Istri Dosen Galak

Istri Dosen Galak
Mengetahui Identitas Aslinya


__ADS_3

Pagi ini cuacanya sedikit mendung di luar, tapi di dalam rumah yang ditempati Abimanyu dan juga Infiera terlihat seperti musim semi yang dipenuhi bunga bermekaran. Fiera terlihat merona saat dia ke luar dari kamarnya.


Sampai waktunya sarapan, wanita itu sama sekali belum berani menatap mata suaminya. Dia terus berusaha memalingkan wajah setiap berhadapan dengan Abimanyu.


“Fier, apakah madu masih ada?” tanya Abimanyu, dari arah meja makan, sedangkan Fiera terlihat tengah sibuk mencuci piring.


“Ada di lemari atas samping kulkas, di bagian tepung.”


Abimanyu langsung mencari di tempat yang disebutkan oleh istrinya. Ketemu. Dia segera mengambilnya, untuk menambahkannya ke dalam jus alpukat yang baru saja dibuatnya.


Setelah selesai, Abimanyu membawa dia gelas jus alpukat itu menuju ke dapur. “Fier sudah selesai? Mas buatkan jus untuk kamu.”


“Sebentar.” Infiera mengeringkan tangannya terlebih dahulu sebelum menghampiri dan menerima jus itu. Dia masih sedikit menunduk saat berada di hadapan suaminya.


Abimanyu cukup peka untuk menyadari hal itu. Dia tersenyum jail seraya meneguk pelan jus alpukat di tangannya. “Ya, tumpah.”


Abimanyu segera meletakkan gelasnya dan mengibaskan tangan di dadanya yang terkena tumpahan jus dengan sengaja.


Mendengar hal itu, otomatis Fiera mengangkat wajah untuk melihat. Buru-buru dia mengambil tisu di atas pantry.


“Kenapa Mas ga hati-hati?” Infiera perlahan mengusap dada suaminya.


Abimanyu menangkap tangan istrinya yang sedang membersihkan bajunya.


“Mas!”


“Fier, tatap Mas.”


Salah tingkah, Fiera mengangkat wajahnya dan menatap wajah tampan suaminya. “Mas, biar aku selesaikan ini dulu.”


Abimanyu terkekeh, saat melihat wajah istrinya yang memerah. “Apa kamu malu?”


“Aku malu? Kenapa?”


“Buktinya kamu tidak mau menatap wajah mas.”


Akhirnya, mau tidak mau Infiera membalas tatapan suaminya dengan tegas. “Kamu sangat cantik kalau sedang merona begini, hmm.” Abimanyu mengangkat tangannya dan menyentuh pipi wanita yang sudah resmi menjadi miliknya seutuhnya.


“Mas, biarkan aku membersihkan baju Mas dulu.”


“Tapi, Mas ingin kaya gini lebih lama dengan kamu.”


Abimanyu merangkul pinggang Infiera tiba-tiba, dan menarik tubuh sang istri hingga merapat ke tubuhnya. “Kamu hari ini pindah ke kamar atas, hmm.”


“I-iya, nanti malam aku pindah ke kamar atas.”


“Tidak. Kamu harus tidur sekarang,” ucap Abimanyu.


“Hah? Sekarang? Ini masih pagi, kita baru saja bangun.”


Bukannya menjelaskan, Abimanyu malah tersenyum aneh, dia tiba-tiba berjongkok untuk menggendong istrinya.

__ADS_1


“Tapi mas ingin tidur sekarang.”


Wajah Infiera semakin merona saat dia menyadari apa yang dimaksud suaminya. Dia terkejut, tapi segera merangkulkan kedua tangannya di leher sang suami saat Abimanyu mulai melangkah menaiki tangga perlahan. Gadis berusia 21 tahu itu menelungkupkan wajahnya di dada sang suami.


Akhirnya, pagi itu kembali menjadi waktu yang penuh gelora bagi dua manusia yang sedang dimabuk cinta.


***


Mobil putih milik Abimanyu terlihat berhenti di depan kampus, pria itu menoleh ke sampingnya. “Kamu kalau mau pulang telepon mas saja. Kita pulang sama-sama. Soalnya, sekarang Mas hanya akan ketemu Gerald di kafe.”


Fiera mengangguk. “Aku akan sedikit lama sepertinya, karena ada beberapa hal yang harus didiskusikan dengan Anisa. Aku juga harus menyerahkan laporan sama Kak Adi untuk kegiatan kemarin di Malang.”


“Tidak masalah. Hubungi saja kalau sudah selesai.”


Sekali lagi Infiera mengangguk, dia mengulurkan tangannya untuk mencium tangan pria di sampingnya.


Abimanyu mengulurkan tangan kanannya dan tangan kirinya mengelus puncak kepala sang istri. “I love you,” ucapnya tiba-tiba.


“Assalamualaikum.”


“Mmm, jawab dulu.”


Fiera terkekeh. “I love you too.”


“Waalaikum salam,” jawab Abimanyu.


Setelahnya Fiera segera turun dari mobil dan Abimanyu menurunkan jendela kaca mobilnya. “Sayang, jangan lupa telepon mas kalau kamu mau pulang.”


