Istri Dosen Galak

Istri Dosen Galak
Saingan Baru


__ADS_3

“Hua ... Akhirnya gue terlepas dari penderitaan ini!” seru Inifera saat dia keluar dari kelasnya diikuti Bimo dan juga Anisa, temannya.


“Gila, dosen killer kalau ngasih soal kaga kira-kira.”


Fiera hanya menghela napas sebagai tanggapan, sedangkan Bimo sibuk membenahi barang bawaannya dan juga tas kedua wanita yang dibawa olehnya.


Semalam, ketiganya melakukan taruhan—siapa yang terlambat datang di hari terakhir ujian, dia akan menjadi asisten dua lainnya.


Ternyata, Bimo tiba paling lambat karena ban motornya mengalami kebocoran saat dia dalam perjalanan menuju kampus. Beruntung, dirinya masih bisa masuk kelas tepat waktu.


Kalau tidak, mungkin pria berusia dua puluh tahun itu harus mengulang semester depan.


“Fier, kita harus mempersiapkan beberapa hal untuk kunjungan ke panti asuhan sebelum berangkat ke Malang.” Adi, ketua Himpunan Mahasiswa yang bertanggung jawab muncul dari arah ruang dekanat berkata.


Anisa terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan Adi pada temannya. Dia berkata, “Fier, lo mau ke Malang? Wah, liburan, nih? Ikut, dong.”


“Engga. Gue mau jadi volunteer. Kalau mau, ayo aja.”


“Yah ... kirain. Padahal gue mau ikut kalau mau liburan. Sumpek banget, nih, otak setelah ujian. Butuh yang fresh.”


“Ya, itung-itung liburan juga, kan, ini?”


“Beda, dong, kalian mau bekerja untuk bakti sosial. Sedangkan gue untuk sekarang belum siap. Butuh istirahat dulu.”


Fiera tertawa mendengar hal itu.


“Sejak kapan liburan bisa dikatakan 'istirahat'? Padahal, pergi liburan itu melelahkan juga.”


Anisa melengos dengan pertanyaan itu.


“Iya, tau. Introvert macam lo, kan, emang lebih suka ndekem di kamar aja.”

__ADS_1


Fiera tertawa. Dia tidak membantah apa-apa karena yang dikatakan temannya adalah benar.


Lagi-lagi, Bimo hanya membenarkan posisi tas kedua temanya, yang dibawa olehnya. Dia tidak ikut nimbrung pada pembicaraan.


“Ya udah, gue pergi dulu sama Kak Adi, ya,” pamit Fiera pada dua temannya, lalu menoleh pada seniornya. “Ayo, kak, jangan dengerin ocehan mereka.”


Adi hanya mengangguk, lalu melangkah terlebih dahulu menuju ke aula, karena di sana teman-teman yang lainnya sudah menunggu untuk koordinasi.


Adi memberikan arahan pada yang lainnya, begitu juga pada Fiera yang akan serta ke Malang untuk ikut kegiatan sosial di panti jompo.


Infiera yang sudah dipusingkan dengan ujiannya, belum lagi permasalahannya dengan Abimanyu. Dia sangat menikmati kegiatan barunya.


Awalnya, dia sama sekali tidak tertarik dengan organisasi di kampus, karena ingin fokus menyelesaikan kuliahnya, tapi setelah dijalani ternyata tidak buruk juga.


“Haha ... Kak Adi, ini beneran? Masa aku harus hafalin lagu ini? Ini kan, buat anak-anak. Sedangkan di Malang, kita mau ke panti jompo.”


“Eh, jangan salah, Fier. Orang yang sudah sepuh itu sifatnya cenderung kembali ke sifat anak-anak. Jadi, kita perlu banget menghibur mereka dengan cara yang tepat. Selain itu, rata-rata adalah orang tua yang ditelantarkan sama keluarganya. Sangat butuh penghiburan yang menyenangkan dari kita yang muda.”


Selama persiapan, Fiera terus tertawa karena mereka seperti anak TK yang sedang latihan untuk pentas.


