Istri Dosen Galak

Istri Dosen Galak
Rencana Mengumumkan


__ADS_3

Begitu sampai di hotel. Infiera bergegas menuju kamar yang ditempati suaminya. Dia sempat membeli obat saat berada dalam perjalanan untuk mengobati luka suaminya, karena Abimanyu sebelumnya menolak diobati sebelum sampai di kantor polisi.


Beruntungnya, Adi cukup mengerti dengan kondisinya. Senior Infiera itu tidak lagi banyak bertanya mengenai hubungannya dengan Abimanyu. Adi juga memilih untuk tidak menanyakan mengenai masalah yang dihadapinya dengan  Pak Rendi hingga berakhir di kapolsek terdekat.


Begitu sampai di depan kamar suaminya. Fiera lekas mengetuk pintu karena dia tidak memiliki kunci cadangan, berharap suaminya mengizinkan dia masuk. Fiera mengetuk beberapa kali, tapi tidak ada tanda-tanda Abimanyu akan membuka pintu, membuatnya semakin khawatir.


Fiera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi, tapi sayangnya pria yang sudah sah menjadi suaminya mematikan ponselnya. Fiera semakin dibuat bingung. Dia kembali mengetuk pintu, tapi masih belum juga dibukakan pintunya. Dia berbalik, hendak meminta bantuan, tapi siapa sangka, pria yang dicarinya terlihat berjalan ke arahnya dari arah berlawanan.


Entah dari mana. Abimanyu sepertinya baru saja sampai di hotel.


“Mas,” panggil Infiera, tapi pria itu mengabaikannya dan membuka pintu kamarnya segera dengan menggunakan sebuah kartu.


Fiera bergegas mengikuti, dia tidak peduli jika Abimanyu akan mengusirnya. Namun, dugaannya tidak terbukti karena Abimanyu hanya diam saja saat dirinya masuk.


“Mas, aku beliin obat buat lukanya,” ucap Fiera, dia memperhatikan di pelipis Abimanyu yang sudah dibalut dengan plester. “Apa, Mas udah mengobatinya?” tanya Fiera lagi untuk memastikan, meski dia yakin apa yang dikatakannya benar.


Abimanyu tidak menjawab. Dia hanya mengeluarkan sebuah bungkusan dari dalam saku jaketnya dan menyimpannya di atas nakas samping tempat tidur. Itu adalah bungkusan obat.


“Ah, mas baru dari dokter, ya?” tanya Infiera lagi, dia terlihat semakin serba salah karena suaminya hanya diam.


Abimanyu melangkah menuju kamar mandi, selang beberapa saat pria itu keluar dengan wajah yang lebih segar. Sepertinya baru saja selesai mencuci muka.


“Mas sudah meminum obatnya? Biar aku bantu.”


“Aku mau istirahat.” Setelah beberapa saat, suara Abimanyu terdengar, tapi itu terdengar seperti sebuah penolakan.


Infiera membeku di tempatnya untuk beberapa saat, lalu berkata, “Baiklah kalau begitu. Mas istirahat saja. Bukannya besok akan kembali ke Jakarta, ya?”


Tidak ada jawaban. Abimanyu naik ke atas tempat tidur dan menarik selimutnya untuk menutupi sebagian tubuhnya.


Fiera menggigit bibirnya, ragu untuk berbicara, tapi dia memberanikan diri. “Mas, bolehkan aku pulang sama-sama? Aku ... belum ada tiket.”


Lagi-lagi tidak ada jawaban. Abimanyu terlihat memejamkan matanya kali ini.

__ADS_1


“Baiklah, kalau begitu. Aku pergi dulu.”


Fiera menatap punggung pria yang berbaring di atas tempat tidur. Dia enggan untuk pergi dari sana. Namun, sepertinya Abimanyu tidak mengharapkan keberadaannya saat ini. Jadi, dia memilih untuk pergi.


Setelah terdengar pintu kembali tertutup, Abimanyu membuka matanya, dia menghela napas berat. Emosi yang membuncah di dadanya cukup sulit dirinya kendalikan. Jadi, ia memilih untuk mendiamkan istrinya. Abimanyu terlalu marah karena Infiera memilih membela Rendi dari pada dirinya, sebagai suami.


Keesokan harinya. Abimanyu bangun pagi-pagi sekali karena dia harus melakukan penerbangan siang hari. Sebelumnya, dia harus menjemput Infiera terlebih dahulu dan juga Adi. Sebenarnya, tanpa wanita itu meminta, Abimanyu sudah memesankan tiket kepulangan mereka ke Jakarta. Tiga tiket, beserta dengan Adi.


Abimanyu tahu, kalau pagi ini Infiera dan yang lainnya ada perpisahan terlebih dahulu. Jadi, dirinya akan menjemput di panti.


“Ah, sialan!” umpatnya, saat merasakan luka di wajahnya terasa sakit, kepalanya juga terasa pusing. Abimanyu segera bersiap setelah mengemas pakaiannya dan meninggalkan hotel.


