Istri Dosen Galak

Istri Dosen Galak
Saatnya Pergi


__ADS_3

Setelah mendengar semua provokasi yang dikatakan oleh Gerald. Abimanyu memutuskan untuk bergegas pulang ke rumahnya. Dia ingin menanyakan kebenarannya pada Infiera. Kenapa wanita itu tidak mengatakan apa-apa mengenai keberangkatannya menuju ke kota Malang besok.


Namun, saat hendak pergi, tiba-tiba Gerald menahannya dan mengatakan kalau akan ada rapat dosen, lalu setelahnya mereka harus memeriksa beberapa masalah pada renovasi kafe.


Akhirnya, Abimanyu baru bisa kembali ke rumah saat sudah malam. Sekitar pukul 9 malam, mobil yang dikendarai oleh Abimanyu berhenti di halaman rumahnya. Dia berjalan masuk dengan terburu-buru.


“Fiera,” panggil Abimanyu. Biasanya, jam segitu Infiera berada di ruang kerjanya untuk belajar, tapi dugaannya salah. Infiera tidak ada di sana.


Abimanyu kembali melangkah menuju kamar gadis itu yang ada di sebelah ruang kerjanya di dekat tangga. “Fiera,” panggilnya lagi, seraya mengetuk pintu.


“Sebentar.” Terdengar suara gadis itu dari dalam kamarnya, beberapa detik kemudian pintu terbuka dari dalam, menampakkan wajah Fiera yang kelelahan, rambutnya yang diikat bun, terlihat jelas titik-titik keringat di dahinya. “Ada apa Mas?” tanya Infiera melihat suaminya yang berdiri di depan kamarnya. “Apa butuh sesuatu?”


Tidak biasanya Abimanyu mencarinya saat pria pulang.


“Apa yang sedang kamu lakukan?” tanya Abimanyu, matanya berusaha melihat ke dalam kamar. Dari tempatnya berdiri, Abimanyu dapat melihat sedikit, kalau Infiera sedang berkemas. “Mas dengar, kamu akan pergi ke Malang?”


“Emm ... iya.”


“Tapi kenapa?”


“Kenapa?” Fiera mengulang pertanyaan Abimanyu.


“Ah, maksudnya, kenapa kamu engga bilang sama Mas kalau kamu mau berpartisipasi pergi ke Malang? Bukannya setelah ujian, kamu berencana pulang ke Bandung? Kamu tidak lupa, kan, kalau ibu juga nyuruh kita pulang ke Palembang untuk pernikahan sepupu mas?”


Fiera terdiam untuk beberapa saat dan hanya menatap Abimanyu.


“Mas, kan, sudah bilang kalau kita pergi ke Bandung sama-sama. Sungkan sama bapak sama mamah kalau kamu pulang setelah satu tahun, tapi mas engga nemenin.”


Memang rencananya seperti itu, tapi sekarang Fiera sedang mengalami perasaan yang rumit. Dia masih tidak tahu bagaimana perasaan Abimanyu sebenarnya. Kadang dia baik padanya, seolah pria itu benar-benar menganggap Infiera sebagai istrinya. Tetapi, terkadang perasaan itu berubah ketika dia melihat pria itu bersama dengan mantan pacarnya, tertawa lepas seperti bukan Abimanyu yang dirinya kenal selama ini.


“Ya, awalnya aku memang berniat pulang ke Bandung, tapi setelah mengetahui rencana kampus yang mendapatkan undangan itu. Aku menelepon bapak dan menjelaskannya. Ternyata, bapak juga setuju dengan hal itu. Katanya, bisa membuatku belajar bagaimana caranya menghargai orang tua.”


“Iya, tapi, kan, seharusnya kamu meminta per—“


Abimanyu menghentikan ucapannya sedikit ragu untuk memberi tahu istrinya jika yang harus dimintai persetujuan adalah dirinya, tapi apakah dirinya sudah benar-benar menjalankan perannya sebagai suami? Lantas apa haknya untuk menuntut.


“Meminta apa?”


“Ah, tidak. Kalian di sana sekitar tiga hari, kan? Mas akan menjemput kamu di bandara. Kita bisa langsung berangkat ke Bandung, bagaimana?”


“Tapi kami pulang dari Malang naik kereta.”


“Naik kereta?” Abimanyu terkejut. Membutuhkan waktu seharian di dalam perjalanan jika mereka pulang menggunakan kereta. Itu artinya, Infiera akan duduk bersebelahan dengan mahasiswa bernama Adi dalam waktu yang lama.


