
Gerald menggerutu kesal dengan seloroh Abimanyu yang mengejeknya dengan terang-terangan. Belum lagi, sebelum dirinya datang, sang ibu menghubungi Gerald untuk segera menikah, seperti yang dilakukan Abimanyu.
“Dre, seharusnya kita datang kapan-kapan saja!” Gerald masih terdengar kesal, tapi hanya mendapat kekehan kecil dari temannya. Sedangkan Abimanyu mendengkus.
Fiera sedikit malu pada Gerald. Bagaimanapun, dia adalah dosennya dan mereka berdua menyembunyikan pernikahan pada pria itu selama ini.
Abimanyu mengabaikan kekesalan Gerald dan mengajak Andreas untuk masuk ke ruangannya.
"Pak Andreas, lebih baik kita bicara di ruangan saya."
"Panggil saya Andreas. Sepertinya, umur kita hampir sama."
"Baiklah, Andreas. Anda sudah mengenal istri saya?"
"Tentu saja, dia adalah penulis yang akan kami terbitkan tahun ini bukunya."
Fiera menunduk menahan senyum mendengar hal itu, dia benar-benar bahagia, karena akhirnya hasil kerja kerasnya akan segera membuahkan hasil, setelah beberapa waktu lalu ditolak mentah-mentah.
Ya, lebih kesalnya, ternyata yang menolak adalah suaminya sendiri.
Begitu mereka sampai di lantai dua.
Keempat orang itu bertemu dengan Joko yang baru saja keluar dari ruangannya.
"Selamat sore Pak."
"Sore juga," jawab Abimanyu.
"Selamat sore, Kak, masih ingat aku?" tanya Fiera, saat melihat pria yang waktu itu bertemu dengannya untuk menolak naskah dan juga saat mereka datang ke perpustakaan.
"Tentu saja ingat, Mbak Fiera."
"Kamu jangan menggodanya. Dia istri saya," sela Abimanyu saat melihat stafnya tersenyum pada sang istri.
Abimanyu tidak segan lagi menunjukkan kepemilikannya di hadapan orang lain. Hal itu langsung mendapatkan cubitan dari istrinya.
Abimanyu hanya meringis, tapi dia malah merangkul sang istri.
Joko tersenyum dengan hal itu. "Tentu saya ingat, Pak. Kan, bapak sudah memberi tahu waktu itu."
Mendengar jawaban Joko, Fiera terkejut. Kapan Abimanyu memberi tahu Joko mengenai pernikahannya? Dia menoleh pada Abimanyu untuk mencari jawabannya.
Namun, Abimanyu malah berpura-pura tidak menyadarinya dan berkata, "Jok, bisa membawakan minuman untuk tamu kita," kata Abimanyu pada stafnya.
__ADS_1
"Baik, Pak."
Setelah itu, Abimanyu kembali mengajak Andreas dan yang lainnya untuk masuk ke dalam ruangannya.
Sebelum sampai di ruangan Abimanyu, Fiera berkata terlebih dahulu, "Mas, bagaimana kalau aku nunggu di perpustakaan aja? Biar kalian nyaman membahas kerjaannya.”
Dari ucapan Gerald sebelumnya, Fiera dapat menyimpulkan kalau mereka akan membahas kerja sama.
"Engga apa-apa emang? Entar kamu bosen."
Terdengar decakan malas dari arah belakang Abimanyu. Dia adalah Gerald, yang seperti nyamuk di antara pasangan itu.
"Pak Ge, ih, iri aja." Kini giliran Fiera yang bicara. "Makanya, Bapak cepat nikah."
"Berani, ya, sekarang?"
"Hehe ... engga, Pak, saya bercanda."
Fiera mengangkat kedua tangannya, seperti orang yang baru saja menyerah. Dia tahu Gerald tidak marah.
"Baiklah, hentikan. Kalau gitu, kamu tunggu di sana, ya, aku minta Joko buat bawa makanan ke sana."
Fiera mengangguk, lalu dengan sopan berpamitan pada Gerald dan juga Andreas. Setelahnya, dia berjalan menuju ke ruang perpustakaan. Tentu saja dia masih mengingatnya dengan sangat jelas.
Sebuah papan nama berukuran tiga puluh senti terpasang di bagian atas 'Kumpulan Buku Penulis Abimanyu Alsaki'.
Ternyata, itu adalah buku-buku suami Infiera. Jika dilihat, beberapa ada di rumahnya. Fiera hanya mengambil buku yang sama sekali belum pernah dia baca.
