Bagaimana kalau seandainya aku memilih ini?"
Yifan segera mengeluarkan sabitnya kemudian menodongkannya ke leher Fei.
"Kalau begitu aku ingin mendengar kata-kata terakhir darimu manis." ucap Yifan sembari memasang evil smilenya.
Melihat reaksi Yifan seperti itu justru tak membuat Fei merasa takut justru ia malah bersikap tenang.
"Kau yakin dengan keputusanmu?" Yifan semakin menekan sabitnya di leher Fei dan alhasil goresan kecil tercipta disana.
Fei sendiri mengabaikan luka gores itu dan bahkan tidak peduli saat darahnya mulai mengalir keluar dari luka tersebut.
Mendapati reaksi Fei yang kelewat tenang membuat Yifan merasa penasaran. apa dia sudah tidak waras? tanyanya dalam hati.
"Kau tidak merasa takut?"
Fei tersenyum lalu ia malah bertanya balik pada Yifan. "Kau sendiri apa tidak merasa rugi jika menghilangkanku?"
Yifan mengerutkan dahinya. "Apa maksudmu?"
Fei mendorong sabit Yifan untuk menjauhi lehernya lalu ia menatap Yifan lekat. "Kau nyaris membuang kesempatan emas tuan malaikat maut. Aku hanya bergurau saja soal memilih pilihan yang kedua." katanya.
Mendengar perkataan Fei membuat Yifan tercenggang. Ia kemudian menjauhkan sabitnya dari Fei lalu meletakkan disamping tubuhnya.
Yifan menatap tajam Fei meminta penjelasan lebih lanjut dari maksud perkataan sebelumnya.
"Aku beri waktu kau untuk menjelaskan maksud perkataanmu tadi." Yifan menuntut penjelasan dari Fei.
Fei menghela nafas sebelum memberi penjalasan pada Yifan. "Aku hanya bergurau saja soal memilih pilihan yang kedua. Aku tidak serius untuk hal itu. Lagi pula aku sudah sejauh ini, tidak mungkin jika aku hanya memilih untuk menghilang begitu saja. Seperti katamu aku harus membalaskan dendamku pada orang-orang ******* yang telah membuat hidupku menderita." jelasnya.
Yifan tersenyum ketika mendengar penjelasan itu terucap langsung dari mulut Fei.
"Kau yakin atas pilihanmu itu?" Yifan berusaha memastikan pilihan yang diambil oleh remaja laki-laki itu.
Fei mengacungkan jari telunjuknya yang menunjukkan angka satu pada Yifan. "Aku ubah pilihanku menjadi yang pertama. Bagaimana tuan malaikat mau?" Fei menyungingkan segaris senyum licik di bibirnya.
Yifan menghela nafas kemudian ia mendekat pada Fei, mengulurkan tangannya pada remaja itu.
"Ini pilihan terakhirmu dan aku harap kau tidak bermain-main dengan pilihanmu itu." ucapnya dengan mimik wajah yang terlihat serius.
Fei dengan yakin menyambut uluran tangan itu lalu ia berkata. "Aku terima kontrak denganmu tuan malaikat maut Xu Yifan Li." katanya tanpa keraguan sedikitpun.
Fei kemudian melepaskan jabatan tangannya lalu memandang Yifan serius.
"Setelah ini apa yang harus kulakukan?" tanya Fei.
Yifan melihat Fei sebentar lalu mengalihkan penglihatannya kearah sabit yang berada disamping tubuhnya.
"Kita mulai ritual pengikatan kontraknya sekarang."
Yifan melirik Fei sekilas kemudian ia memperingatkan Fei untuk bersiap. "Aku harap kau tidak terlalu terkejut untuk ritual ini. Tolong persiapkan dirimu nak!" titahnya.
Yifan kemudian merapalkan sebuah mantra yang terdengar seperti syair-syair kematian. Setelah Yifan merapalkan mantranya itu atmosfer di dalam ruangan itu mendadak berubah menjadi gelap dan kelam. Muncul bayang-bayangan hitam berputar mengelilingi Yifan disertai api kecil berwarna hijau tua yang juga ikut muncul.
__ADS_1
Melihat semua kejadian tidak masuk akal itu membuat Fei merasa takjub sekaligus ngeri.
luarbiasa sekali sesuatu yang tidak pernah kupercayai seumur hidup ternyata terlihat sangat begitu nyata untuk saat ini. ucapnya dalam hati.
Selesai merapalkan mantranya Yifan menyuruh Fei untuk bangun dari tempat tidurnya. Fei langsung menurut dan mengikuti suruhan Yifan.
