Istri Dosen Galak

Istri Dosen Galak
Gara-gara Lingerie


__ADS_3

Infiera sama sekali tidak mengatakan apa-apa pada Abimanyu mengenai pesan yang dikirimkan oleh Almira. Dia hanya ingin tahu, apa yang hendak dikatakan oleh dosennya itu, sekaligus mantan kekasih dari suaminya.


Infiera dan Abimanyu cukup lama di kantor. Mereka sampai di rumah setelah makan malam. Abimanyu berkata pada istrinya, sebelum naik ke lantai dua. “Kamu tidur di kamar Mas malam ini.”


Abimanyu bahkan menahan tangan Infiera, saat wanita itu hendak melangkah menuju kamarnya, yang berada di samping ruang kerja.


“Iya, tapi semua pakaianku, kan, masih di sini. Harus dipindahkan dulu.”


“Ya sudah, Mas bantu pindahkan.”


“Yaiyalah harus bantu. Masa istrinya angkut barang ke lantai dua, suaminya cuman nonton,” gerutu Infiera dengan bibirnya manyun-manyun.


Abimanyu tertawa gemas melihat hal itu. Dia mencubit bibir istrinya karena tidak kuat menahan diri untuk melakukannya.


“Mas, sakit!”


“Siapa suruh menggemaskan?”


Fiera semakin cemberut dengan hal itu, membuat Abimanyu semakin gemas dan mengecup bibir itu. “Jangan manyun. Ayo, kita beresin dulu sebelum mandi.” Dia menggoda dengan menaik-turunkan alisnya.


Fiera mengangguk setuju dengan hal itu. Akan lebih baik mengerjakan semuanya terlebih dahulu. Keduanya masuk ke dalam kamar. Infiera melipat lengan baju yang dikenakannya. Sedangkan Abimanyu melepaskan kemejanya dan hanya mengenakan kaos dalam saja.


“Lebih baik, kamu beresin saja barang-barang yang kecil. Masukkan ke dalam kotak yang ada di atas lemari. Sisanya, biar Mas yang urus.”


“Aku bantu dulu kemas baju-bajunya saja dulu. Biar Mas bawa naik.”


“Engga. Mas yang akan rapihin ke dalam koper. Mas tahu, baju-baju kamu belum disetrika. Biasanya disetrika kalau mau dipake saja.”


Fiera nyengir dengan hal itu. baginya, menyetrika adalah pekerjaan yang paling membosankan dan melelahkan. Selain itu, menyetrika terlalu menyita waktu. Jadi, Infiera hanya menyetrika pakaian suaminya selama ini.


“Yang penting, kan, aku keluar rumah masih dengan pakaian yang rapi. Baju Mas juga rapi setiap kali mau dipakai kerja.”


“Iya, Mas juga engga permasalahkan itu.” Abimanyu terdiam. Dia terlihat sedikit berpikir. “Sepertinya, kita membutuhkan pembantu mulai sekarang. Kamu akan semakin sibuk dengan kuliah, sedangkan Mas juga mulai sibuk ngajar, ngurusin kantor, belum lagi kafe yang akan segera opening.”


Fiera mendengarkan. Abimanyu adalah kepala keluarga. Pria itu juga yang mengurus keuangan. Jadi, dirinya hanya akan terima jadi. Mungkin, akan memberikan pendapat jika memang harus.


“Sejauh ini aku masih belum merasa kewalahan mengurus rumah sendiri. Ya, Mas tahu kebiasaanku yang hanya nyetrika baju Mas dan menyetrika bajuku kalau mau dipake saja.” Fiera nyengir. “Aku juga terbiasa mengerjakannya sendiri. Rumahku di Bandung mana ada pembantu.”


“Baiklah. Itu akan kita bicarakan nanti. Sekarang mulailah berkemas.”


Infiera memilih untuk menurunkan dua kota besar dari atas lemari dan juga koper miliknya. Sesuai kesepakatan, kalau mereka akan berbagi tugas malam ini, dalam rangka pindahan kamar.

__ADS_1


Fiera mengemas perlengkapan kerjanya. Beberapa buku dan juga laptopnya. Sedangkan Abimanyu mulai menata pakaian istrinya ke dalam koper.


Saat sedang fokus memasukkan pakaian istrinya ke dalam koper. Perhatian Abimanyu teralihkan saat dia melihat sesuatu berwarna merah. Keningnya berkerut cukup dalam. Pria itu segera mengambilnya dan mengangkatnya setinggi wajahnya.


“Sayang, ini apa?” tanya Abimanyu. Entah dirinya tidak tahu atau hanya pura-pura tidak tahu. Dia menjulurkannya ke arah depan, supaya Infiera melihat apa yang dimaksud olehnya.


