I Can Live

I Can Live
0.5 Choise


__ADS_3

"Cip...cip...cip..."


Yifan melihat kearah jendela kamar Fei dan menemukan seekor burung gereja tengah mengetuk-ngetuk kaca jendela dengan paruhnya. Yifan membuka jendela dan membiarkan burung itu masuk kedalam.


"Kau tersesat burung kecil?" tanya Yifan.


Burung itu menggeleng lalu menunjuk ke sebuah arah diluar sana dengan sayapnya.


"Jadi kau tidak tersesat?" tanya Yifan memastikan. Burung itu menggeleng kembali.


Burung itu mencicit lalu mematuk-matuki jari Yifan seolah ingin memberitahukan sesuatu.


"Apa kau ingin menyampaikan sesuatu padaku?"


Burung itu mengangguk.


"Cip...cip...cip...cip..."


Yifan memperhatikan burung itu berbicara dengan seksama. Setelah memperhatikan burung itu akhirnya ia mengerti bahwa burung itu memang ingin menyampaikan sesuatu padanya. Yifan tentu saja mengerti bahasa burung itu karena burung itu merupakan burung pengantar pesan yang biasanya digunakan oleh sesama malaikat.


"Oh jadi rupanya kau disuruh mengantarkan pesan untukku. Hmm... jadi kau ingin menyampaikan pesan padaku bahwa 'dia' akan kesini. Baiklah. Kapan dia akan datang kesini?"


Burung itu lalu melompat ke telapak tangan Yifan lalu dengan paruhnya ia menggambarkan beberapa pola angka disana.


1212...benar?" tanya Yifan memastikan. Burung itu mengangguk mengiyakan.


Yifan tersenyum lalu mengelus burung itu dengan lembut. "Tolong katakan padanya bahwa aku akan sangat menantikan dirinya untuk datang kesini dan terima kasih karena sudah mengantarkan pesan padaku." ucapnya pada si burung.


"Cip...cip...cip..." ucap burung itu juga seolah mengucapkan sama-sama pada Yifan. Setelah tugasnya selesai burung gereja itu lalu pergi terbang keluar.


"Ck, merepotkan saja" keluh Yifan.


Yifan berjalan mendekati tempat tidur dan mendapati kondisi Fei yang mulai membaik atau lebih tepatnya sudah sangat membaik melihat posisi tidur remaja laki-laki itu yang terlihat seperti orang yang tengah melakukan atraksi. Bayangkan saja Fei tertidur dengan posisi seperti orang yang sedang melakukan kayang.


anak ini benar-benar. Yifan memandang aneh pada Fei yang masih tertidur nyenyak dengan posisi ajaibnya.


"Hoaaaammm...." Mahluk pemalas itu terbangun dari tidurnya lalu mengedarkan pandangannya kearah seluruh ruangan.


"Sudah bangun tuan putri?"


Mahluk itu belum menyadari keberadaan Yifan dan malah masih sibuk menggaruk-garuki kepalanya.


ewh dia kutuan? ucap Yifan dalam hati.


Mahluk pemalas itu bangun dari atas tempat tidurnya lalu berjalan keluar kamar tanpa masih menyadari keberadaan Yifan yang berada di dekatnya.


dia jadi buta? tanya Yifan dalam hati.


Selang tidak berapa lama kemudian setelah Fei keluar dari kamarnya tiba-tiba saja ia muncul kembali di depan pintu kamar dengan wajah panik.


"YIFAAAAAN!ASTA__ASTA__ASTA__ASTAGAA__KENAPA KAU BISA ADA DISINI DAN KENAPA PULA AKU MASIH HIDUP????" Fei berteriak di depan pintu masih dengan sebelah tangan membawa gayung.


Yifan menepuk jidatnya dan entah kenapa seketika ia merasa bodoh karena sudah menghidupkan mahluk seperti Fei.


"ENTE JANGAN GILA YA PAGI-PAGI!" Yifan berteriak sembari mengeluarkan sabitnya.


 

__ADS_1


•וו×וו×


 


Sekarang situasi sudah jadi kembali normal dengan Fei dan Yifan yang duduk tenang saling berhadapan di meja makan yang nyaris di hancurkan oleh Yifan.


"Jadi bisa kau jelaskan mengapa kondisiku sekarang bisa seperti ini ?" Fei menghirup teh hijaunya dengan tenang. Sungguh saat ini kondisinya berbalik 180° derajat Fei tiba-tiba saja menjadi tenang dan tidak meledak-ledak seperti sebelumnya.