Yifan kemudian memukulkan sabitnya keatas lantai dan terciptalah sebuah lingkaran besar berwarna hijau tua dengan pola Yin-Yang ditengahnya.
"Fei berdirilah di pola Yin!" Yifan memberi perintah pada Fei. Fei langsung menurut dan ia berdiri di pola Yin sesuai arahan Yifan.
Setelah Fei berdiri di pola Yin. Yifan langsung bergerak menempati pola Yang. Kini keduanya sudah berdiri dalam pola masing-masing.
"Pegang tanganku!" Yifan kembali memerintah dan langsung dituruti oleh Fei. Yifan kembali membacakan mantra dan tiba-tiba saja muncul petir berwarna hijau tua menyambar kearah keduanya.
Fei merasa takut ia mengira akan terkena sambaran petir itu. Namun perkiraannya itu meleset petir itu memang menyambarnya namun ia sama sekali tidak merasakan sakit.
Terlihat Yifan juga terkena sambaran namun ia sama sekali tidak terluka dan terlihat baik-baik saja. Ia bahkan masih sibuk merapalkan mantranya.
"Ch eeong qi~anyue~" serunya secara tiba-tiba. Setelah Yifan berseru petir itu mengilang begitu saja begitu pula dengan lingkaran besar diantara mereka perlahan semakin memudar lalu menghilang. Atmosfer gelap yang disertai bayangan dan api kecil di dalam ruangan juga sudah menghilang bergantikan suasana kamar yang normal seperti sebelumnya.
Fei mengerjap-ngejapkan matanya melihat ke sekeliling yang kini sudah kembali seperti semula.
Fei menatap Yifan dengan ekspresi wajah yang terlihat bingung.
"Sudah selesai?" tanyanya memastikan.
Yifan menatap sinis kearah wajah Fei. "Kau masih mau lagi?"
Seketika Fei menjadi gelagapan dan langsung menolaknya.
Yifan tidak langsung menjawab dan malah menunjukkan jari telunjuknya kearah pergelangan tangan Fei.
"Lihatlah pergelangan tangan kananmu!" tunjuk Yifan.
Fei langsung melihat kearah pergelangan tangannya yang ditunjukkan oleh Yifan. Fei menemukan sebuah pita putih tipis terlilit di pergelangan tangan kanannya.
"Pita putih... ini bukti kontraknya?"
Yifan mengangguk kemudian menunjukkan sabitnya yang juga memiliki pita putih seperti milik Fei terlilit di batangnya.
"Pita putih ini menandakan bahwa kita berdua sudah terikat kontrak. Pita putih di tanganmu itu tidak bisa dilepas sampai batas kontrak kita berakhir. Dan orang lain juga tidak akan bisa melihat pita itu kecuali kau dan aku." katanya memberikan penjelasan.
Fei mengangguk-anggukan kepalanya paham.
"Lalu sampai kapan aku akan terus terikat kontrak denganmu?"
Yifan tersenyum nakal lalu menjawab. "Kau akan terus terikat kontrak denganku seumur hidupmu." jawabnya enteng tanpa rasa bersalah sama sekali.
"SEUMUR HIDUP??!!" Fei langsung terganga mendengarnya. "Lalu sampai kapan aku akan terus terikat kontrak denganmu?" tanyanya lagi.
Yifan tersenyum nakal lalu menjawab. "Kau akan terus terikat kontrak denganku seumur hidupmu." jawabnya enteng tanpa rasa bersalah sama sekali.
"SEUMUR HIDUP??!!" Fei langsung terganga mendengarnya.
__ADS_1
Melihat reaksi terkejut Fei yang cukup berlebihan membuat Yifan tertawa terbahak-bahak.
"Bhawahahaha...kau ini rupanya bodoh sekali. Mana mungkin aku mengikatmu sampai mati. What the hell, kontrakmu denganku itu hanya bersifat sementara. Asal kau tahu saja aku sendiri juga tidak berniat untuk terikat denganmu dalam jangka waktu yang lama." ujar Yifan.
Mendengar hal itu membuat Fei merasa lega. Dia pikir dia harus hidup terikat selamanya dengan malaikat bau tanah tersebut.
"Kalau begitu sampai kapan kontraknya akan berakhir?" tanya Fei penuh harap.
Yifan menyungingkan senyum liciknya pada Fei lalu menjawab pertanyaan Fei.
"Kontraknya akan berakhir sampai kau mati kid." ucapnya enteng.
Fei mengerutkan dahinya berusaha mencerna maksud ucapan yang dilontarkan oleh Yifan.
"Apa maksud ucapanmu itu?"
