
Tidak sempat bereaksi dengan gerakan Abimanyu yang tiba-tiba. Fiera merasakan sesuatu yang hangat menyentuh bibirnya. Perasaannya dipenuhi dengan bunga-bunga. Dia baru saja meyakinkan dirinya, kalau Abimanyu memang sudah menjadi suaminya seutuhnya. Tidak ada lagi asing di atap yang sama.
“Terima kasih,” ucap Abimanyu setelah beberapa lama, dia melepaskan tautan bibirnya, lalu mengecup keningnya sekilas. “Malam ini, mas tidur di sini.”
Fiera mengangguk malu-malu. Wajahnya merona, dia tidak berani menatap langsung mata suaminya.
“Fiera,” panggil Abimanyu pelan.
“Hmm?” Fiera menjawab dengan mengangkat wajahnya, tapi tatapan matanya tidak fokus.
“Tatap mata mas.”
Akhirnya, mau tidak mau Infiera menatap langsung mata hitam suaminya.
“Hari di mana Mas mengucapkan ijab qobul di hadapan orang tuamu. Disaksikan langsung oleh malaikat. Saat itu juga, Mas resmi jadi suami kamu. Selama satu tahun ini, Mas engga menjalankan tugas dengan benar, mengabaikan semuanya. Tetapi, mulai hari ini, Mas janji akan melakukan semuanya, berusaha sebaik mungkin.”
Abimanyu menatap mata istrinya dalam-dalam, penuh kesungguhan dan tekad dari setiap kata yang terucap. Dia menggenggam tangan istrinya.
“Mengenai Almira ... Mas tahu kalau kamu terganggu. Mas janji akan mengatakan padanya, kalau kamulah istri mas.”
Infiera masih diam mendengarkan. Saat Abimanyu menyelesaikan semua yang ingin dikatakannya, kini giliran Infiera berbicara, “Mas janji tidak akan mendiamkanku?”
Abimanyu menggeleng pasti.
“Mas janji tidak akan sibuk sendiri dengan kerjaan, sampai lupa kalau aku juga tinggal di rumah ini.”
“Engga.”
“Selain itu, Mas janji engga akan pura-pura engga kenal aku kalau ketemu di kampus?” tanya Infiera lagi, keraguan masih terlintas di matanya, mengingat kalau Almira ada di kampus. Infiera takut kalau suaminya kembali akan berubah pikiran.
“Engga, Bawel!” Abimanyu mencubit hidung istrinya dengan gemas.
“Aaa, sakit, Mas.”
“Habis gemes banget. Tidak biasanya kamu cerewet.”
Infiera mengerucutkan bibirnya. “Aku sudah beli makan malam untuk kita. Ayo, makan malam dulu.”
Abimanyu tersenyum, lalu merangkul bahu Infiera. “Siap istriku.”
Senyum Infiera semakin lebar, dia ikut merangkul pinggang Abimanyu dan melangkah menuju dapur. Malam ini, dia benar-benar bahagia dengan versi baru kehidupan pernikahannya. Satu tahun bertahan dalam kesabaran. Tidak ada yang sia-sia. Kini Abimanyu menjadi miliknya.
__ADS_1
***
Setelah makan malam. Seperti yang Abimanyu katakan, kalau dia ingin tidur di kamar yang Infiera tempati. Pria itu sudah berganti pakaian dan masuk ke dalam kamar, dengan membawa sesuatu di tangannya.
“Apa itu, Mas?” tanya Infiera, saat melihat sesuatu yang asing yang dibawa suaminya.
“Diffuser,” jawab Abimanyu seraya meletakkan benda yang memiliki bentuk yang lucu, menyerupai gunung. “Supaya aroma di kamar ini menyegarkan.”
Abimanyu segera menyiapkan alat tersebut. “Kamu suka aroma lavender? Ini katanya akan membuatmu rileks,” kata Abimanyu sedikit ambigu, dia tersenyum, menatap istrinya dengan sedikit kerlingan.
Infiera sama sekali tidak menyadari perubahan wajah Abimanyu. Dia hanya mengangguk setuju, karena ini pertama kalinya dia melihat alat pengubah minyak esensial menjadi uap.
Abimanyu meneteskan minyak di botol kecil ke dalam diffuser, dia juga melepaskan kaca mata di tangannya. Malam ini, dia ingin melupakan sejenak pekerjaan yang sebenarnya masih menumpuk, karena dua hari ini dia sibuk mengikuti istrinya.
Tiba-tiba suasana di dalam kamar itu sedikit canggung. Fiera terlihat bingung apa yang harus dilakukannya. “Mas, aku ganti baju dulu.”
