
Sesaat, Infiera terkejut dengan apa yang dilakukan oleh suaminya. Dia bahkan sampai mendorong Abimanyu untuk melepaskan dirinya, tapi siapa sangka pria itu malah mengeratkan pelukannya.
Fiera sadar kalau dia tidak bisa meloloskan diri dari dekapan sang suami. Dirinya hanya bisa ikut mengikuti apa yang pria itu inginkan. Pikirannya masih berusaha mencerna perkataan Abimanyu sebelumnya.
Perlahan, tapi pasti. Fiera benar-benar terbuai dan pada akhirnya dia ikut menikmati dengan memejamkan matanya.
Brak!
Suara benda jatuh sangat keras terdengar, mengejutkan keduanya. Fiera mendorong Abimanyu dan bergegas bangun dari pangkuan sang suaminya. Keduanya terlihat salah tingkah untuk beberapa saat.
'Sepertinya itu di bagian samping dekat pintu masuk. Di sana, beberapa orang sedangkan memperbaiki atap," ucap Abimanyu menjelaskan, karena suaranya berasal dari arah barat, tempat mereka berada saat ini. Terhalang satu bangunan yang tidak terlalu besar.
"Ya, sepertinya." Infiera terlihat enggan untuk menatap langsung ke arah suaminya. Dia bahkan terlihat sangat gugup saat ini.
Abimanyu bangun dari duduknya, membuat Fiera refleks mundur satu langkah.
Abimanyu mengerutkan kening. "Ada apa?"
"Ti-tidak," kilahnya, Fiera masih memalingkan wajah dari suaminya.
Abimanyu tersenyum jail melihat itu. Dia mendekatkan wajahnya ke samping telinga sang istri. "Apa kamu malu?"
Secara perlahan, Infiera merona mendengar hal itu. Secara otomatis juga, dia menoleh menatap Abimanyu. Pria itu malah tersenyum semakin lebar dan menaik-turunkan kedua alisnya.
"Mas!" seru Infiera dengan suara sedikit keras, tapi dengan cepat dia menutup mulutnya karena takut ada yang mendengar.
"Apa?" Abimanyu bertanya, tidak merasa bersalah sedikit pun.
"Berhenti menggodaku!"
Bukannya berhenti, Abimanyu malah tertawa-tawa melihat wajah istrinya yang semakin memerah.
"Mas!"
"Baiklah, baiklah." Abimanyu mengangkat kedua tangannya setinggi pundak, tanda menyerah.
Fiera baru menyadari jika pakaian suaminya basah. "Mas, lebih baik ganti baju dulu. Ini basah banget. Nanti masuk angin. Di sini cuacanya dingin."
Abimanyu tersadar, dia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, terlihat bingung.
"Ada apa?" tanya Fiera.
"Itu ... sebenarnya, mas engga bawa baju ganti. Niatnya, nanti sore mau beli dulu, tapi, ya, harus nyuci kain sebanyak ini. Jadi, basah semua sekarang."
"Astaga! Jadi, Mas engga bawa baju ganti ke sini?"
__ADS_1
Abimanyu menggeleng.
Fiera hanya bisa menghela napas panjang dengan tingkah suaminya. Dia teringat sesuatu. "Ngomong-ngomong, kenapa mas tiba-tiba datang ke sini? Apa ada kerjaan di sini?"
"Eh, itu ... sebenarnya—" Abimanyu terlihat kebingungan untuk menjawab, karena dia datang ke sana tindakan yang impulsif. Semua dikarenakan postingan Gerald yang menunjukkan beberapa foto wanita itu dengan pria yang tidak dikenalnya.
Bukan hanya itu, Abimanyu juga melihat foto-foto istrinya dengan rekannya dari Jakarta, Adi. Keduanya terlihat sangat akrab dan juga sangat dekat.
Sebelum Abimanyu dapat menjawab pertanyaan istrinya, suara Adi terdengar dari arah depan dan perlahan mendekat.
"Infiera!"
Fiera sedikit panik. Dia takut kalau Adi berpikiran yang tidak-tidak jika melihat mereka hanya berdua di sana.
"Aduh, bagaimana ini? Lebih baik, mas tunggu di sini. Aku akan ke sana dulu, jangan sampai Kak Adi lihat kita."
"Emang kenapa?"
"Kok malah nanya, sih, mas?"
Sebelum Abimanyu bisa menimpali, Adi kembali memanggil Infiera dan muncul dari arah samping dan melihat kedua orang yang masih berdebat.
"Infiera!"
"Iya, Kak?" Fiera berbalik cepat, membelakangi Abimanyu.
"A-ada apa, Kak?"
"Eh, itu ... kita ada kiriman makanan dari warga. Kita akan makan sama-sama."
"Oh, baiklah." Fiera teringat pakaian Abimanyu yang basah. "Kak Adi, apakah Kakak membawa pakaian ganti lebih."
"Untuk siapa?"
Fiera menoleh pada Abimanyu untuk menunjukkan, siapa yang membutuhkan pakaian ganti.
