
Dua pelayan toko yang sebelumnya meremehkan Infiera tampak malu setelah mengetahui jika gadis yang mereka bicarakan adalah istri dari pria tampan yang sedang berganti pakaian.
Sayangnya, kedua pelayan itu sama sekali tidak berniat meminta maaf atas apa yang sudah mereka katakan.
Abimanyu kembali membawa mobilnya, meninggalkan mal. Fiera sudah mengatakan, untuk mengantarnya ke panti, tapi Abimanyu malah membawa dia ke arah yang berlawanan.
"Loh, Mas, ini bukan arah ke panti." Fiera ingat, kalau seharusnya mereka berbelok di pertigaan yang baru saja mereka lewati, tapi Abimanyu malah membawanya terus lurus.
"Memang bukan," jawab Abimanyu tanpa mengalihkan pandangannya.
"Duh, Mas ini gimana? Aku, kan, harus kembali ke panti. Nanti kalau Kak Adi nungguin aku buat balik ke hotel gimana?"
"Chat dia. Kasih tau, mas yang antar."
Abimanyu membelokkan mobilnya di sebuah hotel yang jadi tempat tinggalnya selama di hotel.
"Kenapa ke sini?"
"Mas tinggal di sini. Ayo, turun," ajak Abimanyu seraya membuka pintu, tanpa menunggu jawaban isterinya.
Fiera buru-buru turun untuk menghampiri Abimanyu. Dia menarik tangan suaminya.
"Mas, mending anterin aku ke hotelku aja. Pakaianku di sana."
Abimanyu malah menjawab dengan mengangkat belanjaannya.
"Bukankah di dalam sini ada pakaianmu?"
"Tapi, Mas?" Fiera masih berusaha dengan menarik-narik lengan baju suaminya.
"Sudah, ayo, masuk. Jangan banyak protes."
Abimanyu merangkul bahu Infiera, setengah menarik tubuh yang terlihat mungil di sampingnya.
Tanpa mereka sadari, sebuah mobil Mercy hitam baru saja masuk area parkiran. Orang yang mengendarai mobil tersebut melihat bagaimana interaksi Infiera dan juga suaminya.
"Fiera?" gumamnya pelan, seraya menghentikan mobilnya di tempat kosong. Dia buru-buru turun untuk mengejar.
"Sial! Apa dosen gila itu memaksa Infiera datang ke hotel ini? Kurang ajar, bagaimana dia bisa menjebak mahasiswanya dengan berbohong kalau dia ingin berbelanja?'"
Pria yang tak lain adalah Rendi terlihat sangat marah. Pri itu juga tinggal di hotel yang sama dengan tempat Abimanyu menginap. Dia hendak mengejar keduanya.
Namun, sayangnya Abimanyu dan juga Infiera lebih dulu masuk ke dalam lift.
Beberapa kali Rendi menekan tombol, berharap lift bisa turun lagi. Sayang, itu semua sia-sia.
Akhirnya, Rendi memutuskan untuk masuk dan mencari keberadaannya.
Akan tetapi, untuk menemukan tamu penghuni hotel itu tidak mudah. Rendi tidak begitu saja menemukan identitas orang yang dicarinya.
Butuh waktu cukup lama baginya untuk bisa menemukan keberadaan di mana kamar Abimanyu tempati.
Akhirnya, hampir satu jam Rendi baru bisa meyakinkan pihak hotel, kalau ini kondisinya sangat genting.
"Saya yang akan menjamin semuanya. Saya juga minta dua orang petugas keamanan untuk ikut ke sana, supaya bisa berjaga.
__ADS_1
"Baiklah, Pak Rendi. Saya harap tidak ada keributan. Dua securiti akan menemani Anda."
"Tentu saja. Saya hanya ingin memastikan kalau teman saya baik-baik saja. Setelahnya, saya janji akan meninggalkan mereka."
Pihak hotel akhirnya setuju dan membawa Rendi menuju kamar yang ditempati pria bernama Abimanyu.
Begitu sampai di kamar yang dimaksud. Rendi dengan tidak sabar mengetuk pintu.
Rendi menunggu beberapa saat, sampai terdengar pintu dibuka dari arah dalam.
Begitu pintu terbuka, nampak Abimanyu yang baru selesai mandi dan masih mengenakan bathrob.
"Ada apa?" tanya Abimanyu, saat dia melihat dua security di depan kamarnya, lalu pandangannya melirik ke arah Rendi.
"Apakah Pak Rendi ke sini mencari saya?" tanya Abimanyu dengan tatapan yang berubah datar. Dia tidak peduli, bagaimana Rendi mengetahui keberadaannya di sana. Abimanyu hanya ingin pria di hadapannya segera enyah.
Sebelum Rendi dapat menjawab pertanyaan Abimanyu, terdengar suara seorang wanita yang dicarinya, "Siapa?" tanya dengan suara sedikit serak, khas orang baru saja bangun tidur.
Rendi sangat yakin kalau itu adalah suara Infiera, wajahnya memerah hingga belakang telinga, menahan amarah.
Apa yang sudah Abimanyu lakukan pada gadis itu? Rendi seketika menyesal, tidak memaksa pihak hotel untuk segera datang ke kamar hotel untuk menyelamatkan Infiera.
"Kurang ajar!"
