Istri Dosen Galak

Istri Dosen Galak
Kepanasan


__ADS_3

Abimanyu mendapatkan pekerjaan baru di sela kesibukannya saat ini untuk memeriksa nilai hasil ujian, pekerjaan kantornya, dan juga persiapan pembukaan kafe yang berkolaborasi bersama dengan Gerald, yakni memeriksa ponselnya setiap sepuluh menit sekali.


Pesan yang dikirimkan Abimanyu pada Infiera masih saja centang satu. Padahal, sekarang sudah lima jam berlalu setelah kepergian wanita itu menuju Malang untuk sebuah acara amal yang akan dilakukan di sebuah panti jompo.


‘Kenapa dia masih engga aktifin ponselnya?’ tanya Abimanyu dalam hati, dia semakin terlihat gelisah dengan hal itu.


“Pak Abi, bisa minta tolong untuk menjadi perwakilan untuk menerima tamu?” Bu Rita muncul dan berkata, “Seharusnya Pak Gani yang bertemu dengan tamu dari Malaysia, tapi ternyata beliau tiba-tiba memberi tahu jika anggota keluarganya mengalami kecelakaan.”


Abimanyu yang sedang duduk di kursi kerjanya masih dia, tidak menanggapi perkataan rekan dosennya itu. Dia bahkan tidak menyadari kedatangan Bu Rita.


“Pak Abi!” Bu Rita kembali memanggil karena tidak mendapatkan sahutan dari rekan kerjanya.


“Eh? Iya, Bu?”


“Bapak melamun, ya?”


Abimanyu tersenyum canggung,  karena dia benar-benar tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Bu Rita sebelumnya.


Bu Rita menghela napas pelan sebelum kembali mengatakan ucapannya yang sebelumnya.


“Kalau soal itu, katanya akan diwakilkan langsung oleh rektor. Sebelumnya beliau sudah menghubungi saya.”


“Begitu, ya. Syukurlah. Saya khawatir, soalnya saya sendiri engga fasih bahasa Inggris.” Bu Rita tersenyum malu.


“Bukan masalah, Bu.”


“Baik, kalau begitu. saya permisi, Pak.”


Setelah rekan sesama dosen itu keluar dari ruangan dekanat. Abimanyu kembali menatap ponselnya yang tak kunjung mendapatkan pesan dari istrinya. Ponselnya sejak tadi bergetar, menandakan banyak pesan yang masuk ke ponselnya, tapi sayangnya tidak satu pun dari pesan itu berasal dari Infiera, sang istri.


“Bi, lo mau pergi cek kafe bareng gue?” tanya Gerald yang baru saja masuk. Dia berjalan menghampiri meja Abimanyu. Si Aris bilang, dia baru saja buat resep baru kuenya. Dia minta kita yang langsung mencobanya.”


Abimanyu yang sedang menekuri layar ponselnya langsung mengangkat wajahnya dan menatap Gerald. “Ge, perwakilan yang berangkat ke Malang sudah menghubungimu?” tanya Abimanyu tanpa basa-basi.


“Sudah dari tiga jam yang lalu si Adi menelepon gue. Katanya, begitu mereka sampai, mereka langsung ke hotel dan setelahnya berkumpul dengan volunteer yang lain.”


Abimanyu tertegun. Lalu, kenapa Infiera tidak menghubunginya?


“Lo serius mereka sudah sampai?”


“Buat apa gue bercanda soal kaya gituan? Bener-bener engga ada kerjaan.”


Abimanyu tidak membantah. Memang benar, tidak ada gunanya Gerald berbohong untuk hal semacam itu. Sekali lagi, Abimanyu berteriak, bertanya pada diri sendiri di dalam hatinya, “Lalu, kenapa dia engga hubungin gue? Kan, bisa kirim chat, ‘Mas, aku sudah nyampe.’ Atau, “Mas, makasih, ya, transferannya.’ Atau, dia juga bisa bilang, ‘Mas aku rindu!’


Abimanyu mulai terlihat sedikit frustrasi menatap layar ponselnya yang berkedip saat pesan masuk, tapi hanya promosi operator.


“Ayo, lo harus pergi untuk memeriksa resep barunya. Apa cocok untuk dijual di kafe.”


