Istri Dosen Galak

Istri Dosen Galak
Peringatan Gerald


__ADS_3

Side story.


Sebelum Almira memutuskan untuk memprovokasi Infiera.


Hari di mana Abimanyu berangkat ke Malang, saat itu tiba-tiba Almira menemui Gerald yang sedang menghubungi Adi, mahasiswanya. Dia mendengar jelas mengenai keberangkatan Abimanyu.


"Pak Gerald," panggil Almira saat rekan dosennya itu menyelesaikan panggilan dengan seseorang.


Gerald yang berdiri membelakangi meja kerjanya langsung berbalik, dan melihat Almira yang berada di depan meja kerjanya.


"Ya, Bu? Ada yang bisa saya bantu?"


"Emm, maaf, sebelumnya jika saya menguping pembicaraan Anda barusan. Saya ingin bertanya. Apakah Pak Abi pergi ke Malang?"


Gerald tidak terkejut dengan pertanyaan Almira. Dia meletakkan ponselnya di atas meja sebelum menjawab.


"Betul, Abimanyu pergi ke Malang hari ini. Tepatnya tadi pagi."


Almira mengerutkan keningnya, terlihat bingung.


"Dalam rangka apa, ya? Saya pikir dia sedang sangat sibuk."


Abimanyu memiliki beberapa pekerja di kampus yang seharusnya tidak bisa dia tinggalkan. Selain itu, Almira juga mendengar kalau mantan kekasihnya itu sedang disibukkan oleh persiapan pembukaan kafe.


Gerald tersenyum sebelum menjawab. "Dia mengusul seseorang," ucapnya, tapi tidak menjelaskan lebih lanjut. Seperti sengaja menggantungnya untuk membuat Almira penasaran.


"Jangan bilang ... kalau Abimanyu menyusul Adi dan juga Infiera. Ya, saya tau kalau dia memang suka dengan hal seperti itu, tapi tidak mungkin dalam keadaan yang sedang sibuk."


Gerald menjentikkan jarinya sebagai jawaban. "Anda seperti cenayang Bu Almira. Betul, dia mengusul isterinya," ucap Gerald, sama sekali tidak menutupi hubungi temannya dengan mahasiswanya. Entah kenapa, dia yakin kalau Almira juga tahu mengenai hal itu. “Siapa yang tahan berjauhan dengan istrinya?”


"Istri?"


"Ya. Apakah Anda tidak tahu? Ah, engga mungkin, kan? Saya tahu kalau Anda mantan Pak Abi dan kalian juga masih berteman, kan, sampai sekarang."


Almira terdiam dengan hal itu.


Tentu saja, dia sama sekali tidak bisa membantah. Dirinya tahu betul kalau Abimanyu sudah menikah dan isterinya adalah mahasiswanya sendiri. Meski dia tahunya dengan tidak sengaja.


Almira terlihat berpikir untuk beberapa saat, tapi saat Gerald hendak mengakhiri pembicaraan mereka karena dia harus pergi. Wanita itu kembali berucap.

__ADS_1


"Pak Gerald. Saya tahu kalau Anda menyukai Infiera."


Gerald yang hendak mengambil tasnya langsung menghentikan gerakannya, hingga membuat tangannya melayang di udara.


Gerald kembali menegakkan tubuhnya dan menatap Almira. Keningnya sedikit berkerut karena heran.


"Apa maksudnya Anda mengatakan hal itu? Anda, kan, tahu kalau Infiera adalah istri Abimanyu?"


"Ya saya tahu."


"Lalu?"


"Tapi, saya juga tahu kalau Anda menyukainya,  kan?"


"Sebentar."


Gerald mengangkat tangannya dengan telapak tangan menghadap Almira, lalu dia duduk di kursi kerjanya dengan nyaman. "Silakan duduk. Supaya kita bicara dengan nyaman."


Almira menurut. Dia duduk di hadapan Gerald.


"Apa maksud Anda mengatakan kalau saya menyukai Infiera?"


"Itu hanya candaan saya saja. Tidak lebih, kok."


Almira masih bersikap tenang dengan jawaban Gerald. Dia bahkan terlihat seperti tidak percaya dengan jawaban pria itu.


"Anda mau membohongi siapa Pak? Anda, saya adalah orang dewasa. Saya bisa membedakan mana yang bercanda mana yang serius."


Kerutan di kening Gerald semakin dalam, dia memasang wajah serius, karena Almira juga melakukannya.


"Sebenarnya, apa maksud Anda mengatakan itu?"


