
“Hei, lepaskan tanganmu darinya!”
Suara dengan nada tinggi langsung mengalihkan perhatian tiga orang yang masih berdebat mengenai ke mobil mana Infiera akan ikut. Semuanya menoleh ke arah belakang dan melihat seorang pria, yang mengenakan coat berwarna coklat dan juga celana jeans berjalan cepat ke arah mereka.
Fiera terkejut melihat pria itu, yang tak lain adalah suaminya. Begitu juga dengan Adi, yang tidak menyangka kalau dosennya akan datang ke Malang.
“Pak,” sapa Adi, tapi suami Infiera itu sama sekali tidak menggubrisnya. Abimanyu melangkah ke hadapan istrinya, di mana sekarang tangannya digenggam oleh pria lain.
“Apa yang kau lakukan? Kubilang lepaskan tangannya! Apa kau berniat untuk berbuat asusila padanya? Tidak tahu malu!”
“Ma—, Pak, apa yang Anda katakan?” tanya Infiera panik dengan perkataan Abimanyu.
Abimanyu tetap mengabaikan istrinya dan menatap Rendi dengan tatapan tajam. “Apakah kau mau kulaporkan pada polisi, hah? Beraninya kau menggunakan acara ini untuk berbuat tidak senonoh!”
“Hei, jaga tutur katamu!” Rendi mulai terlihat kesal dengan tuduhan Abimanyu, yang tidak berdasar, apa lagi dia tidak mengenal pria itu. “Siapa kau seenaknya menuduh orang lain?”
“Menuduh kau bilang?” Abimanyu mendengkus kesal, lalu melirik tangan istrinya yang masih saja digenggam oleh Rendi. “Lihatlah apa yang kau lakukan?” Abimanyu menunjuk tangan mereka berdua. “Kau jelas-jelas memaksanya untuk masuk ke mobilmu, apa kau sungguh tidak tahu malu?”
Fiera tersadar kalau tangannya masih berada dalam genggaman Rendi dan segera menariknya hingga terlepas. “Pak, Anda salah paham.” Fiera berbicara untuk menghentikan tuduhan Abimanyu.
“Apanya yang salah paham?” tanyanya dengan nada bicara sedikit meninggi. “Kau juga. Kenapa kau hanya diam saja saat dia menarik-narik tanganmu. Apakah kau begitu polos? Dia bisa saja berniat mencelakaimu!”
“Hei, Tuan, sebenarnya Anda siapa? Datang-datang menuduh saya yang tidak-tidak dan membuat keributan di sini. Apa Anda tidak malu, menjadi tontonan banyak orang?”
“Malu? Harusnya kau yang malu karena—“
“Pak!”
Adi melerai perdebatan di depannya itu, sebelum merambat pada yang lain, karena rekan-rekannya yang lain, yang sudah naik bus kini malah kembali turun saat melihat keributan itu.
Abi berdiri di hadapan Abimanyu dan menghalangi pandangannya pada Rendi. “Bapak salah paham dengan yang terjadi di sini.”
“Apanya yang salah paham? Jelas-jelas saya melihat dia menarik tangan Infiera untuk ikut dengannya.” Abimanyu menunjuk Rendi yang kini berada di belakang Adi.
“Makanya, bapak dengarkan dulu penjelasan saya.”
__ADS_1
Abimanyu terdiam dengan menahan geram. Melihat Infiera ditarik tangannya oleh pria asing membuatnya tidak terima dan langsung melabrak pria itu.
“Sebenarnya, kami baru saja akan berpindah ke lokasi yang lain. Kebetulan, mini bus yang tersedia sudah penuh dan juga Fiera tidak mungkin naik mobil bak bersama dengan kami—beberapa pria lainnya. Soalnya, di bagian belakang sudah penuh juga dengan barang.” Adi menunjuk mobil yang dimaksud, diikuti Abimanyu yang melihatnya sekilas.
“Awalnya Fiera mau ikut naik mobil itu, tapi tentu saja terlalu membahayakan jika kami dempet-dempetan di mobil terbuka kaya gitu. Makanya, Pak Rendi mengusulkan untuk Fiera ikut dengan beliau. Mengenai menariknya, itu karena Fiera sebelumnya sedikit menolak. Terus, bapak keburu datang... .”
Abimanyu terdiam dengan penjelasan Adi, lalu dia menoleh pada istrinya yang kini sudah tertunduk malu dengan wajah memerah. Tentu saja, apa yang dilakukan Abimanyu pasti menimbulkan banyak pertanyaan di benak mereka yang melihat keributan itu.
Abimanyu tersadar kalau dirinya sudah bersikap impulsif tanpa memikirkan kejadian sebelumnya. Dia hanya terlalu kesal melihat sang istri yang digandeng oleh pria itu.
“Apakah benar seperti itu??” tanya Abimanyu pada Infiera dengan suara pelan.
