Istri Dosen Galak

Istri Dosen Galak
Persiapan Kejutan


__ADS_3

Abimanyu tidak langsung menuju kafe. Tetapi dia datang menemui Gerald di apartemennya untuk mengambil sesuatu yang sudah dia siapkan sebelumnya.


Begitu sampai, Abimanyu menekan bel apartemen rekan kerjanya itu, tapi sampai lima menit berlalu pria blasteran itu tak kunjung membukakan pintu.


Abimanyu meneleponnya berkali-kali sampai suara serak di ujung panggilan itu terdengar.


"Halo?"


"Hei, Ge, lo belum mati, kan?"


Hening tidak terdengar suara di ujung sana selama beberapa detik.


"Sialan lo, Bi, ganggu orang tidur. Ada apa, sih?"


"Buka pintunya! Gue udah di depan rumah lo dari lima jam yang lalu."


"Jangan gila!"


"Cepat buka!"


"Iya, iya."


Tidak lama setelah panggilan berakhir, pintu terbuka dari dalam dan memperlihatkan wajah Gerald yang sangat kusut karena baru bangun tidur dengan rambut yang acak-acakan.


"Lo gila, ya, Bi? Lihatlah? Sekarang bahkan belum jam 7."


"Hei, lo lupa hari ini kita ada opening?"


"Tentu aja gue ingat. Itu sebabnya gue begadang sampe pukul empat pagi karena kelakuan Tuan Abimanyu yang ingin melamar istrinya. Engga waras. Padahal, tiap hari tidur bersama. Bisa-bisanya baru mau lamar."


Abimanyu mengibaskan tangannya, enggan menanggapi. Dia memilih untuk masuk ke dalam apartemen milik sahabatnya itu.


"Gue ke sini mau ambil cincinnya. Lo ga lupa, kan, buat ambil di toko perhiasannya?"


"Hah ... kalau bukan lo yang nyuruh. Ogah gue."


Gerald berjalan menuju kamarnya, diikuti Abimanyu di belakangnya.


Gerald mengambil sesuatu dari nakas dan melemparkannya ke arah Abimanyu, yang langsung ditangkap oleh suami Infiera itu.


"Gue sampe harus ribut dulu sama lakinya, lo tau, kan, kenapa?"


Gerald masih menggerutu saat mengingat kejadian semalam. Dia harus mengambil cincin pesanan Abimanyu, karena pria itu tidak bisa meninggalkan Infiera sendirian malam-malam.


Padahal, sebelumnya dia selalu lembur hingga lupa waktu.


Gerald mengambil pesanan itu dari salah satu kenalannya, karena sudah larut malam, akhirnya Gerald harus mengambil di rumah pribadi pemilik toko perhiasannya.


Hal itu membuat dirinya harus bertengkar dengan suami temannya karena merasa "terganggu".

__ADS_1


"Lo pasti engga lupa sama Herder penjaganya, kan?"


Abimanyu menanggapi dengan tawa kecil, tapi matanya masih memperhatikan cincin di tangannya. Ingat sekali dengan suami salah satu temannya, yang memiliki toko perhiasan.


"Makasih, ya, Ge."


Gerald berdecak, tapi tak ayal dia mengangguk dengan ucapan terima kasih dari sahabatnya.


"Lo mau ke kafe bareng gue?"


"Tentu saja. Lo pikir gue masih bisa tidur?" Gerald melirik jam di dinding kamarnya. "Gue mandi dulu."


Abimanyu mengiyakannya dan ia sendiri berjalan menuju keluar kamar setelah mengantongi cincinnya, lalu mengeluarkan ponsel untuk menghubungi isterinya.


[Sayang, kamu sudah berangkat ke butik.] Pesan itu ia kirimkan pada Infiera, setelah beberapa saat tak ada balasan dari istrinya.


Abimanyu berpikir mungkin memang istrinya sedang berada di perjalanan. Jadi dirinya memutuskan untuk menghubungi karyawannya yang lain, untuk menanyakan segala persiapan dan bagaimana undangan yang mereka siapkan sudah sampai pada pemiliknya.


Kedua dosen muda itu akhirnya meninggalkan apartemen. Gerald yang hanya mengenakan pakaian casual— kaos hitam dan juga celana jeans berwarna biru tua.


"Bi, bukannya lo yang harus bawa mobil ini? Kenapa malah gue yang nyupir?"


"Sssttt, kenapa lo cerewet banget si Ge? Udah, liat ke depan!" perintah Abimanyu, menunjuk ke arah depan.


Gerald hanya bisa menggerutu kesal, tapi masih tetap menurut.


"Gue ga punya waktu lagi. Kasian istri gue harus terus ngundurin waktu pulangnya ke Bandung."


"Ngomong-ngomong, gimana istri lo? Ga mungkin lo yang jemput, kan? Gue juga ga bisa."


Abimanyu yang sedang sibuk dengan ponselnya menjawab, "Gue udah nyuruh supir kantor buat jemput."


"Syukurlah."


Abimanyu terlihat tersenyum karena istrinya baru saja membalas pesannya dan mengatakan kalau dirinya baru saja akan berangkat menuju salon setelah mengambil pesanan pakaian yang dimaksud oleh Abimanyu.


[Hati-hati di jalannya. Pak Umar, supir kantor akan jemput kamu di salon.] balas Abimanyu.