Tanpa menunggu jawaban suaminya, Fiera melangkah menuju ke lemarinya dan mengambil baju tidurnya dan masuk ke dalam kamar mandi yang ada di sudut kiri kamar itu.
Abimanyu menahan senyumnya. Dia tahu kalau istrinya merasa gugup. Ini pertama kalinya mereka tidur di kamar yang sama dan di tempat yang sama dalam keadaan sadar. Terakhir, mereka tidur bersama saat Abimanyu sakit. Itu pun karena Infiera tidak menyadari saat Abimanyu memindahkannya ke atas ranjang.
Saat Infiera keluar dari kamar mandi, Abimanyu sudah berada di atas ranjang. Dia menepuk tempat kosong di sebelahnya. “Sini, Fier.”
“I-iya, Mas.”
“Bagaimana? Aroma lavendernya menenangkan, bukan?”
“Iya, Mas.”
Fiera mencium aroma khas bunga berwarna ungu itu. Terasa nyaman untuk rileksasi.
“Mas selalu pasang ini setiap kali ingin tidur. Rileks rasanya. Apa lagi sekarang.” Abimanyu menoleh ke arah istrinya. “Ada kamu di sampingku.”
Infiera membalas tatapan itu. Dia mulai mengeja perasaan yang dirasakannya sekarang. Hubungan baru yang dimulai hari ini. Abimanyu menyentuh pipi istrinya lembut.
“Bolehkah?” tanya Abimanyu.
Infiera langsung paham, ke mana suasana menenangkan itu akan berlabuh. Dia memberikan anggukkan pelan sebagai jawaban.
Mendapatkan izin dari istrinya, Abimanyu menyentuh puncak kepala istrinya dan memejamkan mata. Perasaan yang tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata. Dia mulai menuntun istrinya untuk berbaring. Mempelajari setiap sentuhan yang dilakukannya.
Abimanyu mulai memberikan sensasi baru yang pada Infiera. Keduanya mereguk kenikmatan yang paripurna.
__ADS_1
AC yang dingin tahu tugasnya malam ini untuk memberikan suasana yang semakin syahdu, menghadirkan rasa sejuk. Keduanya bermandi peluh di tengah udara sejuk dari AC yang sengaja Abimanyu turunkan suhunya.
Malam itu, mereka resmi bersatu dalam keindahan sebuah pernikahan untuk pertama kalinya setelah satu tahun.
***
Adzan subuh yang biasanya membangunkan Fiera. Kini sama sekali tidak mengganggu wanita itu sama sekali. Dia masih terlelap nyaman dalam tidurnya. Semua itu bukan tanpa alasan. Mereka baru benar-benar tidur sudah sangat larut. Berbeda dengan Infiera, Abimanyu malah terbangun lebih dulu karena alarm di ponselnya. Dia membersihkan diri terlebih dahulu, lalu membangunkan istrinya.
“Fier,”
Abimanyu mengguncang pelan tubuh istrinya. Waktu sudah menunjukkan pukul lima lewat. Infiera harus segera bangun.
“Fier.”
“Mmm, bentar lagi,” gumamnya dengan mata yang masih terpejam.
“Mas tidak masalah kalau kamu mau kita tidur lagi, tapi kamu harus mandi dulu buat subuhan.”
seperti memantik ingatan malam yang baru dirinya lewati, Fiera membuka matanya cepat. “Sekarang jam berapa?”
“Pukul lima lewat.”
“Mas kenapa engga bangunin aku,” gerutu Fiera segera beranjak dari tidurnya.
Abimanyu menggeleng mendengar hal itu. “Ya sudah, cepat mandi. Mas tunggu di sini.”
Fiera mengangguk, lalu berjalan menuju kamar mandi.
“Setelah kamu mandi kita engga bisa langsung melakukannya lagi, Fier. Kamu harus shalat.”
“Apa, sih, Mas?” Fiera menyahut dengan ucapan Abimanyu yang malah kembali mengungkit apa yang dilakukan mereka semalam.
“Makanya, kamu harus bawa handuknya.”
“Astaga.”
“Bukalah pintunya.” Abimanyu mengulurkan tangannya di pintu begitu terbuka.
“Terima kasih.”
“Sama-sama.”
__ADS_1
Senyum di wajah Abimanyu sejak dia terbangun sama sekali tidak hilang dari wajahnya. Dia merasakan sesuatu yang berbeda pagi ini.
“Bodohnya Abimanyu. Setahun ini otak lo engga berfungsi apa? Istri cantik di depan mata dianggurin.” Abimanyu menggerutu pada dirinya sendiri, tapi dia senang karena akhirnya semua bisa berjalan seperti seharusnya.