
Abimanyu menggaruk belakang kepalanya, terlihat bingung dengan informasi yang diberikan oleh sahabatnya, Gerald, kalau penulis Pena Rindu itu adalah istrinya. Naskah yang pernah dirinya tolak karena alasan yang sangat tidak logis sepertinya.
Bahkan, Abimanyu sempat meminta revisi total, supaya sang penulis menyesuaikan seleranya. Siapa sangka kalau penulis itu adalah Infiera.
Bagaimana sekarang Abimanyu harus menghadapi Infiera?
“Ada apa?” tanya Gerald pada Abimanyu saat dia melihat bagaimana ekspresi terkejut, sekaligus bingung dari pria di hadapannya.
“Sampai segitunya lo terkejut? Keterlaluan, kau tidak tahu kalau istrimu seorang penulis.”
“Bukan hanya itu,” jawab Abimanyu, pandangannya masih mengarah pada ponsel di tangannya. “Gue bahkan pernah menolak naskah ini dan tidak memberikan kepastian selama hampir satu bulan.”
“Apa?” Gerald sekarang ikutan terkejut dengan perkataan Abimanyu, tapi hanya beberapa saat saja. Selebihnya dia malah menertawakan Abimanyu. “Haha ... Bi, Bi, lo bener-bener keterlaluan, ya. Selain lo engga tahu apa pekerjaan istri sendiri. Lo juga malah menolaknya mentah-mentah.”
Gerald terpingkal dengan hal itu. Dia sampai memegangi perutnya karena tertawa. Staff yang berada di sana sampai menggelengkan kepala karena Gerald, sambil melangkah pergi meninggal kedua atasannya.
“Diamlah!” seru Abimanyu dengan kesal karena Gerald terus menertawakannya.
Perlahan, Gerald menghentikan tawanya. Dia berdehem sebelum berbicara. “Bi.” Gerald menepuk tangan bagian atas Abimanyu. “Sejujurnya, gue engga tahu alasan kalian menyembunyikan pernikahan. Gue juga engga bakal bertanya karena itu privasi kalian. Hanya saja, gue ingin ngasih tahu lo sesuatu. Mulai sekarang, lo harus banyak berbicara dengan Infiera. Jangan sampai, karena kurang komunikasi seperti ini hubungan kalian yang menjadi taruhannya.”
Abimanyu hanya diam dan menatap Gerald.
“Lo bahkan engga tahu profesi istri lo sendiri apa.” Gerald kembali menepuk tangan Abimanyu dua kali sebagai bentuk rasa prihatinnya. “Komunikasi itu hal terpenting dalam sebuah hubungan.”
Mata Abimanyu menyipit, menatap Gerald. Dia terlihat seperti orang yang sedang merinding.
“Ada apa dengan lo?”
“Gue ngeri sama lo. Padahal, belum nikah.”
Gerald langsung memahami perkataan Abimanyu.
“Kurang ajar lo! Gini-gini gue cupid terbaik in the world.”
“Dih, siapa juga orang yang mau dijodohkan sama jomblo karatan kaya lo?”
Abimanyu berbalik dan melangkah menuju ke ruangan yang akan dijadikan kantor di kafe itu.
“Ck! Andai dia tahu kalau dia buka identitas pernikahannya karena gue!” gerutu Gerald, mengikuti Abimanyu yang sudah tidak terlihat di pandangannya.
Begitu masuk ke dalam ruangan itu, terlihat Abimanyu senyum-senyum menatap layar ponselnya. Dia menghampiri pria itu.
“Kenapa lo senyum-senyum? Kesambet?”
“Dih, Istri gue nyuruh jemput nanti siang.”
Sekali lagi Gerald berdecak kesal dengan nada bicara Abimanyu yang sedang memarkan kemesraannya dengan Infiera. Dia sengaja menekan kata istri untuk menyombongkan dirinya.
Gerald memilih untuk memberikan beberapa map yang berisi laporan dari stafnya untuk diperiksa. Sedangkan dirinya menerima telepon dari seseorang.
Abimanyu mulai terlihat fokus dengan laporan di hadapannya. Dia mengabaikan Gerald yang sedang berbicara dengan seseorang di dalam panggilannya. Cukup lama Gerald menelepon, dia menghampiri Abimanyu.
“Bi, ada yang ingin bicara sama lo.”
