
Abimanyu menarik tangan Infiera, supaya gadis itu berada di belakangnya. Dirinya melangkah ke hadapan Rendi yang masih terlihat ling-lung.
Dua petugas keamanan langsung siaga, mereka takut kembali terjadi perkelahian. Begitu juga dengan Infiera yang kini berada di belakang suaminya.
Namun, Fiera hanya diam karena sebelah tangan Abimanyu masih menggenggam tangannya erat, seolah mengatakan kalau dirinya baik-baik saja, dan dia tidak perlu ikut campur.
"Pak Rendi, saya tidak tahu bagaimana Anda mengetahui keberadaan kami di sini, saya juga tidak peduli. Tetapi, apa yang Anda lakukan jelas mengganggu privasi kami."
Rendi masih diam. Dia bahkan tidak fokus dengan apa yang dikatakan Abimanyu padanya. Pikirannya masih tertuju pada informasi bahwa Infiera, gadis berlesung pipi yang sangat menarik perhatiannya saat pertama kali mereka bertemu ternyata sudah menikah.
"Anda bilang saya pantas mendekam di penjara. Mungkin itu lebih pantas untuk Anda."
"Mas," sela Fiera.
Abimanyu mengangkat sebelah tangannya yang bebas setinggi bahu untuk menghentikan istrinya yang akan bicara.
“Lebih baik, sekarang kita selesaikan semuanya di kantor polisi. Selain menerobos tanpa persetujuan, Anda juga melakukan tindak kekerasan. Selain itu, Anda juga memberikan tuduhan palsu pada saya."
Abimanyu melirik pada dua petugas keamanan.
"Pak, saya harap kalian menahan dia. Saya ingin menyelesaikannya di kantor polisi."
"Mas." Fiera kembali berbicara. Dia tidak ingin memperpanjang masalah.
"Silakan, Pak, amankan dia. Saya hendak berpakaian terlebih dahulu."
Abimanyu mengabaikan panggilan istrinya.
Petugas keamanan terlihat salah tingkah dengan perintah Abimanyu, tapi mereka memang melakukan kesalahan. Selain itu, Rendi sudah mengatakan kalau dirinya akan bertanggung jawab untuk semua hal yang terjadi.
"Pak Rendi. Mari."
Rendi masih belum mengatakan sepatah kata pun, dia berbalik, dan melangkah mengikuti petugas keamanan.
Abimanyu menutup pintu dan berbalik, melepaskan genggaman tangannya pada sang istri.
"Mas, kenapa kita harus ke kantor polisi?"
Abimanyu yang hendak mengambil pakaiannya menghentikan langkah, lalu berbalik menghadap isterinya.
"Kamu masih bertanya?" Abimanyu mendekatkan wajahnya ke hadapan Infiera. "Coba perhatikan, apa aku baik-baik saja sekarang?"
Fiera menatap lebam di wajah suaminya. Di sudut bibirnya juga terlihat bercak darah. Dia mulai bingung.
Fiera tidak mengerti kenapa Rendi tiba-tiba muncul dan memukuli Abimanyu, tapi jelas kasus ini hanya salah paham dan membawanya ke ranah hukum hanya akan membuat situasi menjadi sangat rumit.
"Ya, kita bisa membicarakannya nanti setelah aku mengobati luka Mas. Tetapi, membawa masalah ini ke kantor polisi hanya akan membuat kita tertahan lebih lama di sini."
Abimanyu kembali menegakkan tubuhnya dan menatap Fiera serius. "Mas tidak masalah dengan hal itu. Sudah sepantasnya dia menerima akibatnya."
__ADS_1
"Tapi, Mas, Pak Rendi pasti melakukan itu tidak sengaja. Semuanya karena salah paham."
"Salah paham?"
Abimanyu mengulang perkataan Infiera. "Jika kamu jalan bersamanya, wajar jika aku marah dan menjadi salah paham. Lalu, apa haknya untuk salah paham padaku dan kamu?"
Fiera tertegun. Benar, Rendi sama sekali tidak memiliki alasan untuk salah paham. Apa yang dilihatnya di parkiran tidak bisa dijadikan alasan untuk itu.
"Kalau kamu tidak mau ikut, biar Mas aja sendiri yang mengurusnya."
Abimanyu meneruskan niatnya untuk mengambil pakaian dan segera mengenakannya.
Mendengar hal itu, Fiera berkata, "Baiklah, Mas tunggu sebentar. Aku ganti baju dulu."
Fiera buru-buru mengambil kantong pakaian miliknya dan membawanya ke kamar mandi. Dia tidak bisa membiarkan Abimanyu mengurus masalah ini sendirian. Bagaimanapun, masalahnya melibatkan dirinya. Selain itu, luka di wajah Abimanyu harus segera diobati. Supaya tidak semakin membengkak dan infeksi.
****
Tiga orang yang terlibat keributan di kamar hotel sebelumnya kini sudah berada di kantor polisi dengan ditemani dua security yang menjadi saksi.
Rendi benar-benar tidak membantah dengan laporan yang dilakukan oleh Abimanyu. Pria itu mengiyakan semua pertanyaan yang diajukan pihak kepolisian.
"Apa Anda yakin untuk melanjutkan kasus ini?" tanya polisi pada Abimanyu sekali lagi, untuk memastikan.
Fiera yang berdiri di samping Abimanyu langsung menoleh pada suaminya. "Mas." Suaranya terdengar penuh permohonan. "Tolong pikirkan lagi." Akhirnya, Fiera engga bisa hanya diam saja.
Fiera tersenyum mendengar itu, dia berpikir kalau Abimanyu akhirnya mempertimbangkan permintaannya.
