
Notifikasi pesan terdengar, memecah keheningan di dalam mobil. Abimanyu hanya melirik sekilas pesan itu. Dari Gerald.
[Kapan lo balik ke Jakarta?]
Pertanyaan yang sudah Abimanyu perkirakan. Dia kembali meletakkan ponselnya di dasbor dan fokus ke jalanan di depannya. Tanpa berniat membalasnya.
"Kamu pulang besok?" tanya Abimanyu, pada gadis di sampingnya, yang sejak tadi hanya diam saja.
Tidak ada sahutan. Abimanyu meliriknya. "Fier!" panggilnya, menarik perhatian sang istri.
"Ya, ada apa?"
"Kamu melamun? Kenapa?"
Fiera menggeleng cepat sebagai jawaban.
"Tidak. Ada apa?"
Abimanyu tidak langsung menjawab. Tentu saja Fiera berbohong dengan ucapannya. Jelas sekali dia melamun.
"Apa karena pria bernama Rendi itu?" tanya Abimanyu lagi, memastikan alasan Infiera melamun sepanjang perjalanan.
Fiera menoleh mendengar pertanyaan dari suaminya. Gadis itu hendak menjawab yang sesungguhnya, tapi mengurungkannya. Lagi-lagi menggeleng.
"Aku hanya sedikit lelah."
Sejak kemarin, aktivitasnya cukup padat. Ini pertama kali Fiera melakukan kegiatan seperti itu.
Abimanyu hanya mengangguk mendengar jawaban sang istri. Entah harus percaya atau tidak. Dia benar-benar tidak bisa menebak. Apakah istrinya berkata jujur atau tidak?
Semenjak, kedatangannya ke Malang, sikap istrinya sedikit berbeda. Ya, mungkin bisa saja karena kedatangannya yang mendadak dan juga pertengkarannya dengan Rendi, tapi bukankah dirinya sudah meminta maaf?
Selain itu, Fiera juga belum menjawab pertanyaannya mengenai permintaan untuk menjadi istrinya yang seutuhnya.
Mobil yang dikendarai oleh Abimanyu sampai di salah satu mal yang ada di kota Malang. Mereka bergegas menuju ke sebuah toko pakaian, karena Abimanyu sudah sangat tidak nyaman dengan pakaian yang dikenakannya. Terlalu kecil.
Begitu masuk ke dalam toko, Abimanyu segera memilih pakaian yang dirasa cocok untuknya. Dia juga segera mengenakannya di ruang ganti.
"Kamu tunggu dulu di sini. Jangan kemana-mana."
"Iya."
"Ingat jangan keluyuran."
"Iya," balas Fiera dengan ekspresi jengkel, karena Abimanyu mengingatkan dirinya seperti anak kecil yang akan pergi jika ditinggalkan orang tuanya.
Abimanyu terkekeh saat melihat ekspresi jengkel di wajah istrinya. Hal itu malah terlihat lucu baginya.
Fiera menunggu suaminya yang sedang berganti pakaian. Dia sama tidak menyadari kalau celana yang dikenakannya sedikit kotor. Abimanyu sama sekali tidak memberikan waktu padanya untuk berganti pakaian.
Beberapa pelayan toko menatap ke arahnya sambil berbisik. Fiera yang tidak memperhatikan tidak menyadari hal itu, sampai seorang pelayan toko menghampirinya.
"Maaf, Nona."
"Ya?" Fiera mengangkat wajahnya, menatap pelayan toko yang ada di hadapannya.
"Anda tidak boleh duduk di sini."
Fiera terkejut dengan ucapan pelayan toko. Dia segera bangkit.
"Bukankah, ini diperuntukkan untuk tamu yang datang ke toko ini?" Fiera bertanya. Dia bahkan bisa melihat tulisan yang menempel di tembok dekat sofa itu. Jelas untuk tamu.
__ADS_1
"Betul. Tetapi... pakaian Anda sedikit kotor. Itu membuat tamu lain merasa tidak nyaman."
