Istri Dosen Galak

Istri Dosen Galak
Menyusul ke Malang


__ADS_3

Abimanyu seperti ikan yang baru kehabisan airnya. Dia benar-benar tidak tenang setelah melihat beberapa postingan Gerald yang menunjukkan kedekatan Infiera dengan Adi, mahasiswanya dan juga seorang pria asing yang menurut Adi, itu adalah seorang donatur, sekaligus pengusaha batu bara.


Semalaman, Abimanyu mencari penerbangan tercepat menuju Malang. Dia ingin pergi malam itu juga. Sayangnya, Abimanyu harus menelan kecewa karena tiket yang ada hanya untuk penerbangan keesokan harinya.


Keesokan harinya, Abimanyu langsung berangkat ke bandara. Tidak banyak persiapan. Dia hanya mengenakan celana jeans, kaos putih yang dibalut dengan jaket coat berwarna coklat.


Abimanyu berangkat menuju Malang dengan penerbangan sekitar pukul sepuluh pagi. Dia tidak memedulikan apa pun, yang dipikirkannya hanya bagaimana caranya Abimanyu bertemu dengan Infiera.


Sebelum masuk gate, ponselnya berdering, sebuah panggilan masuk. Abimanyu melihat nama Gerald tertera di layarnya. “Bi, lo di mana? Bukannya siang ini kita ada meeting bersama dengan vendor untuk opening nanti?”


Abimanyu tidak langsung menjawab, dia melihat ke sekeliling. Tiba-tiba suara panggilan untuk segera bersiap, terdengar.


“Bi, lo di mana? Kenapa gue mendengar suara yang  mirip kaya di bandara?” tanya Gerald.


“Gue memang ada di bandara,” balas Abimanyu bersiap untuk meneruskan langkahnya.


“Bandara? Lo ngapain di bandara? Bukannya kita ada meeting?”


“Gue ada urusan sebentar. Lo handle dulu urusan hari ini.”


“Tapi, Bi—“


Abimanyu tidak membiarkan Gerald melakukan ceramahnya. Dia mematikan ponselnya begitu saja dan bergegas untuk segera masuk ke dalam pesawat.


Di tempat berbeda. Pagi ini, Infiera terlihat sedang membantu para lansia untuk sarapan bersama. Mereka menyiakan beberapa makanan sehat yang bisa dikonsumsi untuk para orang tua.


“Fier, bisakah kamu mengantarkan buah-buahan ini pada meja yang di ujung sana? Katanya, mereka ingin mencoba buah kiwi.”


Fiera tersenyum meraih nampan yang berisi buah kiwi yang sudah dipotong dari seniornya, Adi.


“Untungnya, kemarin kita mendapatkan kiwi dari Pak Rendi, ya.”


Adi hanya menanggapi dengan senyum dan anggukan karena dirinya kembali sibuk dengan aktivitas lainnya.


 Senyum ramah yang penuh ketulusan Infiera kembangkan saat dia merawat para orang tua yang kurang beruntung itu, membuatnya disukai oleh hampir semua orang tua yang dirawatnya.


“Nenek harus menghabiskan dulu makannya. Baru bisa makan buahnya,” ucap Fiera dengan suara lembutnya.


“Nak, kamu juga harus makan. Berhenti mengurusi kami, kamu sarapan dulu.”


“Iya, Nek, sebentar lagi Fiera sarapan.”

__ADS_1


Infiera menata buahnya di hadapan beberapa orang tua yang ada di meja itu. Setelahnya, Fiera kembali ke belakang untuk membantu yang lainnya. Saat akan masuk ke dalam area dapur, Fiera bertemu dengan Rendi, pengusaha muda yang juga ikut bersama dengan relawan yang lainnya. Dia jugalah yang mendatangkan tenaga medis untuk memeriksa kesehatan para orang tua.


“Fier, kamu sudah sarapan?”


Fiera tersenyum lembut sebelum menjawab, “Sebentar lagi, Pak, bareng dengan yang lainnya.”


“Kalian juga harus segera sarapan, karena kita akan segera pindah ke titik lainnya.”


Mereka harus bergerak ke titik yang sudah ditentukan. Semalam, sebelum semua akttivitas dihentikan. Mereka diberitahukan kalau ada sebuah panti jompo yang mulai terbengkalai karena kurangnya dana untuk mengurus para orang tua yang ada di sana. Rendi, sebagai salah satu donatur langsung menginstruksikan anak buahnya untuk mengirimkan logistik ke lokasi yang dimaksud.


Fiera membawa satu gelas es buah yang dibuat para relawan menuju ke sebuah kursi kayu yang ada di taman, di bawah pohon besar.


“Ah, segarnya,” seru Fiera setelah menyeruput es buah di tangannya.


“Cape, ya?” sapa seseorang dari arah belakang, mengejutkan Fiera yang baru saja menyandarkan punggungnya di kursi kayu itu.


“Aaaa, Pak Rendi mengejutkan saja.”


