Istri Dosen Galak

Istri Dosen Galak
Aku Mencintaimu


__ADS_3

Kurang dari dua jam perjalanan, Infiera dan lainnya sampai di Jakarta. Ketiganya kini tengah berjalan menuju tempat di mana Gerald, orang yang akan menjemput mereka sedang menunggu.


Gerald yang tengah mencari keberadaan rekan dan dua mahasiswanya melambaikan tangan saat dia melihat ketiga orang tersebut. Dia berjalan menghampiri.


“Lo kenapa engga bilang kalau mereka berdua juga bakal ikut penerbangan?” tanya Gerald, dengan nada menggerutu. “Sayang, kan, tiket keretanya engga terpakai,” lanjutnya lagi.


Abimanyu melotot. “Bukankah kau sudah tahu alasannya?”


“Ah, benar juga. Bagaimana kalian menyembunyikan informasi sebesar ini dari kami?” Gerald bertanya dengan memasang wajah kesal, lalu menoleh pada Infiera. “Kau juga Fiera. Bagaimana selama ini kau menyembunyikan pernikahanmu dengannya. Hah ... saya benar-benar merasa jadi orang paling bodoh. Padahal, saya sudah ngajak ke KUA.”


Adi memalingkan wajah, karena dia tahu kalau Gerald berpura-pura.


Fiera yang awalnya tidak mengerti apa yang Gerald bicarakan, kini terkejut. Dia menoleh pada Abimanyu, suaminya, seperti bertanya, ‘Bagaimana Pak Ge tahu?’ Namun, Abimanyu malah memalingkan wajah, seolah tidak melihat.


“Pak Ge, bagaimana Bapak bisa tahu?” tanya Fiera sedikit ragu dan juga malu.


“Huh... .”Gerald menunjuk Adi yang berdiri di belakang mereka dengan tatapannya. “Kau pikir, setelah membuat keributan di sana. Informasi ini masih bisa disembunyikan?”


“Maaf, Fier,” ucap Adi di belakangnya, terdengar menyesal. “Saya hanya takut kalau masalahnya semakin membesar. Makanya, untuk jaga-jaga, saya menghubungi Pak Ge.” Adi menjelaskan.


Kini Fiera tahu alasannya. Dia melirik Abimanyu sekali lagi, tapi pria itu terlihat tidak terkejut kalau Gerald mengetahui rahasianya.


“Maaf, Pak, bukan maksud saya merahasiakan, tapi... .”


“Kenapa kamu harus minta maaf? Tidak ada kewajiban kita untuk menjelaskan.” Abimanyu menyela Fiera yang kini tertunduk malu. “Lebih baik kita masuk dulu ke dalam mobil. Nanti saja bicaranya.”


“Benar. Ayo.” Gerald menoleh pada Adi. “Di, kamu naik taksi online engga apa-apa? Saya masih ada urusan dengan mereka, mau introgasi dulu.”


“Siap, Pak, tidak apa-apa.”


Gerald segera memesankan taksi online untuk mahasiswanya itu. “Ayo, kamu ikut kami dulu keluar dari area bandara. Mobilnya menunggu di area luar.”


Adi menurut. Mereka satu persatu naik ke dalam mobil milik Gerald. Setelah menurunkan Adi, untuk naik taksi online. Gerald melanjutkan perjalanan. Dia benar-benar sudah tidak sabar ingin mengintrogasi keduanya. Akhirnya, waktu yang ia tunggu-tunggu tiba juga.


“Jadi, kalian benar-benar sudah menikah dari sejak satu tahun yang lalu?” tanya Gerald. Kini Abimanyu yang duduk di bagian depan, samping pengemudi. Sedangkan Infiera di belakang sendirian.


“Hmm,” jawab Abimanyu hanya dengan gumaman. Di belakang, Fiera hanya menundukkan kepalanya.


“Bi, lo sengaja merahasiakannya supaya gue terlihat bodoh?”


“Apa maksudnya?” tanya Abimanyu balik.


“Lo, kan, tahu kalau gue deketin dia,” ucapnya, melirik Infiera yang duduk di bagian belakang melalui spion.

__ADS_1


Abimanyu menyadari tatapan temannya itu. “Lihat ke depan.”


“Iya, iya, sensi amat.”


“Gue engga menyembunyikannya. Gue hanya engga menjelaskannya saja.”


Gerald mengabaikan peringatan Abimanyu. Dia kembali melirik Infiera untuk melihat reaksi wanita atas jawaban suaminya. Sesuai dugaan, wanita itu terlihat kecewa. Gerald menyeringai sebelum kembali berkata, “Ya, kan, lo bisa bilang ke gue kalau Infiera ini istri lo. Jadi, gue engga bakalan deketin dia dan godain dia mulu.” Gerald sengaja memancing.


“Karena lo teman gue. Jadi, gue pikir lo engga bakal macam-macam.”


“Ck! Lantas, kalau gue teman lo, gue boleh deketin dia?”


“Bukan begitu. Gue tahu kalau lo engga bakal gegabah. Lo engga bakal macam-macam.”


“Tau dari mana lo, kalau gue engga bakal macam-macam? Kan, gue sudah bilang kalau gue siap nafkahin dia.”


Abimanyu menoleh dan melotot mendengar hal itu.


“Haha, gue bercanda, tapi gue serius juga.” Tawa Gerald perlahan mereda. “Gue memang bercanda dari awal buat deketin dia. Lo tahu sendiri bagaimana gue, tapi gue juga serius. Bagaimana lo tahu kalau orang lain tidak akan bertindak lebih jauh untuk deketin istri lo? Buktinya sudah lo rasain sendiri. Noh, muka lo bengep.”


