Istri Dosen Galak

Istri Dosen Galak
Bolehkah Tidur Bersamamu?


__ADS_3

Infiera merasakan tubuhnya kaku, di dalam pelukan Abimanyu, suaminya. Telinganya terasa berdengung, mendengar perkataan yang baru saja diucapkan oleh suaminya. Dia benar-benar tidak mempercayai apa yang baru saja didengarnya.


Fiera menunduk, menatap tangan kekar yang melingar di perutnya. “Mas,” panggilnya dengan suara pelan.


Meski suara istrinya bagai hembusan angin yang lewat. Abimanyu dapat mendengar panggilan itu. Dia merespon dengan semakin mengeratkan pelukannya.


“Aku mencintaimu.” Abimanyu mengulangi perkataannya. “Aku mencintaimu,” ucapnya untuk terakhir kali.


Baru, saat itulah Fiera sadar kalau dirinya tidak sedang berhalusinasi. Beberapa detik yang lalu, Abimanyu memang menyatakan cinta padanya.


“Kenapa tiba-tiba?” Meski sudah dapat memastikan kalau Abimanyu menyatakan cintanya, Fiera masih belum bisa mempercayai sepenuhnya.


“Tidak ada yang tiba-tiba. Semuanya berjalan selama satu tahun pernikahan kita. Hanya saja... .” Abimanyu semakin erat memeluk. “Mas yang terlalu bodoh untuk menyadari, kalau kamu adalah wanita yang luar biasa. Kamu bisa mengubah perasaan Mas dalam waktu yang sangat singkat.”


Abimanyu tidak pernah menyadari sebelumnya, betapa hatinya selalu dibuat kesal setiap kali melihat Fiera tertawa bersama dengan orang lain. Khusunya pria lain.


Namun, setiap kali dia merasa kesal. Abimanyu hanya berkata pada dirinya sendiri. Kalau pernikahan mereka yang dipaksakan memang akan sulit untuk disatukan. Satu-satunya cara adalah dengan mereka berteman.


Akan tetapi, semua itu semakin membuatnya tidak nyaman, saat Abimanyu melihat dengan jelas, banyak pria yang tertarik pada istrinya. Itu membuatnya tidak terima.


Fiera menyentuh tangan Abimanyu dan melepaskan pelukannya. Lalu, dia berbalik menghadap pria itu.


"Bukannya kita teman?" tanya Fiera, ekspresi wajahnya sama sekali tidak terlihat, kalau dia sedang bercanda.


Abimanyu menghela napas panjang sebelum menjawab, "Mas tahu, itu adalah permintaan terkonyol yang pernah mas lakukan." Abimanyu sedikit menunduk, lalu meraih tangan Infiera. "Mas pasti udah banyak menyakiti hati kamu."


Fiera sedikit memalingkan wajahnya. "Mas tahu, hari di mana Bapak mengatakan kalau aku akan dijodohkan dengan anak dari temannya, saat itu jugalah aku sudah memutuskan untuk menyerahkan hidupku pada suamiku."


Fiera tiba-tiba membalas genggaman tangan Abimanyu.


"Mas tau? Sejak hari di mana aku mengatakan pada Bapak, kalau aku setuju untuk menikah. Aku selalu berpikiran, tangan inilah yang akan menggenggamku dan menguatkan di hari-hari sulit yang akan aku jalani. Tangan inilah yang akan mengajarkan banyak hal saat aku tidak tahu apa-apa."


Meski belum menikah, saat itu Fiera tahu kalau pernikahannya tidak akan mudah.


Proses perjodohan dan perkenalan yang sangat singkat, membuat Fiera selalu menguatkan hati, kalau Abimanyu akan bersamanya melewati setiap kesulitan itu.

__ADS_1


Namun, siapa sangka, bukannya membantu Fiera keluar dari kesulitan. Hari pertama mereka kembali ke Jakarta setelah pernikahan. Abimanyu malah menciptakan kesulitan yang sangat besar baginya.


Mereka harus tinggal di kamar berbeda. Keduanya juga harus bersikap tidak saling mengenal. Baik itu di kampus, maupun di rumah. Abimanyu hanya asik dengan dunianya.


Abimanyu menarik tangan Infiera, dan mengecup punggung tangan itu. "Maafkan, mas, Fier. Mas emang bodoh sudah membuatmu berjuang sendirian selama ini. Tolong, beri Mas kesempatan untuk memperbaiki segalanya mulai hari ini."


Senyum Fiera merekah mendengar hal itu. Kesabarannya selama satu tahun, apakah sudah saatnya membuahkan hasil? Apakah ini saatnya dia mendapatkan kebahagiaan yang selama ini diimpikan?


Fiera mengangguk tanpa ragu, membuat Abimanyu bernapas lega akan hal itu.


"Terima kasih, Fier."


