Istri Dosen Galak

Istri Dosen Galak
Kamu Istriku!


__ADS_3

Infiera terlihat salah tingkah. Dia melirik Adi yang menatapnya dengan penuh keheranan. Mungkin, sekarang pria itu sedang berpikir. Bagaimana caranya, Fiera bisa sangat berani menertawakan Abimanyu, dia bahkan berani memukul lengan pria itu.


Abimanyu tentu saja menyadari situasi yang ada di hadapannya. setelah mengenakan jaket kulitnya, dia menghadap ke arah Adi yang terlihat sangat penasaran. “Ada apa?”


“Eh, tidak, Pak. Saya ke sini ingin mengajak kalian makan. Kebetulan, beberapa warga mengirim makanan hasil kebun mereka.”


Adi terlihat salah tingkah juga, karena dia sadar sejak tadi dia mencurigai Infiera dan juga Abimanyu memiliki hubungan. Bahkan, saat dosennya itu baru sampai di Malang. Adi sudah sangat curiga. Ditambah dengan kejadian barusan.


Abimanyu melirik jam di tangannya, lalu berkata, “Saya harus membeli pakaian. Tidak mungkin, kan, memakai baju kamu terus?”


Baru saja Adi mengangguk, Abimanyu sudah kembali berucap, “Dia juga akan ikut saya.” Abimanyu menunjuk pada Infiera, istrinya.


“Eh?” Fiera terkejut dengan Abimanyu yang menurutnya sangat gegabah.


Sekarang, Adi semakin dibuat frustrasi oleh dosen dan juga juniornya. Dia saja belum menemukan jawaban yang pasti, mengenai kenapa Abimanyu tiba-tiba muncul di Malang. Lalu, bagaimana dengan Infiera yang terlihat sangat dekat dengan dosennya itu. sekarang, Fiera malah diajak berbelanja pakaian.


Abimanyu mengabaikan ekspresi heran mahasiswanya dan menghadap sang istri. “Ayo, kita pergi.” Dia menggenggam tangan Infiera dan langsung membawanya pergi, untuk meninggalkan panti jompo itu.


Adi tertegun di tempatnya. Kini dia benar-benar merasa ling-lung dengan dosennya dan juga juniornya di kampus itu. “Gue benar-benar kudu dapat jawaban dari Pak Ge.” Adi segera mengeluarkan ponselnya untuk mengintrogasi sang dosen. Dari balasan pesan yang dikirimkan oleh Gerald sebelumnya saja. Adi sudah sangat curiga.


[Pak Ge, jelaskan. Ada hubungan apa Infiera sama Pak Abi?]


[Anak kecil jangan kepo!]


Balasan secepat kilat dari Gerald. Malah membuat Adi ingin menceburkan diri ke empang sebelah.


***

__ADS_1


Saat keluar dari pintu, Fiera melihat beberapa relawan sedang menikmati kudapan yang dikirimkan oleh masyarakat setempat di teras. Tak terkecuali Rendi yang juga berada di sana. Pria itu tersenyum lebar langsung berdiri dari duduknya saat melihat Fiera keluar.


“Fier, kamu mau makan singkong ini? Aku sudah memisahkannya untukmu.” Rendi melangkah menghampiri, tapi senyumnya langsung pudar, begitu dia melihat Abimanyu bersama dengan gadis itu.


Bukan hanya itu, Rendi juga melihat bagaimana Abimanyu yang menggandeng Infiera. Pria itu bahkan menatap Rendi dengan penuh permusuhan.


“Maaf, Pak. Anu ... saya harus pergi dulu sebentar.”


Rendi sedikit menyipitkan matanya, sebelum dia kembali mendapatkan ketenangannya. “Kamu mau ke mana? Bukannya kita sebentar lagi harus bersiap masak untuk makan malam?”


Fiera baru teringat hal itu. Kalau mereka akan membuat pasta untuk menu makan malam dan dirinya berjanji akan membantu untuk membuatnya.


“Dia mau temenin saya berbelanja.” Abimanyu menimpali, dia melangkah ke hadapan Infiera, seperti ingin menghalangi pandangan Rendi dari istrinya. Sejak awal dia sudah tahu kalau pria ini memiliki ketertarikan.


