
Sepanjang jalan menuju ke lokasi selanjutnya. Abimanyu dibuat tidak tenang. Mengingat istrinya yang menatap dengan pandangan kecewa. Sekarang, Fiera malah naik ke mobil pria lain. Ya, salahnya sendiri malah membuat kekacauan tanpa mencari tahu apa yang terjadi.
“Pak, hati-hati!” seru Adi yang duduk di sampingnya memperingatkan, karena Abimanyu hampir saja menerobos lampu merah dan menabrak kendaraan yang akan melintas di depannya.
“Astaghfirullah.” Abimanyu terkejut dan rem mendadak. Dia menatap ke arah depan, beruntungnya dia tepat waktu melakukannya.
“Bapak kenapa?”
“Tidak apa-apa. Saya ... hanya sedikit kurang fokus.”
Adi memegang sabuk pengamannya dengan kuat karena dia juga terkejut. Terlambat beberapa detik saja Abimanyu mengerem, mungkin mereka sudah mengalami kecelakaan.
“Sayangnya, saya tidak bisa menggantikan Bapak. Selain saya tidak punya sim, saya juga tidak bisa mengendarai mobil.”
“Tidak apa-apa. Biar saya saja.” Abimanyu menghela napas dalam-dalam. Dia melirik kesana-kemari, tapi tidak lagi melihat keberadaan mobil yang ditumpangi oleh istrinya.
Setelah beberapa detik berlalu, lampu lalu lintas berubah kembali menjadi hijau. Abimanyu kembali mengendarai mobilnya, dengan bantuan Adi yang menunjukkan arah yang dituju. Padahal, Adi ingin sekali bertanya pada dosennya, kenapa dia tiba-tiba datang ke Malang tanpa pemberitahuan? Namun, suasananya terasa mencekam setelah pertengkaran tadi, karena kesalahpahaman saja.
Hampir satu jam mereka melakukan perjalanan, Abimanyu menghentikan mobilnya di sebuah bangunan yang terlihat sudah usang sesuai arahan Adi, mahasiswanya.
“Ini masih panti jompo?” tanya Abimanyu pada mahasiswanya.
“Betul, Pak, sebenarnya tempat ini di luar rencana. Hanya saja, setelah melihat kondisinya, justru tempat ini yang membutuhkan perhatian lebih.”
Abimanyu mengangguk, lalu turun dari mobil terlebih dahulu, diikuti oleh Adi selanjutnya.
Abimanyu memperhatikan bangunan di hadapannya. Bangunan lama dengan cat berwarna hijau tua yang sudah memudah dan juga mengelopek. Pagar besi yang juga sudah berkarat, membuat tempat itu terlihat semakin usang. Apa lagi, di bagian sampingnya ada pohon besar yang tidak terawat, menutupi sebagian bangunan bagian atapnya.
“Sepertinya, pohon itu harus dibenahi,” ucap Abimanyu menunjuk pohon yang menarik perhatiannya. “Semakin menjulang ke atap itu hanya akan membuat bangunannya mudah hancur, karena jika hujan air akan masuk ke sela-sela genteng.”
“Anda betul, Pak, tapi sepertinya kita akan kekurangan orang juga jika melakukan hal itu.”
Mengingat, sebagian pekerja masih berada di lokasi sebelumnya untuk merenovasi toilet yang ada di sana. Beberapa relawan juga tetap berada di sana untuk mengawasi.
Abimanyu terdiam, pria itu terlihat berpikir untuk mencari jalan keluar. “Apakah di antara kalian ada yang asli orang sini?” tanya Abimanyu pada mahasiswanya.
“Dua orang dari kami asli orang sini. Kebetulan, kami tahu lokasi ini juga dari mereka berdua.”
“Bawa saya menemui mereka.”
Abimanyu langsung melupakan sejenak tujuannya datang ke Malang ketika dia melihat kalau dia juga dibutuhkan tenaganya di sana. Namun, saat dirinya menghampiri yang lain, yang kini sedang menurunkan logistik, Abimanyu melihat pemandangan Infiera yang tengah sibuk mengangguk semua logistik dengan bantuan Rendi di sampingnya. Mereka bergotong royong mengangkat barang yang berukuran cukup besar bersama-sama.
Setelahnya, kedua orang itu menyapa penanggung jawab panti untuk berdiskusi. Mereka terlihat serasi dan juga sangat kompak.
__ADS_1
“Pak,” panggil Adi, karena Abimanyu menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Infiera dan juga Rendi yang tengah sibuk.
“Ya?”
“Ini dia mereka.” Adi menunjuk dua orang pria yang kini sudah berdiri di samping mahasiswanya itu.
“Ah, iya.” Abimanyu menghela napas pelan, mengenyahkan perasaan kesalnya saat melihat Infiera yang sibuk bersama dengan pria lain. “Kalian asli orang sini?” tanya Abimanyu pada mereka berdua, yang menurut mahasiswanya, keduanya adalah asli orang situ.
“Betul, Pak, rumah kami hanya berjarak lima ratus meteran dari sini.”
Abimanyu mengangguk. “Apakah kalian memiliki kenalan orang yang biasa bekerja serabutan, kerja kasar?”
“Kalau boleh tahu, pekerjaan apa yang dibutuhkan?”
“Kita harus menebang ranting pohon besar yang ada di samping bangunan ini. Setelahnya, kita juga harus memperbaiki genteng yang bocor.”
“Saya punya sodara yang biasa melakukan pekerjaan seperti itu.”