Abimanyu menarik tangan Infiera, membuat tubuh gadis itu melangkah ke depan dan jatuh pada pelukan suaminya.


"Terima kasih, Fier, terima kasih. Mas janji, mulai saat ini mas akan berusaha memberikan kebahagiaan untukmu."


Fiera membalas pelukan itu. "Kita tidak berteman lagi?" tanya Fiera, sedikit menggoda.


"Kamu teman mas, teman hidup, istri mas, dan kamu adalah duniaku."


Abimanyu menunduk dan mengecup puncak kepala istrinya cukup lama. Dia memejamkan matanya, merasai kebahagiaan di hatinya.


Lalu, bagaimana dengan Almira?


Saat mantan kekasihnya itu kembali muncul di hadapan Abimanyu, ketika Almira menjadi dosen baru di kampusnya. Tidak sedikit pun Abimanyu merasakan getaran yang sama di hatinya.


Abimanyu hanya menganggap kalau Almira adalah teman lama, yang pernah dekat dengannya.


Tidak ada kerinduan, tidak ada lagi perasaan ingin memiliki wanita yang pernah mengisi hari-harinya sebelumnya.


***


Setelah pernyataan cinta yang begitu romantis. Suasananya harus terganggu dengan sebuah panggilan pada Abimanyu. Gerald memberi tahu, kalau ada sesuatu yang terjadi di kafe. Itu membuat Abimanyu harus pergi dengan segera, meninggalkan isterinya.


Padahal, Abimanyu ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan Infiera, tapi Gerald malah memberikan kabar yang membuatnya harus pergi.

__ADS_1


Sekitar pukul delapan malam, Abimanyu baru kembali ke rumahnya. Dia tidak melihat istrinya di dalam rumah.


"Apa dia sudah tidur?" gumamnya. Abimanyu tersenyum saat dia melirik kamar istrinya dan bergegas menuju kamarnya di lantai dua untuk mandi dan berganti pakaian. Malam ini, dia berniat untuk tidur di kamar gadis itu, sebelum dia membawa Fiera ke kamarnya di lantai dua.


Abimanyu mandi dengan cepat, dia kembali turun dengan terburu-buru. Bahkan, dirinya hampir menjatuhkan pas bunga yang ada di dekat tangga.


Abimanyu berdiri di depan pintu kamar istrinya dan bersiap untuk mengetuk, tapi tiba-tiba ia mengepalkan tangannya, sedikit ragu untuk melakukannya.


"Apa yang harus kukatakan?" tanya Abimanyu pada dirinya sendiri. "Fier, boleh mas tidur di sini?"


Abimanyu menggeleng cepat. "Ah, tidak-tidak. Itu terlalu frontal. Aku akan bertanya, 'Fier, kita, kan, sudah menikah. Bolehkah aku tidur di sini?’”


Abimanyu terdiam, dia merasa ada yang aneh dengan ucapannya itu. "Kenapa aku harus bertanya. Bukankah itu yang seharusnya dilakukan suami istri?"


Abimanyu tampak frustrasi di depan kamar istrinya. "Stupid! Seharusnya, dulu gue engga minta dia buat tidur di sini. Harusnya, gue langsung aja bawa ke kamar atas. Ah, dasar bodoh."


Abimanyu menghela napas panjang untuk menghilangkan kegugupannya, lalu berdehem.


"Fiera," panggilnya dengan suara pelan, seraya mengetuk pintu.


"Ya, Mas?" jawab Fiera, tapi suaranya bukan dari dalam kamar. Melainkan dari arah belakangnya.


Abimanyu terjingkat dan tempatnya, dia menoleh ke belakang. "Fi-Fiera? Ke-kenapa kamu ada di sini?" Dia menoleh ke belakang. "Bukannya... kamu ada di kamar?"


Infiera terlihat menahan tawanya, entah sejak kapan dia berdiri di belakang Abimanyu.


"Tidak. Aku baru aja kembali setelah membeli makanan saat Mas sampai di rumah. Tapi, karena mas naik ke lantai dua. Jadi, aku memutuskan untuk menyiapkan terlebih dahulu makanannya. Saat aku hendak memanggil, siapa sangka... " Fiera menunduk dengan malu, “ada seseorang yang ingin tidur bersamaku di dalam kamar itu.”


Wajah Abimanyu seketika memerah, hingga belakang telinganya. Dia amat malu sekarang. Bagaimana mungkin, Fiera melihat segala tingkah bodohnya.


Abimanyu menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Bolehkah?"


Fiera mengangguk seraya mengembangkan senyumnya.


Abimanyu lega melihat hal itu. Dia segera berjalan menghampiri isterinya dan memeluknya, lalu...

__ADS_1


...Bersambung. Haha...


Penasaran, kan? Jangan lupa vote untuk dukung cerita ini terus.


__ADS_2