Yifan menyeringai. Kemudian ia berjalan mendekati Fei dan mempersempit jarak diantara keduanya.
"Kid. Tolong dengarkan aku. Kontrak yang kau buat denganku akan berakhir bila kau sudah mati. Kau nantinya akan terlepas dariku secara otomatis jika kau sendiri sudah mati. Ngomong-ngomong aku belum memberitahukan soal penting ini padamu." Yifan kemudian menyamaratakan tingginya dengan Fei sehingga jarak wajah keduanya menjadi sangat dekat.
"Dengan membuat kontrak denganku kehidupanmu yang sekarang memang sudah dianggap legal namun karena ini hanya sebatas kontrak yang kau buat dengan malaikat maut. Maka jiwamu tidak akan bisa lama bertahan. Perlu diingat kontrak itu memiliki masa waktu yang begitu singkat jika kontraknya berakhir otomatis kau akan langsung mati. Tapi kau tidak perlu berkecil hati setidaknya ketika nanti kau mati jiwamu tetap akan bisa pergi ke surga ataupun neraka. Bagaimana?" Yifan kemudian menjauhkan wajahnya dari Fei. Ia lalu mengangkat kedua bahunya bertindak seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Mendengar itu semua membuat Fei naik pitam namun sebisa mungkin ia mengontrol emosinya. Ia sangat sadar jika ia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri dialah yang akan rugi. Fei menghembuskan nafasnya berkali-kali berusaha menenangkan dirinya sendiri.
"Kalau begitu sampai berapa lama aku bisa bertahan hidup?"
Yifan meletakkan tangannya di dagu lalu berkata. "Ah sayangnya aku tidak bisa memberitahumu soal itu. Kematian merupakan misteri bagi mahluk yang masih hidup. Memberitahukan rahasia kematian pada mereka sama saja dengan menghancurkan sistem hukum alam. Dan itu sangat dilarang keras bagi siapapun juga untuk melakukannya terkecuali untuk Tuhan."
Fei terdiam membuang wajahnya dari Yifan kemudian bergerak menjauhi pria tersebut.
"Sialan rupanya kau menipuku sejak awal. Jadi ini semua hanya akal-akalanmu saja untuk menjebakku." kata Fei tidak terima.
Yifan menghela nafas kemudian ia juga ikut bergerak menjauh dari Fei sehingga kini jarak keduanya terlihat renggang.
"Aku tidak pernah menipumu. Ini bisa dibilang, lebih tepatnya kau hanya perlu menanggung resiko dari atas pilihanmu sendiri. Lagi pula aku sudah membantumu sebisaku. Aku ini bukan Tuhan tolong camkan itu di kepalamu." balas Yifan.
Fei mendesah kemudian ia bertanya pada Yifan. "Kalau begitu apa gunanya kontrak selain untuk menghapuskan namaku dari daftar kematian yang hilang dan juga untuk menyelamatkan jiwaku. Apa aku membuat kontrak denganmu hanya sebatas itu saja?" Fei mempertanyakan kejelasan kontrak yang dibuatnya dengan Yifan.
"Kontrak yang kubuat denganmu tidak hanya semata-semata hanya untuk itu saja. Dengan membuat kontrak otomatis akulah yang akan memegang jiwamu. Karena itu aku berhak atas dirimu sampai kau mati." jawab Yifan.
Fei terbelalak ketika mendengar jawaban Yifan.
"Kau akan apakan aku manula?" tanyanya sensitif.
Yifan melotot kemudian maju satu langkah mendekati Fei kemudian ia memukul kepala remaja itu dengan cukup keras.
"Jangan berpikir yang macam-macam. Aish lagipula apa yang kuharapkan dari remaja laki-laki biasa sepertimu. Kau kira aku pedofil gay! Dengar bocah yang kumaksud berhak atas dirimu itu adalah aku ingin menjadikanmu sebagai asistenku." kata Yifan.
Namun Fei sendiri malah salah mengartikan maksud perkataan Yifan ia justru malah berpikiran ambigu.
"Maksudmu aku harus menjadi asisten pelayanmu?" Fei seketika bergidik ngeri membayangkannya.
Bukannya membantah Yifan malah tersenyum. Dan hal itu semakin diperkuat ketika Yifan menjawab seperti ini. "Aku memang ingin menjadikanmu sebagai pelayanku agar kau dapat melayaniku." jawabnya enteng.
__ADS_1
Mendengar jawaban Yifan membuat Fei ingin meloncat dari kamar apartemennya.
a**aaarrgghh___sialan aku dijebak oleh manula mesum. jeritnya dalam hati.