Istri Dosen Galak

Istri Dosen Galak
Jawaban Lebih Menohok


__ADS_3

Bohong kalau Infiera tidak terkejut dengan ucapan Almira. Namun, hebatnya dia sama sekali tidak memberikan reaksi apa-apa. Bahkan, pupil matanya sama sekali tidak bergetar karena hal itu.


Fiera menahan gemuruh di dadanya sekuat tenaga dengan menatap kotak cincin yang ditunjukkan oleh Almira.


"Mungkin kamu mengerti dengan hal itu. Pernikahan kalian juga hanya perjodohan."


"Tidak," jawab Fiera langsung, begitu Almira mengakhiri ucapannya. "Saya sama sekali tidak mengerti dengan apa yang Ibu maksudkan."


Fiera melepaskan lipatan tangannya di dada, lalu menegakkan tubuhnya.


"Baru kemarin Pak Abi mengenalkan saya sebagai istrinya. Lalu, bagaimana Anda bisa sangat percaya diri mengatakan kalau itu adalah cincin tunangan yang diberikan suami saya?" tanya Fiera, dengan sengaja menekankan kalimat terakhirnya.


Tanpa rasa malu dan tanpa rasa bersalah. Almira menjelaskan ucapannya sebelumnya.


“Sebelum kalian menikah, Abimanyu lebih dulu melamarku. Namun, tiba-tiba orang tuanya malah menjodohkannya denganmu.” Almira menatap Infiera tanpa gentar sedikit pun. “Sebelum aku menjawab lamarannya, aku mendapatkan kabar mengenai pernikahan itu.”


Infiera masih memasang ekspresi wajah datar mendengar hal itu, bahkan raut wajahnya malah  terlihat lebih dingin dari sebelumnya.


“Tentu saja aku merasa sangat hancur dengan hal itu. Satu tahun berlalu, akhirnya aku dapat bertemu lagi dengannya.”


Ada senyum tipis terbit di wajah cantik Almira. Terlihat jelas, kalau dia senang dengan pertemuan itu. “Selain itu, aku juga menyadari sesuatu dari hubungan kalian. Ah, ternyata kalian menyembunyikan pernikahan kalian, ya?”


Infiera masih saja diam, seolah dia tidak terusik dengan apa pun yang dikatakan oleh Almira padanya. Ingin melihat, sejauh mana wanita itu akan menceritakan masa lalunya.


“Sebenarnya, aku mulai memiliki harapan sejak saja itu, saat aku mulai menyadari kalau ada hal yang rumit dari hubungan kalian. Ya, meski kemarin aku sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan Abimanyu tiba-tiba. Setelah dipikirkan, aku sadar mungkin dia sedang berusaha membuatku cemburu.” Almira tertawa seraya memalingkan wajahnya.

__ADS_1


Infiera menangkap jelas tatapan mata penuh luka dari wanita itu, sebelum Almira memalingkan wajahnya.


“Aku tahu, kalian tidak punya pilihan lain selain menikah. Kamu juga pasti sulit untuk menerima orang seperti Abimanyu yang cukup keras dengan hidupnya.” Kini, nada bicara Almira seperti orang yang penuh simpati dan juga iba pada Almira. Entah apa maksud wanita itu.


Diam, Almira menyeruput kopinya. Sedangkan Infiera masih membungkam mulutnya untuk beberapa saat. Setelah tidak ada perbincangan dan menciptakan keheningan.


Infiera mulai berbicara, “Aku sekali lagi masih tidak mengerti, kenapa Ibu mengatakan semua itu padaku. Tapi, aku berusaha menjawab satu persatu.”


Infiera membuka tas dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Dia meletakkan dua buku di atas meja. Jelas sekali kalau itu adalah buku nikah. Dia ternyata juga sudah melakukan persiapan sebelumnya.


“Aku percaya kalau itu adalah cincin pertunangan yang diberikan oleh Mas Abi pada Ibu saat kalian masih pacaran. Tapi, aku juga memiliki ini, surat resmi yang dikeluarkan oleh negara, sebagai bukti kalau saya adalah istri sah Mas Abi. Bukankah ini lebih memberikanku kekuatan untuk mengatakan kalau Mas Abi adalah milikku?” tanya Infiera, memberikan jawaban yang amat menohok.