__ADS_1
Abimanyu mengerutkan keningnya. “Siapa?” tanya Abimanyu mengerutkan kening saat menatap Gerald.
“Ambillah!”
Abimanyu menerima ponsel itu dan melihat siapa yang menghubungi temannya. ‘Daddy’ tertulis nama itu di layarnya.
Meski tidak mengerti, kenapa ayah Gerald ingin berbicara dengannya. Abimanyu tetap berbicara.
“Halo, assalamualaikum?”
Abimanyu diam mendengarkan suara pria paruh baya di ujung panggilannya.
“Benar, Om, ini Abimanyu.”
“Abimanyu, Om hanya ingin minta tolong. Kamu akan pulang ke Palembang, kan?”
“I-iya, rencananya satu minggu lagi saya akan pulang. Ngomong-ngomong, bagaimana Om tahu kalau saya akan pulang?”
“Loh, tentu saja dari ayah kamu.”
“Om kenal ayah saya?”
Abimanyu masih terlihat bingung. Bagaimana ayah Gerald mengenal ayahnya, dia menoleh pada temannya yang sekarang terlihat sedang membuat kopi.
“Kamu ini bagaimana, sih? Tentu saja kenal. Dia, kan, teman SMA Om.”
“Tunggu, kalau boleh tahu. Nama Om ini siapa?”
“Duh, Abimanyu, kamu lupa sama Om? Om ini Anthony, teman ayahmu, sekaligus ayah dari Gerald.”
“Iya, siapa lagi? Memangnya Gerald punya ayah lain?”
Abimanyu terkejut dengan hal itu. Dia memang mengenal teman ayahnya itu, tapi dia tidak tahu kalau anak Anthony adalah Gerald. Mereka belum pernah dengan tidak sengaja bertemu. Abimanyu juga tidak pernah bertanya, meski dirinya juga mendengar jika anak dari teman ayahnya bekerja di kampus yang sama. Dia tidak mengetahui siapa orangnya.
Sedikit malu, Abimanyu meminta maaf karena ketidaktahuannya. Dia berbicara sebentar untuk membahas permintaan Anthony.
“Ya sudah, kalau begitu sampaikan salam Om pada orang tuamu. Selain itu, bicara pada Gerald supaya dia segera menikah. Padahal, berkali-kali Om bilang kalau kamu saja sudah menikah. Dia tetap saja bilang kalau dirinya engga sama dengan Abimanyu.”
“Baik Om.” Abimanyu menjawab ucapan ayah Gerald itu, tapi ekspresi wajahnya terlihat berpikir. Setelah menyelesaikan panggilannya, Abimanyu segera menghampiri Gerald.
“Ada apa?” tanya Gerald sembari menyeruput kopinya.
“Katakan, lo sudah tahu sejak awal, kan, kalau gue sudah nikah?” tanya Abimanyu, mengintrogasi.
Gerald meringis mendengar hal itu. Sejak ayahnya mengatakan ingin berbicara dengan Abimanyu. Dia sudah tahu kalau temannya, akhirnya akan tahu mengenai Gerald.
“Ah, kurang ajar!”
Abimanyu meletakkan ponsel di atas meja dan menghampiri Gerald yang langsung melangkah lebar keluar dari ruangan, saat dia melihat wajah Abimanyu yang menakutkan, seperti akan menelannya hidup-hidup.
***
Di kampus, Infiera bertemu dengan teman-temannya. Selain itu, dia juga memberikan laporan hasil kerjanya pada Adi, karena seniornya itu akan memberikannya pada dekan.
__ADS_1
Begitu semua urusannya di kampus selesai. Infiera bergegas untuk pulang. Abimanyu mengatakan kalau dia akan menjemputnya, dan mereka akan makan siang di luar hari ini.
Infiera menunggu tidak jauh dari pintu gerbang keluar kampus, sesuai yang diperintahkan Abimanyu. Saat sedang menunggu, tiba-tiba seseorang berdiri di sampingnya dan bertanya, “Kamu sedang menunggu angkot?” tanyanya.
Infiera menoleh saat mendengar suara yang tidak asing. “Eh, Bu,” sapanya. Orang itu adalah Almira, dosennya.
Fiera terlihat bingung untuk menjawab. “Sa-saya menunggu yang jemput.”