Fiera menunduk, melihat pakaiannya. Bajunya masih cukup bersih. Hanya celananya yang memang sedikit kotor.
Namun, rasanya itu sama sekali tidak akan membuat orang terganggu karena Fiera mengenakan celana jeans. Selain itu, bagian yang kotornya juga tidak parah. Masih batas wajar.
Namun, Fiera sama sekali tidak ingin mencari keributan. Dia mengangguk dan meminta maaf dengan hal itu, lalu berjalan menuju ke sebuah etalase pakaian wanita. Tidak buruk kalau dia juga membeli baju baru untuk dirinya sendiri.
Saat hendak memilih, Fiera mendengar bisik-bisik dari pelayan toko yang baru saja menegurnya, dia berbicara dengan rekannya.
"Bagaimana ada orang yang datang ke toko seperti ini hanya untuk duduk saja? Apa dia pikir ini tempat istirahat untuk ngadem?"
"Haha ... kau ini kaya engga tau orang jaman sekarang. Demi gengsi, apa aja dilakukan. Salah satunya masuk ke toko bermerek hanya untuk dilihat keren. Padahal, dia hanya numpang duduk."
Mendengar hal itu, telinga Fiera memerah karena malu sekaligus marah. Bagaimana mungkin dua pelayan itu mengatakan hal yang sangat menyakitkan seperti itu?
Fiera melirik dua orang yang sedang membicarakannya. Dia ingat, keduanya tidak ada saat dirinya masuk bersama dengan Abimanyu. Mungkin, mereka baru saja berganti sift.
Lagi-lagi, Fiera tidak ingin mencari keributan. Dia hanya diam, menahan kesal di dadanya. Berharap Abimanyu segera keluar dari kamar pas.
"Kamu sana lihat di ruang ganti. Bapak itu, minta ganti size."
Seorang pelayan toko lain menghampiri dan memberitahu pelayan yang sedang membicarakan Infiera untuk melayani orang yang ada di dekat kamar pas.
Pelayan itu bergegas. Ternyata, orang yang meminta ganti size adalah Abimanyu.
"Ada yang bisa saya bantu, Mas?" tanya pelayan itu dengan sopan, senyum lebar terkembang di wajahnya, melihat wajah tampan Abimanyu.
"Saya ingin minta size yang lebih besar dari ini."
Pelayan itu segera menerima pakaian yang Abimanyu berikan. Dia memperhatikan sejenak. "Tapi, Mas, sepertinya size ini pas untuk Anda. Tidak akan kekecilan." Pelayan itu mengangkat bajunya untuk diperlihatkan pada Abimanyu.
"Saya tau, itu pas untuk saya. Tetapi, saya hanya minta size yang lebih besar. Apa itu cukup sulit?"
"Ah, tidak, Mas. Saya akan segera menggantinya."
Senyum di wajah pelayan itu semakin lebar, dia sedikit lebih bersemangat karena orang pertama yang dia layani hari ini adalah pria tampan. Sepertinya juga kaya, jika dilihat dari penampilannya.
Selang beberapa saat, pelayan itu kembali, membawa size yang diminta Abimanyu. "Ini, Mas, bajunya."
Abimanyu menerima baju itu tanpa mengatakan apa pun dan segera masuk ke kamar pas.
Pelayan toko terlihat tertawa kecil. "Gila, ganteng banget. Gue harus dapat nomornya."
Tawa lebar di wajah pelayan itu seketika berubah, saat Abimanyu keluar dari kamar pas. Masih mengenakan pakaian miliknya sendiri.
"Bagaimana, Mas? Apakah sudah cocok?"
"Emm ... apakah ada warna abu-abu?"
"Oh, ada, Mas. Sebentar. Saya akan mengambilnya."
Pelayan itu segera mencari stok warna yang diminta. Beberapa saat kemudian, pelayan itu kembali lagi.
"Ini Mas bajunya."
Abimanyu menerimanya lagi, tanpa mengatakan apa-apa."