Rendi menyerbu ke hadapan Abimanyu dan melayangkan tinjunya ke wajah pria itu.
Abimanyu yang tidak siap dengan serangan Rendi mundur, hingga terjatuh di lantai.
"Pak, hentikan!"
"Dasar kurang ajar! Apa yang sudah kau lakukan padanya, hah?!"
"Apa maksud—" Abimanyu yang hendak bicara tidak dapat menyelesaikan ucapannya karena Rendi kembali memukul wajahnya.
Terdengar suara derap langkah dari dalam kamar menghampiri.
"Aaa ... Apa yang terjadi?" Fiera terkejut saat melihat posisi suaminya yang terbaring di lantai dan Rendi di depannya memukuli.
"Pak Rendi hentikan!" Fiera berteriak, tapi pria itu tidak mendengarkan.
"Pak Satpam. Hentikan mereka!"
Kedua satpam itu berusaha menarik Rendi dari atas tubuh Abimanyu. Begitu terlepas, Fiera juga menghampiri dan menghalangi Rendi yang masih berambisi memukuli suaminya.
"Pak, hentikan! Apa yang Anda lakukan?"
Rendi menoleh pada Fiera yang berteriak dan ketakutan.
"Infiera, biarkan saya menghabisinya. Kamu jangan takut. Saya yang akan bertanggung jawab."
"Apa maksud Anda. Hentikan!"
Fiera mendorong Rendi yang akan menghampiri Abimanyu yang terbaring di lantai dan sedang berusaha berdiri.
"Lo udah gila, ya?" raung Abimanyu. Darah segar terlihat di sudut bibirnya yang lebam, matanya juga sedikit memerah.
__ADS_1
"Ya, betul. Gue mau menghabisi lo karena sudah berani kurang ajar!"
"Apa yang lo katakan?" Abimanyu sedikit ling-lung. Selain kepalanya terasa sakit karena pukulan Rendi, apa yang dikatakan pria di hadapannya memang tidak dapat dicerna dengan baik.
"Berani-beraninya lo maksa dia buat datang ke sini? Apa Lo udah kehilangan akal sehat?"
Memegangi bagian wajahnya yang kesakitan, Abimanyu berusaha mencerna perkataannya. Apa yang dimaksud Rendi adalah Abimanyu memaksa Infiera?
"Gue benar-benar akan menghabisi lo!"
"Pak Rendi, hentikan!" Fiera berdiri membelakangi Rendi dengan tangan terbentang untuk menghalau pria itu yang akan memukul suaminya lagi.
"Fier, jangan halangi saya untuk menghabisinya. Meski dia dosenmu, tapi dia tidak pantas dilindungi. Dia pantas mendekam di penjara."
"Apa maksud bapak?"
"Kamu masih bertanya? Bukankah jelas, keberadaanmu di sini karena dipaksa olehnya."
Fiera seketika menjauh dari Rendi dan menghadap ke arah pria itu. "Dipaksa?"
"Ya, aku melihat sendiri kau ditarik olehnya di parkiran!"
Fiera tercengang. Artinya, Rendi melihat saat mereka turun dari mobil. Pria itu sudah salah paham dengannya.
Ya, Abimanyu memang sedikit memaksa, tapi pada akhirnya Fiera engga keberatan dengan hal itu.
Abimanyu benar, kalau Fiera memiliki baju baru untuk dikenakan. Jadi, tidak masalah jika dia tidak kembali ke hotel tempatnya menginap kemarin.
"Gue engga pernah maksa dia buat datang ke kamar ini." Abimanyu berkata. "Infiera sendiri yang dengan senang hati ikut gue." Abimanyu mulai memahami situasinya. Dia tersenyum miring, meski wajahnya sedikit babak belur.
"Kurang ajar. Bisa-bisanya kau mengatakan itu." Rendi menoleh pada securiti. "Lebih baik hubungi polisi. Orang seperti ini tidak bisa dibiarkan."
"Jangan!" Fiera berseru keras.
"Kenapa Fier? Kamu masih mau melindunginya?"
"Bukan seperti itu, tapi... tapi, saya tidak dipaksa datang ke sini."
"Fier."
"Saya sungguh tidak dipaksa. Betul, saya sempat menolak. Itu karena... ." Fiera terlihat ragu. "Karena pakaian saya ada di hotel lain," lanjutnya lagi.
"Apa?" Rendi terkejut dengan jawabannya. Fiera datang dengan suka rela?
"Fiera! Kalau kamu dipaksa olehnya. Tidak perlu takut. Tidak perlu mengatakan hal seperti itu. Saya di sini untuk melindungi."
Fiera menghela napas berat. Sedikit frustrasi karena Rendi salah paham.
"Tapi, saya sungguh tidak dipaksa. Saya ... saya sebenarnya—"
"Dia istriku." Abimanyu menyela.
"Apa?" Rendi terperangah. Dia menoleh pada Fiera yang berdiri di hadapannya. "Fier."
Fiera mengangguk. "Benar, dia adalah suami saya, Pak. Saya datang ke sini tanpa paksaan."
__ADS_1
Kini giliran Rendi yang ling-lung dengan kondisi yang dihadapinya. Dia padahal tidak mendapatkan pukulan dari Abimanyu, karena pria itu sejak awal sudah terpojok. Tetapi, kepalanya terasa sakit sekali dengan informasi yang sangat mencengangkan.