Fiera menoleh ke kanan dan kirinya. Tentu, ada cukup banyak orang di sekitar sana. Bagaimana kalau mereka mendengarnya? Dia masih memiliki perasaan takut, mengingat selama ini dirinya harus menyembunyikan hubungannya bersama Abimanyu.


Abimanyu menyadari keterkejutan istrinya. Dia hanya tersenyum. “Ya sudah, kamu masuklah.”


Akhirnya, Fiera hanya mengangguk dan melambaikan tangan pada pria itu sebelum berbalik dan melangkah pergi.


Setelah memastikan kalau istrinya sudah masuk, Abimanyu segera melajukan mobilnya menuju ke kafe. Dia harus menemui Gerald untuk membahas pesta yang untuk mengumumkan pernikahannya dengan Infiera kepada teman-teman dosennya dan juga teman-teman istrinya. Dia juga harus membahas berapa banyak tamu yang bisa mereka undang ke kafe.


Begitu sampai di kafe, Abimanyu tersenyum lebar saat dia melihat Gerald sedang berbicara dengan salah satu staf mereka yang ada di sana.


Gerald yang melihat kedatangan Abimanyu menyipitkan matanya curiga, sedikit merasa heran.


“Lo sudah lama menunggu?” tanya Abimanyu menepuk pundak sahabatnya. “Kenapa lo liat gue kaya begitu? Apa ada yang salah?”


“Ada,” jawab Gerald singkat. Dia masih menatap Abimanyu dengan seksama.


“Apa?” Abimanyu memperhatikan pakaiannya. Dia memastikan penampilannya tidak ada yang aneh. “Apa yang salah?”


“Wajah lo.”


“Wajah gue? Apa ada noda?”


“Tidak.”

__ADS_1


“Lalu?”


“Bapak hari ini terlihat cerah banget,” ucap staf yang sejak tadi berbicara dengan Gerald. “Kaya orang yang baru dapat gaji.”


Jentikan tangan terdengar dari Gerald. “Tepat sekali. Benar, kan? Dia aneh?”


Staf itu tersenyum, karena dia akhirnya juga mengerti kenapa Gerald menatap Abimanyu seperti orang keheranan. Dia tidak berani menjawab, karena bagaimanapun Abimanyu adalah salah satu atasannya di sana.


“Apanya yang aneh?”


“Heh! Dia saja aneh liat lo senyum-senyum, apa lagi gue yang hampir tiap hari ketemu wajah lo yang  sudah kaya triplek, datar.”


“Kurang ajar lo!”


Namun, Abimanyu tidak menyangkal itu. Hari ini dirinya memang sedang sangat bahagia. Bukan karena mendapatkan gaji, tapi karena dia baru saja mendapatkan jatahnya sebagai suami. Apa lagi, sebelum berangkat dia kembali mengambil jatahnya.


“Sepertinya gue tahu alasannya.” Gerald mencoba menebak.


“Jangan banyak berpikir. Lebih baik lo nikah biar tahu rasanya.”


“Loh, emangnya apa yang gue maksudkan? Kenapa gue harus nikah biar tahu rasanya? Padahal, gue mau bilang kalau pembukaan kafe akhirnya berjalan dengan baik dan tidak akan terjadi penundaan lagi.”


Abimanyu segera memalingkan wajahnya, yang perlahan berubah warna menjadi kemerahan karena malu. Bagaimana dia bisa mengatakan hal konyol itu pada Gerald. Itu dia sama baru mengumumkan apa alasannya terlihat berbeda.


Gerald menyadari hal itu. Dia menahan senyumnya. Dirinya memang sengaja menggoda Abimanyu. Kapan lagi bisa melakukannya. Selama ini, pria yang sudah berteman dengannya cukup lama itu memang sangat tertutup mengenai kehidupan pribadinya.


“Bi, lo masih ingat sama Andreas?”


“Andreas?”


“Iya, dia pemilik platform digital kepenulisan yang pernah gue kenalin pas workshop. Kemarin dia menghubungi untuk bertemu denganmu. Katanya, dia ingin mendiskusikan kerja sama dengan perusahaan penerbitan lo. Beberapa penulis di sana mulai memiliki pembaca militan. Salah satunya adalah Pena Rindu yang kini lagi naik daun. Bukunya sudah siap terbit. Gue liat di media sosial platform-nya.”


Abimanyu terdiam mendengar nama Pena Rindu itu. Dia seperti tidak asing.


“Kenapa?”


“Gue kaya ga asing dengan nama pena itu.”


“Bentar. Lo pasti akan terkejut jika tahu siapa pemilik nama pena itu.”


Gerald mengeluarkan ponselnya dan menunjukkannya pada Abimanyu. “Ini gue dapat dari Andreas. Awalnya gue engga mau minta datanya, tapi saat mendengar namanya gue cukup terkejut. Akhirnya, gue minta data lengkap darinya.”


Abimanyu mengambil ponsel Gerald dan membaca sebuah identitas di sana. Matanya perlahan membulat, terkejut. “Infiera Falguni?”


“Betul sekali. Nona Infiera... tidak, tidak. Tetapi, Nyonya Alsaki. Istri dari Abimanyu Alsaki jelmaan dari triplek.”


“Jadi, Pena Rindu istri gue?”


Abimanyu tidak menyangka, kalau naskah yang dia tolak adalah milik istrinya sendiri.


 

__ADS_1


__ADS_2