Istri Dosen Galak

Istri Dosen Galak
Pernyataan Cinta?


__ADS_3

Abimanyu berdiri di belakang panti jompo dengan menatap nanar tempat mencuci di hadapannya yang tidak memiliki dinding. Di sana hanya ada kran air dan juga ember besar untuk dirinya mencuci.


Sebelumnya, Abimanyu sudah memeriksa kamar mandi yang ada di dalam, yang biasanya digunakan, tapi ternyata kamar mandinya cukup sempit jika digunakan untuk mencuci sprei yang cukup banyak.


Selain tempat mencucinya yang cukup mengejutkan, Abimanyu juga kebingungan dengan cara dia mencuci sprei sebanyak itu tanpa mesin cuci. Selama bertahun-tahu tinggal sendiri, dirinya memang terbiasa mencuci, tapi dia menggunakan mesin, tidak langsung dengan tangannya.


“Pak, ini sabunnya.” Wanita paruh baya yang tadi menunjukkan tempat itu muncul dan mengejutkannya.


“Bu, apakah saya benar-benar harus mencuci di sini?” tanya Abimanyu menunjuk tempat yang sejak tadi ditatapnya.


“Betul, Pak, biasanya kami memang mencuci di sini. Tenang saja, di sini aman, kok.” Wanita paruh baya itu menunjuk ke bagian belakangnya. “Area sini kebun, jadi engga akan ada orang lewat. Sebelah sana juga.” Wanita berkaca mata itu menunjuk ke bagian samping juga. “Kenapa?”


“Ah, tidak. Saya hanya bertanya.”


“Apakah bapak merasa tidak nyaman? Kalau begitu, biar saya saja. Bapak  bisa bergabung dengan yang lainnya.”


Abimanyu mengibaskan tangannya cepat. “Tidak, tidak. Saya yang akan melakukannya sendiri.”


“Baiklah kalau begitu. Saya permisi untuk membantu yang lainnya.”


Abimanyu mengangguk. Setelah pengurus panti jompo itu meninggalkannya. Dia melepaskan jaket yang dikenakannya dan juga melipat lengan kemeja yang digunakan.


“Baiklah, mari kita kerjakan.”


Terlebih dahulu, Abimanyu mengisi baskom besar dengan air dan menambahkan detergen ke dalamnya. Setelah itu, dia mengambil kain besar yang dia letakkan di samping. Namun, saat dia menarik kain-kain itu, pijakannya terasa licin dan hampir terjatuh.

__ADS_1


“Aaaa!” Beruntungnya, Abimanyu bisa mempertahankan pijakannya dengan  baik. Kalau tidak, mungkin dia akan tercebur ke dalam baskom besar yang sudah berisi air dan dipenuhi busa deterjen. “Huh ... benar-benar lebih baik ngajar seharian,” keluh Abimanyu, seraya memasukkan kain-kain itu ke dalam baskom besar. Dia tersenyum lebar saat mendapat sebuah ide, bagaimana cara mencucinya.


Abimanyu masuk ke dalam baskom itu dan menginjak kain yang ada di dalamnya untuk membuat kotorannya luruh. Setelah dirasa sudah cukup. Abimanyu mengeluarkan kain itu dari baskom dan membiarkan air dari kran mengalir deras membasahi kainnya untuk menghilangkan busa deterjen sebelum dia membilasnya.


Abimanyu mengira kalau mencuci kain-kain itu membutuhkan waktu yang tidak lama. Mengingat, itu hanya  kain lebar yang tidak memiliki celah. Namun, dugaannya salah. Abimanyu bahkan harus menghabiskan waktu lebih dari dua jam karena saat membilasnya, dia merasa busa deterjen-nya tidak mau hilang.


Begitu semuanya selesai, Abimanyu hanya tinggal menjemurnya. Hanya beberapa meter dari tempatnya mencuci, ada jemuran yang terbuat dari kayu di belakang sana. Suami dari Infiera itu menjemur satu persatu-satu, membuat energinya semakin terkuras. Benar, yang dikatakan oleh ibu tadi. Tidak ada satu pun orang yang muncul ke sebelah sana karena bagian belakangnya ada kebun, membuat Abimanyu sama sekali tidak bisa meminta bantuan siapa pun.


“Akhirnya, selesai juga.” Abimanyu mengusap keningnya yang basah karena keringat. Dia menunduk.  “Gawat, gue engga bawa baju ganti.”