Seketika, Fiera sedikit melupakan beban pikirannya mengenai hubungannya dengan Abimanyu.


***


Tidak jauh dari aula, Gerald terlihat memantau kegiatan mahasiswanya. Dia adalah salah satu dosen pengawas yang terlibat. Tentu saja, dia juga donatur utamanya, tanpa sepengetahuan yang lain.


“Ge, gimana persiapan untuk ke panti asuhan?” tanya Abimanyu yang muncul dari arah belakang dan berdiri di sampingnya.


“Lancar sejauh ini. Makasih, ya, buat buku-bukunya. Gue baru aja mau minta buku fabel, taunya karyawan lo udah kirim duluan.”


“Iya, gue yang nyuruh. Pasti manfaat banget buat anak-anak panti.”

__ADS_1


Abimanyu memperhatikan kegiatan mahasiswa yang sedang persiapan untuk kegiatan di panti asuhan.


“Gue rasa, sekarang banyak mahasiswa yang terlibat.”


“Memang, banyak volunteer sekarang. Syukurlah. Kerjaan gue sedikit berkurang, apa lagi baru saja selesai ujian.”


Abimanyu mengangguk, mereka juga sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan pembukaan kafe yang tidak lama lagi akan dilakukan.


“Eh, gue denger kalian juga mengirim perwakilan buat ke Malang besok, ya? Siapa? Memangnya cukup orangnya?” Mengingat, pertama kali ada tawaran untuk bergabung dengan para relawan, kampus mereka masih mempertimbangkan karena kegiatan ke panti asuhan sudah lebih dulu. Abimanyu terkejut karena tiba-tiba ternyata ada perwakilan ada yang berangkat.


Gerald menyeringai mendengar pertanyaan Abimanyu. “Lu benar. Itu dia orangnya.” Dia menunjuk dua orang yang baru saja keluar dari aula, keduanya terlihat membawa dus di masing-masing tangannya. Mereka juga terlihat tertawa dan bercanda, sangat akrab.


Abimanyu mengerutkan keningnya, melihat siapa yang ditunjuk oleh Gerald. Perlahan dia memperhatikan keduanya. “Adi .... Infiera?” Abimanyu terkejut.


Gerald berusaha menagan tawanya dan mempertahankan ekspresi di wajahnya. “Benar. Dia ikut menjadi volunteer di sana. Ah, sial! Gue dapat saingan baru.”


“Saingan? Apa maksudnya?”


Gerald yang menghadap ke arah dengan menyerongkan posisi berdirinya, menghadap ke arah Abimanyu. “LO ga liat bagaimana mereka begitu dekat? Lihat si Adi? Sialan, dia ngincar juga calon istri gue!”


Abimanyu tercengang. Dia mengalihkan pandangannya pada dua orang yang mulai menjauh dari jangkauan pandangannya. Mereka terlihat bercengkrama dengan bahagia. Infiera bahkan terlihat sedikit mengejar Adi yang berlari. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi Fiera terlihat benar-benar senang.


“Ma-mana mungkin!”


Gerald mengerutkan keningnya bingung. “Apanya yang mana mungkin?”


“Maksud gue, mana mungkin si Adi ngejar Infiera.” Terlihat jelas Abimanyu tidak suka dengan hal itu, wajahnya berubah sedikit merah menahan perasaan kesalnya.


“Gue masih mau tanya hal yang sama. Apanya yang mana mungkin? Umur mereka tidak terlalu jauh, si Adi juga mahasiswa berprestasi. Emm ... tampan juga. Walaupun, lebih tampan gue sebenarnya.” Gerald menarik ujung kerahnya sombong.


Abimanyu tidak membalas perkataan temannya itu. Dia hanya menatap Infiera yang semakin menjauh dan menghilang di belokan menuju ke ruang perpustakaan. Wajahnya perlahan semakin memerah, dan tangannya mengepal dengan kuat. Berani sekali ada yang mendekati istrinya. Satu Gerald saja sudah membuatnya jengkel. Sekarang malah muncul Gerald yang lainnya.

__ADS_1


__ADS_2