Abimanyu keluar setelah beberapa saat. Masih mengenakan pakaian yang sama.
"Bagaimana, Mas?"
__ADS_1
"Sepertinya, aku mau baju yang pertama saja. Itu memang pas untukku. Warnanya juga bagus."
"Hah?"
Pelayan itu terkejut, karena Abimanyu meminta baju pertama kali. Bukankah pria itu mengatakan sebelumnya, kalau dia ingin size yang lebih besar?
"Kenapa diam?"
"Eh, sebentar, Mas, saya ambilkan."
Pelayan itu melangkah pergi dengan mulut yang terlihat menggerutu tanpa suara.
Abimanyu menatap punggungnya dengan senyum puas di wajahnya. Hingga beberapa saat pelayan itu kembali dengan baju pertama yang dia coba.
Abimanyu masuk ke dalam kamar, lalu keluar setelah mengenakannya.
"Saya pilih yang ini saja." Abimanyu menyerahkan tag kepada pelayan itu untuk dibayar. Abimanyu juga menyerahkan satu setel lainnya untuk dia bungkus.
"Baik, Mas, untuk pembayarannya di kasir."
Pelayan itu berbalik meninggalkan Abimanyu.
"Apa dia sengaja mengerjaiku? Gila, ya, sampai minta ganti dua kali. Akhirnya dia pake yang pertama."
Abimanyu tidak menghiraukan gerutuan dari pelayan itu. Dia berjalan menghampiri istrinya, yang berdiri tidak jauh darinya.
"Kamu ingin beli baju juga?" tanya Abimanyu pada istrinya.
Fiera melirik salah satu pelayan yang tadi membicarakannya.
"Tidak. Aku tidak cocok dengan pakaian di sini. Uangku tidak akan cukup." Infiera sengaja berbicara sedikit keras, supaya pelayan itu mendengar.
Abimanyu tersenyum.
“Tenang saja. Suamimu ini banyak uang untuk membeli beberapa pakaian di sini untukmu. Jadi, pilihlah yang kamu mau."
Fiera awalnya hanya ingin menyindir para pelayan itu. Tapi, dia malah dibuat terkejut dengan ucapan Abimanyu yang mengakui statusnya.
Bukan hanya Fiera, pelayan di belakang mereka juga terlihat terkejut. Dia bahkan sampai menundukkan kepalanya.
Fiera tidak menolak kali ini. Dia memilih satu setel pakaian dan membawanya ke kasir untuk dibayar.
Abimanyu menghampiri pelayan yang tadi membawa struk pakaiannya dan menyerahkan pakaian istrinya juga.
“Sekalian bungkus baju istriku juga."
Pelayan itu juga tak kalah terkejutnya saat tahu, kalau wanita yang tadi dia bicarakan adalah istri pria tampan yang membuatnya bolak-balik ke gudang untuk melihat stok.
"Ba-baik, Mas."
Abimanyu tersenyum. Dia tiba-tiba merangkul bahu istrinya di hadapan para pelayan itu.
"Dia cantik, kan? Meski bajunya sedikit kotor, karena dia baru selesai menjadi volunteer di salah satu panti jompo. Meski begitu, kecantikannya sama sekali tidak tertutupi, malah semakin cantik karena kebaikan hatinya."
Abimanyu membanggakan isterinya tiba-tiba di hadapan para pelayan toko yang terlihat salah tingkah. Hanya kasir saja yang tetap fokus menghitung dan tersenyum sebelum menanggapi.
"Wah, istri Anda sungguh hebat."
"Tentu, istriku sangat hebat." Abimanyu kembali memuji Infiera.
Fiera yang berada di dalam rangkulan suaminya hanya bisa terpaku tidak percaya. Apa yang baru saja Abimanyu katakan? Apakah pria itu sedang membelanya? Apakah Abimanyu juga mendengar bagaimana para pelayan toko menggunjing Fiera sebelumnya?
__ADS_1