Bagaimana kalau istrinya tertidur dan merebahkan kepalanya di bahu Adi? Bagaimana kalau...


Pikiran buruk mulai menghantui Abimanyu. “Tidak. Kamu harus pulang menggunakan pesawat supaya perjalanannya lebih singkat.”


“Mana bisa, Mas? Untuk akomodasi keberangkatan kita memang ditanggung Pak Ge, tapi saat pulang kita difasilitasi oleh kampus. Kampus hanya memberi kami tiket kereta.”


“Kalau begitu mas yang belikan tiketnya.”


“Lalu bagaimana dengan Kak Adi? Aku, kan, berdua berangkat ke Malang.”


Abimanyu semakin terkejut dengan hal itu.

__ADS_1


“Be-berdua? Kalian berangkat hanya berdua?”


“Iya.” Fiera mengerutkan keningnya bingung dengan reaksi suaminya.


Abimanyu mengibaskan tangannya menolak. “Tidak. Kalian tidak bisa berangkat berdua saja.”


“Loh? Mas ini bagaimana? Lalu kami harus berangkat berapa orang? Lagian memang undangannya untuk dua orang, kok. Nanti di Malang kami bergabung dengan relawan lainnya.”


“Tetap saja. Bagaimana kalau Adi macam-macam sama kamu?”


Infiera yang sejak tadi bersikap biasa saja langsung melipat tangannya di dada.


“Mas ini, memang apa yang bisa dilakuin Kak Adi sama aku? Kita berangkat memang berdua, tapi begitu sampai Malang kami bergabung dengan yang lainnya. Apanya yang macam-macam?”


Fiera tidak terima dengan larangan Abimanyu itu. Dia sudah menyiapkan semuanya. Tidak mungkin untuk membatalkannya juga. Tidak mudah mencari pengganti dirinya untuk berangkat ke Malang karena semua jadwal sudah diatur dengan baik.


“Bisa saja. Mas ini pria, tentu saja tahu banget apa yang diinginkannya kepadamu.”


“Memang apa yang diinginkan Kak Adi dariku?” tanya Fiera.


“Eh, itu... .” Abimanyu gelagapan dengan hal itu. Tidak mungkin dirinya mengatakan kalau Adi menginginkan Infiera dan dirinya tidak rela itu. “Ya, kan, nanti—“


“Sudahlah, Mas, aku sudah gede sekarang. Aku ke sana dengan niat yang tulus untuk membantu para orang tua yang malang di sana. Mas jangan khawatir. Doain saja aku selamat pergi dan pulang kembali nanti.”


Abimanyu terdiam. Dia masih enggan untuk menyetujui hal itu. Dia masih merasakan ancaman dari mahasiswanya yang akan berangkat menuju Malang bersama dengan istrinya.


“Baiklah, tapi kamu harus ingat kalau ada apa-apa segera hubungi, ya? Mas akan langsung akan menyusul. Tidak peduli jika itu mahasiswa mas. Dia tidak akan selamat jika berani berbuat macam-macam.”


“Iya, iya, aku mengerti. Ya sudah, aku lanjutkan berkemas dulu, ya.”


“Fier, jangan dekat-dekat dengan A—“ Abimanyu tidak dapat meneruskan ucapannya saat pintu kamar tiba-tiba ditutup oleh istrinya begitu saja. Dia mematung di depan pintu yang sudah tertutup rapat.


***


Keesokan harinya, Fiera berangkat dengan terburu-buru karena dia harus pergi ke kampus terlebih dahulu. Fiera bahkan tidak menunggu Abimanyu turun dari kamarnya. Gerald sudah mengirimkan pesan padanya kalau pria itu akan mengantarkan Adi dan dirinya ke bandara.


Saat Abimanyu terbangun. Dia terkejut karena ternyata Infiera sudah pergi. Abimanyu buru-buru bersiap untuk menyusul ke bandara. Dia harus memastikan sendiri kalau Adi tidak berbuat macam-macam, tidak peduli jika dirinya harus berkata yang sebenarnya, kalau Infiera adalah istrinya.


Abimanyu segera bergegas menuju bandara Soekarno-Hatta untuk mengantarkan kepergian istrinya. Abimanyu tidak mengetahui jam keberangkatannya pukul berapa. Semalam dirinya lupa untuk menanyakan hal itu karena terlalu sibuk mendebatkan hal yang lain.