“Berbelanja?” Rendi mengulang ucapan Abimanyu. “Apa itu cukup mendesak sampai Anda harus memintanya menemani berbelanja. Di sini kami sudah menyusun jadwal seluruh kegiatan. Jadi, saya rasa bukan hal baik jika Anda mengajaknya berkegiatan di luar jadwal itu.”


“Tentu tidak. Tetapi, seharusnya Anda paham, kalau kami di sini untuk membantu para lansia. Kalau Anda tiba-tiba datang ke sini, hanya untuk mengacaukan jadwal salah satu dari kami, rasanya kurang baik. Apa lagi, Anda seorang dosen.” Rendi benar-benar tidak mau mengalah dari Abimanyu. Dia semakin kesal, saat melihat pria yang mengaku seorang dosen itu malah menggenggam tangan mahasiswanya seperti itu.


“Memang siapa yang mengatakan kalau kalian sedang  bermain?”


Menyadari suasananya semakin memanas, Infiera segera melepaskan genggaman tangan Abimanyu dan berbicara pada Rendi, “Maaf, Pak, mengenai jadwal yang tadi bapak sebutkan. Saya berjanji akan kembali saat waktunya tiba. Sekarang, saya harus pergi dulu.”


Rendi mengalihkan pandangannya pada Infiera. Tetapi, sebelum dua bisa menjawab ucapan gadis itu. Abimanyu lebih dulu. “Anda dengarkan? Kalau begitu, kami permisi.”


Tanpa menunggu jawaban Rendi, Abimanyu kembali menggenggam tangan Infiera dan melangkah meninggalkan teras.


Rendi membisu dengan hal itu. Dia menatap kepergian dua orang yang baru dirinya kenal kemarin salah satunya, dan satunya baru dikenal hari ini. Tetapi, keduanya sudah membuat perasaannya kacau. Jika Abimanyu membuat Rendi amat jengkel, sedangkan Fiera membuatnya begitu penasaran.

__ADS_1


“Eh, apa mereka pacaran?”


“Sepertinya memang begitu.”


“Lihat saja, mereka terus bergandengan tangan.”


Beberapa orang yang berada di teras itu mulai berbisik. Tentu saja, mereka tidak mungkin tidak berpikir seperti itu? Mengingat bagaimana sikap Abimanyu tadi pagi saat dia bertengkar dengan Rendi. Sore ini pun, Abimanyu bertengkar dengan sang donatur demi seorang gadis bernama Infiera.


“Habiskan makanan kalian. Jangan membahas hal yang bukan urusan kalian.” Rendi menegur, tapi di lubuk hatinya dia juga berpikiran hal yang sama.


Namun, dia tidak bisa menerima kenyataan hal itu. Baru saja dirinya merasakan ketertarikan pada seorang gadis cantik berlesung pipi. Sekarang, harus menerima kenyataan kalau dia memiliki pasangan.


Tidak mungkin! Di dalam hatinya, Rendi menyangkal kalau Abimanyu memiliki hubungan dengan Infiera.


Di dalam sebuah mobil. Fiera dan juga Abimanyu kini sedang berada di dalam perjalanan menuju salah satu mal yang ada di Malang. Fiera terlihat kesal dengan suaminya. “Mas kenapa, sih, harus bertengkar dengan Pak Rendi?”


“Bertengkar? Memang siapa yang bertengkar?”


Fiera melipat kedua tangannya di dada dan menghadap Abimanyu. “Apa Mas tidak sadar? Baru saja Mas bertengkar dengan Pak Rendi dan disaksikan semua orang yang ada di sana.”


“Apa menurut kamu itu bertengkar? Mas hanya mengatakan yang sesungguhnya. Kalau kamu akan ikut Mas untuk berbelanja.”


“Justru itu. Kenapa aku harus ikut Mas berbelanja? Kan, Mas bisa sendiri.”


“Karena kamu istriku!”


Fiera langsung mengunci rapat bibirnya mendengar hal itu. Dia menyandarkan punggungnya di kursi dan menatap lurus ke arah depan tanpa menimpali ucapan Abimanyu. Setiap kali pria itu mengakuinya sebagai istri, yang ada di pikirannya adalah sosok Almira yang berjalan bersama dengan suaminya di bandara.

__ADS_1


__ADS_2