"Mas, kan, tau kalau semuanya terjadi karena salah paham. Pak Rendi mengira kalau aku dipaksa. Jika Mas ingin meminta ganti rugi, itu urusan Mas. Tapi, aku mohon. Lebih baik hentikan aja. Itu juga hanya akan membuang waktu kita."
Fiera sengaja memperjelas maksudnya, supaya Abimanyu tidak salah paham. Mereka harus tetap di Malang jika meneruskan kasusnya. Sedangkan, keduanya masih memiliki aktifitas lain di Jakarta setelah ini.
"Lalu bagaimana denganku?" tanya Abimanyu lagi. Ekspresi wajah terlihat datar, meski Fiera tersenyum padanya.
"Tentu saja, aku akan bantu mas mengobati lukanya."
Abimanyu terdiam dengan hal itu, dia kembali memalingkan wajah.
Fiera menganggap hal itu adalah bentuk persetujuan Abimanyu untuk membatalkan laporannya. Dia segera berbicara pada polisi, "Pak, kami ingin membatalkan tuntutannya. Maaf, kalau kami sudah bersikap plin-plan. Mungkin ini bisa menjadi pelajaran buat Pak Rendi supaya tidak gegabah mengambil tindakan."
Polisi mengangguk setuju.
"Tidak masalah. Jika memang masalah ini bisa diselesaikan dengan baik, saya akan membatalkannya. Kami juga memberi peringatan kepada Pak Rendi. Jika hal seperti ini kembali terjadi. Kami akan bertindak tegas.
Rendi yang duduk di kursi bagian belakang mengangguk. Seorang pengacara juga datang sesaat setelah Rendi sampai di kantor polisi.
"Terima kasih, Pak. Sekali lagi saya minta maaf atas keributan ini." Fiera kembali berbicara, dia terlihat lega.
Namun, dugaannya salah, karena tiba-tiba Abimanyu bangun dari duduknya dan lekas berbalik, melangkah meninggalkan ruangan begitu saja.
__ADS_1
Fiera panik karena Abimanyu tidak mengatakan apa-apa. Dia sekali lagi berbicara pada polisi sebelum berjalan cepat menyusul Abimanyu yang sudah keluar.
Begitu sampai di halaman kantor polisi. Abimanyu sudah berada di dalam mobil, di belakang kemudi. Mesin mobil juga sudah dinyalakan. Tetapi, saat Fiera hendak membuka pintu, ternyata terkunci.
"Mas!"
Abimanyu memundurkan mobilnya, membuat Infiera mundur untuk menghindar.
"Mas!" teriak Fiera, saat mobil yang dikendarai Abimanyu melaju begitu saja dengan kecepatan tinggi. Fiera terkejut dengan hal itu.
Panggilannya sama sekali tidak dihiraukan Abimanyu. Dia terlihat kebingungan. Suaminya pasti marah, karena Fiera memilih membatalkan tuntutan.
Padahal, niatnya baik.
Fiera merasakan kelopak matanya menghangat, dan bola matanya memerah. Satu tetes air mata membasahi pipinya tanpa sadar.
Setelah beberapa saat, sebuah motor masuk ke halaman kantor polisi dan berhenti di hadapan Infiera.
"Fier, ada apa?"
Ternyata, itu Adi bersama dengan salah satu relawan. Pria itu terlihat kebingungan.
"Kenapa kalian sampe ke polsek? Ada masalah apa?"
"Kak Adi." Air mata tak bisa dibendung. Fiera menangis semakin deras. "Kak, bisakah Kakak membawaku ke hotel yang ditempati Pak Abi? Aku harus menyusul."
Adi menghela napas melihat juniornya malah menangis, bukan menjawab pertanyaannya.
"Fier, maaf kalau saya lancang. Sebenarnya, ada hubungan apa kamu dengan Pak Abi?" Adi tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya. Apa lagi, saat tahu kalau dosennya dan juga juniornya tiba-tiba ada di polsek yang katanya berselisih dengan Pak Rendi?
"Sebenarnya ... Pak Abimanyu itu suamiku." Fiera menunduk malu dengan hal itu, tapi dia tidak bisa lagi menyembunyikannya. Tidak peduli kalau Abimanyu akan marah pada akhirnya.
"Apa?" Adi terkejut. Meski sudah menduga kalau mereka memiliki hubungan, tapi dia tidak mengangka kalau hubungan mereka akan sampai sejauh ini.
'Pantas Pak Ge bilang santai aja. Fiera akan baik-baik saja dengan Pak Abi. Pak Ge harus jelasin semuanya. Gue sekarang merasa bodoh banget sampe engga sadar.' Adi hanya bisa menggerutu dalam hati.
Sekarang, bukan saatnya dia bertanya lebih lanjut. Fiera terus menangis. Dia harus segera membawanya menemui Abimanyu.
Adi menoleh pada temannya. "Apakah boleh saya meminjam motornya? Kamu bisa pulang bareng Pak Rendi."
Rekan yang datang bersama dengan Adi mengangguk. "Siap, saya mau menemui Pak Rendi dulu di dalam."
Adi mengambil alih motor itu dan segera meminta Fiera untuk naik.
"Di mana hotelnya?"
Fiera segera memberi tahu Adi lokasinya. Perasaannya tidak karuan. Abimanyu pergi dalam keadaan marah dan juga dengan wajah yang dipenuhi lebam.
...Hai, Readers, maaf ya aku belum bisa lama-lama di depan laptop. Jadi nulisnya engga bisa selesai dalam satu hari. Tapi, mulai besok aku up lebih banyak karena babnya sudah ada dan tinggal revisi. Terima kasih untuk semua dukungan dan doa kalian. I Love You all...
__ADS_1