
Raina mulai membuka matanya, dengan mata yang menyipit dia mulai memperhatikan ruangan bernuansa putih, Raina merasakan ada sebuah tangan kekar yang menggenggam tangannya, ketika dia menoleh ke samping di lihat pemilik tangan tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah suaminya.
Raina melakukan pergerakan kecil dan sukses membuat tidur damai lelaki itu terganggu.
" Egh " Arya berusaha mengumpulkan kesadaran ketika merasakan sesuatu yang mengusiknya.
" Alhamdulillah akhirnya kamu sadar, kamu mau apa biar Ka Arya ambilkan " Kata Arya dengan lembut penuh perhatian.
" A..air.. " Kata Raina lirih.
" Ayo Ka Arya bantu untuk bersandar " Setelah membantu Raina bersandar, Arya mengambilkan air putih yang ada diatas meja dan membantu Raina meminumnya.
Setelah selesai Arya kembali duduk dan menggenggam tangan Raina. Terlihat dari tatapannya Arya khawatir dan merasa bersalah.
" Apa yang kamu rasakan, apakah sudah membaik atau ada yang sakit? " Tanya Arya khawatir.
" Ka Arya tenang saja, Nana tidak apa apa " Kata Raina tak lupa senyum manis diwajahnya.
" Maafkan aku na.. " Kata Arya lirih dan kepalanya menunduk.
__ADS_1
" Ka Arya tidak perlu merasa bersalah, aku tau ka Arya tidak bermaksud mencelakaiku, ka Arya hanya tidak tau " Berusaha meyakinkan Arya yang terlihat sangat merasa bersalah.
" Tapi tetap saja aku bodoh, aku bahkan tidak tau tentang alergimu dan bahkan aku tidak bisa menjaga amanah dari Ayah untuk menjaga putrinya, aku memang suami yang tidak berguna " Ujar Arya masih tetap menyalahkan dirinya.
" Kamu bahkan hampir kehilangan nyawa itu semua karna aku" Lanjut Arya dengan mata yang berkaca kaca, dia amat sangat merasa bersalah.
" Sudah ka jangan menyalahkan diri Ka Arya sendiri, yang terpenting Nana sudah membaik ".
" Oh ya aku hampir lupa, kamu belum makan dan harus minum obat " Kata Arya setelah itu memencet bel untuk memanggil suster atau dokter.
Setelah suster datang, Raina mulai di periksa dan suster itu keluar untuk membawa bubur.
" Ayo, buka mulutnya. sedikit lagi habis " Kata Arya sambil mengangkat sendoknya, Raina menggeleng pertanda tidak ingin lagi.
" Ayo dua sendok lagi, setelah itu minum obat. Kamu ingin cepat sembuhkan? " Kata Arya membujuk.
Dengan anggukan lesu, Raina membuka mulutnya membuat senyum Arya melebar.
" Anak Pintar " Arya mengelus puncak kepala Raina pelan seperti elusan seorang ayah untuk anaknya.
__ADS_1
Tiga hari kemudian, Raina diperbolehkan pulang. Selama tiga hari itupun Arya tidak berangkat bekerja hanya untuk menjaga Raina sampai pulih.
" Kamu tunggu dulu ya, saya telepon Satya dulu untuk menjemput kita " Kata Arya.
" Memang ka Arya tidak membawa kendaraan, jika Bang Satya tau kita sudah menikah dan menyebarkan pada publik kita harus bagaimana? " Tanya Raina panik.
" Tenang saja, Satya tidak akan memberitahu siapapun. Jadi jangan khawatir " Kata Arya ". " Supaya dia tidak mendekatimu lagi " Batin Arya.
***
Flasback tiga hari yang lalu.
Setelah melihat Raina tertidur, Arya keluar dari ruang rawat untuk bertemu dengan Ryan sahabatnya.
" Hey bro, kenapa lo sangat mengkhawatirkan gadis yang lo bawa itu? " Tanya Ryan setelah mereka duduk di kantin rumah sakit.
" Gue gak tau Ryan, entah kenapa gue takut dia kenapa kenapa " Jawab Arya.
" Memang dia siapa, sehingga elo sangat menghawatirkannya? " Tanya Ryan heran, tak biasanya Lelaki dingin kulkas 4 pintu ini peduli pada seseorang selain orang tuanya dan kekasihnya.
__ADS_1
Bersambung.....