“Ge, lo cek sendiri saja.” Abimanyu menelungkupkan kepalanya di atas meja, seorang bocah yang sedang merajuk. “Lo hanya tinggal kasih laporan ke gue.”


Gerald mendengkus. Sejujurnya, dia ingin menggoda pria itu, tapi misinya baru saja dimulai. Jadi, pantang untuk berhenti.

__ADS_1


“Ya sudah, gue pergi dulu, ya. Jangan kangen,” ujar Gerald seraya keluar dari ruangan kerjanya.


“Menjijikkan,” sahut Abimanyu, ekspresi wajahnya terlihat jengkel.


***


Sore hari, Abimanyu kembali ke rumahnya. Dia terlihat tidak bertenaga, keluar dari mobilnya. Dirinya masih belum mendapatkan balasan pesan dari istrinya dan juga, Fiera masih mematikan ponselnya.


“Hei, dia benar-benar keterlaluan mematikan ponsel seharian,” gerutu Abimanyu, melemparkan tas jinjingnya ke atas sofa ruang tengah dan dia menjatuhkan tubuhnya di atas sofa panjang yang ada di sampingnya.


Abimanyu menggulir ponselnya, laku mengecek bagian beranda, berharap Infiera sudah meng-update kegiatannya saat ini, tapi hasilnya nihil.


Tidak lupa, Abimanyu juga memeriksa media sosial kampus tempatnya bekerja, berharap sudah ada update kegiatan yang dikirim dari Malang. Namun, lagi-lagi hasilnya nihil, pihak kampus terakhir update sekitar dua hari yang lalu.


Sial!


Abimanyu memejamkan matanya untuk menahan kekesalan di dalam hatinya, nomor istrinya masih belum juga aktif sampai sore seperti ini. Apa dia sengaja? Lalu, apa alasannya?


Tiba-tiba, sebuah ide melintas di kepalanya. Abimanyu segera menghubungi Gerald untuk menanyakan sesuatu.


“Halo, Ge,” sapa Abimanyu setelah panggilannya terhubung dengan orang yang ada di seberang sana.


“Ada apa, Bi?”


“Ge, bisakah gue minta nomor Adi?”


“Buat apa?”


“Lo bisa tanya gue. Lupa kalau gue juga salah satu penanggung jawabnya?”


“Ya, tahu, tapi gue hanya mau... mau –“ Abimanyu terlihat terbata dan memikirkan alasan yang masuk akal supaya Gerald tidak curiga. “Gue mau nanyain soal buku yang dikirimkan perusahaan gue. Bukannya Adi yang mengurus hal itu?”


“Ah, itu... . Iya, betul, dia yang mengurusnya. Bentar, gue kirim nomornya via chat saja, ya?”


“Oke.”


Abimanyu segera mematikan panggilan itu. Dia tersenyum puas karena akhirnya berhasil untuk menghubungi Infiera, meski melalui temannya.


Di Malang, wanita yang sudah berhasil membuat Abimanyu menjadi seperti cacing kepanasan terlihat sedang sibuk dengan kegiatannya. Dia sejak pagi sudah aktif dengan volunteer yang lainnya. Mulai dari menyapa para lansia dan juga memberikan mereka hiburan.


Selain itu, Fiera juga bergabung dengan para wanita lainnya memasak makanan yang bergizi untuk para lansia yang kurang beruntung itu, karena mereka harus tinggal jauh dari anak cucunya karena faktor ekonomi keluarganya yang merasa tidak sanggup lagi merawat. Bahkan, beberapa di antara mereka benar-benar dibuang oleh keluarganya dan menelantarkannya di pinggir jalan.


Bukan hanya Infiera yang sedang sibuk, tapi juga Adi yang bergabung dengan beberapa volunteer yang mencoba memperbaiki bangunan yang tidak layak lagi digunakan. Tentu saja, selain para relawan, mereka juga mendatangkan para tukang yang kompeten di bidangnya.


Saat sedang beristirahat, ponsel Adi berdering. Dia melihat nomor yang tidak dikenal menghubunginya.


Meski sedikit ragu, tapi dia tetap menerimanya. “Halo?”


“Halo, Di, ini saya Abimanyu.”


“Eh, Pak Abi. Ya, Pak, ada yang bisa saya bantu?” Adi terkejut karena ini pertama kalinya dosen yang mendapat predikat killer itu menghubunginya.