Abimanyu tertegun dengan ucapan temannya itu. Benar, dia tidak pernah terpikir sampai sejauh itu. Meski Gerald sering terang-terangan dekatin Infiera. Abimanyu tidak pernah merasa cukup bahaya. Berbeda sekali saat dia melihat bagaimana Adi menatap istrinya dan juga Rendi. Dia tidak terima istrinya ditatap dengan penuh minat oleh pria lain.


Abimanyu melirik istrinya dari kaca spion. Fiera terlihat memalingkan wajahnya, menatap ke arah luar melalui jendela mobil.


Walaupun, Gerald tidak tahu alasannya. Tetapi, dengan Abimanyu langsung menyusul ke Malang, pria itu jelas takut istrinya didekati oleh pria lain.


Mobil yang dikendarai oleh Gerald menepi di depan gerbang rumah milik Abimanyu. Kedua orang di dalamnya turun. “Lo ga mau masuk dulu?”


“Engga. Gue harus ke kampus sekarang. Kalian istirahat saja.” Gerald mengedipkan sebelah matanya.


Abimanyu mengabaikan godaan temannya itu. “Terima kasih, ya, sudah menjemput kami.”


“Sama-sama.”


“Terima kasih, ya, Pak.” Fiera juga berkata, sebelum Gerald menutup kaca jendela mobilnya.


“Sip.”


Mobil Gerald melaju pergi. Infiera dan Abimanyu segera masuk ke dalam rumah. Keduanya masih belum berbicara sejak di Malang sebelum pulang.


Abimanyu berjalan terlebih dahulu, diikuti Fiera di belakangnya.


“Mas, mau makan siang dulu? Biar aku buatkan makanan,” ucap Fiera saat Abimanyu akan menaiki tangga.

__ADS_1


Namun, Abimanyu terlihat tidak berniat untuk menjawab pertanyaan istrinya. Dia bahkan tidak menghentikan langkahnya untuk menapaki tangga di hadapannya.


“Mas kenapa? Apa masih marah padaku karena masalah kemarin malam?” tanya Infiera. Suaranya sedikit meninggi. Dia terlihat kehilangan kesabarannya dengan kebisuan Abimanyu sejak kemarin malam.


“Aku melakukan itu bukan untuk membela Pak Rendi. Aku hanya engga mau kalau masalahnya semakin merembet kemana-mana. Kalau kita lanjutkan, yang lainnya pasti akan tahu mengenai kejadian itu. Otomatis, mereka akan tahu juga kalau kita ...sudah menikah. Bukankah, Mas tidak ingin orang lain tahu mengenai hal itu?” Suaranya terdengar bergetar di ujung kalimat.


Abimanyu juga menyadari hal itu. Dia sampai mengepalkan tangannya untuk menahan diri, lalu berbalik.


“Lebih baik kamu istirahat saja. Pasti cape.”


“Tidak. Kita harus menyelesaikan masalah ini terlebih dahulu.”


“Tidak ada masalah yang harus diselesaikan.”


“Lalu, kenapa Mas terus mendiamkan aku sejak malam itu? Bahkan, Mas tidak mengijinkan aku untuk mengobati lukanya.”


Abimanyu menghela napas berat. “Lalu Mas harus bagaimana? Kamu jelas-jelas melepaskan Rendi begitu saja. Padahal, dia sudah berbuat keterlaluan. Dia melakukan kekerasan. Bagaimana kamu masih membelanya?”


“Aku tidak membelanya.”


“Lalu apa? Baiklah, dia mungkin salah paham. Tapi, pemukulan yang dia lakukan tetap tidak dibenarkan, kan. Selain itu, apakah kamu tidak menyadari kalau dia itu menyukaimu.”


“Apa? Apa yang Mas katakan?”


“Kamu tidak menyadari hal itu, kan?” Abimanyu mendengkus. “Lihat, dia itu menyukaimu, makanya saat dia salah paham. Dia bertindak sangat berlebihan untuk melindungimu. Dan kamu, malah balik membelanya. Bukankah itu sama saja kamu sedang menjatuhkan harga diriku sebagai suami. Seharusnya, kamu membelaku.”


Fiera terdiam untuk beberapa saat. Dia hanya menatap Abimanyu tanpa ekspresi.


“Menjatuhkan harga diri? Padahal, Pak Rendi jelas-jelas tidak tahu kalau kita sudah menikah. Bagian mananya merendahkan harga diri? Sama seperti Mas yang hanya diam saja saat Pak Gerald terang-terangan menggodaku dan mendekatiku. Sama seperti Mas saat semua orang berbicara kalau Bu Almira berpacaran dengan Mas. Bagaimana denganku? Apakah aku sudah kehilangan semua harga diriku? Karena suamiku saja tidak peduli jika ada pria yang menggoda istrinya. Suamiku saja tidak peduli jika orang lain memasangkan dirinya dengan wanita lain.”


“Fiera.”


“Maaf, Mas, kalau aku tidak bisa menjaga harga diri suamiku sendiri. Aku sudah kehilangan kepercayaan diriku sebagai istri sejak lama. Jadi, aku tidak tahu apakah masih layak untuk melindungi harga diri suamiku sendiri.” Fiera menunduk, lalu berbalik, melangkah pergi menuju ke kamarnya.


Abimanyu tertegun untuk beberapa saat. Dia segera melangkah, mengejar istrinya yang akan masuk ke dalam kamar dan memeluknya dari belakang.


“Maafkan aku, Fier. Maafkan aku.” Abimanyu mengeratkan pelukannya. “Maafkan kebodohanku selama ini. Maafkan suamimu yang bodoh ini.”


Fiera membeku merasakan pelukan erat dari suaminya. Dia menunduk, menatap lengan kekar di perutnya.


“Aku mencintaimu,” ucap Abimanyu lirih di samping telinga istrinya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2