Rendi menggeleng melihat Fiera terjingkat dari duduknya. Pria itu bertanya, “Boleh saya duduk di sini?” tanyanya menunjuk ruang kosong yang ada di sebelah Fiera.


“Silakan, Pak.”


Fiera sedikit bergeser untuk memberikan ruang lebih luas.


“Iya, Pak.”


“Wah, engga nyangka, ternyata masih banyak anak muda yang masih mau melakukan kegiatan seperti ini dan peduli pada sesuatu yang mulai diabaikan.”


Fiera tersenyum kecil sebelum menanggapi.


“Banyak banget, kok, Pak, anak muda yang masih mau terlibat hal seperti ini. Sayangnya, media memang lebih suka memberitakan hal buruknya saja. Apa lagi, di jaman modern yang mana media sosial semakin maju pesat. Segala informasi cepat sekali menjalar ke seluruh lini. Tidak heran, jika hal baiknya tertutup dengan berita minus.”


Rendi mengangguk setuju dengan pernyataan Fiera. Dia terlihat berpikir.


“Fier, umur saya itu sekitar 31 tahun. Apakah saya terlihat tua?” tanya Rendi tiba-tiba.


Fiera menoleh, menatap wajah pria di sampingnya karena merasa bingung dengan pertanyaan pria itu. “Emm ... tidak juga. Memangnya, kenapa, Pak?”


“Kamu bisa panggil saya mas saja, ga, sih? Saya berasa tua banget dipanggil bapak.”


“Pffft... .” Tiba-tiba Fiera tertawa mendengar keluhan Rendi yang merasa tidak nyaman dengan panggilan Bapak yang diberikan olehnya—, semua orang sebenarnya. Tetapi, karena sejak kemarin Rendi banyak berbicara dengannya, jadi terkesan hanya Fiera saja yang memanggil seperti itu.

__ADS_1


“Ya, bagaimana ya, Pak. Bapak tahu umur saya berapa, ga?”


“Memang berapa umur kamu?”


“Dua satu, Pak. Jauh beda, kan? Wajar saya panggil bapak.”


Rendi tersenyum dan mengangguk. Tidak sulit ternyata untuk mengetahui tentang gadis ini, pikirnya. Sejak pertama kali melihatnya, Rendi sudah merasakan ketertarikan pada Infiera. Dia mencoba berkenalan, tapi memang sepertinya Fiera adalah gadis yang cukup tertutup. Harus dengan cara yang berbeda untuk mengetahui detail tentangnya.


“Benar juga. Bedanya 10 tahun, kan? Tapi ada yang menikah dengan perbedaan umur segitu, loh.”


“Memang ada dan itu engga masalah juga.”


“Benar, engga masalah!” Senyum Rendi semakin lebar mendengar jawaban yang tidak disadari gadis itu.


“Pak, semuanya sudah siap.” Adi muncul dari arah dalam panti dan memberi tahu pria itu kalau mereka harus segera berpindah ke tempat lainnya.


“Baiklah,” jawab Rendi, lalu menoleh pada Infiera. “Ayo, Fier, kamu harus bersiap, saya juga akan bersiap,” lanjutnya lagi, sedikit ambigu. Rendi masih membahas mengenai perbedaan umur mereka, sedangkan Fiera sama sekali tidak berpikir sejauh itu.


“Baik, Pak.”


Hampir semua orang berpindah lokasi, tapi masih ada beberapa orang yang tetap stay di sana untuk dua hari ke depan, karena mereka harus mengawasi perbaikan panti.


Mereka semua berpindah dengan menggunakan minibus dan juga mobil bak terbuka untuk membawa beberapa logistik yang sudah disiapkan sebelumnya.


“Fier, kamu ikut sama Pak Rendi saja, ya? Soalnya busnya sudah penuh.” Adi memberi tahu setelah dia memeriksa semuanya ternyata masih ada satu orang yang belum masuk, yakni rekannya dari Jakarta yang belum masuk.”


“Eh? Kenapa ga Ka Adi saja?” Fiera terlihat sedikit panik. Engga nyaman kalau harus satu mobil dengan Rendi hanya berdua saja.


“Saya naik mobil bak, Fier. Kamu mau ikut naik di belakang?” tanya Adi, menunjuk mobil di belakangnya.


Fiera melihat, selain sudah penuh. Di sana juga ada tiga rekan lainnya yang berada di belakang mobil bak.


“Sudah, Fier, kamu ikut saya saja.”


Tanpa peringatan, Rendi memegang pergelangan tangan Fiera, untuk masuk ke dalam mobil. “Ayo, Fier, kasian yang lainnya sudah nunggu.”


“Eh, i-iya, Pak.” Fiera berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Rendi.


“Ayo.”


Fiera mengangguk, dia masih berusaha menarik tangan dari genggaman Rendi, tapi tiba-tiba.

__ADS_1


“Hei, lepaskan tanganmu darinya!”


__ADS_2