__ADS_1


“Engga, saya hanya ingin menanyakan. Bagaimana kegiatan di sana. Apa semuanya lancar?” tanya Abimanyu, tampak biasa saja di telinga Adi mendapat pertanyaan itu, padahal yang sebenarnya ada maksud tertentu.


“Alhamdulillah, semua berjalan dengan lancar Pak. Relawan yang hadir ternyata cukup banyak. Yang paling utama, kami mendapatkan donatur yang luar biasa.”


“Syukurlah kalau begitu. Lalu, bagaimana dengan ... Infiera?”


“Ah, dia terlihat senang. Katanya ini pertama kalinya ikut acara seperti ini. Sekarang, dia sedang beristirahat dengan yang lainnya.”


“Emm ... boleh saya lihat situasi di sana?” tanya Abimanyu, nada suaranya sedikit menurun, terdengar sangat hati-hati.


“Baik, Pak, saya akan mengirimkan beberapa video kalau begitu pada bapak setelah ini.”


“Eh, tidak perlu. Saya akan melakukan panggilan video saja.”


Tanpa menunggu jawaban dari Adi, Abimanyu langsung mengubah panggilannya menjadi panggilan video. Mahasiswa yang tak lain adalah senior itu langsung menerimanya dan mengarahkan kameranya ke spot mana yang sedang dikerjakan. “Ini yang sejak pagi saya kerjakan dengan yang lainnya begitu sampai di sini.”


“Lalu, apa lagi kegiatannya.”


“Di bagian sana, ada juga pos yang kami buat untuk melakukan pemeriksaan lansia. Beruntung, kami mendapatkan tenaga medis. Ada juga yang keliling ke setiap kamar, untuk orang tua yang sudah udzur.”


“Di sana lagi pada istirahat, setelah memberikan hiburan pada para lansia.”


Adi mengarahkan kamera ponselnya ke arah para volunteer yang sedang duduk-duduk lesehan di lantai. Salah satu di antaranya adalah Infiera.


Wajah Abimanyu yang terlihat di layar ponsel seketika berubah saat melihat istrinya. Fiera sedang tertawa bersama dengan yang lainnya. Dia tersenyum senang.


Namun, wajah Abimanyu langsung berubah kecut saat ada seorang pria yang duduk di samping istrinya dan menyerahkan sesuatu, seperti makanan. Keduanya terlihat sangat akrab.


“Siapa itu?”


“Ah, yang mana, Pak?”


“Yang pakai kemeja putih dan celana coklat.”


“Ah, itu Pak Rendi, salah satu donatur kami, Pak. Beliau pengusaha batu bara.”


“Kenapa mereka terlihat dek—“


Abimanyu tidak dapat menyelesaikan ucapannya karena ponsel Adi tiba-tiba mati. “Ya, habis batrei.” Adi mencoba menyalakan ponselnya, tapi sama sekali tidak bisa menyala lagi.


Di rumahnya, Abimanyu juga mencoba menghubungi ulang, tapi hasilnya nihil. Nomor masih saja belum aktif, membuat Abimanyu semakin kesal.


Kekesalannya tidak sampai di situ. Abimanyu juga terkejut melihat foto-foto yang update oleh Gerald. beberapa kegiatan yang dilakukan dua mahasiswanya. Tentu saja, yang paling menyita perhatian adalah bagaimana Fiera begitu dekat dengan rekan mahasiswa bernama Adi. Juga dengan pria yang tadi dilihatnya di dalam panggilan video.


Parahnya di beberapa video, Gerald membuat caption. “Mahasiswa cantik dan pria tampan.”


Di foto lainnya, Gerald lebih berani membuat caption, “Pilih pengusaha atau mahasiswa cerdas?”


Wajah Abimanyu seperti kepiting yang keluar dari open. Merasa semakin kesal, Abimanyu segera menghubungi seseorang. “Bisakah kau mencarikanku tiket pesawat untuk ke Malang malam ini juga?” Abimanyu terdiam untuk mendengarkan seseorang berbicara di ujung panggilannya.


“Tidak. Aku maunya malam ini juga.... Ya, ya, ya, terserah. Pokoknya tiket ke Malang!”

__ADS_1


...Tap like-nya....


__ADS_2