"Saya tidak yakin, apakah baju saya akan cukup."
Postur tubuh Abimanyu lebih tinggi dan lebih besar dari Adi. Jelas, pakaiannya akan menggantung jika digunakan oleh dosennya.
"Kalau ada, atasannya saja. Kaos tidak masalah." Abimanyu menimpali.
"Baiklah. Mari, Pak, saya akan mengambilkan baju bersihnya terlebih dahulu."
Adi berbalik untuk mengambil tasnya. Begitu, senior Infiera itu menghilang dari pandangannya, Abimanyu melangkah ke samping sang istri dan berkata, "Kamu temani mas beli pakaian setelah ini."
__ADS_1
"Tapi Mas—"
Fiera tidak dapat menyelesaikan ucapannya, karena Abimanyu mengecup pipinya dan berjalan cepat meninggalkan dirinya sendiri.
Terdengar tawa keras Abimanyu yang mengejek Infiera. Pria itu bahkan sempat-sempatnya melambaikan tangan ke arah belakang.
***
Fiera mengikuti Abimanyu masuk ke dalam panti, setelah menerima kaos berwarna hitam dari Adi, rekannya, sesama relawan. Wanita itu membawakan jaket suaminya, yang sempat digantung di dekat tempat mencuci.
“Apa ada orang di luar?” tanya Abimanyu, yang kini berada di dam kamar untuk berganti baju.
Fiera yang mendengar itu, langsung mendekat. “Ya, aku di sini. Ada apa?” tanyanya, dengan mendekatkan tubuhnya ke pintu.
Tidak ada jawaban lagi dari arah dalam kamar itu, membuat Fiera sedikit bingung.
“Ma—Pak, apakah Anda mendengar saya?” Fiera bertanya dengan suara pelan. Dia meralat panggilannya, karena takut ada seseorang yang mendengar.
Masih tidak ada jawaban dari arah dalam. Fiera berniat untuk mengetuk pintu, tapi tiba-tiba pintu terbuka dan memperlihatkan Abimanyu yang sudah berganti pakaian.
Fiera menatap suaminya, lalu dia tertawa terbahak-bahak. Bagaimana tidak, kaos yang dikenakan Abimanyu begitu kecil, hingga membentuk lekuk tubuh pria itu dengan sangat jelas.
“Tertawalah sepuasmu,” gerutu Abimanyu kesal. Sebelumnya, dia berteriak untuk memastikan kalau tidak akan ada orang yang melihatnya. Abimanyu berniat untuk kembali ke belakang, mengambil jaketnya yang tertinggal di sana. Siapa sangka, istrinya mengikuti dan sekarang sedang menertawakannya karena kaos yang sangat ketat di tubuhnya.
“Bagaimana bisa bajunya jadi seperti ini?”
“Bukan jadi seperti ini. Bajunya memang kekecilan.”
“Haha ... bapak saja yang badannya kaya raksasa.”
“Ada apa, Fiera?” Adi kembali muncul karena dia mendengar tawa wanita itu dan ingin memastikan kalau baju yang diberikannya pada Abimanyu bisa muat.
Namun, Adi langsung menahan tawanya saat melihat Abimanyu yang mengenakan kaosnya yang kekecilan di tubuh pria itu. “Kau juga sama saja!” gerutu Abimanyu, kesal ditertawakan oleh dua orang mahasiswanya.
Adi hanya bisa menahan senyumnya karena dia sedikit sungkan. Berbeda dengan Infiera yang bisa tertawa lepas. “Haha ... lucu, kan, Kak? Sudah kaya peserta L-Men.”
Fiera bahkan memukul bagian atas lengan Abimanyu tanpa ragu. Adi yang melihat itu tertegun. Hanya untuk sekedar tertawa saja, dia tidak berani. Infiera, selain menertawakannya dengan suara keras. Wanita itu juga memukul lengan Abimanyu. Adi mencoba untuk mengingatkan, “Fier!”
Fiera tidak menggubris. Dia masih sibuk tertawa karena pakaian Abimanyu.
Abimanyu kesal dengan tawa istrinya yang semakin keras. Dia merebut jaket dari tangan wanita itu dan berkata, “Tertawa saja terus. Jangan salahkan jika nilai ujianmu berkurang.”
Barulah saat itu Fiera berhenti tertawa dan tersadar, kalau dirinya melakukan kesalahan besar. Fiera menoleh ke arah seniornya. Benar saja. Pria itu menatapnya dengan pandangan aneh dan bingung.
Astaga, bagaimana aku harus menjelaskannya sekarang?
__ADS_1
...Hai readers. Terima kasih yang sudah mengikuti cerita ini. Sekali lagi maaf kalau belakangan up-nya kurang maksimal karena kondisiku sedang sakit. Mulai besok, aku akan up rutin lagi pagi atau siang. Aku akan mengganti bab yang kemarin engga update. Terima kasih juga untuk doanya dari semua. ...