Yifan juga tampaknya terlihat sangat tenang dan bertindak seolah tidak terjadi apa-apa padahal sebelumnya dia juga terlihat habis berteriak.


Keduanya saat ini terlihat sangat tenang dan seolah mampu mengadapi situasi yang rumit.


Yifan meletakkan cangkirnya kemudian menatap Fei serius. "Kondisimu bisa membaik seperti ini dikarenakan akulah yang memperbaharui tubuhmu secara diam-diam."


Fei tercenggang dan memutar kilas balik ingatannya semalam.


"Kapan kau datang untuk memperbaharui tubuhku? Semalam terakhir kali aku melihatmu saat kau terjun keluar dari atas jendela."


Yifan mendecak lalu berucap. "Tentu saja kau tidak melihat karena saat aku datang untuk memperbaharui tubuhmu kau sudah dalam kondisi menjadi tulang-belulang."


"Tulang belulang?" tanya Fei ragu sembari berusaha mengingat kejadian semalam.


"Kau pasti tidak ingat karena itu merupakan hal yang sangat mengerikan." ujar Yifan malas.


Fei terus berusaha untuk mengingat sampai akhirnya akhirnya sepercik ingatannya mulai muncul secara perlahan dan tersusun rapi.


Yifan menatap Fei lalu menunjuk dengan jari telunjuknya kearah remaja laki-laki itu. "Sudah ingat?"


Merasa ingatannya sudah kembali Fei merasakan pening di kepalanya dan debaran jantungnya berubah meningkat drastis. Sekelumit pengalaman mengerikan yang terjadi pada dirinya semalam membuatnya merasa ketakutan sampai akhirnya nafasnya terasa begitu sesak dan ia terjatuh dari kursinya dan bertindak seperti orang yang mengalami serangan panik.


Melihat kondisi Fei yang menyedihkan membuat Yifan kembali merasa repot. "Ckckckck___kau itu kenapa suka sekali menyusahkanku." kata Yifan seraya menggendong tubuh Fei dan memindahkan tubuh remaja laki-laki itu ke dalam kamar.


 


 


Di dalam kamar Yifan tengah memangku Fei dan berusaha menenangkan remaja laki-laki itu. Melihat kondisi Fei yang semakin tidak membaik membuat Yifan berinisiatif memberikan Fei obat penenang. Yifan kemudian mengeluarkan sebuah botol plastik berukuran kecil dari kantong celananya lalu mengambil sebutir pil Fluoxetine darisana. Ia memasukan obat itu kedalam mulut Fei dan membiarkan obat itu sampai tertelan habis. Setelah Fei berhasil menelan obat tersebut Yifan memindahkan Fei keatas tempat tidur.


Setelah memindahkan Fei keatas tempat tidur Yifan lalu duduk di kursi belajar milik Fei. Dia terus menunggui Fei sampai tersadar kembali.


Yifan mengacak rambutnya lalu menghembuskan nafasnya kasar. bocah ini memang sangat merepotkan. keluhnya dalam hati.


5 menit telah berlalu dan tampaknya Fei sudah mulai tersadar.


"Eungggh." Fei mendesah kemudian mengerjap-ngejapkan matanya. Kondisi dirinya sudah membaik setelah diberikan obat penenang oleh Yifan.


Fei menyandarkan tubuhnya yang lemas ke headboard.


"Kau beri aku apa tadi?" tanya Fei.


"Hanya obat penenang. Tidak usah terlalu dipikirkan." Yifan berdiri dari kursinya lalu berjalan mendekati Fei.


Fei menoleh kearah Yifan lalu bertanya apa yang akan dilakukan oleh pria itu.


Yifan yang kini sudah berdiri di samping tempat tidur Fei menjetikkan jarinya lalu tiba-tiba saja muncul segelas air putih digenggaman tangan kanannya.


Fei kembali tercenggang melihat aksi ajaib malaikat maut itu.

__ADS_1


"Kau sedang melakukan sulap?"


Yifan mendesah malas lalu segera menyodorkannya pada Fei.


"Jangan banyak tanya. Cepat minum saja!" perintahnya mutlak.


Fei menatap Yifan curiga ia hendak mengambil gelas itu namun seketika rasa curiganya datang menghantui.


Mendapati Fei yang masih bersikap curiga padanya membuat Yifan merasa jengah.