Begitu sampai di bandara. Abimanyu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sekarang, dirinya malah bingung, istrinya berangkat dari terminal mana? ‘


Abimanyu mencoba menghubungi Infiera, tapi nomornya sudah tidak aktif. “Jangan-jangan, dia sudah berangkat?” gumam Abimanyu dia hanya berdiri seperti orang bodoh, berlari tunggang langgang, tapi tidak punya tujuan yang jelas.


“Sial, bodohnya gue.... Seharusnya, semalam gue bilang sama dia biar gue yang antar.” Akhirnya, Abimanyu hanya bisa mengutuk dirinya sendiri. “Awas saja si Adi macam-macam. Gue tahan nilainya!” gerutu Abimanyu, melangkah kembali menuju parkiran, karena tidak mungkin dia berlarian dari terminal satu menuju ke terminal tiga hanya untuk memastikan istrinya.


Pesan berderet Abimanyu kirimkan pada nomor istrinya yang hanya centang satu. Pesannya kurang lebih.


Kalau si Adi nanti ngajak jalan berdua jangan mau.


Kalau nanti si Adi ngajak belanja jangan mau.


Nanti kalau kamu lapar, tinggal pesan makanan di hotel saja. Pakai kartu yang mas kasih. Sudah ditransfer juga uang tambahan selama kamu di sana.


Boleh dihabiskan buat belanja.

__ADS_1


Ingat, jangan ajak Adi, ya?


Fiera!


Nanti kalau sudah baca pesannya, jawab ‘iya’, ya?


Saat di tengah perjalanan menuju ke parkiran, Abimanyu tidak sengaja bertemu dengan seseorang yang sangat dikenalnya.


“Bi, kamu ngapain di sini?”


Abimanyu menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke belakang. “Al?”


“Kamu mau pergi?” Dia adalah Almira. Wanita itu terlihat mencari sesuatu, tapi tidak terlihat jika Abimanyu  hendak melakukan penerbangan.


“Tidak aku... ada urusan.”


“Ah, begitu.”


“Kamu sedang apa di sini?” tanya Abimanyu.


“Nganterin sepupuku. Dua hari yang lalu dia datang ke sini. Sekarang, dia kembali ke Palembang.”


Abimanyu hanya mengangguk sebagai tanggapan.


“Kamu mau langsung ke kampus?”


“Iya. Ada beberapa hal yang harus aku diskusikan sama Gerald.”


“Kebetulan. Aku juga mau langsung ke kampus. Aku nebeng, ya?”


Abimanyu mengangguk lagi. Tidak mungkin dirinya menolak. Apa lagi, mereka memiliki tujuan yang sama.


“Ayo,” ajak Abimanyu, melangkah kembali menuju ke parkiran.


Di sisi lain, Infiera dan juga Adi baru saja sampai di bandara dengan diantar oleh Gerald. Keduanya terlihat terburu-buru karena takut terlambat untuk melakukan check-in.


“Kamu, sih, Di, pake acara kebelet segala. Jadi, kita harus buru-buru gini,” tegur Gerald, mengiringi kedua mahasiswanya.


“Hehe ... ya maaf,  Pak.”


“Tunggu!” Gerald menghentikan langkahnya dan diikuti kedua mahasiswanya. “Ini ada sedikit untuk pegangan kalian, takutnya ada sesuatu yang mendesak yang harus kalian beli selama di sana. Gunakan dengan baik, ya.”


“Wah, kita dapat uang jajan, ini, Fier.” Adi terlihat berbinar. Sebenarnya, sebelum berangkat keduanya juga mendapatkan uang dari rektor.


Fiera hanya tersenyum melihat seniornya dan menggeleng. Namun, senyumnya lenyap saat matanya melihat dua orang yang tidak asing untuk dirinya. Keduanya berjalan beriringan dan sesekali tersenyum di sela pembicaraan mereka yang entah apa itu.


“Fier! Kenapa kamu hanya diam saja?” Adi menepuk pundaknya, menyadarkan wanita itu.


“Ah, tidak. Ayo, kita pergi. Sudah saatnya check-in.”


Adi mengangguk dan berpamitan pada Gerald sekali lagi. Fiera berjalan di samping seniornya dengan pikiran kosong untuk beberapa saat.


Mungkin memang ini keputusan terbaik untuk pergi.


 

__ADS_1


                                


...Sudah siap dengan konflik yang sesungguhnya? Jangan lupa tap like dan tinggalkan komen, ya. Tentu supaya semangat, jangan lupa vote juga, ga. heheh...


__ADS_2