Di panti, Fiera sudah mulai berpamitan dengan para pengurus panti dan juga beberapa relawan lainnya. Dia terharu karena para orang tua di sana menyukainya dan sangat berterima kasih. Berkat kedatangan mereka, semua penghuni panti bisa merasakan kamar mandi yang lebih layak dan juga lingkungan yang bersih. Selain itu, beberapa bagian atap yang bocor juga sudah diperbaiki.


“Fier, boleh saya bicara sebentar?”


Saat sedang berbicara dengan yang lainnya, tiba-tiba Rendi muncul dan berbicara. Pria itu terlihat tidak berani menatapnya secara langsung, mungkin masih merasa malu.


Infiera menoleh pada Adi, seniornya, seperti meminta pendapat. Adi mengangguk. “Saya tunggu di sana, ya? Setelah itu kita bisa berangkat ke stasiun.”


“Baiklah. Kita bicara di sana.” Fiera menunjuk sebuah kursi kayu yang berada di taman dan berjalan terlebih dahulu, diikuti Rendi.


“Saya ingin minta maaf dengan apa yang terjadi kemarin,” ucap Rendi, memulai pembicaraan saat mereka sudah berdiri saling berhadapan di taman. “Saya menyesal. Saya tahu kalau apa yang saya lakukan tidak seharusnya. Dari awal terlalu ikut campur.” Rendi menundukkan kepalanya malu. “Saya ingin bertemu dengan Pak Abimanyu, tapi sepertinya cukup sulit.”


Fiera tersenyum. Dia jadi teringat suaminya. Bagaimana keadaan pria itu sekarang?


“Lupakan saja semuanya, Pak. Itu semua karena kesalahpahaman saja. Seharusnya saya dan suami memberi tahu sejak awal. Hanya saja...” Fiera tidak dapat meneruskan ucapannya, karena dia tidak mungkin mengatakan kalau sejak awal memang hubungannya disembunyikan dari semua orang.


“Saya harap, kamu tidak kapok untuk jadi relawan lagi. Terima kasih telah bergabung dengan tim kami.” Kini Rendi berbicara sebagai seorang penanggung jawab dari semua relawan.


“Saya senang melakukannya. Tentu, jika ada kesempatan lainnya, saya ingin bergabung kembali.”


Di tengah pembicaraan keduanya. Tiba-tiba, sebuah mobil berwarna hitam masuk dan berhenti tidak jauh dari mereka. Terlihat Abimanyu keluar dari pintu penumpang bagian belakang. Dia langsung menemukan keberadaan istrinya.

__ADS_1


“Mas,” panggil Infiera, dia terkejut dengan kedatangan Abimanyu. Dia langsung gugup karena takut Abimanyu salah paham.


Abimanyu melangkah menghampiri Infiera tanpa ekspresi dan berdiri di sampingnya.


“Mas ... em, Pak Rendi hanya ingin minta maaf.”


“Ayo kita pulang. Kita harus segera ke bandara,” ucap Abimanyu, mengabaikan perkataan Infiera sebelumnya.


“Oh, baiklah. Tapi Kak Adi.” Dia baru ingat, kalau mereka akan naik kereta.


“Adi juga akan bersama kita. Aku sudah memesan tiket untuk kalian.”


Fiera tersenyum senang mendengar itu. Ternyata, semalam suaminya mendengar perkataannya.


“Baiklah. Aku akan memanggil Kak Adi.”


Fiera melirik Rendi dan mengangguk sebagai bentuk salam perpisahan.


“Pak Abimanyu,” panggil Rendi, dia ingin berbicara pada suami Infiera itu.


Akan tetapi, Abimanyu mengabaikan dan melangkah menyusul istrinya yang sudah masuk untuk menyusul Adi.


***


[Heh, apa yang terjadi? Semalam si Adi telepon gue. Katanya lo suami Infiera?]


Sebuah pesan Abimanyu terima saat dirinya sudah berada di bandara. Itu adalah pesan yang dikirimkan oleh Gerald. [Sialan lo, Bi.] Pesan kedua juga masuk berderet.


Abimanyu membaca pesan itu, lalu membacanya. [Begitu sampai di Jakarta gue bakal cerita semuanya. Oh, iya, bisakah kita mengubah rencana untuk pembukaan kafe? Gue ingin mengundang beberapa dosen dan juga teman-teman Infiera. Ada sesuatu yang ingin gue sampaikan.]


[Apa? Jadi benar lo sudah nikah? Kurang ajar. Bisa-bisanya lo ga cerita. Pokoknya, begitu sampai gue teror lo!]


[Ingat, jangan beritahu Infiera soal rencana untuk mengundang teman-temannya.]

__ADS_1


[Aye, Captain!]


Abimanyu menghela napas, dia menatap pada wanita yang kini sedang berada di stand oleh-oleh. Mereka tidak sempat membelinya di luar karena waktunya sedikit. Sudut bibirnya melengkung, membentuk senyum tipis. “Aku akan segera mengumumkan semuanya.”


__ADS_2