Istri Dosen Galak

Istri Dosen Galak
Kekecewaan


__ADS_3

Almira hanya terdiam, menatap Abimanyu di hadapannya. Bukan karena terkejut kalau istri Abimanyu adalah mahasiswanya, tapi dia terkejut kalau Abimanyu memperkenalkan langsung.


Meski selama ini dia sudah tahu hubungan mereka, karena ketidaksengajaan. Almira masih berpikir, kalau Abimanyu tidak pernah mencintai istrinya.


Itu sebabnya, mantan kekasihnya itu menyembunyikan status hubungannya dengan Infiera dan dia benar-benar menikmati gosip liar yang beredar kalau dirinya adalah kekasih Abimanyu


Ada secercah harapan sebelumnya bagi Almira, kalau Abimanyu akan kembali padanya. Namun, sekarang pria itu terang-terangan memperkenalkan Infiera, yang notabene adalah mahasiswanya sebagai istri.


"Oh ... jadi, dia istri kamu?"


"Benar." Abimanyu merangkul bahu istrinya. "Kamu tahukan, kalau saya menikah satu tahun lalu?"


Infiera menoleh pada Abimanyu, dia terkejut dengan pernyataan itu. Jadi, Almira tahu kalau mereka sudah menikah?


Dia menatap dosen di depannya. Tapi kenapa wanita itu bersikap seolah dia masih kekasih Abimanyu?


Infiera ingat saat Almira mengatakan kalau hubungan yang didasari perjodohan tidak akan berjalan dengan baik. Sebenarnya, dia sudah tahu, kan, kalau dirinya adalah istri Abimanyu?


"Selamat, ya, kalau begitu."


Almira berubah sendu. Wajahnya terlihat merona menahan tangis. Fiera sedikit tidak tega, tapi mau bagaimana lagi.


"Mas, ayo," ajak Infiera pada suaminya.


"Al, kami duluan, ya," pamit Abimanyu, lalu mengajak istrinya untuk menuju ke mobil yang dia parkir tidak jauh dari sana.


Almira masih mematung di tempatnya. Tanpa bisa dicegah, air mata menetes di pipinya yang mulai memerah. Dengan gerakan cepat, Almira menghapus air matanya, dia menghela napas panjang.


"Kenapa kamu jahat banget, Bi? Bukannya kamu janji bakal lindungin aku? Hanya kamu yang aku miliki sekarang, Bi," lirih Almira. Dia mengambil kaca mata hitam dari tasnya dan segera mengenakannya saat taksi yang dipesannya sampai di hadapannya.


Di dalam mobil yang melaju ke sebuah restoran. Infiera hanya diam saja. Dia memikirkan Almira yang hanya diam saja saat dia sudah mengetahui kalau Abimanyu sudah menikah dan dirinyalah istrinya sah pria itu.


"Kita mau makan di mana?" tanya Abimanyu memecah keheningan. "Mau makan di mal aja? Biar sekalian kita belanja buat kebutuhan dapur?" tanya Abimanyu, lalu mengusulkan.


Tidak ada sahutan dari arah sampingnya, membuat Abimanyu menoleh. Infiera sedang melamun.


"Sayang!" panggilnya, menepuk pundak wanita itu hingga Infiera menoleh.


"Eh, ya, Mas?"


"Kamu sedang mikirin apa?"


"Mas tadi bicara apa?" Fiera mengabaikan pertanyaan suaminya. Tidak mungkin dia mengatakan kalau dirinya memikirkan Almira.


"Katakan, kamu mikirin apa?"


Kalah, Fiera tidak bisa menyembunyikannya dari Abimanyu.


"Aku mikirin Bu Almira. Dia keliatannya kecewa saat Mas memperkenalkan aku sebagai istri." Abimanyu diam sejenak sebelum menjawab.


"Itu bukan urusan kita. Bagaimana perasaannya adalah tanggung jawabnya sendiri."


"Tapi, bagaimanapun, kamu adalah kekasihnya yang aku rebut. Mas lupa kalau kita menikah karena dijodohkan."


Abimanyu tersenyum hambar mendengar hal itu.


"Tidak ada yang merebut dan direbut asal kamu tau."

__ADS_1


"Maksudnya? Bukankah Mas itu..."


"Ya, betul. Mas emang pacaran sama Almira, tapi ... sejak awal dia tidak menginginkan pernikahan. Ah, entahlah apa sebutannya. Hanya saja, dia selalu mengatakan pada Mas ingin meraih cita-citanya terlebih dahulu."


Abimanyu menatap ke arah depan, terdengar helaan napas pelan dari pria itu.


"Ya, semua orang punya prinsip sendiri dalam hidupnya. Mas tidak bisa memaksanya, begitu juga Mas yang punya pilihan sendiri dalam hidup."


"Mas terpaksa nikah sama aku?" tanya Fiera tiba-tiba.


Abimanyu menoleh sekilas dan tersenyum.


"Coba tanyakan pertanyaan itu pada dirimu sendiri. Apa saat itu kamu terpaksa?"


"Emm ... ya, tentu saja. Semuanya berjalan begitu cepat. Aku aja antara yakin dan ga yakin saat itu. Tapi, aku engga punya pilihan."


"Ya, kalau begitu Mas juga sama. Hanya saja, bukan karena Almira."


Infiera mengerutkan keningnya. "Bukannya Mas—"


"Sudah Mas bilang, engga ada yang dikhianati dalam pernikahan kita. Satu-satunya yang Mas sakiti adalah kamu," ucap Abimanyu dengan suara rendah di ujung kalimatnya. “Maaf, kalau Mas sudah mengabaikanmu selama ini."