“Bisa panggilkan ke sini? Tenang saja, saya yang akan bertanggung jawab untuk upahnya.”
“Baik, Pak, saya akan segera memanggilnya ke sini,” ucap salah satu di antara kedua orang itu.
“Dan kamu.” Abimanyu menunjuk pria yang satunya. “Bisakah antarkan dia untuk membeli bahan bangunannya untuk memperbaiki atap yang bocor nanti?”
Abimanyu mengangguk, dia segera mengeluarkan sebuah kartu dari dalam dompetnya dan menyerahkannya pada Adi. “Pakailah ini untuk membeli keperluannya.”
“Wah ... terima kasih banyak, Pak. Saya akan membuat nota pembeliannya.”
Abimanyu hanya mengangguk, lalu kembali memalingkan wajahnya ke arah tadi dia melihat Infiera sedang sibuk dengan Rendi. Ternyata, mereka berdua sudah tidak terlihat keberadaannya.
Abimanyu melangkah masuk untuk mencari keberadaan wanita itu. Abimanyu mengelilingkan pandangannya ke seluruh ruangan saat dia berada di dalam. Hanya ada beberapa orang relawan yang berlalu lalang sedang menata barang dan juga beberapa orang tua yang sedang disuapi di sana.
“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya seorang wanita seusia Infiera yang menghampiri Abimanyu.
“Apakah kamu mengenal Infiera? Kalau boleh tahu, di mana dia?”
“Ah, Fiera, ya? Dia sedang berada di kamar untuk mengganti sprei.”
Abimanyu mengangguk mengerti. “Terima kasih.”
Abimanyu melangkah menuju kamar yang dimaksud gadis yang tidak diketahui namanya itu. Pandangannya tidak lepas memperhatikan keseluruhan bangunan itu. Tidak terlalu besar, tapi menampung cukup banyak pasien orang tua. Sedikit miris dan membutuhkan perhatian ekstra.
Abimanyu menghentikan langkahnya di salah satu kamar yang kebetulan pintunya terbuka. Dia langsung menemukan wanita yang dicarinya, tapi begitu dia hendak melangkah. Abimanyu terlebih dahulu melihat Rendi menghampiri Fiera dengan membawa sesuatu.
__ADS_1
“Fier, ini lapisan untuk di bawahnya supaya kasurnya tidak mudah kotor dan juga basah. Jadi, hanya perlu mengganti sprei dan mencucinya.”
Fiera mengangguk dan menerimanya untuk dipasangkan. Sebenarnya, di dalam kamar itu tidak hanya ada mereka berdua, tapi ada seorang wanita paruh baya lainnya yang juga sedang membantu Fiera.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Abimanyu saat masuk ke dalam kamar itu, menarik perhatian ketiga orang yang ada di dalam sana.
Rendi yang langsung terlihat tidak suka dan sepertinya dia belum bisa memaafkan perlakukan Abimanyu sebelumnya, sedang Fiera hanya menatap datar kedatangan suaminya.
Hanya seorang wanita paruh baya yang tersenyum ramah menyambut kedatangannya. “Ini hanya tinggal memasang dengan sprei baru, lalu mencucinya.”
“Biar saya saja yang mencucinya.” Abimanyu menawarkan diri.
Fiera terkejut dengan ucapan suaminya, dia memandang pria itu, tapi tidak mengatakan apa-apa.
Abimanyu sengaja melakukan itu, berharap kalau Infiera mau membantunya dan mereka berdua bisa berbicara berdua untuk meluruskan kesalahpahaman yang dibuatnya tadi saat sampai.
“Eh, ini biar saya saja yang mengerjakan, Pak. Masa bapak yang nyuci.”
“Tidak apa-apa. Saya bisa melakukannya.”
Wanita paruh baya itu terlihat sedikit ragu. “Bapak benar ingin mengerjakannya?”
“Tentu saja.”
“Baiklah kalau begitu. Sebentar, saya akan mengumpulkan kainnya.”
Abimanyu mengangguk, dia baru saja akan membuka mulutnya untuk berbicara pada Infiera, tapi Rendi terlebih dahulu berucap. “Fier, bagaimana kalau kita ke dapur membantu yang lainnya menyiapkan makan siang?”
Fiera tidak langsung menjawab, dia melirik Abimanyu sekilas, terlihat ragu.
“Ayo, Fier. Ini sudah mau selesai ini, kan?”
“Benar, kamu bisa ke dapur membantu yang lain Fier. Biar saya yang selesaikan ini,” ucap wanita paruh baya yang tadi berbicara dengan Abimanyu.
“Baiklah kalau begitu.”
Fiera segera melangkah keluar meninggalkan kamar itu.
“Eh?” Abimanyu mengangkat tangannya untuk menghentikan Fiera, tapi hanya udara kosong yang dia dapatkan, karena sang istri sudah lebih dulu menghilang di balik pintu.
“Ini, Pak, kain-kainnya. Anda bisa mencucinya di belakang.”
Abimanyu menerima kain-kain itu, menatapnya dengan nanar. “Gini amat, Fier, cemburu.” Abimanyu menghela napas berat.
__ADS_1
Dia benar-benar merasakan perasaannya begitu kacau saat melihat istrinya bersama dengan pria yang menunjukkan ketertarikannya pada Infiera. Meski selama ini Gerald selalu terang-terangan mengatakan ingin mendekati wanita itu, tapi Abimanyu tidak pernah sekhawatir ini untuk kehilangan wanita Infiera.