Istri Diatas Kertas

Istri Diatas Kertas
Bab 101: Menunggu


__ADS_3

🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻





🌹✨💞✨🌹


Di kediaman Adijaya. Mereka menikmati sarapan dengan lahap sebelum melakukan aktivitas berikut nya.


Farel yang sudah siap dengan pakaian kerja ke kantor dan Bian juga sama, hari ini akan ke kantor untuk peresmian kantor baru nya.


"Nanti gue dan Qila nyusul." Ucap Farel pada Bian.


"Iya, gapapa. Asal tepat waktu." Bian memperingatkan Farel karena kedatangan nya bukan seorang diri saja, melainkan bersama Aqila.


"Iya, kalau gak ada masalah." Ucap Farel, lalu tersenyum kecil.


"Mommy dan Daddy gimana? mau nyusul atau barengan sama Bian?" Tanya Bian memandang kedua orang tua secara bergantian.


"Kita bareng saja, Gimana Dad?" Menatap suaminya.


"Iya." Angguk Daddy.


Farel berpamitan menuju kantor.


Dalam perjalanan Farel menyetel musik sebagai teman perjalanan menuju kantor.


30 menit melajukan perjalanan, ia teringat akan sesuatu.


"Hampir saja lupa." Memukul dahi. Ia langsung memutar balik jalan menuju suatu tempat sebelum ke kantor.


***


Arka dan Aqila masing-masing sibuk dengan persiapan mereka.


"Sayang, mana dasi ku?" Tanya Arka sengaja, sejak tadi Aqila tidak memperhatikan nya.


Aqila yang lagi menyisir rambut, menghentikan aktivitas, melangkah maju ke tempat Arka berdiri sekarang.


"Ada kok By, tadi aku yang siapkan di situ." Jalan Aqila melihat benar dasi nya tidak ada.


"Benar kan, aku bilang, tidak ada." Kata Arka berlagak pusing mencari.


"Coba lebih teliti lagi By, mungkin ke selip."

__ADS_1


Kedua bersama mencari, tetap tidak menemukan nya. Aqila sedikit curiga melihat gelagat aneh Arka.


Di situasi seperti ini, masih saja Arka tersenyum diam-diam. Aqila memicing kan mata melihat saku celana yang di gunakan terlihat berbeda sedikit membesar.


"Apa yang ada di saku By." Tunjuk Aqila curiga.


"Tidak ada apa-apa." Bohong Arka. Aqila dapat melihat jelas ada yang Arka sembunyikan di saku celananya.


"Kalau gak ada apa-apa, kenapa bentuk saku lebih besar?" Aqila memicingkan mata curiga."Jangan bilang kamu yang sembunyikan dasi di saku kamu ya By?" Sambung nya. Arka tersenyum mendengar semua perkataan Aqila tepat.


Aqila menggeleng kepala melihat kelakuan Arka seperti anak kecil.


"By, kenapa iseng sih, kalau tau gitu aku gak bantu cari." Aqila sedikit kesal karena menghambat persiapannya.


"Ya, habis kamu sibuk sendiri, bukannya urus suami."


"Tapi, gak gitu juga By, kan bisa bilang."


"Iya, ini." Arka memberikan dasi pada Aqila untuk memasangkan pada kerak baju nya.


Saat ingin memasang kan dasi pada kerak Arka, tinggi nya tak mencapai hingga sulit tergapai. Arka tersenyum melihat Aqila kesulitan. Ia menarik pinggang Aqila hingga kedua tak ada batasan, ia dapat mendengar hembusan nafas Aqila memburu grogi dengan tindakan mendadak nya ini.


"By, apa yang kamu lakukan? aku kesulitan jika seperti ini." Ucap Aqila berusaha tenang, meski hatinya sangat grogi.


"Sayang, gimana tidak kesulitan, tinggi kamu saja segini." Kata Arka mengejek Aqila melihat tinggi nya hanya mencapai bahu nya.


"Udah tau tinggi ku gak mencapai, kenapa gak sejajar kan dengan tinggi ku by, biar gampang masang nya." Protes Aqila.


"Udah cepat tunduk." Perintah Aqila, dan Arka mengikuti nya.


Setelah memasangkan dasi, Aqila berbalik ingin kembali pada tempat nya, namun di cegah Arka.


"Kenapa lagi By?" Tanya Aqila menatap Arka yang menahan sebelah tangannya.