"Jangan menuduhku terus. Apa sejauh ini aku pernah berbuat jahat padamu?" tutur Yifan.


Mendengar penuturan dari Yifan membuat Fei tersadar bahwa selama ini dia terlalu keras kepala menyalahkan Yifan atas kondisinya. Melihat kondisinya selama ini justru Yifanlah yang selalu membantunya.


Fei mengambil gelas yang berada di tangan Yifan lalu menatap Yifan sebentar.


"Maafkan aku karena selalu bersikap tidak baik padamu, aku hanya belum bisa menerima semua kebaikanmu padaku," ucap Fei pelan.


Yifan menghela nafas lalu berkata. "Aku sangat memahami kondisimu itu. Tidak usah minta maaf. Aku bahkan sangat tahu alasan kenapa kau bersikap kasar padaku sejak awal."


Fei mengangguk-anggukan kepalanya kemudian ia bertanya pada Yifan. "Apa kau tahu sesuatu tentangku?"


"Aku mengetahui semua yang terjadi padamu. Bahkan aku tahu dibalik alasan mengapa kau sampai melakukan bunuh diripun aku sangat mengetahuinya."


Fei meneguk liurnya sendiri. Ia terlihat seperti sangat ketakutan.


Melihat reaksi Fei seperti itu Yifan berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Bagaimana pun juga Yifan sangat tahu bahwa Fei akan berubah menjadi sangat sensitif jika membahas tentang kehidupan pribadinya. Yifan mengibas-ibaskan tangannya di depan wajah kemudian ia menatap Fei serius.


"Sudahlah lupakan saja tidak perlu dibahas lagi. Untuk saat ini aku hanya ingin bertanya mengenai pilihanmu untuk terakhir kalinya. Aku akan memberimu dua pilihan pertama buatlah kontrak denganku seperti yang pernah kukatakan padamu sebelumnya. Kedua jika kau menolak aku akan menghilangkanmu dengan tanganku sendiri sebelum kau yang dihilangkan. Aku sangat berharap kau tidak memilih yang kedua." tutur Yifan.


Fei mengangkat wajahnya menatap Yifan sendu. "Untuk pilihan kedua mengapa kau harus repot-repot menghilangkanku sementara aku nantinya bisa menghilang sendiri."


Yifan menatap tajam Fei. Dari tatapannya itu terlihat rasa tidak suka dari dirinya. Yifan sangat yakin bahwa Fei akan memilih pilihan kedua mengingat sifat keras kepala yang dimiliki oleh anak itu.


"Aku harus menghilangkanmu sebelum kau dihilangkan hal itu kulakukan untuk menjaga nama baikku sendiri sebagai seorang malaikat maut. Seorang malaikat maut yang sudah bertindak ilegal dan tidak berhasil mengikat kontrak dengan jiwa yang ditolongnya akan dicap sebagai malaikat gagal. Dan bila hal itu terjadi aku sendirilah yang harus mendapatkan hukuman dari Tuhan." jelas Yifan masih dengan tatapan tajamnya.


Mendengar penjelasan Yifan membuat Fei tersenyum mengejek.


"Ternyata kau ini rendahan sekali rupanya. Nampak jelas disini kau tidak mau rugi dan bersikap egois. Kau nampaknya memandang rendah sekali jiwa manusia." ujar Fei.


"Bersikap empati pada mahluk lemah seperti kalian juga ada batasnya bagi kaum kami. Kau tidak bisa terus-terusan mengikat seseorang yang ingin terus berusaha melepaskan diri." ucap Yifan.


Fei tertawa lalu menunjukkan jarinya yang membentuk huruf V.


"Bagaimana kalau seandainya aku memilih ini?"


Yifan segera mengeluarkan sabitnya kemudian menodongkannya ke leher Fei.


"Kalau begitu aku ingin mendengar kata-kata terakhir darimu manis." ucap Yifan sembari memasang evil smilenya.


 


***execution of the soul begins***


Catatan


Fluoxetine adalah obat anti depresan yang dikonsumsi untuk mengatasi depresi, bulimia, nervosa, gangguan obsesif kompulsif, gangguan pola makan dan serangan kepanikan. Fluoxetine hanya boleh dikonsumsi dengan resep dokter. Fluoxetine adalah jenis obat oral dalam bentuk tablet san kapsul.

__ADS_1


Sumber Google


 


__ADS_2