"Jadi, maksudnya sebelum kita menikah Mas udah putus sama Bu Almira?"


"Bisa dibilang begitu. Awalnya Mas hanya ingin membuat dia sadar, kalau dalam hubungan ada keputusan berdua yang harus saling dipertimbangkan. Namun, nyatanya dia masih memilih karirnya, entah apa yang berusaha dia kejar saat itu."


"Jadi itu sebabnya kenapa Mas bilang kalau kekecewaannya bukan tanggung jawab kita?"


Abimanyu mengangguk pasti di belakang kemudinya.


"Kalau kekecewaanku gimana?" Infiera bertanya, ekspresi wajahnya terlihat tidak sabar menunggu jawaban suaminya.


"Ish! Apa hubungannya."


"Soalnya, wanita kalau kecewa itu diam seribu bahasa."


"Siapa ya, yang kaya gitu?"


Infiera membenahi posisi duduknya, melipat kedua tangannya di dada, dan menatap ke arah depan.


Abimanyu terkekeh karena sadar kalau istrinya sedang menyindir.


"Mas kemarin diam karena cemburu," kata Abimanyu berkata jujur.


Fiera memalingkan wajah, menahan senyum saat mendengar hal itu.


Perasaan bersalah yang sempat menggelayut di hatinya kini benar-benar sirna. Fiera hanya merasakan kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan lagi.


***


Infiera dan juga Abimanyu akhirnya memutuskan untuk makan siang tidak jauh dari kantor milik Abimanyu. Pria itu sengaja melakukannya karena ingin mengajak Infiera ke kantornya.


Begitu mobil terparkir di parkiran kantor. Infiera baru bertanya, "Loh, Mas, kok kita ke sini?" tanya Fiera. Dia masih mengingat tempat itu sepertinya.


"Iya, Mas ingin ajak kamu melihat pekerjaan Mas lainnya."


"Pekerjaan?" Fiera mengulang ucapannya.

__ADS_1


Abimanyu mengangguk, seraya turun dari mobil, diikuti istrinya.


"Jadi, Mas juga kerja di sini? Bukannya Mas bilang ini milik teman?"


"Kapan Mas bilang gitu?"


"Waktu nyuruh kami datang ke perpustakaan kantor ini."


"Engga, Mas hanya bilang kalau kalian bisa datang dan menemui Joko."


"Lalu?"


"Ini kantor yang Mas bangun dari lama. Ini adalah impian Mas. Itu sebabnya, Mas ingin menunjukkannya sama kamu."


"Wah, ini kantor milik Mas?"


Sambil melangkah masuk ke dalam kantor yang memiliki tiga lantai, Abimanyu mengangguk membenarkan.


"Tunggu." Infiera menghentikan langkahnya dan menarik lengan baju Abimanyu. "Katakan, posisi Mas di perusahaan ini apa?"


Abimanyu meringis, dia tahu alasan kenapa istrinya bertanya seperti itu.


"Tentu saja Mas founder di sini."


"Bohong!"


Abimanyu tertawa melihat istrinya yang manyun. "Iya, Mas di sini sebagai kepala editor."


"Mas tau? Kalau naskahku ditolak di perusahaan ini. Jahat kamu Mas!"


Fiera membelakangi Abimanyu dengan melipat kedua tangannya di dada. Dia sedikit kesal, bukan karena penolakannya, tapi karena Joko mengatakan kalau kepala editor meminta merombak habis naskahnya. Dia tidak suka dengan akhir yang bahagia. Emangnya kenapa kalau akhir yang bahagia?


"Mas, kan, saat itu engga tau kalau itu naskah kamu."


Fiera masih diam membelakangi Abimanyu.


"Kamu juga engga bilang kalau kamu ini penulis sama Mas."


Kini giliran Infiera yang meringis mendengar hal itu. Dia memang sengaja melakukannya. Apa lagi, hubungan mereka juga terbilang tidak baik pada awalnya.


"Maaf, Mas, aku engga sengaja waktu itu karena memang hubungan kita engga sebaik ini dulu."


Abimanyu baru menyadari sesuatu, kalau Infiera, istrinya adalah orang yang mudah meminta maaf saat merasa dirinya salah.


Abimanyu tersenyum, lalu memeluk wanita itu. "Tidak perlu meminta maaf. Kamu tidak salah. Kita hanya berada di situasi yang rumit saat itu."


Mereka tidak menyadari di mana keduanya berada. Abimanyu dan Infiera berpelukan di dekat tangga menuju lantai dua.


"Ayolah, di bumi ini penghuninya ada miliaran manusia. Bukan hanya kalian berdua."


Tiba-tiba sebuah suara mengagetkan keduanya. Fiera melepaskan pelukan dari suaminya terlebih dahulu dab melihat siapa yang baru saja bicara.


Gerald dan seorang pria yang tidak dikenalnya.


Abimanyu berdecak. "Kenapa sih lo ganggu mulu?"


"Hei, gue udah bilang, ya, kalau mau ngajak dia ke kantor lo sore ini." Gerald kesal pada Abimanyu. Pria di sampingnya adalah Andreas, orang yang ingin bekerja sama dengan Abimanyu. "Lo aja yang berasa dunia milik berdua, bermesraan di bawah tangga."

__ADS_1


"Lo, tinggal booking kavling aja di Mars masih kosong noh."


 


__ADS_2