Sejak awal Abimanyu berniat untuk membelinya, sekarang kalau pakaiannya basah kuyup seperti itu, bagaimana dia pergi untuk membeli? Sangat memalukan! Pria itu menggerutu kesal, karena tawarannya untuk mencuci kain sprei sungguh tidak dipikirkan dengan baik.


“Sudahlah!”


Abimanyu sekarang tidak peduli dengan pakaiannya yang basah. Dia hanya ingin duduk dan mengistirahatkan tubuhnya yang sangat lelah. Di samping panti, tidak jauh dari tempat menjemur kain, terdapat sebuah sofa lusuh. Abimanyu duduk di sana dan menyandarkan punggungnya. Perlahan dia menutup mata, hingga sampai beberapa saat tanpa sadar Abimanyu tertidur.


Fiera terlihat sedikit kotor karena dia baru saja membantu beberapa relawan untuk membersihkan taman dan mencabuti rumputnya supaya tidak ada ular dan membuat para lansia itu tenang saat berjemur di pagi hari.


“Mbak Fiera, kalau mau mencuci kaki, bisa di bagian belakang.” Fiera diberi tahu oleh satu pengurus yang ada di sana, karena mereka sebentar lagi harus bersiap untuk kembali.


Fiera mengangguk dan bergegas untuk pergi ke belakang panti. Dia melihat jemuran kain di sana dan langsung teringat suaminya yang tadi menawarkan diri mencuci. Fiera melirik kesana-kemari, mencari keberadaan pria itu, tapi keberadaannya tidak terlihat.


Mungkin dia sudah pergi, pikirnya dan terus berjalan menuju kran air. Namun, saat akan melangkah, dia melihat seorang pria yang tertidur dalam posisi duduk di sebuah sofa di dekat jendela. Itu adalah Abimanyu, Fiera terkejut. Dia berjalan mendekat dan melihat kalau suaminya tidur dengan pakaian yang basah.


Fiera menatap pria yang sebenarnya ingin dia hindari. Dirinya tidak menyangka kalau pria itu benar-benar mencuci semua kain sendirian hingga kelelahan dan kini malah tertidur.

__ADS_1


Abimanyu adalah pria yang sangat resik, tapi saking lelahnya dia mengabaikan kalau tempat duduknya cukup kotor. Fiera berjalan semakin dekat dan berdiri hanya beberapa senti saja di hadapan suaminya.


Angin bertiup pelan, membuat udaranya semakin sejuk. Fiera melepaskan kardigan yang dikenakannya dan menyelimuti Abimanyu yang masih terlelap. Baru saja dia akan berbalik untuk pergi, tapi tiba-tiba sebuah tangan besar menahannya. Fiera menoleh ke belakang. Dia melihat Abimanyu memegang tangannya, tapi mata pria itu masih terpejam.


“Mas,” ucap Infiera, seraya berusaha melepaskan pegangan tangannya. “Maaf sudah mengganggu. Aku tidak bermaksud—“


Sebelum dapat menyelesaikan ucapannya, Abimanyu menarik lengan itu, membuatnya limbung dan terjatuh ke atas pangkuan suaminya. “Mas!”


Abimanyu perlahan membuka matanya. Terlihat sedikit memerah. Pria itu menatap istrinya lekat.


“Mas lepaskan!”


Bukannya menurut, Abimanyu malah mengeratkan pelukannya. “Jangan pergi!”


“Mas! Nanti ada yang lihat.”


“Jangan menghindar lagi. Aku membutuhkanmu,” ucap Abimanyu dengan suara serak, khas orang bangun tidur.


Infiera terdiam saat mendengar hal itu. Dia menatap wajah tampan yang ada di hadapannya. Apa yang baru saja Abimanyu katakan? Apa maksudnya dia membutuhkannya?


“A-apa maksudnya?”


“Aku membutuhkanmu. Aku membutuhkan keberadaanmu. Tolong jangan menghindariku. Maafkan semua kebodohanku. Jadilah istriku sepenuhnya.”


Infiera tertegun, dia seperti merasakan seluruh pikirannya kosong. Apakah Abimanyu baru saja memintanya jadi istri sepenuhnya? Tidak seperti sebelumnya, yang meminta Infiera untuk jadi temannya.

__ADS_1


Sebelum dia bisa mencerna ucapan suaminya, Fiera terlebih dahulu merasakan sesuatu menempel di bibirnya. Dan embusan napas hangat menerpa wajahnya.


__ADS_2