Sekarang, Infiera berharap kalau Abimanyu tidak cepat sampai. “I-ibu mau pulang?”
“Iya, taksi pesanan saya.”
Fiera mengangguk mengerti. Di dalam hatinya terus berdoa, semoga taksi yang dipesan Almira segera sampai.
“Katanya, kamu kemarin ke Malang, ya? Bagaimana? Seru, ya?”
“I-iya, Bu. Cukup menyenangkan bagi saya yang pertama kalinya terlibat hal seperti itu.”
“Pasti. Saya juga kalau ada waktu sering bergabung sama komunitas seperti itu saat di Palembang. Kebetulan, Pak Abimanyu juga waktu itu ikut jadi bagian komunitas.” Almira tersenyum lebar saat mengatakan itu, sedangkan ekspresi Infiera berubah sendu.
Infiera hanya mengangguk kecil, tanpa menanggapi ucapan Almira.
“Saya ingin banget ikut acara kaya begitu lagi. Sayangnya, sekarang ga ada waktu. Padahal, beberapa rekan kami di Palembang sering ngajak, tapi, ya begitu. Pak Abimanyu juga sibuk sama kerjaan dosennya dan juga urusan kantornya.”
Tanpa sadar, Infiera mengepalkan tangan yang ada di samping tubuhnya. Almira bahkan tahu kalau Abimanyu punya pekerjaan lain selain seorang dosen. Sedangkan dirinya? Infiera tidak tahu apa-apa.
“Ibu dekat banget, ya, sama Pak Abi?” tanya Infiera, berusaha bersikap senatural mungkin.
“Ya, bisa dibilang kami sangat dekat. Tapi....” Ekspresi Almira sedikit berubah.
“Tapi apa, Bu?” tanya Infiera. Dia merasa penasaran.
Sebelum dapat menjawab pertanyaan Infiera, sebuah mobil berwarna putih tiba-tiba berhenti beberapa meter dari tempat keduanya berdiri. Itu adalah mobil milik Abimanyu.
“Loh, itu mobil Abimanyu, kan?”
Infiera memalingkan wajahnya pada arah pandang Almira. Benar saja, mobil Abimanyu terparkir tidak jauh dari mereka. Tiba-tiba, dia merasakan jantungnya yang berdegub kencang. Bukan karena dia takut hubungannya dengan Abimanyu diketahui orang lain. Melainkan, Infiera merasa gugup dengan reaksi Abimanyu di hadapan Almira, yang notabene adalah mantan kekasihnya. Apakah suaminya itu akan mengakui dirinya sebagai istri?
“Bi? Bukannya kamu hari ini engga ada jadwal?” tanya Almira lebih dulu saat Abimanyu melangkah menghampiri kedua wanita itu. Tatapan Abimanyu terkunci pada wanita yang berdiri di samping Almira. “Kamu mau menjemputku, ya?” lanjutnya lagi, bertanya dengan nada menggoda.
“Aku memang ingin menjemput,” ucap Abimanyu tanpa mengalihkan pandangannya dari Infiera.
“Wah, ternyata beneran?” Almira terdengar sumringah dengan hal itu. Sedangkan Infiera memalingkan wajah, memutus tatapannya dari Abimanyu.
Dia merasa sedikit kecewa dengan jawaban Abimanyu. Apakah suaminya akan kembali mengulang kesalahan seperti saat dia mengajaknya ke pesta pernikahan Bu Gina? Dia tidak ingin mendengar apa pun dan ingin segera pergi dari sana, tapi sebelum dirinya beranjak, Abimanyu lebih dulu berkata, “Maksudku, aku mau menjemput istriku.”
Tanpa peringatan, Abimanyu mengulurkan tangannya pada Infiera dan menarik wanita itu ke sampingnya. “Kenalin Al, dia Infiera, istriku,” kata Abimanyu lagi.
Almira yang sebelumnya terlihat senang, senyumnya langsung sirna. Dia menatap Abimanyu tidak percaya. Meski sudah curiga sebelumnya, tapi dia tidak menyangka kalau Abimanyu akan mengatakannya langsung seperti itu.
***
__ADS_1
...Yang minta crazy sabar, ya. Besok, kita bakal crazy up. Alhamdulillah, kondisiku sudah bisa diajak kompromi buat nulis banyak. Terima kasih buat doanya dari kalian. Love You and happy reading....