Almira yang sejak awal terlihat amat tenang, bahkan cenderung berusaha mengintimidasi lawan bicaranya terlihat goyah, kelopak matanya berkedut. Dia bahkan terlihat hendak mengatakan sesuatu, tapi tak ada yang keluar dari mulutnya.


“Tidak peduli bagaimana hubungan kalian sebelumnya, tapi bukankah aku lebih berhak atas apa pun yang berkaitan dengan Mas Abi?”


“Tapi dia menyembunyikan pernikahan kalian.”


“Memang kenapa? Apa yang Ibu tahu mengenai hubunganku dengan Pak Abi?” tanyanya lagi, sebelum Almira mengatakan hal yang lebih banyak. “Jika Ibu merasa hubungan kalian belum berakhir. Ibu salah jika menemuiku. Ibu harusnya menemui Mas Abi langsung dan meminta kejelasan padanya. Kalau Mas Abi lebih memilih Ibu pada akhirnya. Aku berjanji akan melepaskannya. Tapi... jika dia tetap memilihku sebagai istrinya. Saya harap Ibu jangan pernah mengganggu kami lagi dan pergi sejauh mungkin dari hadapan kami.”


Infiera bangun dari duduknya. Fiera berkata sekali lagi sebelum dia pergi, “Maaf jika ucapan saya menyinggung, karena apa yang Ibu lakukan saat ini juga sudah sangat menyinggung saya.”


Sebelum benar-benar pergi dari tempat itu, Infiera masih sempat menganggukkan kepalanya dengan hormat, lalu melangkah pergi seraya meraih kedua buku nikah yang sebelumnya dia keluarkan dari dalam tasnya..


Almira membatu di tempat duduknya. Sungguh, dia tidak pernah menyangka kalau Infiera, mahasiswanya akan mengatakan hal seperti itu. Dari pertama dia menghubungi istri dari mantan kekasihnya itu, Almira berpikir kalau Infiera akan merasa bersalah dan akhirnya menjauhi Abimanyu. Hal itu jelas akan membuat hubungan mereka merenggang.

__ADS_1


Infiera keluar dari kafe itu dengan air mata yang menetes di pipinya. Tidak dapat dipungkiri kalau apa yang dikatakan Almira memang sangat menyakitinya. Abimanyu memang sudah menjelaskan semuanya, tapi membayangkan pria itu sangat mencintai Almira sebelumnya membuat hatinya amat terluka.


Infiera kembali ke rumahnya dengan menggunakan ojek online. Begitu sampai, dia melihat mobil suaminya sudah terparkir di halaman rumah. Itu membuat Infiera sedikit gugup, karena sebelumnya dia tidak mengatakan apa pun pada sang suami saat akan pergi.


Saat membuka pintu rumah, Infiera langsung melihat Abimanyu yang terlihat sedang membawa sesuatu di tangannya.


“Sayang, kamu dari mana? Aku telepon, tapi nomor kamu engga aktif?” tanyanya, dia meletakkan kotak yang dia bawa dari kamar Infiera.


“Itu ... aku beli cemilan dulu.” Infiera menunjukkan kantong keresek di tangannya. Dia sempat mampir ke mini market sebelum sampai di rumahnya dan membeli beberapa camilan di sana.


“Kirain kamu mau kabur dan nyuruh Mas beresin kamarnya sendiri.” Abimanyu menggoda istrinya.


“Ya, aku membeli cemilan memang untuk menemaniku saat membereskan kamar. Karena Mas sekarang sudah pulang, jadi Mas beresin sendiri saja, ya?”


“Hei, mana boleh seperti itu?”


“Boleh, dong. Aku lelah banget gara-gara Mas.”


“Loh, lelah kenapa?”


“Siapa yang dua malam ini tidak membiarkanku tidur dengan tenang?”


Abimanyu nyengir sambil menggaruk belakang telinganya. “Maaf, Sayang. Baiklah, Tuan Putri, kalau begitu Masmu ini akan membereskan kamar sampai selesai. Tapi, tolong, ya, bisa buatkan minuman yang dingin. Mas haus banget.”


“Siap Bos!” ucap Fiera, tangannya dia letakkan di pelipis, seperti orang yang sedang melakukan hormat.

__ADS_1


Abimanyu terkekeh dengan apa yang dilakukan istrinya. Dia mengusap puncak kepala wanita itu sebelum meneruskan apa yang sedang dilakukannya—membawa beberapa barang dari kamar istrinya, menuju ke kamar atas.


__ADS_2