[Iya, Mas. Aku juga punya kejutan buat Mas. Tunggu, ya.]


[Apa itu?]


[Namanya juga kejutan. Pokoknya, bakal bikin mas terkejut.]


Senyum Abimanyu makin lebar saat membacanya. Dia makin tidak sabar untuk menunggu malam nanti.


Gerald yang sedang mengemudi hanya dapat menggeleng, melihat sahabatnya  tersenyum sendiri, memandang layar ponsel di tangannya. Siapa lagi orang yang bisa membuat pria yang dikenal galak saat mengajar itu bisa tersenyum kalau bukan istrinya sendiri.


“Kayanya gue harus buru-buru booking kavling di Mars.”

__ADS_1


“Nikah, Ge, nikah!”


Gerald mengabaikan ledekan Abimanyu dan fokus dengan setirnya karena mobil yang dikendarainya sudah hampir sampai. Tidak lama, laju mobil tersebut melambat dan berhenti, tapi setelah beberapa saat Gerald belum mematikan mesin mobilnya dan masih saja diam sampai Abimanyu menyadari.


Abimanyu yang sejak tadi fokus dengan ponselnya menoleh dan bertanya, “Kenapa lo malah diam.”


Gerald tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya menunjuk ke arah depannya.


Abimanyu merotasi kepalanya ke arah depan dan melihat ke arah yang ditunjuk sahabatnya. Suami dari Infiera itu mengerutkan keningnya saat melihat Almira berdiri di depan kafenya bersama dengan salah satu karyawannya. Tidak jauh dari mereka juga terlihat sebuah mobil pick up yang berisi perabotan?


“Lo ngundang dia?” tanya Gerald pada Abimanyu. Seingatnya, dia tidak memasukkan nama Almira ke daftar undangan. Lalu, bagaimana mantan dari sahabatnya itu bisa ada di kafe? Bahkan saat ini belum masuk waktu undangan yang ditentukan.


“Mana mungkin. Lo, kan, yang ngurus soal daftar undangan.”


Gerald dengan cepat mengangkat kedua tangannya, tanda kalau dia sama sekali tidak melakukannya. Apa lagi ketika melihat tatapan Abimanyu yang menusuk. “Sumpah, gue engga melakukan itu.”


Abimanyu terlihat kesal, tapi dia tetap turun menghampiri wanita itu untuk mengetahui tujuan kedatangannya.


“Surprise!” seru Almira begitu Abimanyu menghampiri dirinya. Wanita itu menunjuk mobil pick up yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


“Apa maksudnya ini, Almira?” tanya Abimanyu, menyebut nama lengkap mantan kekasihnya, tidak seperti biasanya yang hanya memanggilnya ‘Al’.


Almira tentu saja langsung menyadari hal itu, tapi dia masih bisa memasang senyum manis di wajahnya. “Ini hadiah dariku. Karena kamu engga mau nganter aku buat belinya. Jadi, aku langsung mengirimnya ke sini.”


Abimanyu melihat ke arah mobil pick up. Entah apa yang dibawa oleh wanita yang ada di hadapannya, karena masih tertutup terpal berwarna biru.


“Pak, tolong turunkan, ya?”


“Almira, jelaskan padaku. Apa maksudnya ini?”


Senyum di wajah Almira akhirnya sedikit memudar, saat mendengar nada suara Abimanyu yang sedikit meninggi. “Seperti yang kukatakan. Ini hadiah yang kuberikan, karena kamu mewujudkan satu mimpimu lagi untuk membangun kafe ini.” Almira melangkah menuju ke arah mobil pick up. “Ini adalah kursi kerja untukmu di kafe ini dan juga mesin kopi berukuran kecil untuk di ruangan kerja.”


Abimanyu tetap diam mendengar hal itu. Dia sama sekali tidak mengharapkannya. Bahkan, kedatangan mantan kekasihnya itu saja tidak diharapkannya.


“Aku juga sengaja datang lebih awal supaya bisa membantu kalian melakukan persiapan. Tidak masalah, kan, Pak Gerald?”


Gerald yang sejak tadi hanya diam di belakang Abimanyu sedikit gelagapan dan juga kikuk untuk menjawab pertanyaan Almira, tapi untuk menghargai wanita itu. Dia tetap menjawab dan tersenyum. “Te-tentu saja, Bu.” Gerald melirik Abimanyu yang wajahnya sudah terlihat menyeramkan dan seperti siap untuk memuntahkan amarahnya. Dia tidak bisa tinggal diam.


“Kalau begitu, mari kita masuk,” ajak Gerald pada Almira. Dia juga tidak mungkin mengusir wanita itu.


Almira mengangguk dan mengatakan sesuatu pada supir mobil pick up untuk membawa barangnya ke dalam. Wanita itu melirik Abimanyu yang hanya diam dan masuk ke dalam kafe lebih dulu.


BIi, apa yang harus kita lakukan sekarang?”


“Sialan!” umpat Abimanyu, mengabaikan pertanyaan Gerald, tangan yang ada di samping tubuhnya mengepal kuat, seraya menatap arah perginya Almira yang masuk ke dalam kafe.


Gerald menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia sadar kalau sahabatnya tidak sedang bisa diajak diskusi. Tidak tahu apa yang akan terjadi hari ini. Gerald sangat yakin, semua akan sedikit kacau.


Gerald hanya berharap kalau Infiera tidak salah paham.

__ADS_1


__ADS_2