Terlebih dahulu, Almira meletakkan tas di meja sampingnya. Dia menatap Gerald dengan serius.


"Anda sudah tahu, kan, kalau saya adalah pacar Pak Abi?"


"Mantan." Gerald mengoreksi ucapan Almira.


"Tidak. Saya sama sekali tidak merasa kalau kami sudah putus. Waktu itu kami hanya sedang sama-sama membutuhkan waktu untuk berpikir mengenai hubungan yang lebih serius. Hanya saja, perjodohan itu tiba-tiba datang tanpa memberi kami waktu untuk memperbaiki hubungan kami."

__ADS_1


Gerald tertawa kecil dengan jawaban Almira yang terkesan menyangkal.


"Lalu apa bedanya? Intinya, saat itu kalian memang tidak dalam sebuah hubungan, kan? Lebih baik, Bu Almira katakan saja apa yang ingin disampaikan karena saya harus bergegas pergi."


"Anda menyukai Infiera dan saya masih mencintai Abimanyu. Hubungan mereka hanya perjodohan yang tidak sehat, bahkan hubungan keduanya sengaja disembunyikan. Itu artinya kita masih memiliki kesempatan untuk masuk di antaranya."


Meski menyadari kalau Almira adalah gadis yang cukup ambisius dengan keinginannya. Gerald sungguh tidak mengangka kalau wanita yang tak lain adalah mantan kekasih sahabatnya sendiri cukup nekad sampai sejauh ini.


"Bu Almira, saya sama sekali tidak mengerti dengan apa yang Anda maksudkan. Seperti jawaban saya tadi, kalau semua perkataan saya hanya candaan yang disalahpahami oleh dosen yang lain. Saya tidak perlu klarifikasi apa pun karena Abimanyu mengerti hal itu."


Gerald meletakkan kedua sikunya di atas meja dan melipat kedua tangannya.


"Seandainya memang benar saya menyukai Infiera. Saya punya batasan yang tidak akan pernah saya lewati."


Almira tersenyum meremehkan.


"Tapi, hubungan mereka saja tidak pernah terjalin seperti pasangan pada umumnya."


"Memangnya kenapa? Itu bukan urusan saya dan saya sama sekali engga peduli."


"Oh, ayolah Pak Gerald. Anda jangan terlalu picik. Terkadang kita harus bersikap memaksa untuk sesuatu yang kita inginkan."


Gerald menggelengkan kepalanya tidak habis pikir.


"Saya sungguh tidak mengerti jalan pikiran Anda Bu Almira. Saya tidak pernah berpikir sepicik itu untuk merusak hubungan sahabat saya sendiri. Terlepas apa yang Anda sebutkan tadi kalau saya menyukai Infiera. Saya tidak akan melakukan hal rendahan semacam merusak hubungan keduanya."


Almira membisu. Mungkin dia tidak menyangka kalau Gerald akan menjawab ucapannya seperti itu.


Dia sudah yakin sebelumnya kalau pria di hadapannya akan dapat membantu mengingat pria itu, katanya menyukai Infiera. Namun, dugaannya di luar prediksinya.


"Saya harus bergegas untuk pergi karena masih banyak urusan." Gerald meraih tasnya dan memasukkan ponsel ke dalamnya, tapi sebelum dia melangkah pergi dia kembali menatap Almira.


"Bu Almira, tidak peduli Anda adalah rekan saya atau mantan kekasih Abimanyu. Saya peringatkan dari sekarang, jangan berani mengusik hubungan Abimanyu dengan Infiera."


Almira menatap sinis. "Sampai akhir ternyata Anda tetap bersikap munafik, ya?"


"Jangan membicarakan diri sendiri Bu. Semua yang Anda katakan bahkan tidak ada satu pun yang benar. Selain itu, jangan pernah bersikap seolah tahu bagaimana hubungan Abimanyu dan Infiera di belakang kita." Gerald tersenyum. Dia ingat pesan yang dikirimkan Abimanyu untuk mengumumkan pernikahannya. "Mungkin mereka jauh lebih bahagia dibandingkan dengan yang kita pikirkan. Sekali Anda melangkah untuk mengusik mereka. Saya juga tidak akan tinggal diam."


Ekspresi wajah Gerald semakin dingin, laku dia melangkah keluar meninggalkan Almira seorang diri yang terdiam karena ancamannya.

__ADS_1


Gerald yakin, setelah ini Almira tidak akan berani mengusik Abimanyu. Dirinya juga sangat yakin kalau temannya itu memiliki keyakinan yang kuat ketika dia sudah memutuskan.


__ADS_2