Arka tidak menjawab, melainkan, menarik Aqila hingga mereka kembali berdekatan. Ia menatap intens wajah Aqila yang sudah di beri make-up.


"By, apa yang kamu lakukan, kita bisa terlambat." Aqila mengingatkan Arka agar tidak membuang waktu.


"Aku bos nya, jadi terlambat tidak apa-apa. Kalau kamu juga gapapa, karena Kakak mu yang ingin berjumpa, jadi sedikit menunggu tidak bakal jadi masalah." Balas Arka enteng.


"Gak boleh gitu By, udah lepasin." Namun hasilnya masih sama, Arka tidak melepaskan, melainkan lebih mengeratkan pelukan nya.


Arka memperhatikan bibir Aqila terus saja mengoceh, tanpa aba langsung menyerang. Aqila kaget dengan tindakan nya ini.


Aqila memukul dada Arka agar segera melepaskan, namun tidak di indah kan nya.


Ciuman nya semakin panas, Arka yang sudah pengalaman dengan permainan ini, dengan mudah membuat Aqila tak berontak dan menikmati setiap permainan lidah nya.

__ADS_1


Aqila terbawa suasana dengan permainan lembut Aqila, kedua saling bertukar saliva tanpa sadar dengan rencana awal mereka.


Arka yang tidak bisa mengendalikan diri dengan permainan yang ia ciptakan merasa pusaka bawah nya menenggang.


Permainan berpindah pada leher, Aqila bahkan tidak ingat jika sekarang Farel sudah menunggu nya.


Farel mondar mandir menunggu Aqila, namun orang yang di tunggu belum juga datang, ia berpikir apa ini ulah sih bodoh melarang Aqila untuk datang, jika benar awas akan Ia balas.


Tanpa Farel tau saat ini kedua melakukan penyatuan saliva sebagai DP sebelum melakukan secara utuh.


"Dimana Qila? kenapa jam begini belum juga datang? apa kejebak macet? kayak nya tidak mungkin, jam segini belum parah macetnya." Pikir Farel. Mencoba menghubungi Aqila.


Farel sudah menghubungi berulang kali, bahkan nomor nya terhubung, tapi tidak di angkat.


"Awas jika terbukti ini ulah sih bodoh, tunggu saja balasan ku nanti. Kau sudah membuat ku menunggu lama seperti ini, aku juga akan membuatmu seperti cacing yang berada di dalam perut tidak tenang sebelum mendapat santapan lezat." Janji Farel kesal, ia yakin sangat yakin ini ulah Arka.


Farel tau Aqila tidak akan telat, ia selalu berpegang teguh dengan janji, jika tidak ada sesuatu yang membuat dia lupa siapa lagi kalau bukan Arka yang melakukan nya.


Farel memencet telpon kantor."Segera ke ruangan saya." Perintah Farel langsung mematikan sambungan telpon.


Tok... tok... tok...


"Masuk." Perintah Farel dari dalam.


Mendengar perintah dari dalam, Tiara langsung masuk.


"Bapak memanggil saya?" Tanya Tiara sopan.


"Iya, apa mereka sudah datang?" Tanya balik Farel.


"Sudah Pak, sekarang mereka berada di ruangan yang bapak perintah kan." Jawab Tiara.


"Baguslah, sekarang kau bisa keluar."


Tiara terperangkap kaget, memanggil nya kesini hanya untuk bertanya ini, kenapa tidak lewat telpon saja. Dalam hati ia menatap kesal, syukur pria di hadapan nya ini pimpinan kalau tidak sudah ia lempar ke laut.


Seenak nya saja memanggil hanya menanyai hal tidak penting.


"Kenapa masih diam disitu? sana keluar." Usir Farel melihat Tiara masih berdiri tegak di tempat nya, tanpa bergerak pindah.


Tiara sontak kaget mendengar perkataan Farel mengangetkan lamunan nya yang sedang memaki diam.


"Eh, iya Pak. Saya permisi." Gugup Tiara, langsung melangkah keluar.


Farel memandang kepergian Tiara menggeleng kepala."Dasar wanita aneh." Gumam Farel, kembali mencoba menghubungi Aqila, siapa tau saat ini sudah di angkat, namun hasilnya masih sama seperti tadi.


"Dasar sih bodoh...." Geram Farel meremas ponsel.

__ADS_1


...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......


...✨____________ 🌼🌼_______________✨...


__ADS_2