Infiera yang sedang menata beberapa darft miliknya menoleh untuk melihat. Matanya langsung melotot begitu menyadari apa yang sedang Abimanyu pegang saat ini.


“Mas!”


Infiera yang sedang berjongkok langsung berdiri dan melangkah cepat menghampiri, untuk merebut apa yang digenggam suaminya saat ini, tapi Abimanyu lebih cepat menyembunyikannya di belakang tubuhnya. “Mas, kembalikan!”


“Memangnya ini apa?” tanya Abimanyu. Sepertinya dia memang hanya menggoda istrinya. Terlihat dari senyum jail di wajahnya. Bagaimana dia lupa dengan hal itu. Lingerie yang dibelikan oleh ibunya sendiri dan membuat Abimanyu semalaman tidak bisa tidur—membayangkan jika wanita yang sudah sah menjadi istrinya mengenakan hal itu.


Memikirkannya saja, sudah membuat tubuhnya bereaksi hebat.


“Mas, masa kaya begitu aja ditanyain, sih.”


“Haha ... memang apa itu?”


“ISh! Itu yang dibelikan ibu saat kita belanja.”


“Kenapa kamu engga pernah pakai?”


Abimanyu menaikkan alisnya. “Jadi, kamu pernah pakai?”


“Mas, lebih baik cepat masukkan. Biar selesai cepat. Gerah ini.”


Wajah Fiera bahkan terlihat memerah. Entah hanya karena kegerahan atau karena apa yang dipegang oleh Abimanyu.


“Ah, bagaimana ini?”


“Kenapa?” tanya Fiera, melihat Abimanyu tiba-tiba bertanya dengan ekspresi wajah datar.


“Sepertinya Mas engga bisa lanjutin kemas bajunya.”


“Ya sudah, biar aku saja. Mas nanti yang angkut ke atas.”


“Bukan itu yang Mas maksud.”


“Terus?”

__ADS_1


“Maksudnya ini.” Abimanyu melangkah dan menggendong tubuh istrinya dan membawanya menuju ke tempat tidur.


“Mas, apa yang kamu lakuin.”


Fiera masih berusaha untuk bangun dari tidurnya. Dia tahu apa yang akan dilakukan suaminya, tapi mereka harus menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu. Kalau tidak, entah kapan akan berakhir.


“Sebentar saja, Sayang.”


“Nolak boleh, ga, sih?”


“Kenapa ditolak, Sayang? Enak ini. Dapat pahala lagi.”


Tidak membiarkan istrinya kembali berbicara. Abimanyu segera membungkam mulut sang istri dengan kecupan lembut di bibirnya. Kalau sudah seperti ini, Infiera tidak dapat meloloskan diri, selain menuruti keinginan suaminya.


***


Ternyata, Almira mengajak Infiera untuk bertemu di sebuah kafe yang tidak terlalu jauh dari kampus mereka. Pagi-pagi Infiera kembali mendapatkan pesan dari mantan kekasih suaminya yang mengirimkan alamat pertemuan mereka. Awalnya, dia ingin menolak karena niatnya hari ini dia akan melanjutkan pekerjaan semalam yang tertunda.


Namun, beruntungnya Abimanyu pagi-pagi sekali harus segera pergi karena ada rapat yang harus dihadirinya hari ini. Fiera memanfaatkan itu untuk bertemu dengan Almira tanpa diketahui oleh Abimanyu.


Begitu sampai di kafe tersebut. Infiera melihat keberadaan Almira yang sudah lebih dulu sampai. Di depannya terdapat satu cangkir kopi yang tinggal setengah.


“Maaf, saya terlambat,” ucap Fiera. Tidak seperti biasanya. Kali ini, tidak ada senyum di wajah yang dia tunjukkan pada dosennya.


“Tidak apa-apa. Saya yang sengaja datang lebih dulu.”


Fiera tersenyum hambar mendengar hal itu. “Sepertinya memang sangat penting, ya, apa yang ingin Ibu bicarakan dengan saya?”


“Kamu silakan duduk. Mau pesan kopi?”


“Ah, tidak perlu, Bu. Saya hanya sebentar. Masih ada beberapa urusan yang harus diselesaikan.”


Fiera duduk di hadapan Almira, dia menyandarkan punggungnya di kursi dan melipat kedua tangannya. Menunjukkan, kalau dirinya sama sekali tidak akan terintimidasi dengan apa pun yang akan disampaikan wanita di hadapannya. Bisa dibilang, Almira adalah rivalnya?


Sebelum menyampaikan apa yang ingin dikatakannya. Almira mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.


Infiera menyipitkan matanya saat melihat sebuah kotak beludru kecil berwarna merah di hadapannya.


“Ini adalah cincin yang diberikan Abimanyu untuk melamarku.”


 

__ADS_1


 


__ADS_2