Fiera mengangguk tanpa mengangkat wajahnya untuk melihat ke arah Abimanyu. Dia terlalu malu pada Rendi yang sudah dituduh macam-macam. Fiera juga sangat malu pada rekannya yang lain, yang sudah pasti melihat pertunjukkan yang dibuat oleh Abimanyu.
Abimanyu menghela napas berat penuh penyesalan. “Maaf,” ucap Abimanyu lirih.
Permintaan Abimanyu itu berhasil membuat Fiera mengangkat wajahnya untuk menatap sang suami.
Abimanyu terkesiap dengan tatapan istrinya, Fiera menatapnya dengan lumuran kecewa di matanya. “Bapak seharusnya meminta maaf pada Pak Rendi,” katanya dengan suara pelan.
Adi bergeser supaya Abimanyu bisa berbicara dengan leluasa pada Rendi. “Saya minta maaf.”
“Tunggu, sebenarnya Anda siapa?” tanya Rendi dengan nada bicara yang cukup ketus.
“Saya....”
“Beliau adalah dosen kami, Pak,” jawab Adi menjelaskan terlebih dahulu.
“Ah, begitu, ya?” Rendi berdiri menghadap Abimanyu dengan sempurna. Dia melipat kedua tangannya di dada sebelum meneruskan ucapannya, “Apa seperti ini sikap Anda sebagai dosen? Menuduh seenaknya tanpa berpikir terlebih dahulu.”
Abimanyu mengepalkan tangannya kuat mendengar ucapan jujur dari Rendi, tapi dia tidak bisa membantah karena yang dikatakannya benar. Apa lagi, saat sudut matanya melihat Fiera yang kembali menunduk lebih dalam karena malu dengan ucapan pria di hadapannya.
“Hati-hati, Pak, karena tindakan Anda yang seperti itu sangat merugikan orang lain. Bagaimana jika mereka berpikir buruk tentang saya? Parahnya, mereka memandang buruk pada Infiera? Padahal, dia tidak melakukan apa-apa. Ya, mungkin tindakan saya juga gegabah, tapi apa yang saya lakukan masih dalam batas wajar. Saya sadar, di mana tempat saya berada saat ini, tidak seperti seseorang,” sindir Rendi dengan sangat jelas.
Abimanyu menatap lekat ke arah Infiera. Dia benar-benar merasa bersalah sekarang, karena tidak berpikir panjang.
__ADS_1
“Saya sungguh minta maaf. Saya ... saya hanya berusaha melindunginya saja.”
Terdengar helaan napas Rendi sebelum kembali berbicara. “Lain kali, saya harap Anda bisa hati-hati sebelum menuduh orang lain.”
“Tentu, sekali lagi saya minta maaf.”
Rendi tidak menjawab apa-apa. Dia melirik Fiera yang masih tertunduk. “Infiera. Ayo, kita harus segera bergegas.”
“Fiera bisa ikut ke mobil saya kalau memang busnya penuh.” Abimanyu menunjuk mobil sewaan yang dikendarainya ke tempat itu. “Ayo, Fier,” ajak Abimanyu.
“Maaf, Pak, saya ikut Pak Rendi saja. Permisi.” Tanpa menatap Abimanyu kembali, Fiera melangkah menuju mobil sang donatur.
Abimanyu tertegun dengan penolakan istrinya. Dia menatap wanita itu hingga masuk ke dalam mobil.
Rendi juga tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia hanya mengangguk kecil, lalu berbalik, memberikan instruksi pada yang lain untuk masuk ke dalam bus.
Adi yang masih berdiri di samping Abimanyu merasa sedikit serba salah karena Fiera, juniornya itu menolak ajakan Abimanyu begitu saja. “Pak,” panggil Adi dengan suara pelan. “Mungkin, Fiera masih sedikit syok dengan apa yang terjadi.”
“Saya mengerti. Itu juga kesalahan saya.”
“Bagaimana kalau saya yang ikut bapak saja?”
Abimanyu mengangguk. “Baiklah, ayo. Kita akan ke mana?”
“Kita ke daerah Batu, Pak.”
Abimanyu mengeluarkan kunci mobil, lalu membuka pintunya.
Adi berjalan menuju kursi penumpang di samping pengemudi, seraya mengetik sebuah pesan kepada seseorang.
[Sampai di Jakarta. Bapak harus menjelaskan semuanya pada saya. Sebenarnya, apa yang terjadi? Kenapa Pak Abi menyusul ke sini? Beliau hampir adu jotos dengan donatur utama kami.]
Adi mengirimkan pesan itu. Tidak lama, dia mendapatkan balasannya. [Haha ... kamu tangani saja. Dia akan semakin menggila jika tidak menyusul ke sana.]
Setelah membaca balasan pesannya, Adi malah semakin bingung. Memang kenapa Abimanyu lebih menggila kalau tidak menyusul ke Malang? Apa sebenarnya, beliau dari awal yang ingin jadi perwakilan? Benak Adi bertanya-tanya dengan jawaban dosennya, Gerald.
__ADS_1
...Tap Like-nya! Ada yang mau tambahan bab hari ini? Ayo komen! Happy Reading. ...