Baru saja halaman pertama dibukanya. Fiera mendengar ponselnya berbunyi, sebuah pesan masuk diterimanya.
Fiera melihat pesan yang baru saja diterimanya. Ternyata itu pesan dari ibunya.
[Nak, ayah sakit. Kapan kamu mau pulang ke Bandung?]
Melihat pesan itu, buru-buru Fiera menelepon ibunya dan menanyakan bagaimana keadaan ayahnya.
Ternyata, ayahnya hanya kelelahan, karena sedang musim panen sayuran di sana.
"Baiklah, Mah, aku akan bicara sama Mas Abi. Soalnya, dia sedang sibuk menyiapkan pembukaan kafenya. Doain, ya, Mah, supaya usahanya diberi kelancaran."
"Tentu saja, Mamah akan selalu doain kalian. Yang terpenting jangan lupakan shalat sesibuk apa pun kalian. Semoga rumah tangga kalian diberi keberkahan."
"Aamiin, terima kasih, Mah."
__ADS_1
Fiera juga sudah sangat merindukan kedua orang tuanya, tapi Abimanyu berkata kalau tidak lama lagi mereka harus melakukan opening yang sempat tertunda. Jadi, sepertinya mereka harus menunggu sampai opening kafe selesai.
Setelah berbicara beberapa saat dengan ibunya. Panggilan itu berakhir.
Namun, sebelum dia mengembalikan ponselnya ke dalam tas. Perhatiannya teralih oleh sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal.
[Fier, ini Almira. Bisakah kita bertemu? Aku ingin berbicara denganmu.]
Pesan selanjutnya masuk kembali. [Tolong jangan beritahukan Abimanyu. Aku hanya ingin bicara saja.]
Fiera hanya menatap pesan itu untuk beberapa saat, perasaannya menjadi tidak nyaman membaca hal itu.
[Bisa, tapi sekarang aku masih di kantor, nemenin Mas Abi bertemu dengan tamunya.]
Setelah membalas pesan itu, Fiera langsung memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas.
Fiera menutup buku yang batu dibuka halaman pertamanya. Tidak kehilangan minat setelah menerima pesan dari Almira.
Pikirannya dipenuhi oleh banyak pertanyaan, mengenai tujuan Almira, mengajaknya berbicara.
Di apartemennya, Almira melemparkan ponsel ke atas karpet di bawah sofa depan TV, setelah dia membaca pesan yang dikirimkan oleh Infiera.
Almira merasa kalau Infiera sedang mengejeknya sekarang. Sebelumnya, dia membanggakan kedekatannya dengan Abimanyu. Hanya selang beberapa menit, tiba-tiba Abimanyu mengumumkan hubungannya secara langsung.
"Hah... apa dia sengaja melakukan itu? Dia ingin memamerkan hubungannya dengan Abimanyu?" Almira berkata pada dirinya sendiri. Air mata tiba-tiba mengalir di pipinya. Sedikit terisak dia melanjutkan.
"Apakah dia tidak tahu? Kalau Abimanyu sangat mencintaiku sebelumnya. Dia hanya kecewa, karena aku selalu mengulur waktu menjawab lamarannya."
Almira memukul dadanya yang terasa sesak.
Harapan satu-satunya yang dia miliki, saat memikirkan kalau Abimanyu tidak mencintai istrinya.
Namun, sekarang dunianya seperti hancur saat pria itu memperkenalkan Infiera secara langsung sebagai istrinya.
“Aaaaa!” Almira berteriak, lalu melemparkan remot televisi di sampingnya.
Almira mengamuk seperti orang kesetanan. Entah bagaimana, rasanya sangat menyakitkan dibandingkan saat dia tahu kalau pria itu akan menikahi wanita pilihan kedua orang tuanya.
Almira menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, menelungkup wajahnya di atas bantal dan menangis dengan suara kencang yang sedikit tertahan karena tekanan.
Almira bahkan sampai memberanikan diri untuk berbicara dengan Infiera, tapi pesan yang diterimanya malah membuat Almira semakin hancur saat ini.
“Bi, apa kamu tidak tahu, kalau hanya kamu satu-satunya orang yang aku harapkan sejauh ini. Kenapa kamu mengecewakanku?”
__ADS_1
Teriakan Almira terdengar tertahan di atas bantal. Dia terlihat kacau. Tidak seperti biasa. Tidak ada lagi gadis elegan, yang cantik dan penuh pesona. Hanya seorang wanita rapuh yang baru saja kehilangan separuh harapannya.